Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Luka Jahitan


__ADS_3

Gibran menutup laptopnya sambil melihat arloji di tangannya.


"Sudah pukul delapan malam, sebenar lagi pasti Almira pulang dari butik."


Dia kemudian memijit keningnya.


"Apa sebaiknya aku mempertimbangkan kata-kata Bella untuk lebih waspada selama Milan berada di Bandung?" kata Gibran lagi.


"Lebih baik aku ke rumah Almira sekarang dan berpura-pura untuk memintanya menemaniku makan malam." kata Gibran kemudian bergegas keluar dari kantornya.


🍀🍀🍀


Milan tampak begitu cekatan mengikuti mobil mercy berwarna biru yang ada di depannya. Beberapa saat kemudian, mobil tersebut tampak masuk ke sebuah cluster mewah yang tak jauh dari butik milik Almira. Milan pun memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumah wanita itu.


Setelah turun dari mobil, tampak Almira tersenyum sambil mendekat pada seorang lelaki yang kini sedang menunggunya di teras rumahnya sambil membawa sebuah bingkisan.


Dari kejauhan, Milan tampak mengamati postur tubuh dan wajah yang kini sedang bersama wanita itu.


"Kenapa laki-laki itu sangat mirip dengan Gibran? Apakah itu Gibran? Tapi aku tidak bisa begitu jelas melihat wajahnya." kata Milan sambil menatap tajam pada mereka.


"Lebih baik aku tunggu disini saja untuk memastikan siapa lelaki tersebut." kata Milan sambil memainkan ponselnya. Namun tiba-tiba ponsel itu berbunyi.


"Mama." kata Milan kemudian mengangkat panggilan itu.


[Ya ma.]


[Milannnnnnn kau dimana Milannnn?] teriak mamanya di ujung telepon.


[Kenapa sih ma, teriak-teriak? Milan lagi ada urusan sebentar.]


[Milan, besok pernikahan Anya dan Vino tapi kamu masih sempat-sempatnya pergi keluar. Di sini banyak tamu Milan, banyak saudara kita yang datang dan menanyakanmu! Sekarang cepat pulang ke rumah Tante Rani!]


[Iya... Iya ma, Milan pulang sekarang.] kata Milan kemudian menutup telepon dari mamanya.


Dia lalu memandang ke arah rumah Almira.


"Almira atau Rachel, siapapun kamu, aku akan menyelidiki kebenaran tentangmu." kata Milan kemudian pergi mengendarai mobilnya.


🍀🍀🍀🍀


Gibran dan Almira masuk ke dalam rumah, mereka lalu berjalan ke arah meja makan untuk menikmati makan malam yang dibawa oleh Gibran.


"Ra, hari ini apa kau bertemu dengan orang-orang baru?"


"Ya, aku bertemu dengan orang yang belum pernah kukenal." jawab Almira sambil menyantap makanannya.

__ADS_1


"Benarkah siapa orang itu?" tanya Gibran dengan begitu panik.


"Tentu saja para pelanggan di butikku Gibran." jawab Almira sambil terkekeh.


"Kau ada-ada saja Ra."


"Gibran, aku mau menanyakan sesuatu padamu."


"Iya Ra, kau mau tanya apa?"


"Kau pernah bilang padaku, jika luka jahit di perutku itu akibat operasi usus buntu, tapi kenapa kau selalu membelikan makanan pedas untukku? Lalu kenapa aku tidak merasakan apapun saat aku menyantap makanan pedas itu? Bukankah biasanya jika pernah sakit usus buntu tidak diperbolehkan memakan makanan pedas?"


"Em... E... Itu. Itu karena kau sudah dinyatakan sembuh sepenuhnya dari penyakit usus buntumu Ra." jawab Gibran dengan begitu gugup.


"Benarkah?"


"Ya, tentu saja, untuk apa aku berbohong padamu? Emh Ra, aku sudah selesai makan, aku pulang dulu ya sayang." kata Gibran agar Almira tidak menanyakan pertanyaan lebih lanjut padanya.


"Iya Gibran."


"Beristirahatlah Ra, jangan tidur terlalu malam." kata Gibran sambil mengusap kepala Almira kemudian pergi meninggalkan rumah Almira.


Almira pun kemudian tersenyum. "Aku juga sudah selesai makan, sekarang saatnya mandi lalu tidur." kata Almira kemudian menaruh piring kotornya di dapur dan masuk ke kamarnya.


