Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Hidup Baru


__ADS_3

Gibran kemudian mengangkat wajahnya lalu melihat seorang laki-laki yang berdiri di hadapannya.


"Evan." kata Gibran


Evan pun tersenyum kecut.


"Meskipun kita belum pernah bertemu tapi ternyata kau mengenaliku."


"Tidak mungkin aku tak mengenal orang yang akan menghancurkan hidupku."


"Menghancurkan hidupmu? Bukankah kau yang terlebih dulu menghancurkan kehidupan orang lain?"


"Aku sudah menyesali semua kesalahanku."


"Lalu apa itu cukup? Apa kau tidak pernah berfikir dampak yang telah kau lakukan orang yang kau sakiti?"


"Aku sudah meminta maaf pada mamamu."


"Heh, bukankah sudah kubilang? Apakah cukup hanya dengan meminta maaf? Tidak semudah itu, Gibran."


"Lalu apa yang harus kulakukan? Vania sudah meninggal, apa aku harus menemui arwahnya untuk meminta maaf padanya?"


"Kau baru menyadarinya saat Vania sudah meninggal kan? Apa kau tidak berfikir bagaimana perasaan orang-orang yang menyayangi Vania saat kau akan menghabisi nyawanya!!"


"Maafkan aku."


"Cuih!! Maaf katamu!!"


"Aku minta maaf, Evan. Aku memang memiliki banyak kesalahan pada keluargamu terutama orang tuamu."


"Sudah terlambat, ibuku dan adikku sudah tiada!! Dasar br*ngsek!" kata Evan sambil mendekat pada Gibran kemudian melayangkan bogem mentahnya pada Gibran.


BUGH BUGHHH


Beberapa orang tahanan kemudian mendekat pada Evan sambil memegang tubuhnya agar tidak menyerang Gibran kembali.


"Lepaskan dia." kata Gibran pada beberapa tahanan itu.


"Kenapa kau hanya bisa diam Gibran! Apakah sebegitu pengecutnya dirimu hingga tak berani melawanku!"


Gibran pun tersenyum.


"Pukulah aku sesukamu jika itu membuatmu puas, bahkan kau boleh membunuhku jika dengan membunuhku bisa membalaskan dendammu."


"Jika aku bisa, sejak dulu aku sudah membunuhmu tapi aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk melakukan itu."


"Sekarang kau sudah memiliki kesempatan itu, kau sudah memiliki kesempatan untuk membunuhku. Kau bisa membunuhku sekarang juga."


Mendengar perkataan Gibran, Evan pun hanya terdiam.


"Kenapa kau diam? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk membunuhku sekarang juga?"


Evan pun hanya menatap tajam ke arah Gibran.


"Kenapa kau masih saja diam, Evan? Apa kau membutuhkan barang untuk menghabisiku?"


Gibran lalu memandang salah satu tahanan yang ada di ruangan itu. "Dion, berikan pisaumu pada Evan."


"Tapi Gibran."

__ADS_1


"Berikan saja, biarkan dia membunuhku agar dia merasa puas, yang terpenting dia tidak menyakiti keluargaku lagi, itu sudah cukup."


"Tapi Gibran."


"Berikan pisau itu pada Evan, Dion! Turuti saja kata-kataku!"


Dion pun mengangguk, dia perlahan memberikan pisau yang dimilikinya pada Evan. Evan pun mengambil pisau itu dengan tangan bergetar.


"Kau mau menjebakku, Gibran?"


"Menjebakmu? Apa maksudmu Evan?"


"Jika aku membunuhmu di sini, aku pasti akan dipenjara seumur hidup, itu kan yang kau mau?"


Mendengar perkataan Evan, Gibran pun tersenyum. "Jika kau memiliki pemikiran seperti itu, biar aku saja yang menghabisi nyawaku agar mereka tidak bisa menuduhmu, sekarang berikan pisau itu padaku agar hanya ada sidik jariku saja yang menempel di pisau itu."


Namun Evan hanya terdiam di tempatnya.


"Kenapa kau diam? Bukankah kau menginginkan kematianku? Keinginanmu sekarang sudah ada di depan mata."


"Kenapa kau mau melakukan seperti itu?"


"Agar kau puas, karena permintaan maaf pun tidak cukup bagimu, aku hanya ingin menebus semua rasa sakit yang pernah kuperbuat pada orang lain."


"Jadi kau sudah bertaubat?"


