Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Evan


__ADS_3

"Bagaimana? Apa kau mau membantuku?" tanya Gibran kembali.


"Apa untungnya jika aku mau membantumu?"


"Kau juga ingin kebebasan kan?"


"Tidak. Hidup di luar pun saat ini aku tidak aman karena ada yang menginginkan kematianku di luar sana."


"Lalu?"


"Cukupi semua kebutuhan keluargaku saat kau sudah ada di luar sana, lalu berikan uang yang cukup pada beberapa keluarga tahanan yang akan membantumu besok."


"Hanya itu?"


"Ya."


'Dasar bodoh, itu terlalu mudah bagiku.' gumam Gibran dalam hati.


☘️☘️☘️☘️☘️


❣️ Dua hari kemudian ❣️


Bella masuk ke dalam kantornya dengan sedikit tergesa-gesa.


"Astaga, aku benar-benar belum terbiasa bangun pagi. Ini benar-benar sungguh merepotkanku." gerutu Bella sambil berlari kecil berjalan ke arah ruangannya.


Dia lalu duduk di kursi kerjanya lalu mengambil kaca dari dalam tasnya.


"Hei lihat karena tergesa-gesa make up ku jadi sedikit berantakan." kata Bella sambil menyapukan bedak di wajahnya.


TOK TOK TOK


"Masuk." jawab Bella saat mendengar sebuah ketukan di pintu ruangannya.


"Oh Sinta, silahkan masuk."


"Iya Bu Bella." jawab Sinta kemudian berjalan ke arah meja kerja Bella.


"Ada apa Sinta?"

__ADS_1


"Begini Bu Bella, kami sudah mendapatkan asisten pribadi untuk membantu pekerjaan anda sesuai dengan yang anda inginkan."


"Bagus sekali? Apakah dia benar-benar berpengalaman?"


"Ya, dia memiliki pengalaman yang cukup bagus, sebelumnya dia bekerja di Singapore tapi dia mengundurkan diri dan sudah satu bulan ini dia kembali ke Indonesia karena orang tuanya sedang sakit."


"Oh, jadi dia pernah bekerja di luar negeri? Pasti dia memiliki kemampuan yang sangat baik."


"Iya Bu Bella, selain itu dia juga merupakan lulusan terbaik di perguruan tinggi ternama."


"Wow luar biasa, pasti dia bisa dengan mudah membantu semua pekerjaanku." kata Bella sambil tersenyum bahagia.


"Iya Bu Bella, dan saat ini dia sedang menunggu di luar."


"Baik, cepat kau suruh masuk sekarang karena nanti siang kita akan meeting dengan klien baru kita, aku ingin dia mempelajari semua berkas-berkas ini." kata Bella sambil menunjukkan beberapa berkas yang tertumpuk di atas meja kerjanya.


"Iya sebentar saya panggilkan." kata Sinta.


"Eh sebentar Sinta, siapa nama asisten baruku?"


"Evan."


TOK TOK TOK


'Itu pasti dia, akan kubuat dia mengerjakan semua pekerjaan ini agar nanti setelah meeting aku memiliki waktu untuk pergi ke salon.' gumam Bella.


"Masuk." jawab Bella sambil pura-pura sibuk membaca berkas yang ada di mejanya.


Pintu ruangan Bella pun kemudian terbuka, seorang laki-laki tampak berjalan menghampiri meja kerja Bella.


"Selamat pagi Ibu Bella." sapa sebuah suara yang kini berdiri di depan Bella.


Bella pun kemudian mengangkat wajahnya dengan perlahan, dan betapa terkejutnya dia saat melihat laki-laki yang ada di hadapannya adalah laki-laki yang dia temui beberapa hari yang lalu di depan salon saat dia akan melakukan perawatan.


'Laki-laki ini.' gumam Bella sambil sambil menelan ludahnya dengan kasar, perasaannya pun kini begitu tak menentu. Jantungnya berdegup kian kencang dan tangannya pun bergetar. Laki-laki itu pun sama terkejutnya seperti Bella. Dia tampak memelototkan matanya disertai senyum yang sedikit canggung.


"Maafkan saya jika saya lancang. Bukankah beberapa hari yang lalu kita pernah bertemu?"


"Ya." jawab Bella sambil tersenyum dengan begitu manis.

__ADS_1


"Maaf saya benar-benar tidak tahu jika saya ternyata akan bekerja di perusahaan milik anda. Saya benar-benar tidak sopan saat bertemu dengan anda kemarin."


