
Seorang tahanan lalu mendekat pada Gibran. "Ayo kita pergi sekarang Tuan Gibran, saya akan menunjukkan jalan pada anda."
Gibran lalu mengangguk kemudian mengikuti tahanan tersebut dan berjalan di belakangnya. Mereka lalu pergi ke belakang di salah satu pojok lapas yang sepi.
"Naiklah tembok itu, anda tinggal memanjatnya dengan menaiki beberapa drum itu, saya akan mengawasi keadaan dari sini." kata tahanan tersebut pada Gibran.
Gibran pun kemudian mendekat ke arah tembok lalu mulai memanjat tembok tersebut, namun saat Gibran sedang memanjat tembok, raut wajah kepanikan mulai tampak dari tahanan yang berjaga.
"Cepat Tuan Gibran, cepat ada beberapa petugas yang mulai mendekat ke arah sini."
"Kau juga lebih baik pergi dari sini agar sipir tersebut tidak curiga ada tahanan yang kabur." kata Gibran sambil terus memanjat dengan gerakan yang begitu tergesa-gesa sehingga menyebabkannya terpleset akibat derasnya hujan yang membuat tembok yang dipijaknya terasa begitu licin, akhirnya Gibran pun sedikit kehilangan keseimbangan hingga membuat dia terjatuh di balik tembok lapas.
BUGGGG
"Awwwww." teriak Gibran.
"Breng*ek!" umpat Gibran.
Dia pun kemudian mencoba berdiri, namun kaki kanannya terasa begitu sakit. "Kenapa tiba-tiba kakiku sakit sekali. Bren*sek!"
"Ini pasti gara-gara aku terjatuh tadi." kata Gibran sambil mencoba berdiri. Dan disaat itulah terdengar suara dari arah balik tembok di dalam rutan.
"Hei coba kalian lihat di sekitar rutan barangkali ada yang melarikan diri." teriak salah seorang sipir.
"Aku harus cepat melarikan diri dari sini." kata Gibran dia pun mencoba berdiri meskipun dengan menahan rasa sakit di kakinya.
"Kurang ajar, kenapa aku begitu ceroboh hingga terjatuh dan membuat kakiku seperti ini!" umpat Gibran sambil terus berjalan melewati ilalang.
Tiba-tiba Gibran pun mendengar seruan dari beberapa orang sipir yang jaraknya kini sudah tidak begitu jauh darinya. "Sial, ini tidak bisa dibiarkan, dengan keadaanku yang seperti ini, pasti akan sulit bagiku untuk bisa berlari, apalagi saat ini hujan masih turun dengan begitu deras." kata Gibran sambil terus berlari dengan menyeret kaki kanannya yang kini terasa begitu sakit.
Gibran pun mencoba melihat sekelilingnya, namun yang ada hanyalah ilalang serta semak belukar, dengan sisa tenaga, Gibran pun kemudian berbalik arah berjalan ke samping kirinya. Beberapa saat kemudian, senyum pun mengembang di bibirnya saat melihat sebuah jalan raya yang tidak jauh dari tempatnya kini berdiri.
"Bagus, itu ada jalan raya." kata Gibran kemudian berjalan ke arah jalan tersebut, namun di saat itu juga suara para sipir yang mengejarnya pun terasa begitu dekat.
"Sial!!!" kata Gibran. Dia kemudian melihat ada sebuah mobil bak terbuka, melihat mobil tersebut. Gibran pun mendekat pada mobil itu lalu menaikinya dan bersembunyi di balik terpal yang ada di mobil tersebut.
__ADS_1
"Semoga mereka tidak membuka terpal ini." gerutu Gibran saat mendengar dua orang yang sedang bercakap-cakap di samping mobil tersebut.
Suara sipir pun terdengar kian mendekat. "Hei coba kau periksa mobil itu." kata salah seorang sipir.
'Oh tidak, sia-sia sudah yang kulakukan.' kata Gibran dalam hati sambil menelan ludahnya dengan kasar. Di saat langkah para sipir itu mendekat, tiba-tiba mobil itu pun berjalan. Gibran pun begitu bahagia, dia lalu tertawa terbahak-bahak di balik terpal.
"Hahahaha... Hahahahahaaaaaa. Kau bebas Gibran! Kau bebas!" kata Gibran sambil mengintip para sipir yang kini sedikit kebingungan.