"Evan kau harus ingat, ini adalah dunia, sifatnya hanya sementara, tidak ada yang kekal di dunia ini. Apa yang kau dapatkan jika hanya menyimpan dendam? Apakah kau akan mendapatkan kepuasan setelah membunuhku? Apakah jika kau bisa membunuhku hidupmu bisa bahagia? Apakah dengan membunuhku keluargamu bisa kembali? Jika jawabannya iya lakukan itu sekarang juga!!! Apakah jika kau sudah membalaskan dendam semua yang pernah hilang dapat kembali? TIDAK EVAN!! INILAH KEHIDUPAN, SEMUANYA ADALAH TAKDIR YANG SUDAH DIGARISKAN TUHAN KAU HARUS MENYADARI ITU!!"


Mendengar perkataan Gibran, Evan pun masih terdiam. Setetes air mata keluar dari ujung matanya.


"Lalu sekarang aku harus bagaimana? Aku sudah kehilangan semua orang yang kucintai di dunia ini."


"Lalu siapa yang masih mau berteman denganku? Siapa yang mau menjadi keluargaku? Tidak ada Gibran."


"Ada."


"Siapa?"


"Aku! Bagaimanapun juga kau adalah kakak dari mantan istriku, anggap saja aku adalah adik iparmu, keluargamu."


"Kau mau menganggapku keluarga?"


"Ya."


"Tapi kenapa?"


"Karena kita sama-sama telah melakukan kesalahan di masa lalu, ini waktu yang tepat untuk memulai hidup baru, Evan. Mulailah hidup barumu dengan menjadi manusia yang lebih baik. Bella sudah pernah mengatakan padamu kan jika mamamu sedih karena kedua anaknya tidak pernah membuatnya merasa bangga? Ini waktu yang tepat untuk memperbaiki diri! Inilah waktu yang tepat untuk memberikan kebahagiaan pada mamamu, aku yakin mamamu pasti akan bahagia jika kau sudah berubah meskipun dia tidak hidup di dunia ini lagi. Jika kau sangat menyayangi mamamu kau pasti bisa berubah Evan, kau harus bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi."


"Mama." kata Evan, kemudian dia menjatuhkan tubuhnya lalu menangis.


"Maafkan aku ma."


Gibran pun mendekat ke arah Evan lalu menepuk bahunya.


"Aku minta maaf padamu, bertemanlah denganku dan jadilah bagian dari keluargaku."


Evan pun hanya menundukkan kepalanya sambil menganggukkan kepalanya dengan perlahan.


❣️ Enam tahun kemudian ❣️

__ADS_1


"PAPPAAAA!!"


Teriak seorang anak kecil sambil berlari pada laki-laki yang baru saja keluar dari sebuah pintu di sebuah lembaga pemasyarakatan.


"Briaaaannnn!!" teriak laki-laki tersebut kemudian memeluk lalu menggendong anak kecil itu.


"Kau sudah besar, kenapa kau lama sekali tidak pernah menjenguk papa?"


"Brian sibuk pa."


"Sibuk?"


"Ya, sibuk sekolah."


"Jadi sekarang kau sudah sekolah?"


"Tentu saja."


"Mama mana?"


"Itu." jawab Brian sambil menunjuk seorang wanita yang berdiri di samping mobil sambil tersenyum padanya. Dia kemudian berlari ke arah perempuan itu sambil membawa Brian dalam gendongannya, kemudian menurunkan Brian lalu memeluk Riana dengan begitu erat.


"Aku sangat merindukanmu, Riana."


"Aku juga Gibran, aku sangat merindukanmu."


Gibran lalu memegang wajah Riana lalu tersenyum sambil membelai rambutnya, perlahan dia pun mulai mengecup bibir Riana.


"Jangan disini Gibran, di rumah saja."


"Baik kalau begitu, ayo kita pulang." kata Gibran kemudian membuka pintu mobil.


"Biar aku yang mengendarai mobilnya." kata Gibran. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil tersebut.


"Bagaimana keadaan Bella, Arvin, dan Vanel?"


"Baik."


"Lalu Milan dan Rachel?"


"Mereka juga sangat baik."


"Lalu dimana mereka? Kenapa mereka tidak ikut menjemputku?"


"Ada di rumah, sedang menyiapkan pesta untukmu?"


"Jadi aku harus menunggu perasaan yang telah kupendam selama enam tahun sampai nanti malam setelah mereka semua pulang?"


"Hahahaha kau ada-ada saja Gibran."


"Tentu saja, karena kau adalah partner ranjang bagiku, Riana." bisik Gibran di telinga Riana.


πŸ’œTHE END πŸ’œ


Note:


Othor ucapkan terimakasih ya buat readers setia PARTNER RANJANG CEO πŸ–€


Maaf ya jika masih banyak kekurangan dalam cerita ini, terimakasih banyak yang sudah menyimak cerita ini dari awal sampe akhir. Love you all readers, big hug for you πŸ˜˜πŸ€—πŸ˜ŠπŸ™

__ADS_1


Sampai ketemu di novel othor yang lain πŸ˜‰πŸ’ž


__ADS_2