Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Pilih Siapa


__ADS_3

Bella pun bergegas keluar dari rumah lalu masuk ke dalam mobilnya.


"Ayo Riana." kata Rachel sambil menarik tangan Riana untuk menyusul Bella.


"Iya Ra."


Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di kantor polisi setelah sebelumnya menjemput Sinta terlebih dahulu. Mereka berjalan dengan sedikit tergesa-gesa masuk ke dalam ruang penyidikan. Tampak Evan dan Celine yang sedang duduk di depan salah seorang polisi. Sedangkan Arvin dan Milan duduk di salah satu sofa yang ada di pojok ruangan penyidikan tersebut. Rachel dan Riana pun mendekat ke arah Milan dan Arvin, sedangkan Bella dan Sinta yang sudah begitu emosi lalu mendekat ke arah Evan.


Melihat kedatangan Sinta, Evan pun begitu terkejut.


"Sinta?" tanya Evan sambil mengerutkan keningnya.


"Kau terkejut aku masih hidup?" tanya Sinta dengan tatapan sinis.


'BRE*GSEK!! Ini pasti ulah Arvin dan Milan, mereka pasti membuntutiku saat aku membuang Sinta di tengah hutan!' gumam Evan di dalam hati.


"Pak polisi, bisakah kami berbicara dengan tersangka sebentar?"


"Ya, silahkan. Saya beri waktu setengah jam untuk berbicara dengannya."


"Baik Pak, terimakasih." jawab Bella. Arvin yang melihat Bella sudah begitu emosi lalu mendekatinya.


"Bella, sabarlah."


"Aku sudah tidak bisa bersabar Arvin, laki-laki ini benar-benar BREN*SEK!!"


"Bella tenangkan dirimu."


"Jadi kau kakak kandung dari Vania?"


Evan pun hanya terdiam.


"Apa kau tahu apa kesalahan yang pernah Vania lakukan pada kami dan Gibran sehingga kami membalas dendam pada Vania?"


"Bukankah sudah kukatakan jika ini bukan tentang Vania! Tapi tentang mamaku yang hidupnya begitu berantakan akibat perbuatan kalian berdua!!"

__ADS_1


"Perlu kau tahu Evan, sebelum aku dan Gibran menjalani proses persidangan, kami sudah bertemu dengan mamamu, dan kami sudah saling memaafkan satu sama lain! Kami sudah meminta maaf atas semua yang kami lakukan pada Vania dan dia pun telah menyadari semua kesalahan yang telah Vania lakukan pada kami berdua! Asal kau tahu, mamamu depresi bukan hanya karena kematian Vania tapi dia juga sedih dan kecewa karena dua orang anaknya tidak bisa membanggakan dirinya! Meskipun sebelumnya aku belum pernah bertemu denganmu tapi saat itu mamamu juga sedikit bercerita tentangmu yang memiliki banyak kasus kriminal. Dia sangat sedih karena kalian selalu mengecewakannya!! Mungkin itulah sebabnya dia sangat jarang menemuimu saat kau sudah pulang! Itu karena dia juga kecewa padamu! Apa kau mengerti, Evan!"


"Sabar Bella." kata Arvin sambil mengelus pundak Bella.


"Tapi dia harus tahu yang sebenarnya, Arvin! Tidak semua yang dia pikirkan itu benar, dia sudah membuka sebuah luka yang sudah sembuh, dia benar-benar laki-laki bodoh! Dia bahkan tidak tahu apa-apa tentang kehidupan kita semua dulu tapi dia dengan mudahnya mengambil kesimpulan lalu ingin menghancurkan kehidupan kita semua!"


"Iya aku tahu, aku yakin mulai saat ini Evan pun mulai sedikit menyadari kesalahannya, bukan begitu Evan?"


Mendengar pertanyaan Arvin, Evan pun hanya terdiam.


"Kenapa kau diam, Evan?"


"Lebih baik kalian pergi dari sini! Aku tidak ingin melihat kalian ada di sini."