Mobil bak yang ditumpangi Gibran pun berhenti.
"Aku harus turun dari sini sebelum pemilik mobil ini tahu keberadaanku dan melaporkanku pada polisi." kata Gibran. Dia pun bergegas turun dari mobil, namun saat dia berdiri dan mencoba untuk pergi dari samping mobil itu, tiba-tiba kakinya terasa begitu sakit untuk digerakkan
"AWWWWW." teriak Gibran yang membuat seorang wanita yang berdiri tak jauh darinya membalikkan badannya.
"Hei lancang sekali kamu, siapa kau berani sekali menaiki mobilku tanpa ijin!" teriak seorang wanita yang kini berdiri di dekatnya.
Gibran pun membalikkan badannya, seorang wanita dengan membawa beberapa bunga di tangannya kini berdiri tak jauh darinya.
"Siapa kamu?" tanya wanita itu.
"Hei. apa aku sakit? Kenapa kau pucat sekali?" tanya wanita itu. Namun rasa sakit yang kini terasa begitu tak tertahankan membuat tubuh Gibran ambruk.
"Astaga, dia pingsan." kata wanita itu kemudian mendekat ke arah Gibran.
☘️☘️☘️☘️☘️
"Terimakasih banyak Evan, pekerjaanmu sungguh bagus, kau telah membuatku terkesan di hari pertamamu bekerja di perusahaan ini." kata Bella sambil tersenyum saat mereka keluar dari ruang meeting.
"Terimakasih Bu Bella, anda berlebihan, sudah semestinya saya melakukan ini."
"Iya, tapi caramu bekerja sungguh benar-benar membuatku terkesan."
"Terimakasih."
"Apa kau mau makan siang denganku?" tanya Bella secara spontan. Evan pun sedikit terkejut mendengar ajakan Bella, dia lalu mengerutkan keningnya sambil menatap Bella.
__ADS_1
"Maaf Bu Bella bukannya saya menolak tapi rasanya tidak pantas saya menemani Bu Bella makan siang."
"Memangnya kenapa? Apa kau tidak mau makan siang denganku?"
"Oh bukannya seperti itu, saya hanya malu." jawab Evan yang membuat Bella terkekeh.
"Anggap saja ini sebagai rasa terimakasihku."
"Baik Bu Bella." kata Evan.
'Yes, aku akan mencoba mencari tahu tentang dirimu, aku tidak mau kecewa, sebelum rasa ini terasa semakin dalam aku ingin tahu siapa kau yang sebenarnya. Meskipun perasaan di dalam hatiku begitu tak menentu, aku harus mengendalikan perasaan ini.' kata Bella dalam hati sambil melirik pada Evan yang kini berjalan di sampingnya.
Mereka pun pergi ke sebuah rumah makan yang letaknya tak jauh dari kantor Bella.
"Evan, aku ke toilet sebentar." kata Bella.
"Iya Bu Bella." jawab Evan kemudian berjalan ke salah satu meja yang ada di rumah makan tersebut.
"Bella." panggil sebuah suara yang begitu mengagetkan dirinya.
Bella pun kemudian membalikkan tubuhnya dan begitu terkejut melihat seseorang yang kini berdiri di belakangnya.
"Maaf aku sedang sibuk." kata Bella saat melihat Arvin yang kini berdiri di belakangnya.
"Bella aku ingin bicara denganmu."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Arvin. Antara kau dan aku sudah selesai, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal." kata Bella dengan tatapan mata yang tajam.
"Aku ingin minta maaf padamu."
"Sudah kumaafkan, semua sudah berlalu. Permisi." kata Bella dengan begitu ketus sambil meninggalkan Arvin yang kini berdiri mematung sambil menatap Bella.
"Maafkan aku Bella, sampai kapanpun aku akan selalu meminta maaf padamu sampai kau benar-benar memaafkanku dari lubuk hatimu yang paling dalam."
Note: Apa kisah cinta Bella hanya sebatas memilih antara Evan dan Arvin? Tidak semudah itu ferguso 🤭🤭 karena akan ada kisah cinta yang meliuk-liuk kaya ular tangga dan penuh misteri kaya Rachel dan Milan 🤭🤭
__ADS_1