
Beberapa orang polisi tersebut pun mendekat ke arah Gibran yang kini terkapar di atas tanah, dua buah tembakkan menembus kaki kanannya yang kini penuh bersimbah darah.
"Saudara Gibran, ayo ikut kami, anda harus menyelesaikan masa tahanan anda."
"Pak polisi, tolong ijinkan saya untuk bertemu dengan anak dan istri saya."
"Tidak."
"Tapi Pak, tolong."
"Tidak saudara Gibran, anda bisa menemuinya di lain kesempatan." kata salah seorang polisi tersebut.
Gibran yang kini terkulai karena kehilangan banyak darah pun hanya mengikuti saat polisi tersebut memapahnya masuk kembali ke dalam rumah sakit untuk mengobati luka tembakan di kakinya.
"Pak polisi tolong ijinkan saya untuk bertemu dengan anak dan istri saya." kata Gibran terus menerus sambil mengiba.
"Baik nanti kami akan mempertemukan anda dengan mereka."
"Terimakasih Pak polisi."
π₯πΏπ₯πΏπ₯πΏ
"Nyonya Bella, ini sudah sampai. Mari saya bantu masuk ke dalam." kata Amran.
"Iya Pak Amran."
Bella lalu dibantu Amran masuk ke sebuah klinik persalinan milik seorang bidan. Bella lalu dipapah oleh seorang bidan masuk ke dalam ruang persalinan, sedangkan Amran kini menunggu Bella di depan klinik tersebut sambil menelepon seseorang.
[Halo bos, semua sesuai rencana.]
[Bagus, setelah Bella melahirkan tolong kau ambil anaknya.]
[Iya Bos, saat ini Bella sedang ditangani oleh seorang bidan. Setelah selesai saya akan langsung membawa bayi itu pergi. Bos tenang saja kondisi Bella sangat lemah dan kondisi klinik ini pun sepi, hanya ada kami dan sepasang suami-istri yang sedang masuk.] kata Amran.
[Baik, lakukan tugasmu dengan baik, anak buahku juga sudah menunggu di depan, saat Bella sudah selesai melahirkan, kau hubungi mereka untuk bersiap-siap.]
[Baik bos.]
Tanpa dia sadari sepasang suami istri yang sedang berjalan di sampingnya tampak melirik Amran dengan tatapan curiga.
'Bella? Sesuai Rencana? Membawa Bayi Bella? Apa maksud kata-kata dari laki-laki tersebut.' gumam sang istri. Dia lalu mengamati gerak-gerik lelaki yang sedang menelpon sambil menyebut nama Bella.
"Ada apa Ra?" tanya sang suami.
"Milan, aku sepertinya mendengar laki-laki itu menyebut nama Bella."
"Mungkin hanya perasaanmu saja Ra."
"Tidak Milan, aku yakin dia menyebut nama Bella, coba kau lihat gerak-gerik laki-laki itu?"
Milan lalu mengamati gerak-gerik laki-laki yang berusia kira-kira empat puluh tahunan yang kini berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
"Memang terlihat sedikit mencurigakan Ra."
"Milan lebih baik aku mengecek di dalam, apakah ada Bella di dalam klinik ini."
"Iya Ra."
Rachel pun kemudian masuk ke dalam klinik tersebut yang kebetulan adalah milik salah seorang temannya.
"Dimana Bidan Yessi?" tanya Rachel pada salah seorang resepsionis di klinik tersebut.
"Dia sedang membantu proses melahirkan."
"Membantu proses melahirkan?"
"Ya, baru saja salah seorang pasien dibawa ke rumah sakit ini oleh laki-laki yang ada di depan itu." kata resepsionis tersebut sambil menunjuk Amran.
"Astaga, bukankah dia memang orang yang kucurigai tadi." gerutu Rachel.
"Mba bolehkah saya tahu nama pasien yang dibawa oleh laki-laki tersebut?"
"Oh namanya Bu Bella."
"Apa Bella? Apa nama panjangnya Bella Valeria?"
"Iya Ibu Bella Valeria."
"Astaga jadi benar yang sedang melahirkan di dalam adalah Bella, dan orang itu memiliki niat jahat pada Bella. Aku harus memberitahukan semua ini pada Milan."
"Milan, benar dugaanku. wanita yang sedang melahirkan di dalam adalah Bella."
"Apa?"
"Iya Milan, wanita yang ada di dalam adalah Bella, aku yakin laki-laki itu pasti ingin berbuat jahat pada Bella."
