Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Ruang Rapat


__ADS_3

"Kau tampan sekali." kata Bella saat memasangkan dasi pada kemeja Arvin.


"Kau sudah sering mengatakannya sejak delapan tahun lalu saat kita mulai berpacaran."


"Kau meledekku?" kata Bella sambil memonyongkan bibirnya.


"Hahahaha, kau terlihat semakin cantik jika bibirmu seperti itu, Bella."


"ARVINNNNN!!" teriak Bella sambil memukul-mukul tubuh Arvin karena mulai kesal dengan candaannya.


Arvin pun tersenyum lalu mendekatkan tubuhnya pada tubuh Bella. "Kau semakin cantik jika sedang marah Bella." bisik Arvin di telinga Bella sambil menciuminya kemudian tangannya pun mulai menjelajah masuk ke dalam pakaian Bella.


"Arvin, tidak Arvin ini sudah siang, kita harus berangkat ke kantor."


"Sebentar saja sayang." bisik Arvin di telinga Bella kemudian menciumi tengkuknya.


"ARVINNNNN BELLLLAAAA!!! CEPAT KELUAR INI SUDAH SIANG!!!" Teriak Gibran yang begitu mengagetkan mereka berdua. Mereka pun tertawa mendengar teriakkan Gibran.


"Kau dengar sayang, singanya sudah mengaum." kata Arvin yang membuat Bella tertawa terbahak-bahak.


"Apa kubilang." jawab Bella sambil terkekeh.


Mereka kemudian keluar dari kamar menujunya ke meja makan untuk sarapan. Riana pun menyambut mereka sambil tersenyum.


"Kau terlihat tampan memakai stelan jas seperti itu Kak." kata Riana sambil tersenyum.


"Iya Riana aku sampai takut jika nanti ada yang jatuh cinta pada suamiku." kata Bella sambil terkekeh.


"Tidak akan ada yang berani jatuh cinta padaku karena mereka pasti akan takut berhadapan denganmu, Bella."


"Hei memangnya kau pikir aku siapa, Arvin?" gerutu Bella.

__ADS_1


"Kau bidadari penjaga hatiku." ledek Arvin yang membuat Bella tersipu malu.


"Hahahaha, aku tak menyangka ternyata kau begitu romantis Kak." kata Riana sambil ikut tertawa.


"Hei Riana, aku juga bisa romantis seperti itu. Bahkan jauh lebih romantis dibandingkan Arvin." kata Gibran sambil melirik pada Arvin dan Bella yang kini sedang tertawa.


"Iya iya Gibran." jawab Riana.


"Kalian sudah selesai sarapan kan? Lebih baik kalian cepat berangkat ke kantor. Ini sudah siang, apa saja yang sebenarnya kalian lakukan sampai keluar dari kamar sesiang ini." gerutu Gibran.


"Ini wajar Gibran, kami kan pengantin baru, memangnya kau, tadi malam saja kalian tidur terpisah kan? Hahahaha."


"Hei Arvin, memangnya hanya kau saja yang bisa menikah, nanti malam aku juga akan menikahi Riana." kata Gibran sambil tersenyum.


"Menikah siri." ledek Arvin dan Bella yang membuat Gibran semakin kesal. Mereka lalu bergegas keluar rumah sebelum mendengar teriakkan Gibran kembali.


Riana yang masih tersenyum melihat tingkah Arvin dan Bella lalu mendekat ke arah Gibran.


"Ya, bukankah aku sudah berjanji padamu jika kita sudah sampai di Jakarta aku akan menikahimu."


"Terimakasih Gibran." kata Riana kemudian memeluk Gibran sambil mencium pipinya.


"Sekarang kau tidak ragu lagi padaku kan?"


Riana kemudian menggelengkan kepalanya sambil terus memeluk Gibran. Gibran pun melirik pada Riana yang terlihat begitu nyaman bersandar di dadanya.


'Riana, sebenarnya aku tidak menyangka jika ini terjadi padaku, aku jatuh cinta pada gadis sepertimu yang sangat jauh dari tipeku, tapi entah kenapa rasa cinta ini sekarang begitu dalam padamu padahal awalnya aku hanya ingin memperalatmu agar bisa tetep aman tinggal di rumahmu.' gumam Gibran dalam hati kemudian mencium kening Riana.


