Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Tersesat


__ADS_3

[Hallo, Arman ada apa?]


[Bos, saya sudah menemukan siapa Almira sebenarnya.]


[Bagus, bisakah kita menemuimunya untuk ikut melaporkan penyalahgunaan identitas ini.]


[Bos, wanita bernama Almira ternyata sudah meninggal.]


[Astaga, pantas saja mereka begitu bebas menggunakan identitas milik Almira, jadi ternyata dia sudah meninggal?]


[Iya bos.]


[Baik, terimakasih Arman.]


[Tunggu Bos ada satu lagi yang ingin saya sampaikan.]


[Ada apa, Arman?]


[Mengenai hasil tes DNA itu bos, hasil tes DNA itu sudah keluar.]


[Tes DNA sudah keluar? Bukankah dulu pihak rumah sakit mengatakan jika hasil tes DNA tersebut keluar dalam waktu dua minggu?]


[Ya, kemungkinan itu hanya estimasi saja. Jika ternyata keluar lebih cepat bukankah itu lebih baik?]


[Iya kau benar Arman, lebih baik sekarang kau antar hasil tes DNA tersebut dan bukti-bukti lainnya ke Bandung. Aku akan langsung melaporkan mereka berdua ke pihak yang berwajib.]


[Baik bos.]


Milan pun kemudian menutup panggilan teleponnya lalu mendekat pada Anya dan Vino.


"Anya, Vino sepertinya aku harus pulang karena ada sesuatu hal yang penting."


"Iya Milan, kita pulang bersama-sama. Ibu kepala panti kami pamit dulu. Terimakasih banyak atas kerjasamanya hari ini."


"Iya Vino, Anya, Tuan Milan, hati-hati di jalan."


Mereka bertiga kemudian pulang dari panti asuhan tersebut.


"Ada apa sebenarnya, Milan?" tanya Vino saat mereka berjalan keluar dari panti.


"Hasil tes DNA jenazah Vania sudah keluar, aku akan melaporkan kejahatan Gibran dan Bella sekarang juga."


"Bagus Milan, mereka memang sudah sepantasnya mendapatkan hukuman atas semua kejahatan mereka."


"Ya, mereka memang sangat jahat dan licik. Bahkan hari ini anak buahku juga sudah menemukan tambahan bukti mengenai identitas palsu yang mereka gunakan untuk menipu Rachel."


"Identitas palsu?" tanya Vino dan Anya bersamaan.


"Ya, dia menggunakan identitas seseorang yang sudah meninggal yang bernama Almira, dia memiliki tanggal lahir yang sama dengan Rachel."


"Almira? Namanya mirip dengan pemilik butik langgananku."


Milan pun kemudian tersenyum.


"Ya, Almira pemilik butik itu adalah Rachel." jawab Milan sambil tersenyum.


"Astaga, pantas saja saat pulang dari butik kau menanyakan mengenai dua orang yang memiliki kemiripan identik. Jadi kau sudah bertemu dengan Rachel saat mengantarkan aku ke butik saat itu?"


"Ya." jawab Milan sambil tersenyum nakal.

__ADS_1


"Hahahaha aku sungguh tak menyangka jika akulah sebenarnya pahlawan bagi kalian berdua." kata Anya sambil tertawa terbahak-bahak.


"Milan benarkah Gibran melakukan penyalahgunaan identitas!" tanya Vino.


"Iya, aku sudah memiliki buktinya. Anak buahku nanti akan datang untuk membawa semua bukti-bukti itu, kalian bisa melihatnya nanti."


"Benar-benar licik."


"Kau memang benar Milan, sebaiknya mereka diberi pelajaran terlebih dahulu sebelum merasakan dinginnya jeruji besi."


"Iya dan sekarang sepertinya aku memiliki ide bagus untuk memberi tambahan pelajaran bagi Gibran dan Bella." kata Milan sambil tersenyum menyeringai.


☘️☘️☘️


Bella kini tampak begitu cemas dan berulang kali menelan ludahnya dengan kasar saat melihat jalan bebatuan yang kini mereka lewati.


"Gibran apa kau yakin ini alamatnya?"


"Ya, ini alamatnya seperti yang tertera di kertas itu."


"Tapi kenapa jalanan ini tampak sangat sepi? Bahkan jalanan yang kita lalui bukan lagi jalanan beraspal."


"Tapi ini menang benar-benar alamatnya, Bella."


"Tapi sepertinya aku tidak melihat pemukiman di sekitar sini." kata Bella saat melihat kini mobil milik Gibran mulai memasuki jalanan yang kanan kirinya adalah sebuah hutan.


"Gibran, apa kau tidak lihat kita memasuki sebuah hutan." kata Bella dengan begitu khawatir. Keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya.


"Lebih baik kau diam saja Bella, aku hanya mengikuti alamat yang ada di kertas itu, dan menurut navigasi inilah alamatnya." kata Gibran yang kini juga terlihat panik.


