
"Milan, aku mau mengangkat telepon dari Gibran, jangan sampai dia tahu aku sedang bersama laki-laki lain, dia bisa marah padaku. Kau mengerti kan?"
Milan pun kemudian mengangguk. 'Aku yang suaminya, kenapa jadi seolah-olah aku yang seperti selingkuhannya.' kata Milan dalam hati sambil melihat Almira yang kini sedang mengangkat panggilan dari Gibran di balkon apartemennya.
[Halo Almira. Kenapa lama sekali kau baru mengangkat panggilan dariku?]
[Emh, iya Gibran. Maaf aku baru saja bangun tidur, tadi kepalaku sedikit pusing jadi aku memutuskan malam ini aku akan menginap di Jakarta. Sekarang aku sedang berada di hotel.]
[Apa? Kamu sakit Ra?]
[Ya, tadi aku sedikit pusing, tapi sekarang jauh lebih baik.]
[Kau tidak lupa meminum obat dariku kan Ra?]
[Iya Gibran, aku sudah meminum obat darimu, seperti yang selalu kau perintahkan, aku selalu meminum obat itu jika kepalaku sakit.]
[Iya Ra, kau harus selalu meminum obat itu. Kau pernah mengalami gegar otak, jadi kau harus bisa selalu menjaga kesehatanmu. Sekarang kau ada dimana? Biar kususul saja, nanti kita menginap di rumah Bella.]
[Oo..Oh tidak usah Gibran, besok pagi aku juga pulang, aku cuma ingin istirahat saja malam ini.]
[Baiklah jika itu maumu. Sekarang kau istirahat saja Ra.]
[Iya Gibran.] jawab Almira kemudian menutup telepon dari Gibran. Dia lalu memandang pemandangan malam kota Jakarta dari balkon apartemen Milan. Sedangkan Milan yang berdiri di balik tembok begitu terkejut mendengar percakapan Almira dan Gibran.
'Jadi yang memberikan obat itu adalah Gibran? Dasar breng*ek! Pasti Gibran memberikan obat itu untuk memberikan efek buruk pada Rachel. Tunggu sampai aku mendapat semua bukti akan kubalas semua perbuatanmu Gibran!' kata Milan dalam hati dengan nafas yang begitu menderu menahan amarahnya.
Namun seketika amarah Milan pun mereda saat melihat wajah Almira yang kini terlihat begitu teduh memandang pemandangan malam yang ada di depannya.
'Ra, kamu masih seperti yang dulu, selalu hanyut saat memandang pemandangan di malam hari.' kata Milan dalam hati, tanpa dia sadari air mata pun mulai mengalir di pipinya.
'Aku rindu kamu Ra, aku rindu kebersamaan kita.' gumam Milan lagi sambil menatap Almira yang kini tersenyum sambil sesekali sibuk merapikan rambut hitamnya yang tertiup angin malam.
'Pemandangan ini, sepertinya aku pernah menikmati pemandangan malam seperti ini.' kata Almira dalam hati.
'Apakah sebaiknya mulai sekarang aku harus menyelidiki masa laluku? Bukankah orang yang kukenal dimasa laluku hanya Gibran dan Bella? Dan mereka tidak pernah membiarkan aku bertemu dengan orang-orang di masa laluku. Apakah benar kata-kata laki-laki itu jika aku adalah istrinya? Jika dia tidak pernah menjadi bagian masa laluku, kenapa dia tahu semua tentangku? Ada apa sebenarnya ini? Aku harus menyelidiki semua ini.' kata Almira dalam hati sambil terus menatap gelapnya malam.
Perlahan Milan pun mendekat pada Almira. "Ra, ini sudah malam, lebih baik kita masuk ke dalam."
Almira pun kemudian mengangguk, dia lalu mengikuti langkah Milan masuk ke dalam apartemennya.
__ADS_1
"Kau jadi nonton film korea?"
"Tidak, aku hanya ingin istirahat. Kepalaku masih sedikit pusing." kata Almira kemudian dia mengambil tasnya. Namun saat dia akan mengambil obat yang ada di dalam tasnya tersebut, Milan mencegahnya.
"Jangan Ra, jangan memakan obat ini."
"Kenapa?"
"Emhh, bukankah tadi kau sudah meminum obat ini tapi kau masih saja pusing. Lebih baik kau meminum obatku saja."
"Tapi, ini obat khusus dari dokter untukku, dulu aku pernah mengalami gegar otak, jadi aku harus selalu meminum obat-obatan khusus dari dokter."
