Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Air mata pun mulai membasahi wajah Bella. "Tidak, aku tidak boleh menangis. Bukankah lebih baik aku mengetahuinya sekarang sebelum perasaanku padanya semakin dalam." kata Bella sambil menghapus air matanya.


"Bella kau kuat Bella." kata Bella sambil menghapus air matanya lagi. Perlahan Bella pun mengendarai mobilnya menjauhi komplek kampus tersebut.


Saat Bella baru saja memarkirkan mobilnya tiba-tiba ponselnya pun berbunyi.


"Jessica?" kata Bella saat melihat sebuah nama di layar ponselnya.


[Halo Bella.]


[Ya Jessica, ada apa?]


[Bella, nanti malam anniversary pernikahanku dengan Felix, kau mau kan datang ke pesta kami nanti malam.]


[Emhhh.. Maaf aku belum bisa menjawabnya, Jessica.]


[Kenapa? Kau takut ada Arvin di pesta itu karena dia teman dekat Felix?] tanya Jessica lagi.


[Salah satunya.]


[Come on Bella, life must go on, tunjukkan pada Arvin jika kau sudah move on darinya. Jika kau selalu menghindar itu akan semakin membuat Arvin besar kepala karena kau takut bertemu dengannya.] kata Jessica sambil merajuk.


Bella pun kemudian terdiam. 'Mungkin ada benarnya apa yang Jessica katakan, aku tidak boleh menghindar dari Arvin, aku harus menunjukan padanya jika aku sudah benar-benar melupakannya.' gumam Bella dalam hati.


[Bagaimana Bella, kau mau kan datang ke pesta kami nanti malam? Bukankah kita juga sudah lama tidak bertemu? Apakah kau tidak merindukan kami?]


[Iya Jessica, aku pasti datang, kau kirimkan saja alamat tempat kau akan mengadakan pesta.]


[Terimakasih Bella, sebentar lagi kukirimkan alamatnya.]


[Iya Jessica.]


Bella kemudian menutup teleponnya.


"Mungkin memang sebaiknya aku datang ke pesta itu, selain untuk menunjukkan pada Arvin jika aku sudah move on darinya, aku juga ingin melupakan rasa sakit di hatiku." gerutu Bella sambil menatap foto Evan di ponselnya yang dia ambil secara diam-diam saat di kantor.


"Ahhhh sadar Bella, sadar, dia sudah menjadi milik orang lain." kata Bella sambil menutup wajahnya.


"Semangat Bella, aku harus move on dari mereka berdua, suatu saat aku pasti bertemu dengan jodohku, setidaknya itulah yang selalu Rachel katakan saat aku sedang sedih." kata Bella sambil terkekeh kemudian dia turun dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya.


Dua jam kemudian, Bella tampak memandang dirinya di depan cermin. "Sepertinya ini sempurna." kata Bella saat melihat dirinya yang memakai gaun berwarna hitam yang membalut tubuhnya yang putih mulus, serta make up malam yang sedikit glamor semakin menambah kecantikan dan kesan seksi yang melekat pada diri Bella.


"Sebaiknya aku berangkat sekarang." kata Bella kemudian berjalan keluar dari kamarnya.


Beberapa saat kemudian, Bella sudah sampai di sebuah club malam tempat Jessica dan Felix mengadakan pesta. Saat Bella memasuki tempat itu, semua mata seolah tertuju padanya, beberapa pandangan jahil dan siulan nakal pun semakin riuh terdengar. Namun Bella hanya mengabaikannya, dia lalu mendekat ke arah Jessica dan Felix yang sedang berdiri di tengah acara pesta.


Jantung Bella seakan berhenti berdetak saat melihat sosok Arvin yang kini berdiri di samping Felix sambil menatapnya dengan tatapan begitu tajam.

__ADS_1


"Jessica." panggil Bella.


"Haiiii Bella, akhirnya kau datang juga. Aku rindu padamu, Bella." kata Jessica sambil memeluk Bella.


"Tentu, aku juga sangat rindu padamu Jessica." jawab Bella.


"Apa acaranya sudah dimulai?"


"Belum, sebentar lagi. Kau lebih baik duduk saja terlebih dulu. Setelah acara utamanya selesai aku ingin mengobrol dengamu."


Bella pun kemudian mengangguk, saat menjauh dari Jessica dan Felix, tatapan tajam Arvin pun tak lepas darinya.


"Heh enak saja dia menatapku seperti itu. Sekarang akan kutunjukkan padanya jika aku benar-benar sudah melupakannya." kata Bella sambil berjalan ke salah satu sofa yang ada di club malam tersebut.


