
Bella menghembuskan nafas panjangnya saat membaca sebuah pesan dari Rachel yang tidak bisa menemaninya pergi jalan-jalan hari ini karena harus pergi bersama Milan menjenguk Anya yang baru saja melahirkan sekaligus menyusul anak-anak mereka yang sudah ada di Bandung.
"Hmmmm memang sudah seharusnya orang-orang seusiaku sudah memiliki keluarga, aku saja yang dulu sudah begitu bodoh terlalu berambisi untuk merebut Milan kembali hingga tidak memikirkan akibatnya." gerutu Bella sambil memandang rintik gerimis di balkon kamarnya.
"Lebih baik aku pergi jalan-jalan sendiri saja. Terkadang seseorang juga membutuhkan waktu untuk sendiri." gerutu Bella sambil menghibur dirinya sendiri.
"Tapi aku belum memiliki mobil, semua mobil kami dijual saat kami masuk ke penjara karena tidak ada yang mengurusnya." kata Bella sambil memandang garasi di rumahnya yang kosong.
"Besok pagi sebaiknya aku membeli mobil lagi, bukankah aku juga mulai besok sudah harus berangkat ke kantor untuk mengurus perusahaan kami yang lama terbengkalai dan hanya diurus oleh beberapa orang komisaris? Tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengurus perusahaan." gerutu Bella sambil memijit keningnya.
"Ah sudahlah untuk sementara tidak usah dipikirkan, hari ini waktunya untuk bersenang-senang." kata Bella kemudian berjalan keluar dari rumah kemudian mendekat pada sebuah mobil yang berhenti di depan rumahnya.
"Itu pasti taksi online yang kupesan." kata Bella sambil berjalan ke arah mobil itu.
"A... Arvin." kata Bella dengan begitu terkejut saat melihat pengemudi taksi online tersebut adalah Arvin.
Arvin pun kemudian tersenyum. "Apa kabar Bella?"
Namun Bella hanya terdiam, perasaannya begitu tak menentu. Rasa marah dan dendam begitu campur aduk di dalam hatinya.
"Selamat siang Bella, apa kabar?" tanya Arvin sambil melirik wajah Bella di spion bagian dalam mobilnya.
'Sial, kenapa sekarang dia begitu tampan.' gerutu Bella dalam hati.
"Hei lebih cepat kau kendarai saja mobilmu!" bentak Bella dengan begitu ketus.
Arvin pun kemudian mulai melajukan mobilnya.
"Kau sendirian?"
__ADS_1
"Itu bukan urusanmu!"
"Bella, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf atas semua yang pernah kulakukan padamu."
"Aku tidak mendengar apapun, lebih baik kau lajukan mobilmu, aku sudah ingin sampai ke tempat tujuanku!" bentak Bella lagi. Arvin pun mengendarai mobilnya menuju ke sebuah mall terbesar di pusat kota.
"Hei, kenapa kau memarkirkan mobilmu di dalam basemen? Kau cukup menurunkanku di lobi saja."
"Aku ingin menemanimu, sekarang banyak orang jahat tidak aman jika kau sendirian!"
"Tidak perlu, aku tidak ingin memiliki urusan apapun denganmu! Apakah kau tahu jika aku sangat membencimu! Aku sudah begitu muak melihat wajahmu, Arvin!"
Arvin pun membalikkan wajahnya. "Aku sadar itu, aku sadar kesalahanku begitu besar padamu, karena itulah tolong maafkan aku."
"Cukup! Lebih baik kau pergi sekarang juga!" bentak Bella kemudian turun dari mobil Arvin lalu berjalan masuk ke dalam mall tersebut.
Arvin pun menatap Bella yang kini berjalan memasuki area mall dengan tatapan begitu sendu. "Maafkan aku, Bella, aku sudah begitu serakah padahal kau dulu begitu tulus mencintaiku. Entah bagaimana caranya aku akan tetap berusaha untuk meminta maaf padamu sampai kau mau memaafkan aku, Bella. Setiap orang memiliki masa lalu dan aku ingin memperbaiki semua hal buruk yang pernah kulakukan di masa lalu."