'Oh jadi Rachel dulu pernah mengalami gegar otak?' kata Milan dalam hati.
"Apa kau yang membeli obat-obatan ini?"
"Bukan, Gibran yang selalu membelikannya untukku, dia yang memiliki resepnya jadi dia yang rutin membelikan obat ini untukku." jawab Rachel.
"Oh, mulai sekarang lebih baik kau tidak usah mengkonsumsi obat-obatan ini lagi Ra."
"Memangnya kenapa?"
"Kau yakin?"
"Ya, tentu saja. Jangan remehkan obat itu Ra, kalau tidak percaya, kau makan saja obat ini sekarang." kata Milan sambil tertawa dalam hati.
"Baik, aku akan meminum obat ini." jawab Almira kemudian meminum obat tersebut.
Milan pun tersenyum saat melihat Almira yang kini meminum obat tersebut di depannya.
"Lebih baik kau tidur sekarang, ini sudah malam, bukankah besok pagi kau harus pulang ke Bandung?"
"Iya." jawab Almira sambil mengangguk kemudian berjalan masuk ke dalam kamar.
"Jika kau takut aku akan melakukan hal yang buruk padamu, kunci pintunya rapat-rapat."
Almira pun hanya tersenyum, dia lalu masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu dan menguncinya.
"Ternyata dia tidak seburuk yang kubayangkan." kata Almira sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️
Almira keluar dari kamar dan melihat Milan yang kini tertidur di atas sofa, dia lalu tersenyum dan berjalan ke arah dapur.
"Hanya ada ini?" gerutu Almira saat membuka kulkas untuk membuatkan sarapan. Dia lalu mengambil beberapa bahan yang ada di kulkas lalu tampak sibuk di dapur. Beberapa saat kemudian dia berjalan ke arah Milan dan membangunkannya.
"Bangunlah aku sudah membuatkan sarapan untukmu."
Milan perlahan pun membuka matanya sambil tersenyum lalu berjalan mengikuti Almira menuju meja makan.
"Makanan ini." kata Milan saat melihat ayam panggang keju di atas meja makan.
"Kenapa? Kau tidak menyukainya?"
"Tidak, makanan ini adalah makanan yang pertama dibuat olehmu untukku."
"Kau tidak usah terlalu percaya diri, hanya ada bahan-bahan ini yang ada di dalam kulkas jadi aku membuatkan makanan ini untukmu."
Milan pun tersenyum mendengar perkataan Almira.
"Kata-kata yang sama yang kau ucapkan dulu." kata Milan sambil tersenyum yang membuat Almira mendengus kesal.
"Bagaimana sakit kepalamu?"
"Sudah tidak sakit."
"Benarkan apa kataku, obat yang kuberikan padamu itu jauh lebih baik dibandingkan dengan yang Gibran berikan. Jadi mulai saat ini jangan terlalu percaya pada Gibran karena yang semua dia katakan tidaklah selalu benar. Ini kunci mobilmu, aku sudah mengambil mobilmu, kau bisa mengambilnya di basemen."
Almira pun termenung mendengar perkataan Milan.
"Aku sudah selesai sarapan, aku pulang dulu." kata Almira, dia kemudian berdiri dan berjalan ke arah pintu.
"Tunggu Ra." jawab Milan kemudian mendekat ke arah Almira. Dia lalu berdiri di depan Almira dan memeluknya.
'Astaga.' kata Almira dalam hati, dia sebenarnya ingin melepaskan pelukan itu namun perasaan di dalam hatinya terasa begitu sulit untuk melepaskan pelukan hangat Milan, bahkan dadanya terasa begitu sesak saat Milan melepaskan pelukannya hingga tanpa sadar air mata mulai menetes di pipinya. Milan yang melihat Almira yang kini menangis kemudian menghapus air matanya.
"Jangan menangis Ra, kita pasti akan bertemu kembali, dan di saat itulah aku tidak akan pernah melepasmu lagi." kata Milan yang membuat hati Almira terasa begitu sakit, dia lalu membalikkan badannya untuk menutupi air mata yang kini mulai mengalir deras membasahi wajahnya.
'Tuhan, kenapa jadi seperti ini? Apa yang sebenarnya telah terjadi dalam hidupku? Apakah benar laki-laki itu adalah suamiku?' kata Almira dalam hati sambil meninggalkan Milan.
__ADS_1
Milan menatap kepergian Almira dengan begitu sendu. "Setelah ini kau pasti akan mulai menyadari jati dirimu yang sebenarnya Ra."