Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Teka Teki Evan


__ADS_3

"Semoga berhasil, Milan." kata Rachel sambil menatap kepergian Milan.


Rachel lalu kembali ke kamar persalinan untuk menemui Bella kembali. Raut wajah sendu begitu tergambar jelas di wajahnya. Rachel lalu mendekat ke arah Bella.


"Bella, sudah jangan memikirkan apapun, Milan sedang menangani semua konspirasi ini."


"Konspirasi?"


"Iya Bella, sesuai dengan dugaan kita jika therapist itu bekerja sama dengan supirmu Pak Amran, untuk menculik bayimu kemudian meminta tebusan padamu dan Arvin."


"Oh tidak, hampir saja. Rachel sekali lagi terimakasih, terimakasih banyak Ra."


"Tidak apa-apa, kau temanku kan? sesama teman harus saling membantu Bella."


"Iya Ra. Lalu, dimana Milan?"


"Milan sedang meringkus dalang dibalik semua kejadian ini. Bella."


"Dalang di balik semua kejadian ini? Jadi bukan hanya therapist dan Pak Amran saja yang melakukan semua ini?"


"Ya Bella, dan dalang dari semua kejadian ini adalah Evan."


"APA EVAN!" teriak Bella.


"Ya Evan." jawab Rachel sambil meringis.


"Dasar BRENG*EK!!! KUARANG AJAR KAU EVAN APA BELUM CUKUP KAU MENGOBRAK-ABRIK PERUSAHAANKU!!" teriak Bella dengan menahan emosi yang bergemuruh di dadanya.


"Tenangkan dirimu Bella, kau baru saja melahirkan, simpan tenagamu, jangan terbawa emosi."


Bella lalu mengatur nafasnya dan menenangkan hatinya.


"Iya Ra. Aku memang pernah menjalin hubungan dengan Evan, tapi aku memutuskan hubunganku dengannya karena saat itu aku sedang mengandung anak Arvin, mungkin karena itulah dia juga jadi dendam padaku dan Arvin."


Rachel pun begitu terkejut mendengar perkataan Bella.


"Jadi saat kau berpacaran dengan Evan kau sedang mengandung anak Arvin?"


Bella pun mengangguk dengan malu-malu. Di saat itulah tiba-tiba ponsel Bella pun berdering.


"Riana." kata Bella saat melihat sebuah nama di ponselnya, bergegas Bella pun mengangkat panggilan itu.


[Halo Riana.]


Namun tidak ada jawaban di ujung telepon, yang terdengar hanya suara isak tangis yang begitu menyayat hati.


[Riana, kau kenapa?]


[Be.. Bella, Gibran sudah ditangkap.]


[Apa? Gibran sudah ditangkap?]


[Ya Bella, saat sedang menungguku tiba-tiba polisi datang, Gibran yang panik lalu berlari kemudian mereka mengejar Gibran dan menembakkan pistolnya.]

__ADS_1


[Jadi Gibran tertembak?]


[Ya, Gibran tertembak di kakinya, dan saat ini mereka sudah membawamu Gibran pergi.]


[Astaga Riana, tahukah kau kalau semua ini yang terjadi adalah sebuah konspirasi.]


Riana yang masih menangis kemudian menghentikan tangisnya.


[Konspirasi? Apa maksudmu Bella?]


[Riana kau ingat therapist itu kan? Dia dan Pak Amran berkonspirasi melakukan semua ini untuk menculik anak kita, mereka sengaja melakukan ini saat Arvin pergi dan mereka juga tahu kelemahan Gibran yang menjadi seorang buronan sehingga membuat kita tidak bisa berbuat banyak menghadapi rencana mereka.]


[Darimana kau tahu semua itu, Bella?]


[Dari temanku, perutku sudah sangat sakit jadi aku meminta Pak Amran mengantarkan aku ke klinik seorang bidan, lalu salah seorang temanku mendengar rencana jahat Amran.]


[Syukurlah untung saja kau bertemu dengan mereka, Bella.]


[Iya Riana, kau tahu therapist itu tadi juga sengaja membuat kita mengantuk untuk mencuri di rumah kita.]


[Mencuri?]


[Iya Riana, dia mencuri semua perhiasan milik kita, lalu dia juga yang membuat kita mengalami kontraksi mendadak saat memberikan air minum pada kita.]


[Astaga, mereka jahat sekali. Lalu bagaimana keadaanmu Bella?]


[Aku baik-baik saja, temanku masih menemaniku sedangkan suaminya sedang meringkus dalang di balik semua kejadian ini Riana.]


[Memangnya siapa dalang dibalik semua ini, Bella?]


[Astaga.]


[Riana, lebih baik kau dengarkan aku, tolong kau hubungi anak buah Gibran untuk menjagamu dan bayimu di rumah sakit, karena untuk saat ini kita belum benar-benar aman.]


