
"Celine, apa sebenarnya yang telah kau lakukan? Bukankah tadi kau bilang keluar untuk membeli makan siang dan makanan ringan? Tapi kenapa lama sekali, sudah berjam-jam aku menunggumu!!! Lalu satu lagi kenapa kau juga tidak mengangkat panggilan dariku!!"
"Evan, tenangkan dirimu. Tadi saat aku membeli makanan di cafe, aku bertemu dengan Bella dan Riana, mereka juga makan siang di cafe tersebut, jadi untuk sementara aku bersembunyi sampai mereka selesai makan. Lalu aku sengaja tidak menerima panggilan darimu karena aku takut mereka mendengar suaraku saat sedang menjawab teleponmu."
"Maafkan aku, Evan. Tadi aku benar-benar berada di posisi sulit." kata Celine sambil menundukkan kepalanya dengan raut wajah sedih.
Mendengar penjelasan Celine, emosi Evan pun mereda. Evan kemudian mendekat pada Celine dan membelai rambutnya.
"Maafkan aku sayang, maaf aku sudah curiga padamu, padahal kau sedang dalam posisi berbahaya. Sekali lagi maafkan aku Celine." kata Evan sambil mengusap pipi Celine.
"Tidak apa-apa, Evan. Kau juga tidak tahu."
"Terimakasih sayang." jawab Evan kemudian memeluk Celine.
'Yes, Evan tidak curiga pada kebohonganku.' gumam Celine dalam hati saat Evan memeluknya.
💜💜💜💜💜
Arvin tampak begitu gusar menunggu seseorang di ruangannya, sampai akhirnya seseorang yang ditunggunya pun masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Bagaimana Pak Rafly?"
"Saya sudah menyelidiki pada beberapa staf HRD yang melakukan wawancara saat perekrutan karyawan baru, para staf tersebut hanya memberikan rekomendasi saja pada kepala HRD, jadi semua keputusan ada pada kepala HRD."
"Kepala HRD? Pak Indra?"
"Iya Tuan Arvin, Pak Indra yang memilih Evan untuk bekerja disini."
"Pak Rafly, kita harus apakah Pak Indra benar-benar yang memasukkan Evan ataukah ada orang lain yang diam-diam mempengaruhi Pak Indra untuk mengambil keputusan tersebut."
"Iya Tuan Arvin."
"Lalu bagaimana dengan data-data perusahaan kita? Apakah kau sudah menanyakan semua itu pada teknisi kita?"
"Iya Tuan."
"Lalu bagaimana?"
"Memang beberapa bulan yang lalu ada yang mencoba menjebol semua data dan sistem kita."
"Lalu?"
"Ada beberapa data yang bocor tapi tidak semua karena ada beberapa data yang dipegang sendiri oleh Tuan Gibran."
"Jadi hampir setengah data dan sistem perusahaan kita sudah dibobol oleh Evan?"
"Ya Tuan, dan kini posisinya semakin berbahaya karena Tuan Gibran sudah kembali masuk penjara dan tidak bisa mengendalikan perusahaan ini lagi, jadi kemungkinan Evan untuk mencuri dan mengubah data perusahaan kita agar menjadi miliknya kemungkinan sangat besar."
"BRENG*EK!! Jadi posisi kita semua benar-benar terancam?"
"Iya Tuan, ini rasanya seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja, jika dalam beberapa hari atau dalam satu minggu ini Evan sudah melakukannya maka habislah sudah semua."
__ADS_1
"DASAR BAJI*GAN KAU EVAN!!" umpat Arvin sambil memukul mejanya.
"Terimakasih banyak Pak Rafly, anda bisa kembali ke ruangan anda, saya akan memikirkan semua ini."
"Baik Tuan Arvin." jawab Rafly kemudian pergi dari ruangan Arvin.
"Dasar kurang ajar, baji*gan kau, Evan!" kata Arvin sambil memijit keningnya.
"Oh iya Milan, bukankah hari ini Milan sudah mendekati kekasih Evan? Aku harus tahu bagaimana rencananya. Hanya ini satu-satunya jalan mengambil semua data yang telah dicuri oleh Evan." kata Arvin kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Milan.
[Halo Milan, kau dimana?]
[Aku baru saja sampai di kantor, tadi aku keluar untuk makan siang.]
[Makan siang?]
[Ya, makan siang dengan Celine, kekasih Evan. Hahahaha.]
[Jadi kau sudah berhasil mendekatinya?]
[Tentu saja, ini hal yang sangat mudah bagiku. Ada apa Arvin? Kenapa kau kini begitu panik?]
[Milan, ini keadaannya sudah semakin berbahaya. Jika kita tidak bertindak cepat, kemungkinan Evan bisa menguasai perusahaan ini dalam hitungan hari atau minggu, karena hampir sebagian data perusahaan sudah dicuri olehnya, tinggal yang dipegang Gibran saja, tapi aku pun tidak dapat berbuat banyak karena Evan sudah tahu hampir semua passwordnya data yang dipegang oleh Gibran, pasti dia sudah mulai membobol password itu sejak Gibran dijebloskan ke penjara.]
