Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Penculik


__ADS_3

Bella membuka pintu kamar dan melihat seorang anak kecil tengah tertidur di atas ranjang dengan begitu pulas.


"Itu pasti Arsen." kata Bella sambil tersenyum menyeringai.


"Kenapa tidak ada orang yang menunggu Arsen? Ini semakin memudahkan pekerjaanku saja. Keberuntungan memang sedang berpihak padaku." kata Bella sambil terkekeh.


Bella lalu mengangkat anak yang sedang tertidur tersebut lalu memasukkannya ke dalam gendongan yang dia kenakan di tubuhnya lalu ditutupi oleh jaket dan sebuah tas besar, kemudian Bella keluar dari kamar tersebut sambil memberi kode pada Gibran yang masih asyik berbincang dengan perawat jaga.


Setelah Bella keluar, Gibran kemudian mengakhiri percakapannya dengan beberapa perawat tersebut kemudian menyusul Bella yang kini sedang menunggunya di lorong rumah sakit.


"Bagaimana Bella?"


"Mudah sekali Gibran, tidak ada yang menjaga Arsen di kamar tersebut."


"Wow, luar biasa. Kita memang sedang beruntung Bella."


"Iya Gibran."


"Bella, aku ingin melihat wajah Arsen sebentar sebelum kita membuangnya agar suatu saat aku bisa mengenalinya. Jadi aku bisa waspada."


"Sebentar." kata Bella kemudian membuka jaketnya.


Gibran pun mengamati seorang anak yang masih tertidur di gendongan Bella.


"Bella, apa kau yakin itu Arsen?"


"Ya, bukankah tadi malam perawat jaga mengatakan jika Arsen dirawat di kamar perawatan nomor lima, aku mengambil anak ini di kamar perawatan nomor lima. Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Bella pada Gibran yang masih mengamati anak tersebut sambil mengerutkan keningnya.


"Bella, kenapa anak ini tidak mirip dengan Rachel ataupun Milan? Bahkan kulitnya pun sedikit gelap. Tidak seperti kedua orangtuanya."


Bella pun ikut mengamati anak tersebut. "Kau benar Gibran, dia sama sekali tidak mirip dengan Milan ataupun Rachel." kata Bella saat ikut mengamati anak yang ada dalam gendongannya.


Di saat itulah tiba-tiba sebuah teriakan mengagetkan mereka berdua.


"PENCULIK... PENCULIK!!" Teriak seorang wanita sambil berlari ke arah Bella dan Gibran.


Bella dan Gibran pun begitu panik karena aksinya diketahui oleh seseorang.


"Hai kembalikan anakku!" teriak wanita tersebut.


"Enak saja, ini keponakanku!" jawab Gibran.


"Heh dasar penculik! Kau tidak usah berbohong! Aku orang tuanya!" bentak wanita itu lagi.


"Orang tua?" bisik Bella pada Gibran.


"Sejak kapan Arsen memiliki orang tua? Bukankah selama ini dia tinggal di panti asuhan?"

__ADS_1


"Entahlah Bella, mungkin wanita ini adalah pengurus panti yang sudah menganggap Arsen sebagai putranya." jawab Gibran sambil berbisik.


"Hei kenapa kalian berbisik-bisik? Cepat kembalikan anakku atau kalian akan kulaporkan pada polisi!"


"Sebelum kau melaporkan kami ke kantor polisi, kau yang lebih dulu kulaporkan karena mengaku-ngaku seorang anak yatim sebagai anakmu sendiri!" teriak Gibran.


"Anak yatim? Enak saja kau berbicara seperti itu! Dia anak kandungku!" bentak wanita tersebut.


"Gibran apa kau dengar apa yang dia katakan? Katanya anak ini adalah anak kandungnya." bisik Bella kembali.


"Kau tenang saja Bella, itu hanya gertakan."


"Hei apa sebenarnya yang kalian bisikan, jangan-jangan kalian mau mencoba kabur dariku ya! Tolong.. Tolong... Penculik!" teriak wanita tersebut.


"Tolong penculik!!" teriak wanita tersebut secara terus-menerus hingga membuat orang yang ada di sekitar mereka dan beberapa petugas security pun mendekat pada mereka.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya seorang petugas security.


"Gibran, bagaimana ini? Semua orang mendekati pada kita." kata Bella dengan sedikit gemetar, apalagi saat ini orang-orang yang ada di dekatnya mulai berbisik sambil menatap mereka.


"Kau tenang saja, Bella. Aku adalah wali Arsen, kita tidak bisa disalahkan."