[Iya Bella, sekarang kututup dulu teleponnya, aku akan menghubungi anak buah Gibran.]


[Iya Riana.] jawab Bella kemudian menutup panggilan telepon dari Riana.


Bella lalu memandang Rachel yang masih terheran-heran setelah mendengar semua percakapannya.


"Bella, aku sungguh tak mengerti apa arti dari semua ini? Apa maksudmu dengan mengatakan Gibran ditangkap? Bukankah saat ini dia sedang menjalani masa tahanannya? Lalu siapa sebenarnya Riana?"


Bella pun menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil meringis.


"Emh begini sebenarnya Ra, selama empat tahun hidup di penjara, kehidupanku dan Gibran sangatlah berbeda, aku menjalani masa tahananku dengan penuh penderitaan sehingga membuatku sadar akan semua perilaku burukku tapi tidak dengan Gibran, kehidupan penjara selama empat tahun sama seperti kehidupan di luar, dia memiliki kamar yang mewah seperti hotel dengan berbagai fasilitasnya, dia bahkan bisa membawa ponsel dan laptop untuk mengontrol semua aktivitas perusahaan kami."


"Astaga." kata Rachel sambil menutup mulutnya.


"Namun setelah ada pergantian kepala lembaga pemasyarakatan di tempat Gibran ditahan, semuanya berubah, Gibran harus menjalani hari-harinya seperti tahanan yang lain dan Gibran tidak tahan menjalani kehidupan tersebut."


"Jadi dia melarikan diri?"


"Iya Ra, dia melarikan diri tapi dia mengalami luka di kakinya yang membuatnya tinggal di sebuah desa dengan seorang wanita yang bernama Riana."

__ADS_1


"Lalu Gibran menikah dengan Riana?"


"Ya, dan Riana adalah adik dari Arvin."


"Astaga, kenapa ini seperti kebetulan sekali Bella?"


"Iya Ra, nasib mempertemukan kami kembali ke dalam satu ikatan keluarga. Aku juga tidak menyangka jika semua akan berakhir seperti ini. Kupikir Arvin juga sudah meninggalkan aku karena aku selalu menolak kehadirannya, tapi ternyata takdir mempertemukan kami kembali saat aku sedang mencari Gibran di rumah Riana, aku bertemu dengan Arvin kembali di rumah itu." jawab Bella sambil tersenyum, namun air mata juga mengalir kembali di pipinya.


"Kau sangat mencintai Arvin?"


"Ya, aku sangat mencintainya tapi di saat-saat terpenting dalam kehidupan kami dia tidak bisa ada di sampingku, ini semua karena Evan sialan itu!!!" gerutu Bella.


"Sudahlah Bella jangan terbawa emosi lagi, nanti malam Arvin juga sudah pulang kan?"


"Iya Ra."


Tiba-tiba tangis bayi pun pecah.


"OE.. OE...OE.."


"Ra, bagaimana ini Ra? Bagaimana cara menenangkan bayi?" kata Bella yang kini terlihat panik melihat bayinya yang menangis.


"Bella, berikan ASI mu untuk bayimu? Itu ASI di dalam payud*aramu."


"Apa Ra? ASI? Lalu bagaimana dengan Arvin?"


"Astagaaa Bellaaaaa!!!"


💓🍀💓🍀💓🍀


"Ini rumahnya?" tanya Milan saat mereka sampai di sebuah rumah minimalis yang berukuran tidak terlalu besar di daerah pinggiran kota.


"Iya itu rumahnya Tuan Milan."


"Bram, kau coba turun lalu amati aktivitas di dalam rumah tersebut."


"Baik Bos."


Salah seorang anak buah Milan kemudian turun mendekat ke arah rumah tersebut. Hingga beberapa saat kemudian anak buah tersebut kembali ke dalam mobil Milan.


"Apa yang sedang mereka lakukan?"


"Hanya sedang berbincang sambil menonton televisi. Ini saya sempat mengambil gambar keadaan di dalam rumah itu bos." kata Bram pada Milan sambil memberikan ponsel miliknya.


Milan lalu melihat foto-foto di ponsel tersebut. Dia lalu mengamati seorang lelaki yang ada di foto itu. "Jadi dia yang bernama Evan?" tanya Milan pada Amran.


"Iya Tuan, dia Evan."


Milan pun mengerutkan keningnya.


"Sepertinya aku pernah melihatnya tapi dimana?" kata Milan sambil memejamkan matanya.


"Astaga, mungkinkah dia orang itu?" gerutu Milan, perasaannya kini begitu tak menentu.

__ADS_1


"Tidak.. Tidak bisa, aku tidak bisa bertindak sekarang, benar kata Rachel ini tidak sesederhana yang dibayangkan. Aku tidak boleh gegabah."


"Kita kembali ke klinik itu sekarang." perintah Milan pada anak buahnya.


__ADS_2