Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Nafas Terakhir


__ADS_3

Bella pun menyalakan video di ponselnya. 'Lihat saja, akan kupermalukan kalian di sosial media agar orang-orang membenci kalian berdua!' batin Bella.


Akhirnya pintu itu pun terbuka, tampak siluet dua orang di atas ranjang terlihat kaget dengan suara pintu yang menggema memantul ke dinding. Bella pun bergegas menghampiri dua sosok tersebut. Namun dia begitu terkejut dan hampir tidak bisa berkata apa-apa saat melihat jika yang ada di atas ranjang adalah Arvin dan Vania.


"DASAR BRENG*EK KALIAN BERDUA!!! MANUSIA TIDAK TAHU DIRI!! KALIAN PANTAS MATI KARENA SUDAH MEMPERMAINKANKU!!" teriak Bella dengan nafas yang begitu tersengal-sengal. Dia lalu mendekat ke arah Vania yang kini berdiri di samping ranjang dengan menutupi tubuhnya dengan menggunakan selimut.


"Dasar wanita ja*ang tidak tahu diri! Berani-beraninya kau mempermainkan keluarga kami!" bentak Bella lalu menjambak rambut Vania kemudian menghempaskan tubuhnya ke lantai.


Vania yang mendapat serangan mendadak dari Bella pun tak dapat berkutik. Apalagi kini Bella sudah mendekat ke arahnya kemudian berulangkali menamparnya. Melihat Vania yang begitu tersiksa, Arvin pun mendekat ke arah Bella kemudian menjauhkan tubuhnya dari Vania.


"Bella, tenangkan dirimu," kata Arvin sambil memeluk tubuh Bella dari belakang. Namun Bella terus meronta, dia lalu mengigit tangan Arvin kemudian mencakar wajahnya.


"Dasar kau laki-laki tidak tahu diri! Jadi selama ini kau sudah memperalat dan mempermainkan aku!" teriak Bella.


"Aku tidak memperalat dirimu, tapi kau yang memberikan semua yang kau punya untuk diriku," balas Arvin sambil tersenyum kecut.


"Dasar kalian pasangan biadab, lihat saja setelah ini kalian akan merasakan pembalasan dariku! Kalian beruntung hari ini aku tidak langsung menghabisi kalian berdua!"


"Jangan banyak bicara Bella, kau tidak mungkin bisa menghabisi kami sendirian."


"Oh jadi kau menantangku?" bentak Bella. Dia lalu mengambil ponselnya kemudian menelepon seseorang. Vania dan Arvin pun kini terlihat panik. Dia lalu memakai pakaian mereka dengan begitu tergesa-gesa.


"Hei, apa yang kalian lakukan? Bukankah kalian sudah menantangku?" bentak Bella.


"Vania seharusnya tadi kau tidak perlu berkata seperti itu," bisik Arvin.


"Tapi dia sudah menghajarku habis-habisan," gerutu Vania. Namun saat mereka berdua akan berlari, tiba-tiba dua orang petugas security yang berperawakan besar sudah menghadang mereka di depan pintu.


"Lihat itu Bella, itu bencana!" kata Arvin yang kini terlihat begitu panik.


"Hei kalian berdua, diam di tempat kalian. Dan jangan sekali-kali menyakiti kami berdua!" teriak Vania.


"Apa yang kau katakan Vania, jangan mimpi. Hotel ini adalah milik keluargaku, dan mereka bekerja padaku!" bentak Bella.


"Hahahaha kau yang jangan bermimpi, Bella. Saat ini hotel ini adalah milikku! Jadi kalian berdua seharusnya menurut pada kata-kataku!" jawab Bella sambil melirik dua orang security yang kini tampak kebingungan.

__ADS_1


"Kau jangan mengada-ada, memang pemilik saham terbesar hotel ini ada di tangan Gibran tapi aku yakin sebentar lagi kau pasti akan diceraikan oleh Gibran!"


"Hahahaha diceraikan? Itu bukan masalah besar bagiku, Bella."


"Cuih, tidak usah munafik, aku tahu kau hanya menginginkan harta milik Gibran!"


"Memang.. Memang aku menginginkan harta milik Gibran, dan sekarang aku sudah memiliki semua harta milik Gibran, jadi jika Gibran menceraikanku. Itu bukan suatu masalah besar untukku." kata Vania sambil tersenyum menyeringai.