"Iya Gibran."


"Pak, mereka mau menculik anak saya!" kata wanita tersebut.


Mendengar suara ribut-ribut anak tersebut pun kemudian bangun dan menangis, dia lalu memandang pada wanita yang kini ada di dekat Gibran dan Bella lalu mengulurkan kedua tangannya.


"Kalian semua lihat kan, anak ini benar-benar anakku karena dia hanya mengenalku." kata wanita itu kemudian mengambil anak itu yang kini menangis meraung-raung dalam gendongan Bella.


"Uh cup cup cup, Dandy sayang sini sama mama." kata wanita itu sambil mengambil anak itu dari gendongan Bella.


"Apa Dandy?" tanya Bella pada wanita itu.


"Ya, dia Dandy anakku." jawabnya yang membuat Bella menepuk keningnya.


"Gibran, kita salah. Itu bukan Arsen." bisik Bella sambil meringis.


Gibran pun begitu bingung. "Dandy? Jadi anak itu bernama Dandy?" tanya Gibran lagi.


"Ya, apa kau tuli? Ini anakku Dandy."


Gibran pun tersenyum sambil sedikit salah tingkah. "Maaf sepertinya kami salah, keponakan kami bernama Arsen, bukan Dandy. Tolong maafkan aku, ini adalah sebuah kesalahpahaman." kata Gibran sambil mengiba.


"Enak saja kau berkata seperti itu setelah kalian hampir saja memisahkan aku dan anakku. Pak satpam, tolong laporkan mereka pada pihak yang berwajib."


Bella dan Gibran pun saling berpandangan. "Tolong, tolong jangan lakukan itu. Emh begini saja, ini saya ganti rugi karena saya hampir saja merugikan anda." kata Gibran pada wanita tersebut sambil memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu.

__ADS_1


Wanita tersebut pun lalu tersenyum. "Baik jika kau memaksa, aku tidak akan melaporkan kalian ke polisi." kata wanita tersebut.


"Terimakasih." jawab Gibran.


Wanita tersebut lalu berjalan kembali ke arah kamar perawatan anak. Sedangkan Gibran memandang ke arah security yang masih berdiri di sampingnya.


"Pak satpam, semuanya sudah beres, bolehkah saya pergi sekarang?"


"Ya, kalian boleh pergi tapi tolong jangan buat keributan lagi di rumah sakit ini." jawab security tersebut sambil menatap tajam pada Gibran.


"Sebelum saya pergi bolehkah saya menanyakan sesuatu pada bapak?"


"Tentu, apa yang ingin kau tanyakan?"


"Apakah bapak tahu salah satu seorang pasien anak yang bernama Arsen?"


"Tidak memangnya kenapa?"


"Kami hanya ingin tahu apakah Arsen masih dirawat di rumah sakit ini atau tidak."


"Sebentar akan kutanyakan." jawab security tersebut.


Dia kemudian mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang.


"Pasien bernama Arsen sudah pulang dari rumah sakit ini." kata security tersebut.


"Astaga." kata Gibran sambil mengusap kasar wajahnya,


"Gibran, sebaiknya kita pulang sekarang. Ini sungguh benar-benar memalukan, kita sudah menjadi tontonan oleh banyak orang." bisik Bella.


"Iya Bella, kita pulang sekarang." jawab Gibran. Mereka pun pamit pada security tersebut. Security tersebut melihat kepergian Gibran sambil tersenyum menyeringai dia lalu mengambil ponselnya.


"Sudah beres bos semua rencana berjalan lancar, saat ini pasti mereka akan menuju ke panti asuhan." kata security tersebut pada salah seorang di ujung sambungan teleponnya.


🍀🍀🍀🍀


"Gibran ini benar-benar memalukan, aku sangat malu menjadi tontonan oleh banyak orang."


"Iya Bella, aku juga malu, ini memang salah kita karena tidak memastikan terlebih dulu apakah Arsen masih dirawat atau sudah pulang." jawab Gibran.


"Ini juga salahmu, kenapa kau selama ini tidak mengenal wajah Arsen?"


"Sudahlah jangan selalu menyalahkanku. Lebih baik kita fokus untuk menyelesaikan pekerjaan kita."


"Lalu sekarang kita kemana?"


"Tentu saja ke panti asuhan, Bella!" gerutu Gibran.

__ADS_1


Note: Terimakasih yang udah mampir jangan lupa tinggalkan jejak, love you all 😘❤️


__ADS_2