Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Rumah Sakit


__ADS_3

Milan perlahan membuka matanya saat sayup-sayup mendengar isakan di sampingnya.


"Ra, kamu belum tidur? Kenapa kau menangis?"


"Milan, aku terus memikirkan anak kita. Aku tidak akan pernah bisa tidur jika belum tahu bagaimana keadaan anak kita yang sebenarnya." kata Rachel di sela isaknya.


"Kau harus sabar Ra, besok pagi kita akan ke sana."


"Bagaimana jika sekarang saja kita ke sana, Milan. Perasaanku sungguh tak tenang." kata Rachel sambil menatap Milan dengan tatapan sendu.


"Tapi ini masih pukul dua pagi Ra."


"Milan, please." kata Rachel sambil mengiba.


"Baik, kita ke Bandung sekarang. Kau cepat kemasi barang-barangmu." kata Milan sambil memakai pakaiannya.


Rachel pun bergegas mengemasi barang-barang miliknya. Mereka kemudian check out dari hotel tersebut dan bergegas melakukan perjalanan menuju Bandung.


"Ra, dimana rumah sakit tempat dulu kau dirawat setelah mengalami kecelakaan? Kita akan langsung menuju ke rumah sakit tersebut." kata Milan saat mereka sudah ada di dalam mobil.


"Rumah Sakit Permata."


"APAAAA?" teriak Milan dengan begitu kaget.


"Kau kenapa Milan? Kenapa kau begitu terkejut?"


Milan pun kemudian mengehentikan mobilnya.


"Ada apa sebenarnya Milan?"


"Ra, sepupuku Anya dan suaminya, Vino bekerja di rumah sakit tersebut."


"Astaga." kata Rachel sambil menutup mulutnya.


Milan pun kemudian mengerutkan keningnya sambil mengingat sesuatu.


"Ra, aku ingat sesuatu."


"Apa Milan?"


"Vino, suami Anya pernah bercerita padaku jika dia pernah mengoperasi seorang wanita yang sedang hamil tujuh bulan untuk menyelamatkan bayinya karena kondisi wanita tersebut yang sudah sangat parah setelah mengalami kecelakaan." kata Milan dengan begitu menggebu-gebu.


"Ja.. Jadi, menurutmu wanita itu adalah aku?"


"Mungkin saja, kita harus memastikan semua ini Ra, kau harus bertemu dengan Vino untuk bisa memastikan semua ini."


Mendengar perkataan Milan, Rachel pun menangis.


"Kau kenapa menangis Ra?"


"Milan, jika ternyata benar wanita yang dioperasi oleh Vino adalah aku, jadi anak kita masih hidup?" kata Rachel sambil terisak dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Melihat Rachel menangis, Milan pun mendekatkan tubuhnya pada Rachel kemudian memeluknya. "Iya Ra, jika wanita itu adalah kau, anak kita masih hidup, aku bahkan pernah bertemu dengan anak itu dan menggendongnya." jawab Milan sambil menahan rasa sakit di hatinya.


"Anak kita masih hidup Milan?"


"Ya." jawab Milan sambil ikut terisak.


"Dimana kau bertemu anak itu Milan?" tanya Rachel dengan begitu lirih karena kini dadanya terasa begitu sesak.

__ADS_1


"Dia ada di panti asuhan."


"Apa? Panti asuhan?"


"Ya." jawab Milan.


Rachel pun semakin terisak mendengar perkataan Milan. 'Malang sekali kau, Nak.' kata Rachel dalam hati.


"Tapi kita harus memastikan semua ini Ra."


"Iya."


"Aku akan menelepon Anya sekarang juga." kata Milan kemudian mengambil ponselnya.


[Halo Anya.]


[Iya Milan ada apa?]


[Maaf pagi-pagi aku sudah mengganggumu. Tapi ada suatu hal penting yang ingin kukatakan padamu.]


[Iya Milan, ada apa?]


[Bisakah pagi ini aku bertemu dengan Vino?]


[Oh ya tentu saja, aku sedang bertugas shif malam di rumah sakit, sedangkan Vino baru saja selesai mengoperasi pasiennya, kau bisa menemui kami di rumah setelah kami pulang pukul delapan pagi.]


[Emh Anya, bisakah kami menemui kalian di rumah sakit saja pagi ini? Aku sedang dalam perjalanan menuju Bandung, dan kemungkinan pukul empat pagi kami sudah sampai. Ini sesuatu yang sangat penting Nya, jadi kami harus bertemu kalian secepatnya.]


[Oh baik Milan, kau bisa menghubungiku jika sudah sampai di rumah sakit.]


[Iya Nya, terimakasih.] jawab Milan kemudian menutup teleponnya.