☘️☘️☘️☘️☘️
Gibran berjalan menuju ke arah beberapa ruang tahanan yang ada di dalam lembaga pemasyarakatan tersebut.
'Sial mulai hari ini aku harus tinggal disini bersama orang-orang menjijikan ini.' kata Gibran dalam hati sambil melirik beberapa orang tahanan yang kini sedang menatapnya.
"Ini ruang tahanan anda Tuan Gibran." kata seorang sipir.
"Tolong lindungi aku, jangan biarkan para preman itu menggangguku."
"Maaf sekarang sudah tidak bisa karena sekarang sistem disini begitu ketat dan ada audit rekening petugas yang bekerja disini."
__ADS_1
'Sial.' umpat Gibran di dalam hati.
Perlahan Gibran pun masuk ke dalam ruang tahanan tersebut disertai tatapan mata tajam para penghuninya.
"Jadi dia tahanan istimewa yang ada di sini?" kata salah seorang penghuni yang ada di ruangan tersebut.
"Istimewa? Itu dulu tapi sekarang tidak karena dia sama pecundangnya dengan semua yang ada di sini. Hahahaha."
'Brengsek!' umpat Gibran dalam hati sambil berjalan ke salah satu pojok ruangan kemudian merebahkan tubuhnya di atas sebuah kasur lapuk yang berbau.
"Hei enak saja kau langsung tidur di sini, kau harus mengikuti tradisi penghuni baru di ruangan ini!" bentak salah seorang yang bertubuh kekar dan memiliki tato di wajahnya.
Namun Gibran tetap tidak bergeming, dia tetap merebahkan tubuhnya sambil memejamkan matanya.
"Hei berani-beraninya kau mengabaikan kata-kataku!" bentak lelaki bertato itu lagi.
Melihat Gibran yang kini semakin cuek dengan kata-katanya, dia lalu mendekat ke arah Gibran dan melayangkan bogem mentah padanya. Namun sebelum pukulan itu sampai di tubuh Gibran. Gibran terlebih dahulu menghindar ke arah samping yang membuat tangan laki-laki bertato itu memukul tembok karena Gibran menghindar dari pukulannya.
'Untung saja aku sudah mempersiapkan semua ini.' gerutu Gibran dalam hati sambil menatap laki-laki itu.
"Kau memang benar-benar kurang ajar!" kata laki-laki itu kembali dan bersiap untuk menyerang Gibran.
"Kau jangan pernah sekali-kali bermain-main denganku dasar preman bodoh! Meskipun aku dipenjara, aku masih memiliki kekuasaan di luar sana untuk menghabisi keluargamu!" bentak Gibran yang membuat seluruh penghuni di ruangan itu terkejut.
"Namamu Jamal kan? Kau dipenjara karena kasus pencurian dan pembunuhan, kau memiliki seorang istri dan dua orang anak yang masih bersekolah! Jika kau ingin anak dan istrimu selamat, jangan pernah kau coba-coba menggangguku!" teriak Gibran.
"Aku peringatkan pada kalian semua yang ada di sin! Hal ini juga berlaku untuk kalian semua! Jangan pernah kalian berani macam-macam denganku karena aku bisa berbuat apapun untuk menghancurkan kehidupan kalian di luar sana!" bentak Gibran yang membuat nyali seluruh penghuni di ruangan itu menciut.
"Kalian harus ingat jika aku memiliki uang dan kekuasaan yang mampu membeli kehidupan kalian! Ingat itu baik-baik!!!" teriak Gibran.
__ADS_1
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya salah seorang laki-laki berseragam yang mendekat ke arah ruang tahanan itu.
"Hei, kau lihat laki-laki itu? Aku dengar dia kepala lapas kita yang baru." bisik beberapa orang di salah satu pojok ruang tahanan.