Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Buronan


__ADS_3

Arvin lalu mengalihkan pandangannya pada Riana.


"Riana, sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa kau sampai bisa mengenal laki-laki berbahaya seperti Gibran?"


"A.. Apa maksud kakak? Bukankah Gibran orang yang baik? Dia sangat baik padaku, Kak."'


"Arvin, lebih baik kau tutup mulutmu, apa kau sudah lupa semua dosa-dosamu hingga kau berkata seperti itu padaku!" teriak Gibran.


"Kalian berkata apa? Kenapa kalian membuatku bingung?"


"Dengarkan aku Riana, Gibran tidaklah sebaik yang kau pikirkan! Dia adalah seorang penjahat!"


"Heh jaga bicaramu, Arvin! Aku bukanlah seorang penjahat!"


"Kau memang penjahat!"


"Kau sebenarnya yang penjahat!"


"KAU!!!"


"KAU!!!"


Teriak mereka bersamaan yang membuat Riana semakin bingung, dia hanya bisa memandang Arvin dan Gibran secara bergantian.


"Kau masih menyangkal, Gibran? Bukankah itu memang kenyataan? Lalu, kenapa kau bisa ada di sini? Tempatmu bukan disini, Gibran. Atau jangan-jangan kau melarikan diri?"


"Melarikan diri? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Aku benar-benar tidak mengerti?" kata Riana sambil mengerutkan keningnya. Gibran pun begitu gugup mendengar kata-kata Arvin.


"Riana, dengarkan aku, Gibran adalah seorang tahanan."


"CUKUP ARVIN! LEBIH BAIK KAU DIAM ATAU KUROBEK MULUTMU!"


"Tahanan?" tanya Riana dengan tatapan kosong serta raut wajahnya penuh tanda tanya. Dia lalu mendekat pada Gibran.


"Gibran tolong katakan yang sebenarnya padaku? Apa benar kau adalah seorang tahanan?"


Mendengar pertanyaan dari Riana Gibran pun hanya diam mematung, sikapnya terlihat begitu salah tingkah.


"Gibran, jadi itu benar? Kau adalah seorang tahanan? Dan statusmu kini adalah buronan?" tanya Riana diiringi air mata yang mulai membasahi pipinya.


"Gibran, kenapa kau diam? Jadi benar kau adalah seorang tahanan?" tanya Riana disertai tangis yang kian kencang.


"Riana, dia tidak akan berani menjawab pertanyaanmu karena itulah kenyataan yang sebenarnya. Dia masih menjadi seorang tahanan." kata Arvin dengan begitu datar.

__ADS_1


Riana pun kini menangis sejadi-jadinya. "Kenapa kau membohongiku, Gibran? Tega sekali kau melakukan semua ini padaku?" kata Riana sambil terisak.


Gibran pun mendekat pada Riana, bermaksud untuk menenangkannya, namun tiba-tiba tubuh Riana ambruk.


"RIANA." teriak Arvin dan Gibran secara bersamaan.


"Jangan sentuh adikku!" bentak Arvin saat Gibran akan menggendong tubuh Riana.


Bergegas Arvin mendekat pada Riana, kemudian menggendong tubuhnya ke dalam pelukannya lalu dia masuk ke dalam rumah dan membaringkan tubuhnya di dalam kamar Riana. Arvin lalu memberi minyak kayu putih di sekitar hidung dan pelipis Riana sambil sesekali memijit tangannya.


"Riana, sadarlah." kata Arvin sambil membelai rambut Riana. Sedangkan Gibran hanya melihat mereka di balik pintu kamar Riana.


Arvin kemudian membalikkan tubuhnya lalu memandang tajam ke arah Gibran. "Apa maksudmu mendekati adikku? Apakah kau ingin balas dendam padaku? Apa dendammu belum juga usai padaku?"


"Jangan terlalu percaya diri, aku tidak tahu jika Riana adalah adikmu. Jika aku tahu dia adikmu, aku tidak akan pernah mendekatinya."


"Jadi kau hanya memanfaatkan kepolosan Riana untuk menyembunyikan statusmu sebagai buronan? Licik sekali, dari dulu kau memang tidak pernah berubah, Gibran."


"Arvin, jangan pernah bicara sembarangan padaku!"


"Memang itulah kenyataannya, kau adalah seorang buronan yang memanfaatkan wanita yang polos dan tidak berdaya seperti Riana untuk kepentinganmu semata? Dasar manusia tidak tahu diri!."


