
Almira berlari menuju basemen, tetesan air mata yang mulai jatuh di wajahnya dia biarkan begitu saja. Sesampainya di dalam mobil dia lalu menutup wajahnya kemudian menangis tersedu-sedu.
"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba aku merasa begitu sedih saat berpisah dengan Milan?" kata Almira saat di dalam mobil.
Di saat itulah tiba-tiba dia melihat Bella yang berjalan melewati mobilnya menuju ke dalam apartemen tersebut.
"Bella." kata Almira saat melihat Bella.
"Untuk apa dia ke apartemen ini?" kata Almira dengan kening berkerut.
"Ah mungkin dia mau ke apartemen temannya atau kekasihnya, lebih baik aku cepat pergi dari sini sebelum Bella melihatku." kata Almira kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan apartemen tersebut.
☘️☘️☘️☘️
Saat Milan membuka pintu apartemennya betapa terkejutnya dia karena melihat Bella yang kini telah berdiri di depan apartemen tersebut.
"Bella." kata Milan.
"Halo sayang." jawab Bella kemudian memeluk dan mencium pipi Milan.
"Bella... Bella, jangan sekarang Bella, aku harus ke kantor, ada meeting penting pagi ini."
Bella pun kemudian mendengus kesal mendengar jawaban Milan.
"Tapi aku merindukanmu, Milan."
"Bella mengertilah aku sedang banyak pekerjaan, begini saja, nanti siang kita makan siang bersama. Aku akan menjemputmu nanti siang."
"Baiklah, tapi aku tidak mau pulang."
"Lalu?"
"Antarkan aku ke salon saja, nanti siang kau menjemputku di salon karena malam ini aku akan menginap disini." jawab Bella dengan begitu manja.
Mendengar perkataan Bella, Milan pun menelan ludah dengan kasar.
'Astaga, apa yang harus kulakukan.' kata Milan dalam hati.
"Bagaimana Milan? Kau mau kan?"
"Te, tentu saja Bella." jawab Milan sambil tersenyum.
"Ayo kita berangkat sekarang."
"Iya." jawab Bella lalu menggandeng lengan Milan. Mereka kemudian berjalan ke arah basemen. Sesampainya di basemen, Milan tampak mengamati sekitar basemen.
'Sepertinya Rachel sudah pergi dari sini, syukurlah kalau begitu.' kata Milan dalam hati.
"Kau kenapa Milan?" tanya Bella yang melihat Milan tampak seperti mencari sesuatu.
"Tidak apa-apa Bella, aku hanya mencari mobilku saja, aku lupa menaruhnya dimana."
"Kau benar-benar aneh Milan, kalau kau lupa tinggal memencet kuncinya saja."
"Oh iya, aku hari ini sangat gugup, klien yang akan kutemui adalah klien penting jadi aku sedikit tidak fokus."
"Kau memang ada-ada saja. Lebih baik kita cepat masuk ke mobilmu agar kau bisa lebih cepat di kantormu dan mempersiapkan meeting dengan klienmu."
"Iya Bella." jawab Milan kemudian berjalan menuju mobilnya.
"Bella." panggil Milan saat Bella asyik memainkan ponselnya saat mereka sudah ada di dalam mobil.
__ADS_1
"Iya Milan, ada apa?"
"Salah seorang klienku ada yang mengenal Vania, dan dia tahu aku dulu adalah sahabat Gibran, lalu dia menanyakan padaku dimana alamat Vania sekarang."
"Oh untuk apa dia menanyakan itu, lagipula Vania juga tidak ada di rumah karena dia sudah meninggal." jawab Bella sambil memainkan ponselnya.
"Apa kau bilang? Vania sudah meninggal?" tanya Milan pada Bella.
"Oh... E... Itu, maksudku Vania sudah meninggalkan rumah, bukan meninggal." jawab Bella dengan begitu gugup.
"Oh."
"Maukah kau memberikan alamatnya padaku Bella? Jadi saat klienku tersebut menanyakan Vania kembali aku bisa memberikan alamat Vania padanya."
"Lalu bagaimana jika klienmu itu datang ke rumah Vania dan tidak bertemu dengannya?"
"Oh itu bukan urusanku, tidak masalah bagiku karena yang terpenting adalah aku bisa memberikan alamat Vania padanya."
"Oh iya, ini alamat orang tuanya." jawab Bella kemudian mengetik sebuah alamat di ponselnya kemudian mengirimkannya pada Milan.
"Terimakasih." jawab Milan.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di salon langganan Bella.
"Terimakasih Milan, nanti siang jangan lupa jemput aku untuk makan siang."
"Iya Bella." jawab Milan.
Milan lalu mengendarai mobilnya kembali, namun bukan ke kantornya tapi menuju sebuah alamat yang tertulis di ponselnya.