"Kita langsung menemui mereka di rumah sakit." kata Milan kemudian langsung mengendarai mobilnya.


Dua jam kemudian, mereka pun sudah sampai di rumah sakit tempat Anya dan Vino bekerja.


"Benar kan ini rumah sakit tempat kau dirawat dulu setelah mengalami kecelakaan?"


"Iya benar Milan." jawab Rachel.


Milan pun kemudian menghubungi Anya.


[Kami sudah sampai Nya, kau dimana?]


[Aku dan Vino ada di kantin, kantin di rumah sakit buka 24 jam, jadi kau bisa sekalian beristirahat setelah perjalanan jauh disini.]


[Baik kami ke kantin sekarang.] jawab Milan kemudian menggandeng tangan Rachel menuju ke kantin rumah sakit.


"Itu mereka." kata Milan saat melihat Anya dan Vino, kemudian bergegas menghampiri mereka.


Mata Anya dan Vino pun begitu terbelalak saat melihat kedatangan Milan dan Rachel.


"Ra... Raaa... Rachel." kata Anya.


"Kau?" tanya Vino saat melihat Rachel.


"Milan, benarkah dia Rachel? Jadi Rachel masih hidup?" tanya Anya dengan begitu kaget.


"Iya Nya, Rachel masih hidup." kata Milan.

__ADS_1


"Emh silahkan duduk." kata Vino.


"Iya." jawab Milan kemudian duduk di depan Vino dan Anya.


Milan pun kemudian langsung memandang Vino. "Vino, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu?" kata Milan dengan begitu berapi-api.


"Iya, apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Vino.


"Coba kau lihat baik-baik wanita yang ada di sampingku. Dia istriku, Rachel."


Vino pun terlihat gugup sambil menelan ludahnya dengan kasar.


"Astaga." kata Vino sambil mengusap kasar wajahnya.


"Apakah wanita ini yang kau operasi satu tahun yang lalu? Wanita yang sedang hamil tujuh bulan tapi harus kau operasi untuk menyelamatkan bayinya karena dia mengalami kecelakaan yang begitu parah?"


Perlahan Vino pun mengangguk. "Ya, dia. wanita yang ku operasi dulu." kata Vino.


"Maaf Milan, sungguh aku minta maaf karena saat itu aku tidak tahu jika dia adalah istrimu."


Milan dan Rachel pun saling berpandangan dengan perasaan yang begitu lega.


Milan lalu mengambil ponselnya. "Coba kau lihat ini." kata Milan sambil memperlihatkan foto Gibran.


"Apa saat itu laki-laki ini yang membawa Rachel ke rumah sakit?"


"Ya, dia yang membawa istrimu ke rumah sakit. Aku bahkan mengira jika dia adalah suaminya. Maafkan aku, Milan."


"Tidak apa-apa Vino, aku tidak menyalahkanmu, kau juga tidak tahu jika dia adalah istriku."


"Jika Rachel wanita yang diselamatkan oleh Vino, jadi Arsen adalah putra kalian?" tanya Anya dengan raut wajah penuh tanda tanya.


Vino pun kemudian mengangguk. "Ya, Arsen adalah putra mereka." jawab Vino.


Mendengar perkataan Vino, Rachel pun kemudian menangis.


"Milan, anak kita masih hidup Milan." kata Rachel dengan begitu terisak.


"Iya Ra, anak kita masih hidup. Bahkan aku pun pernah menggendongnya." jawab Milan disertai air mata yang kini mulai mengalir di wajahnya.


"Milan, aku ingin bertemu dengan anak kita, Milan. Bawa aku ke panti asuhan itu."


"Iya Rachel, kita kesana sekarang juga." kata Milan.


"Terimakasih banyak Vino, terimakasih karena kau telah menyelamatkan anak kami."


"Iya Milan, itu sudah tugasku." jawab Vino sambil tersenyum.


"Vino, Anya, sekali lagi terimakasih banyak. Kami pergi dulu." kata Milan sambil berdiri dari tempat duduknya. Namun saat mereka akan pergi tiba-tiba Anya memanggil mereka kembali.


"Tunggu." kata Anya.


"Kenapa Nya?"


"Kalian jangan pergi ke panti karena Arsen tidak ada disana." kata Anya sambil tersenyum.


"Arsen tidak ada di panti? Lalu dia ada dimana?" tanya Milan sambil mengerutkan keningnya.


Anya pun kemudian tersenyum. "Ikut aku." kata Anya sambil menarik tangan Rachel.

__ADS_1


Note: Terimakasih yang sudah mampir, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Love you all 😘❤️


__ADS_2