🌿πŸ₯€πŸŒΏπŸ₯€πŸŒΏπŸ₯€πŸŒΏπŸ₯€


Evan tampak begitu gusar, berulang kali dia mondar-mandir di dalam ruangannya. 'Siapa sebenarnya CEO baru tersebut? Apakah ini ada hubungannya dengan pernikahan Bella? Atau jangan-jangan suami Bella adalah CEO baru tersebut? Ah tidak mungkin, Gibran tidak akan memberi kepercayaan sebesar itu pada orang lain.' gumam Evan dalam hati sambil mengusap kasar wajahnya. Hingga beberapa saat kemudian, terdengar suara riuh beberapa karyawan yang sedang berkerumun.

__ADS_1


"Itu pasti dia, mereka pasti sudah sampai." kata Evan kemudian keluar dari ruangannya. Dia lalu berdiri diantara kerumunan karyawan yang sedang menanti kedatangan CEO baru mereka. Beberapa saat kemudian, tampak Bella keluar dari dalam lift bersama dengan seorang laki-laki yang menggandeng tangannya. Kemudian di belakang mereka tampak beberapa dewan direksi dan orang-orang kepercayaan Gibran yang mendampingi mereka.


"Apa lelaki itu CEO baru tersebut? Kenapa dia tampak mesra sekali dengan Bella, bahkan mereka selalu berpegang tangan."


"Lihat itu tampan sekali CEO baru kita, aku pasti semakin betah bekerja di sini karena bisa melihat ketampanannya setiap hari." kata salah seorang karyawan.


"Hei jangan berani berbicara seperti itu jika tidak mau berhadapan dengan Bu Bella." jawab karyawan yang lain.


"Jadi benar dia suami Bu Bella?"


"Tentu saja, apa kau tidak lihat gerak-gerik mereka, mereka sangat mesra bahkan Bu Bella tidak pernah melepaskan genggaman tangannya pada suaminya." jawab karyawan yang lain.


Evan yang mendengar percakapan tersebut pun hanya terdiam, perasaannya kini semakin tak menentu. 'Jadi benar jika CEO baru tersebut adalah suami dari Bella, kenapa Gibran bisa sangat bodoh mempercayakan kepemimpinan perusahaan ini pada orang lain?' gumam Evan.


'Aku benar-benar tidak menyangka semua ini bisa terjadi, kupikir saat itu Bella sudah ada dalam genggamanku tapi kenapa tiba-tiba dia bisa menjadi milik orang lain padahal saat itu aku sangat yakin jika Bella hanya dekat denganku.' gumam Evan sambil memijit keningnya hingga sebuah suara tiba-tiba mengagetkannya.


"Evan, ayo ke ruang rapat sekarang. Bu Bella dan Pak Arvin, CEO baru kita sudah datang." kata Sinta yang kini sudah berdiri di sampingnya.


'Arvin? Bukankah Arvin adanya ayah kandung dari bayi yang ada di dalam kandungan Bella? Jadi ternyata Bella bisa bertemu dengan Arvin lalu menikah dengannya.' gumam Evan sambil berjalan ke ruang rapat.


Di dalam ruangan tersebut tampak Bella dan Arvin sudah duduk di ujung meja. Lalu Rafly sedang membaca surat kuasa dari Gibran mengenai pergantian kepemimpinan di perusahaan tersebut. Setelah Rafly selesai membacakan surat kuasa dari Gibran, Bella lalu berdiri kemudian memperkenalkan CEO baru mereka.


"Selamat pagi semua, sebelumnya saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada seluruh dewan direksi serta karyawan yang hadir pada pagi ini dalam serah terima jabatan pada CEO baru kita, Pak Arvin."


"Mungkin diantara kalian semua sudah banyak yang tahu jika Arvin adalah suami saya sendiri, namun perlu saya tegaskan bahwa pergantian CEO baru ini diluar kehendak saya dan murni keputusan pribadi Gibran, tanpa campur tangan saya yang menginginkan supaya Arvin menjadi pimpinan di perusahaan ini....."


Evan yang mengamati Bella yang sedang berbicara lalu mengalihkan pandangannya pada Arvin yang sedang memandang Bella yang kini berdiri di sampingnya. Beberapa saat kemudian tampak mereka menandatangani beberapa berkas lalu Rafly memberikan surat kuasa tersebut pada Arvin yang diiringi tepuk tangan para peserta rapat yang hadir.


Evan lalu memandang Arvin dan Bella secara bergantian. 'Arvin, bagaimana perasaanmu jika kau tahu kira-kira satu minggu yang lalu aku masih memiliki hubungan dengan Bella lalu tidur dengannya, apakah kau masih bisa mencintai Bella seperti saat ini?' gumam Evan sambil tersenyum menyeringai.


'Kita lihat nanti, aku akan langsung membuat perhitungan denganmu.'

__ADS_1


__ADS_2