"Lalu kenapa Bella sendirian? Dimana Arvin?"
"Kalau itu aku tidak tahu Milan, yang jelas saat ini Bella sedang dalam bahaya."
"Ini seperti sebuah konspirasi Ra, rasanya sama saat kita dulu dipisahkan. Mungkin Bella sedang mengalami balasan atas semua perbuatannya dulu."
"Milan, sudahlah tidak usah mengungkit masa lalu, yang terpenting sekarang adalah kita bisa menyelamatkan Bella dari orang jahat itu."
Milan pun tampak berpikir.
"Milan, please."
"Baik, aku akan membantu Bella."
"Terimakasih." jawab Rachel sambil mencium pipi Milan.
"Ra, ini di tempat umum. Lihat resepsionis itu melihat kita."
__ADS_1
"Maaf." jawab Rachel sambil mengigit bibirnya.
πΏπ₯πΏπΏπ₯πΏπ₯
Perlahan Gibran pun membuka matanya.
"Kau sudah sadar Gibran?" tanya Riana yang kini sudah ada di sampingnya sambil menaiki kursi roda.
"Riana." kata Gibran dengan begitu lemas.
"Riana, apa kau sudah melahirkan? Dimana anak kita Riana?"
Riana pun tersenyum sambil mengangguk.
"Ya, aku sudah melahirkan." jawab Riana sambil menangis.
"Itu anak kita, anak kita laki-laki Gibran, dia sama tampannya seperti dirimu." kata Riana sambil menunjuk pada bayi mungil yang sedang digendong oleh seorang suster.
"Aku ingin lihat anak kita Ra."
"Iya Gibran, kau harus melihatnya, kau juga harus mengumandangkan adzan di telinganya Gibran." kata Riana sambil terisak.
"Suster, bawa bayi itu." kata Riana.
Suster tersebut kemudian mendekatkan bayi itu pada Gibran. Dengan sekuat tenaga, meskipun menahan rasa sakit Gibran pun mencoba untuk duduk kemudian memangku bayi tersebut. Dia lalu melihat bayi mungil yang ada di dalam dekapannya sambil terisak. Perlahan, Gibran pun mengumandangkan adzan meskipun dengan suara yang begitu parau. Air mata pun tak berhenti mengalir di wajahnya dan wajah Riana.
Setelah mengumandangkan adzan, Gibran lalu membelai wajah bayi yang ada di depannya. "Putraku, maafkan papa Nak. Maaf papa tidak bisa menemanimu tumbuh, maafkan papa Nak, tapi papa berjanji akan berusaha menjadi orang tua yang baik untukmu meskipun papa pernah memiliki masa lalu yang kelam. Papa akan selalu berusaha sebaik mungkin Nak. Sekali lagi maafkan papa." kata Gibran sambil mencium dan memeluk bayi kecil yang kini ada di pangkuannya.
"Riana, lihat ini lihat putra kita tersenyum dan mengangguk padaku. Apakah dia sudah tahu aku papanya Riana?"
"Ya Gibran.. Iya." jawab Riana sambil terisak.
Gibran lalu menatap Riana.
"Riana, kau mau kan menungguku?"
"Tentu Gibran, tentu aku akan selalu setia menunggumu." jawab Riana sambil menahan rasa sesak di dadanya.
Tiba-tiba beberapa orang polisi pun masuk ke ruangan tersebut. "Waktu anda sudah habis saudara Gibran, sekarang anda harus ikut kami untuk menjalani sisa masa tahanan anda kembali."
Gibran pun mengangguk. Dia lalu menyerahkan bayi yang ada di pangkuannya pada suster yang ada di sampingnya. Beberapa orang polisi lalu membantu Gibran untuk turun dari brankar, namun sebelum Gibran pergi dari ruangan itu, dia mendekat ke arah Riana.
"Jangan menangis Riana, aku pasti akan kembali, tunggu aku, suatu saat kita pasti bisa hidup bahagia bersama."
"Iya Gibran, Iya." jawab Riana sambil terisak.
"Ayo saudara Gibran, waktu anda sudah habis."
Gibran pun mengangguk, dia lalu keluar dari ruangan tersebut dengan dipapah oleh dua orang polisi.
'Jadi seperti ini rasanya dipisahkan dengan istri dan anak kandungku? Rasanya ternyata sangat sangat sakit, sakit sekali. Milan maafkan aku.' gumam Gibran di dalam hati.
__ADS_1