Mendengar perkataan Evan, Bella dan Arvin pun saling berpandangan. Mereka kemudian melihat Milan dan Rachel yang ada di pojok ruangan, Milan pun mengangguk.


"Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Evan, kami sudah memberikan kau kesempatan tapi kau masih keras kepala."


"Ya, dia memang laki-laki tidak tahu diri, Dasar keras kepala! Hiduplah semaumu!" gerutu Bella. Namun sebelum Bella pergi dari ruangan itu, Celine pun mencegatnya.


"Bella, Bella, tunggu Bella."


"Bella, tolong aku. Aku tidak sepenuhnya bersalah, aku hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh Evan, sungguh Bella aku tidak memiliki dendam apapun pada kalian, tolong jangan seret aku ke dalam masalah ini. Aku tidak mau masuk penjara Bella."


Bella pun kemudian menatap Celine dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Apa kau sadar mengatakan seperti ini padaku? Apa kau lupa bagaimana kau sudah memperdayaku dan Riana?"


"Ma.. Maafkan aku Bella, aku melakukan seperti itu karena Evan yang memerintahkan aku. Aku hanya menuruti perintah Evan sebagai kekasihku."


Mendengar perkataan Celine, Sinta pun mendekat ke arah mereka.


"Apa-apaan ini Evan?" tanya Sinta dengan tatapan mata tajam.


"Gadis ini bilang dia adalah kekasihmu? Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan anak yang ada di dalam kandunganku?"


Celine pun begitu terkejut mendengar perkataan Sinta.

__ADS_1


"Apa-apaan ini Evan? Wanita ini bilang jika dia sedang mengandung anakmu? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa dia juga kekasihmu, Evan?" tanya Celine sambil berurai air mata.


"Celine, tenang Celine. Aku hanya mencintaimu, aku melakukan semua ini agar dia menuruti kata-kataku, agar aku bisa masuk ke dalam perusahaan Bella dengan mudah. Aku tidak pernah mencintai wanita itu, Celine."


"Jadi kau melakukan itu denganku karena kau tidak mencintaiku dan hanya ingin memperalatku saja Evan?" bentak Sinta.


Evan pun terdiam, dia hanya bisa memegang tangan Celine yang masih begitu marah padanya.


"Evan jawab pertanyaanku!"


"Iya Sinta, aku melakukan semua itu hanya untuk memperalatmu saja, agar kau mau menuruti semua kata-kataku!!!"


"DASAR LAKI-LAKI BRENGSE**KKKK!!"


PLAK PLAK PLAK


Bella pun menatap Evan dengan tatapan miris. "Kau benar-benar buaya darat, Evan. Di saat yang bersamaan kau telah memperdaya tiga orang wanita sekaligus, untung saja aku tidak terpedaya olehmu."


"Ayo Arvin, kita keluar saja. Aku sudah begitu muak dengan orang seperti dirinya." kata Bella sambil menarik tangan Arvin. Namun langkah Bella kembali dicegah oleh Celine.


"Bella, lalu bagaimana dengan aku? Aku tidak mau masuk penjara, Bella."


"Maaf Celine, aku tidak bisa berbuat banyak karena bagaimanapun juga kau tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Tapi aku janji setelah kau keluar dari penjara, aku akan memberi pekerjaan untukmu, asal kau mau berubah dan menyadari semua kesalahan yang telah kau perbuat."


"Benarkah kau akan memberikan aku pekerjaan?"


"Ya Celine, datanglah padaku setelah kau menyelesaikan masa tahananmu."


"Terimakasih Bella, terimakasih banyak."


"Ya, aku pergi dulu." kata Bella kemudian meninggalkan ruang penyidikan itu.


"Sinta, selesaikan urusanmu. Kami tunggu di depan."


"Iya Nyonya Bella."

__ADS_1


Sinta kemudian menatap tajam pada Evan.


"Evan, sekarang aku tanya padamu, kau pilih aku atau wanita itu?" tanya Sinta dengan tatapan mata tajam.


__ADS_2