☘️☘️☘️☘️
Saat sedang menyetir melewati jalan tol keluar dari ibu kota, tiba-tiba ponsel Almira berbunyi.
[Kamu dimana Ra?]
[Aku dalam perjalanan pulang Gibran, nanti kalau sudah sampai kuhubungi lagi, aku sedang konsentrasi menyetir.]
[Iya Ra, hati-hati di jalan.]
[Iya.] jawab Almira kemudian menutup panggilan telepon dari Gibran.
Dua jam kemudian, saat Almira sudah sampai di rumahnya tiba-tiba dia melihat Gibran yang sedang menunggunya di teras rumahnya.
"Gibran, kau sudah lama menungguku?"
"Belum, mungkin sekitar sepuluh menit."
"Oh, ayo masuk." kata Almira sambil membuka pintu rumahnya.
Gibran kemudian mengangguk dan mengikuti Almira masuk ke dalam rumahnya.
"Ra, aku membawakan makan siang untukmu, kita makan bersama ya."
Almira pun kemudian mengangguk, mereka lalu memakan makanan yang dibawa oleh Gibran. Sesekali Almira melirik ke arah Gibran.
'Kenapa rasanya sangat berbeda, saat aku makan bersama dengan Milan hatiku terasa begitu nyaman dan bahagia, sedangkan saat bersama Gibran aku tidak pernah merasakan perasaan seperti itu.' kata Almira dalam hati.
"Kamu kenapa Ra? Kenapa kamu tiba-tiba murung?"
"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit lelah."
__ADS_1
"Oh, kalau begitu lebih baik kau istirahat saja sekarang. Aku juga sudah selesai makan siang, aku pergi ke kantor dulu ya."
"Iya." jawab Almira sambil mengangguk.
Setelah Gibran pergi, perasaannya pun kian berkecamuk.
"Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan? Kenapa perasaanku begitu tak menentu sejak bertemu dengan Milan? Haruskah aku lebih berhati-hati dengan Gibran?" kata Almira sambil memijit keningnya.
☘️☘️☘️☘️
Milan menghentikan laju mobilnya di sebuah rumah minimalis dua lantai dengan sebuah halaman kecil yang ditumbuhi aneka bunga.
"Inikah rumahnya? Lebih baik aku turun saja untuk memastikannya."
Milan pun kemudian turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu rumah tersebut.
TOK TOK TOK
Tak berselang lama, pintu rumah itu pun terbuka. Seorang wanita paruh baya memakai stelan gamis berwarna cokelat kini menyambutnya.
"Permisi, apa benar ini rumah Vania?" tanya Milan.
Wanita itu pun tertunduk sejenak lalu tersenyum. "Ya, Vania anak saya. Mari masuk." kata wanita itu.
Milan pun kemudian masuk ke dalam rumah itu.
"Maaf tante jika kedatangan saya mengganggu, saya hanya ingin memastikan apakah Vania sudah setahun ini hilang tanpa kabar?"
Wanita itu pun kemudian menangis. "Ya, sudah setahun dia menghilang tanpa kabar."
"Sebelumnya saya minta maaf jika apa yang saya sampaikan sedikit membuat tante merasa kaget, tapi inilah kenyataannya. Setahun yang lalu, Vania dan istri saya menaiki mobil milik istri saya, lalu mereka mengalami kecelakaan."
"Apa? Jadi Vania mengalami kecelakaan setahun lalu."
"Iya."
"Tapi kenapa tidak ada yang memberitahu saya?"
"Karena saya pun baru mengetahuinya. Saat itu, semua orang berfikir jika wanita hamil yang meninggal dalam kecelakaan itu adalah istri saya, namun setelah saya selidiki kemungkinan yang meninggal adalah Vania."
Wanita itu pun begitu terkejut.
"Tidak... Tidak... Vania... Vania." kata wanita itu sambil menangis tersedu-sedu. Milan pun dengan sabar menunggu wanita tersebut menangis hingga hampir setengah jam lamanya, sampai dia terlihat lebih tenang dan bisa mengendalikan emosinya.
"Jadi maksud anda anak saya sudah meninggal?" tanya wanita itu sambil terus terisak.
Milan pun kemudian menganggukkan kepalanya.
"Namun selama ini orang-orang mengira jika yang meninggal adalah istri saya."
"Astaga." kata wanita itu sambil menutup mulutnya.
"Karena itulah saya meminta tolong pada tante untuk bisa ikut membuktikan jika jasad yang ada di dalam makam istri saya itu adalah Vania."
"Tentu saja, saya akan membantu anda, lalu bagaimana caranya?"
"Tes DNA." jawab Milan dengan begitu yakin.
"Apa bisa dilakukan tes DNA pada orang yang sudah meninggal?"
"Tentu bisa tante, kita bisa mengambil sample DNA dari tulang jasadnya."
__ADS_1
"Baik, kita lakukan tes DNA."