Milan pun terdiam.
[Bagaimana Milan?]
[Kita harus bertindak cepat, Arvin. Harus bertindak sangat cepat.]
[Kau tenang saja, aku akan mencoba membantumu. Lebih baik kau urusi saja pekerjaanmu dulu, jangan sampai masalah ini mengganggu urusan pekerjaanmu karena hanya akan membuat perusahaanmu hancur.]
[Iya Milan, aku tutup dulu teleponnya. Sebentar lagi aku ada meeting dengan klien.]
[Iya Arvin.]
Milan pun menutup panggilan dari Arvin. Dia kemudian menatap nama di ponselnya.
'Cepat hubungi aku, Celine.' gumam Milan dalam hati.
💜💜💜💜💜
"Evan, ini sudah malam tapi kenapa kau masih sibuk seperti itu? Ayo kita makan malam di luar."
"Sebentar Celine, aku sedang menjebol data perusahaan Gibran."
"Apa sudah bisa seluruhnya kau kuasai?"
"Belum, tapi beberapa hari lagi aku pasti bisa menguasainya."
"Bagus, jadi sebentar lagi aku bisa jadi sosialita?" kata Celine sambil terkekeh.
__ADS_1
"Ya, kau tunggu sebentar ya? Satu jam lagi kita makan malam diluar."
Celine pun hanya bisa menggerutu. Dia kemudian mengutak-atik ponselnya lalu iseng-iseng menuliskan nama Milano Arkana di situs pencarian di ponselnya. Dia kemudian melihat beberapa berita dan artikel tentang Milan, dan salah satu yang menarik perhatiannya adalah sebuah berita tentang perseturuan antara Milan dan Gibran.
'Astaga, jadi Milan dan Gibran itu musuh bebuyutan sejak dulu?' gumam Celine sambil membaca berita tersebut.
"Mereka juga tidak hanya berseteru mengenai persaingan perusahaan tapi juga pernah memperebutkan seorang wanita yang kini menjadi istri Milan? Bahkan kasus itulah yang menyebabkan Gibran dipenjara selama sepuluh tahun." kata Celine sambil menutup mulutnya.
"Astaga, aku baru tahu semua ini. Jadi jika aku dekat dengan Milan bukankah itu tidak menjadi masalah karena dia pun musuh bebuyutan Gibran?" kata Celine sambil terkekeh.
"Aku jadi penasaran, seperti apa istri Milan sampai diperebutkan oleh Milan dan Gibran." kata Celine sambil mencari foto-foto Rachel di artikel lain yang ada di situs pencarian tersebut.
'Oh jadi ini istri Milan? Namanya Rachel, memang sangat cantik, pantas saja sampai diperebutkan oleh Milan dan Gibran, tapi aku pun tidak kalah cantik dengannya, buktinya saja Milan juga tertarik denganku. Mungkin meskipun Rachel cantik, dia sangat membosankan jadi Milan mencari wanita lain untuk bersenang-senang.' gumam Celine sambil terkekeh.
Dia kemudian melirik Evan yang masih asyik mengutak-atik laptopnya.
'Lebih baik kuhubungi saja Milan sekarang.' gumam Celine sambil tersenyum menyeringai.
💜💜💜💜💜
Milan masuk ke kamarnya lalu tersenyum dan mendekat pada Rachel yang sedang menidurkan Velove.
"Dia sudah tidur?"
"Ya mungkin dia kelelahan karena satu hari ini aku mengajaknya ke rumah Bella, dan dia sangat menyukainya bayi-bayi itu."
"Bayi Bella dan Riana?"
"Ya."
"Jadi Velove sangat menyukai bayi-bayi itu?"
"Ya begitulah."
Milan pun tersenyum nakal.
"Ra, apakah kau ingat jika aku menginginkan sepuluh orang anak darimu? Bagaimana jika kita membuat adik untuk Velove, aku yakin dia pasti akan sangat bahagia." kata Milan sambil terkekeh.
"Tidak aku tidak pernah menyetujuinya, Milan." gerutu Rachel.
"Tapi aku menginginkannya Ra." bisik Milan sambil menciumi tengkuk Rachel.
"Tidak Milan, itu terlalu banyak."
"Lalu berapa yang kau inginkan?"
"Dua saja itu sudah cukup."
"Terlalu sedikit Ra." bisik Milan kembali sambil mulai melucuti pakaian Rachel kemudian mulai mencium bibirnya. Namun saat tengah asyik berciuman, tiba-tiba ponsel Milan pun berbunyi. Rachel kemudian mengambil ponsel Milan yang ada di sampingnya, kemudian melepaskan ciuman Milan saat melihat sebuah nama di layar ponselnya.
"Milan, Celine menghubungimu, cepat kau angkat."
__ADS_1
"Mengganggu saja." gerutu Milan kemudian mengangkat telepon dari Celine.
[Ya, Celine sayang.] jawab Milan yang membuat Rachel terkekeh.