"Oh tidak, tidak ada yang salah dengan sikapmu Evan. Benarkan namamu Evan?"


"Ya, saya Evan." kata laki-laki tersebut sambil mengulurkan tangannya. Bella pun membalas uluran tangan itu meski disertai perasaan yang begitu campur aduk.


"Silahkan duduk Evan, lalu kau pelajari berkas-berkas ini. Nanti siang kita akan bertemu dengan salah seorang klien, tolong kau yang handle semua ini." kata Bella sambil meringis.


Evan pun kemudian tersenyum. "Emh.. Begini Evan, sebenarnya aku tidak pernah mengurus sebuah perusahaan dan selama ini yang mengurus perusahaan ini adalah mama dan sepupuku Gibran tapi Gibran sedang tersandung masalah hukum jadi aku benar-benar membutuhkan bantuanmu."


"Iya Bu Bella saya mengerti, saya akan mempelajari semua berkas-berkas ini." kata Evan sambil tersenyum lalu mengambil berkas yang ada di depan Bella.


"Emh Evan itu mejamu di dekat pitu masuk, silahkan pelajari semua ini di mejamu." mata Bella sambil menenangkan perasaannya yang begitu berkecamuk.


"Iya Bu Bella, saya ke meja kerja saya terlebih dulu." kata Evan kemudian berjalan ke arah meja kerjanya.


'Oh tidak, astaga kenapa harus dia yang menjadi asisten pribadiku, bagaimana caranya aku bisa menahan gejolak perasaan ini jika aku selalu bersamanya.' gumam Bella sambil sesekali melirik pada Evan yang kini tampak sibuk membaca berkas yang ada di tangannya.


'Tapi bukankah itu hal yang bagus? Bukankah aku bisa jadi dekat dengannya?' gumam Bella lagi sambil menghembuskan nafasnya.


'Tampan sekali, oh tidak Bella kendalikan dirimu dan perasaanmu, bagaimana jika ternyata dia sudah memiliki seorang kekasih? Atau bahkan seorang istri.'


"Ibu Bella." panggil Evan yang ternyata kini sudah berdiri di depannya.


"Lihat ini, jadi seperti ini...." kata Evan sambil menerangkan berkas yang ada di tangannya dengan wajah yang kini sedikit mendekat ke arah Bella.


'Mampus, aku bahkan tidak bisa sedetikpun berkonsentrasi.'


☘️☘️☘️☘️☘️


Derai hujan yang begitu deras tak membuat beberapa orang menghentikan pertandingan sepak bola yang mereka lakukan di lapangan di dalam lembaga pemasyarakatan. Sedangkan para sipir terlihat berdiri di tepi lapangan sambil sibuk mengamati jalannya pertandingan tersebut yang terlihat begitu seru karena dua tim yang sama-sama seimbang.


Saat pertandingan sedang berjalan begitu seru tiba-tiba seorang lelaki bertubuh kurus dengan sengaja mendorong pria bertato yang dikenal dengan nama Jamal, sang penguasa di lembaga pemasyarakatan tersebut. Mendapat dorongan secara tiba-tiba, keseimbangan Jamal pun goyah. Tubuh besarnya pun ambruk di atas lapangan yang penuh kubangan air hujan.


"Breng*ek!" umpat Jamal pada lelaki kurus tersebut.


Dia lalu bangkit dan mendekat pada lelaki tersebut lalu memukulnya dengan pukulan yang bertubi-tubi. Mendapat serangan dari Jamal, lelaki bertubuh kurus tersebut pun ikut melakukan serangan balik. Meskipun bertubuh kurus, tenaga lelaki itu tidak kalah kuat dibandingkan dengan Jamal. Akhirnya kericuhan pun tidak dapat dihindari, beberapa orang tahanan diantara kedua tim sepak bola tersebut lalu saling serang di tengah lapangan. Namun tidak hanya itu, beberapa orang tahanan yang ada di sekeliling lapangan pun ikut memasuki area lapangan sepak bola lalu ikut terlibat dalam perkelahian tersebut. Beberapa orang sipir yang ada di sekitar lapangan pun kini kian panik, mereka lalu tampak kocar-kacir mencari bantuan pada teman-teman mereka yang lain.


Gibran yang berdiri di salah satu pojok lapangan pun tersenyum.

__ADS_1


"Inilah saatnya." kata Gibran sambil tersenyum menyeringai.


__ADS_2