Tak berapa lama setelah Bella duduk, tampak seorang lelaki mendekat padanya. "Hai bolehkah aku duduk di sini?" tanya lelaki itu.


"Tentu saja." jawab Bella sambil melirik Arvin.


'Ini kesempatan bagiku, akan kutunjukkan pada Arvin jika aku pun mampu memikat banyak lelaki.' gumam Bella.


"Kenalkan, aku Brian, siapa nama?"


"Bella."


"Wow, sepertinya kita jodoh karena huruf depan nama kita pun sama."


"Mau minum?" tanya Brian.


"Tidak." jawab Bella.


"Sedikit saja, anggap saja ini sebagai awal perkenalan bagi kita berdua."


Bella pun tersenyum kemudian mengambil minuman yang diberikan oleh Brian.


"Kau mau lagi?"


"Tidak terimakasih."


Namun Brian tampak memaksa, hingga akhirnya tanpa Bella sadari dia sudah meminum lima gelas minuman beralkohol yang kini membuatnya mabuk. Melihat Bella yang kini sudah mabuk, Brian pun tersenyum menyeringai. Dia lalu mendekat ke arah Bella dan mencoba mencium bibirnya. Namun sebelum Brian menyentuh bibir Bella, sebuah bogem mentah pun mendarat di wajahnya.


"Jangan pernah coba-coba mengambil kesempatan!" teriak Arvin yang membuat semua orang yang ada di pesta tersebut melihat mereka. Jessica dan Felix pun akhirnya mendekat ke arah mereka bertiga.


"Brian, bukankah sudah kubilang agar tidak membuat masalah di pestaku!" teriak Felix pada Brian.


"Aku tidak membuat masalah apapun Kak, teman kakak itu yang terlebih dahulu membuat masalah denganku, dia yang terlebih dulu memukulku!"


"Arvin tidak akan memukulmu jika kau tidak mencoba berbuat yang tidak-tidak pada Bella! Brian kau memang benar-benar keterlaluan! Sekarang juga tolong kau pergi dari sini!" usir Felix pada adiknya, Brian. Dengan penuh amarah Brian pun akhirnya pergi.

__ADS_1


"Arvin, sebaiknya kau bawa Bella pulang sekarang." kata Jessica yang melihat Bella sudah terkapar tidak berdaya di atas sofa.


Arvin pun mengangguk, dia kemudian menggendong tubuh Bella ke dalam pelukannya. Dia lalu mengambil kunci mobil Bella di dalam tas kemudian mengantarkan Bella pulang ke rumahnya.


TIN TIN


Gerbang rumah Bella pun dibuka oleh seorang security saat Arvin membunyikan klakson mobilnya. Setelah sampai di halaman depan pintu rumah. Arvin pun mengangkat tubuh Bella.


Setelah memencet bel, seorang asisten rumah tangga pun membukakan pintu rumah tersebut.


"Dimana kamar Bella?" tanya Arvin.


"Di atas Tuan, mari saya antar."


Arvin pun mengikuti asisten rumah tangga tersebut berjalan ke arah kamar Bella.


"Terimakasih." kata Arvin.


"Iya Tuan, saya permisi."


Arvin lalu merebahkan tubuh Bella di atas ranjang di dalam kamar Bella, dia lalu menatap wajah Bella yang kini terpejam.


"Dasar anak nakal, bukankah dari dulu kau tidak pernah bisa kuat untuk minum, tapi kenapa kau memaksakan diri." kata Arvin sambil mengacak-acak rambut Bella.


"Aku pulang dulu, Bella." kata Arvin lagi kemudian membelai wajah Bella.


Namun tiba-tiba Bella memegang tangan Arvin yang kini masih membelai wajahnya.


"Jangan pergi." kata Bella kemudian mendekap tangan Arvin.


"Aku begitu kesepian, tolong jangan pergi dariku. Tahukah kamu jika aku sangat mencintaimu." kata Bella kemudian menarik tangan Arvin.


'Apa, Bella mencintaiku?' gumam Arvin.


"Kau mencintaiku?" tanya Arvin.


Bella pun mengangguk sambil membelai wajah Arvin.


"Aku sangat mencintaimu, tolong jangan tinggalkan aku." kata Bella.


"Apa kau sudah memaafkanku?"


Bella pun mengangguk.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan antara kita berdua."


"Terimakasih." jawab Arvin kemudian mengecup kening Bella.

__ADS_1


"Aku mencintaimu." kata Bella kemudian mendekati wajahnya pada Arvin dan mulai mencium bibirnya dengan penuh gairah.


__ADS_2