"Jahitan ini, apakah benar jahitan karena operasi usus buntu?" kata Almira sambil menatap jahitan itu di depan cermin.


🍀🍀🍀


Lagu-lagu pernikahan berdendang memenuhi setiap sudut ballroom hotel, di tengah hiruk-pikuk para tamu undangan, Milan tampak menyendiri di salah satu pojok ruangan sambil memainkan ponselnya. Sesekali dia melihat Anya dan Vino yang kini terlihat begitu bahagia di acara resepsi pernikahan mereka. Air matanya pun kemudian menetes saat mengingat kenangannya bersama Rachel saat pesta pernikahan mereka.


Tanpa Milan sadari, kini Anya dan Vino duduk menghampiri Milan yang masih termenung dengan tatapan kosong.


"Milan." sapa Vino yang kini sudah duduk di sampingnya.


"Oooh, kenapa kalian kesini?"


"Hahahaha." Anya pun kemudian tertawa.


"Kenapa kau tertawa Nya?"


"Milan, pesta pernikahan ini sudah selesai, dan kami ingin duduk bersamamu. Aku tidak ingin saudara sepupuku menjadi gila setelah menghadiri pesta pernikahanku." jawab Anya sambil terkekeh.


"Kau bisa saja Nya."


"Milan, kami tahu bagaimana perasaanmu. Saat ini kau pasti masih belum bisa melupakan Rachel. Tapi hidup ini harus terus berjalan, Milan." kata Vino sambil menepuk bahu Milan.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Apa kalian mau menyuruhku menikah lagi sama seperti yang selalu mama katakan padaku?"


"Tidak Milan, bukan itu maksud kami. Kami tahu cinta tidak bisa dipaksakan, jika kau menikah lagi sebelum kau siap, itu hanya akan menyakiti hatimu dan pasanganmu."


"Kau ternyata sangat bijaksana Vino, Anya memang tidak salah sudah memilihmu sebagai suaminya."


"Hahahaha, tentu saja, Anya tidak akan pernah salah sudah memilihku sebagai suaminya." kata Vino sambil mencium pipi Anya.


"Dasar kalian, jadi ini maksud kalian mendekatiku untuk memamerkan kemesraan kalian." gerutu Milan.


"Tidak bukan ini maksud kami."


"Lalu?"


"Milan kau harus melanjutkan hidupmu aku tidak menyuruhmu melupakan Rachel tapi kau harus bisa membuat hidupmu lebih berguna untuk orang lain."


"Apa maksudmu Vino?"


"Mungkin kau harus melakukan kegiatan sosial, aku yakin kegiatan ini pasti akan bisa sedikit menghibur kegundahan di hatimu."


"Kegiatan sosial? Mungkin itu ide yang bagus."


"Jadi kau mau ikut dengan kami besok?" tanya Anya disertai raut wajah bahagia.


"Ya, aku harus mencobanya."


"Baik Milan, besok kau bisa ikut kami ke panti asuhan. Kami rutin mengunjungi panti asuhan itu karena Vino adalah salah satu donatur di panti asuhan tersebut." kata Anya.


"Baik, besok aku ikut kalian."


🍀🍀🍀


Keesokan paginya, mereka bertiga menuju ke sebuah panti asuhan di pinggiran kota Bandung.


"Panti Asuhan Permata Bunda." kata Milan saat membaca plang panti asuhan tersebut.


Dia lalu berjalan masuk ke dalam panti mengikuti Vino dan Anya yang kini sudah berjalan di depannya. Saat berjalan di lorong panti, tiba-tiba kaki kanannya tertubruk sesuatu dari arah belakang.


Milan pun refleks langsung membalikkan tubuhnya, di saat itu pula dia melihat seorang balita yang kira-kira berusia satu tahun tengah terjatuh di samping kakinya, bayi itu pun kemudian menangis. Seketika ada sebuah getaran yang datang di hatinya saat melihat bayi yang kini menangis di sampingnya. Milan kemudian menggendong bayi tersebut.


Lalu di saat itu pula seorang wanita paruh baya berjalan menghampirinya. "Maaf Tuan, Arsen sedang belajar berjalan dan tadi dia tidak sengaja menabrak kaki anda." kata wanita tersebut.


"Arsen?" tanya Milan.


"Ya, bayi yang anda gendong bernama Arsen." jawab wanita paruh baya itu.

__ADS_1


__ADS_2