"Lebih baik kau tutup mulutmu karena kau pun sama liciknya denganku, bertahun-tahun kau memanfaatkan Bella lalu menusuk kami dari belakang dengan bekerja sama dengan Vania! Kau juga sama-sama tidak tahu diri Arvin!"


"Semudah itu kau berkata seperti itu? Lalu bagaimana dengan perasaan Bella yang telah begitu kau sakiti?"


Arvin pun begitu terkejut mendengar perkataan Gibran. "Aku sudah minta maaf pada Bella." jawab Arvin dengan wajah yang tertunduk.


"Hahahaha minta maaf? Mudah sekali hanya minta maaf, dasar pecundang." kata Gibran sambil tersenyum kecut.


"Diam kau Gibran, jangan pernah mengataiku lagi atau akan kupanggilkan polisi sekarang juga untuk menangkapmu!" kata Arvin yang membuat Gibran terdiam.


"Dasar breng*ek! Kenapa aku harus bertemu denganmu lagi!" gerutu Gibran.


Tiba-tiba tubuh Riana pun bergerak, perlahan dia kemudian membuka matanya. "Kakak." kata Riana dengan begitu lirih.


"Iya Riana, aku ada disini." jawab Arvin.


"Kak, kepalaku tiba-tiba sakit sekali."


"Apa kau sakit, Riana?"


"Entahlah, kepalaku tiba-tiba sangat sakit, tubuhku juga lemas." jawab Riana dengan lirih.

__ADS_1


"Kau tunggu sebentar ya, Riana. Kakak akan panggilkan dokter."


Riana pun mengangguk.


"Awas kau, kuperingatkan agar kau jangan sampai berbuat macam-macam pada adikku!" kata Arvin sesaat sebelum pergi dari kamar Riana.


Setelah Arvin pergi, Gibran pun mendekat pada Riana, dia lalu duduk di tepi ranjang Riana kemudian menggenggam telapak tangannya.


"Maafkan aku, maafkan aku Riana, aku terpaksa berbohong padamu karena aku tidak ingin kau takut padaku jika tahu statusku yang sebenarnya." kata Gibran sambil membelai rambut Riana. Tapi Riana hanya diam.


"Ri, tolong jawab aku. Maafkan aku, sedikitpun aku tidak pernah berniat jahat padamu." kata Gibran sambil terus membelai rambut Riana.


"Jangan ganggu aku karena aku sedang tidak ingin melihat wajahmu!" bentak Riana pada Gibran.


"Ri, tolong maafkan aku."


"Apa kau tuli? Bukankah sudah kukatakan jika aku sedang tidak ingin diganggu olehmu!" bentak Riana lagi. Dengan perasaan yang begitu kacau, Gibran pun akhirnya pergi keluar dari kamar Riana, dia lalu duduk di sofa ruang tengah sambil terus mengamati Riana yang kini tampak sedang menangis. Beberapa saat kemudian, Arvin dan seorang dokter pun datang. Mereka lalu bergegas masuk ke kamar Riana.


"Bagaimana keadaan adik saya dok?" tanya Arvin dengan begitu cemas.


"Sebenarnya kondisi tubuh adik anda semuanya normal." kata dokter tersebut sambil mengerutkan keningnya.


"Lalu kenapa dia tiba-tiba pingsan dan kepalanya sakit?"


"Tuan Arvin, apa adik anda sudah melakukan tes kehamilan?" tanya dokter tersebut yang membuat Arvin dan Riana begitu terkejut.


"A.. Apa tes kehamilan?"


"Ya, menurut saya kemungkinan adik anda sedang hamil, untuk bisa memastikannya kalian bisa datang ke rumah sakit untuk melakukan USG atau membeli alat tes kehamilan di apotik." kata dokter tersebut.


"I.. Iya dok." jawab Arvin dengan perasaan yang begitu tak menentu.


"Untuk saat ini saya resepkan saja vitamin dan obat sakit kepala untuk adik anda, anda bisa menebus resepnya di apotik."


"Iya dokter, terimaksih."


"Sama-sama, saya permisi dulu Tuan Arvin, Nyonya Riana."


"Ya." jawab Arvin dan Riana sambil mengangguk.


Setelah dokter tersebut pergi, Arvin kemudian mengalihkan pandangannya pada Gibran, dengan wajah memerah dan begitu berapi-api dia lalu mendekat ke arah Gibran.


"DASAR BRENG*EK KAU GIBRAN!" teriak Arvin sambil melayangkan bogem mentahnya.

__ADS_1


__ADS_2