'Astaga, bahan bakar di mobil ini juga sudah sangat menipis. Aku tak menyangka jika akan sejauh ini.Tapi aku tetap harus tenang, aku tidak boleh panik karena jika aku panik itu akan semakin membuat Bella semakin cerewet dan pasti akan menyalahkanku.' gumam Gibran dalam hati sambil melirik pada Bella yang kini tampak begitu ketakutan.


Mendengar perkataan Bella, Gibran pun hanya bisa diam mencoba menenangkan hatinya yang begitu cemas.


"Gibran, kenapa sejak tadi kau hanya diam saja? Apa kau tidak lihat jika sejak tadi hanya hutan yang kita lalui?"


"Tenanglah Bella, aku pun sedang bingung!"


"Jadi sejak tadi kau diam karena kau juga tidak yakin dengan jalan yang kita lalui?" teriak Bella.


"Jawab aku Gibran!"


"Iya Bella, aku pun tidak tahu kita akan memasuki hutan seperti ini."


"Kalau kau ragu, kenapa kau tidak putar arah saja Gibran?"


"Karena aku berharap di depan sana ada perkampungan, Bella. Coba kau lihat bahan bakar di mobil ini juga sudah sangat menipis." teriak Gibran.


"Astaga, kenapa kau bodoh sekali Gibran." kata Bella sambil menutup wajahnya, air mata pun mulai mengalir di wajahnya.


"Kau selalu saja menyalahkanku tanpa melihat kebodohan yang sering kau lakukan." kata Gibran sambil mencibir Bella yang kini menangis tersedu-sedu


"Diam Gibran, daripada mencibirku lebih baik kau pikirkan bagaimana caranya kita keluar dari hutan ini dengan selamat. Apa kau tidak berfikir jika kita bisa saja bertemu dengan binatang buas disini!" teriak Bella sambil terisak.


"Diam Bella jangan semakin memperkeruh keadaan ini!" teriak Gibran, dan saat itu juga tiba-tiba mobil mereka berhenti.


Gibran dan Bella pun kini semakin panik.


"Gibran, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba mobil ini berhenti?"

__ADS_1


"Sial!" umpat Gibran sambil memukul setir mobilnya.


"Ada apa Gibran?"


"Bahan bakarnya habis Bella." gerutu Gibran.


"Astaga." kata Bella sambil menutup wajahnya, tangisnya kini pun kian kencang.


"Gibran coba kau hubungi anak buahmu."


"Kalau saja ada sinyal di ponselku mereka semua sudah kuhubungi Bella!"


"Lalu kita harus bagaimana? Apa kau tidak lihat, hari juga sudah mulai gelap. Bagaimana jika kita tidak bisa keluar dari hutan ini?"


Gibran kemudian mengusap kasar wajahnya.


"SIAL!!" umpat Gibran dengan begitu menggema di dalam mobil.


☘️☘️☘️☘️


"Selamat sore sayang." kata Milan sambil memeluk Rachel dari belakang saat Rachel sedang merapikan tempat tidurnya.


Rachel pun kemudian tersenyum dan membalikkan tubuhnya. "Sepertinya kau sangat bahagia."


"Tentu saja, bisa berkumpul kembali dengan anak dan istriku adalah kebahagiaan yang tidak ternilai, oh iya besok papa dan mama juga akan datang kesini."


"Iya aku juga ingin bertemu dengan papa dan mama." jawab Rachel sambil melihat wajah Milan yang kini terlihat begitu bahagia.


"Sepertinya ada hal lain yang membuatmu begitu terlihat begitu bahagia Milan?" tanya Rachel dengan sedikit curiga.


"Bukankah tadi sudah kukatakan jika aku sangat bahagia bisa berkumpul dengan kalian lagi."


"Tidak pasti ada hal lain, wajahmu terlihat begitu nakal Milan."


"Baik sekarang aku tanya padamu, bagaimana jika kau tersesat di dalam hutan belantara tanpa persiapan apapun."


"Tentu saja itu sangat menakutkan, Milan."


"Itulah yang kini terjadi pada Bella dan Gibran."


"APAAAA?"


☘️☘️🍀🍀🍀


"Gibran, ini sudah malam gelap sekali." gerutu Bella.


"Lebih baik kita turun saja dari mobil dan menyalahkan api unggun."


"Apa? Api unggun? Memangnya kita mau berkemah?"


"Baik kalau kau tidak mau ikut, aku turun sendirian." kata Gibran sambil turun dari mobil.


Bella pun dengan terpaksa mengikuti Gibran turun dari mobil, namun baru saja mereka turun dari mobil sebuah suara begitu mengejutkan mereka.


"Gibran suara apa itu? Kenapa seperti auman harimau?" kata Bella sambil menelan ludahnya dengan kasar.


"BELLAAAAA LARIIIIIII."


Note: Terimakasih yang udah mampir, kalau ga suka di skip aja ya 🤗✌️ kalau kalian suka jangan lupa tinggalkan jejak 🤗✌️, love you all 😘❤️

__ADS_1


__ADS_2