"Tidak mungkin!"


"Jadi kau tidak percaya padaku? Lihat ini baik-baik!" kata Vania sambil memperlihatkan beberapa dokumen di ponselnya yang memperlihatkan kepemilikan semua aset Gibran telah berganti nama menjadi milik Vania.


"TIDAK... TIDAK!" teriak Bella. Kini kepalanya terasa begitu pusing, pikirannya pun begitu tak menentu."


Perlahan dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar hotel tersebut meninggalkan Vania dan Arvin yang kini tertawa terbahak-bahak.


"Bagaimana ini Arvin, kita belum sepenuhnya menguasai harta milik mereka tapi Bella sudah mengetahui rahasia kita."


"Tidak apa-apa, Vania. Kita sudah menguasai setengah aset mereka. Itu juga sudah cukup banyak," kata Arvin sambil memeluk pinggang Vania.


***


"DASAR KAU BODOH GIBRAN! LAKI-LAKI TIDAK BERGUNA!" Bentak Bella pada Gibran.


"Bella, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa kau berteriak-teriak seperti ini?" tanya Hana dengan raut wajah penuh tanda tanya.


"Mama dengarkan aku, keponakan kesayangan mama itu telah berbuat begitu bodoh dengan membalik nama semua asetnya menjadi nama Vania!"


"Astaga." kata Hana sambil menutup mulutnya.


"Memangnya kenapa? Vania adalah istriku." jawab Gibran datar.


"Hei bodoh, sekarang kutanyakan padamu dimana Vania berada?"


"Dia sedang arisan bersama teman-temannya."

__ADS_1


"Hahahaha kau memang benar-benar bodoh Gibran, kau mau saja dibohongi oleh wanita murahan seperti istrimu!"


"Hei jaga mulutmu Bella!"


"Memang itulah kenyataannya! Kau tidak tahu kan jika saat ini Vania sedang berselingkuh dengan laki-laki lain."


"Jangan berbohong padaku, Bella."


"Lihat ini! Lihat jika kau tidak percaya istri kesayanganmu itu berselingkuh di belakangmu. Bahkan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri tubuhnya sedang dinikmati oleh pria lain!" kata Bella sambil memberikan ponselnya pada Gibran.


"Tidak.. Tidak mungkin!"


"Inilah kenyataannya bodoh!!!"


Gibran pun hanya terdiam, berbagai pikiran kini begitu berkecamuk di benaknya. Perlahan Hana pun mendekat pada Bella kemudian melihat foto-foto Vania yang sedang bermesraan dengan Arvin. Melihat foto-foto itu, tubuh Hana pun terasa begitu lemas.


"Tidak..." kata Hana lirih kemudian tubuhnya pun terjatuh ke lantai. Bella dan Gibran lalu berlari menghampiri Hana yang kini terkulai lemas di atas lantai.


"Mama."


"Tante."


Teriak Bella dan Gibran bersamaan. Hana lalu mengarahkan pandangannya pada Gibran. "Gibran, kenapa kau melakukan semua ini?" tanya Hana lirih, tatapan matanya pun terlihat begitu sendu. Dia kemudian memegang dada sebelah kanannya yang kini terasa begitu sakit.


"Maafkan Gibran tante," kata Gibran sambil menangis. Perasaannya terasa begitu kacau. Air mata pun mulai mengalir di wajah Gibran saat melihat Hana yang kini perlahan mulai menutup matanya.


"Ma... Mama bangun Ma! Lihat Gibran, lihatlah perbuatanmu!" bentak Bella.


"Sudahlah Bella, lebih baik sekarang kita bawa Tante Hana ke rumah sakit." kata Gibran kamudian membopong tubuh Hana masuk ke dalam mobilnya.


"Ma, bangun Ma!" teriak Bella di dalam mobil. Namun Hana hanya terdiam, hingga beberapa saat kemudian matanya pun terbuka.


"Be..la ber.. jan.. jilah pada Mama." kata Hana dengan begitu terbata-bata.


"Iya Ma, apa yang mama inginkan dari Bella?" teriak Bella.

__ADS_1


"Mil...lan." jawab Hana begitu lirih. Perlahan matanya pun menutup, hembusan nafasnya pun kini tidak lagi terdengar.


"MAAAAMAAAAAAAA!!!"


__ADS_2