
TOK TOK TOK
Dengan wajah sedikit kesal Bella mengetuk pintu sebuah rumah besar yang ada di depannya. Saat pintu rumah itu terbuka, Bella tidak dapat menyembunyikan kekesalannya dan menumpahkan amarahnya pada laki-laki yang ada di hadapannya.
"Gibran! Kenapa tiba-tiba kau menyuruhku pergi ke Bandung? Menyusahkan saja!"
"Bella tenanglah, kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini."
"Kesempatan apa maksudmu Gibran?"
"Bella, saat ini Almira sedang tidak ada di Bandung, begitupula dengan Milan. Kita punya banyak kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan kita."
"Pekerjaan? Pekerjaan apa yang kau maksud, Gibran?"
"Apa kau lupa masih ada Arsen?"
"Ya, memangnya kenapa?"
"Bella, saat Arsen baru lahir, kita tidak bisa berfikir jernih dan terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan mengenai Arsen."
"Apa maksudmu? Tolong jangan bertele-tele, Gibran!"
"Begini Bella. setelah kupikir dengan jernih, keberadaan Arsen sebenarnya sangat berbahaya bagi kita."
"Apa maksudmu? Apakah Rachel sudah mulai mencurigaimu?"
"Aku tidak tahu, tapi dia pernah menanyakan mengenai bekas jahitan yang ada di perutnya. Aku takut jika dia mulai curiga dan menyelidiki mengenai bekas jahitan itu di rumah sakit. Sedangkan kau tahu sendiri jika rumah sakit tempat Rachel dulu dirawat masih satu yayasan dengan panti asuhan tempat Arsen kini berada. Jika Rachel sampai menyelidiki semuanya maka keberadaan Arsen akan membantu menguak masa lalunya."
"Gibran, ini benar-benar berbahayanya. Kenapa kau baru mengatakan semua ini padaku?"
"Bella, kau tahu sendiri jika setiap hari aku harus bersama Rachel untuk mengawasi seluruh gerak-geriknya. Aku tidak memiliki waktu untuk mengurus Arsen. Lalu kau, bukankah kau juga harus selalu memantau keberadaan Milan. Kita sama-sama di posisi yang sulit untuk menangani keberadaan Arsen."
"Kau benar juga, Gibran. Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah kau akan menghabisi nyawanya?"
"Itu masih aku pikirkan. Ada dua kemungkinan yaitu menghabisi Arsen atau membuangnya sejauh mungkin. Sekarang yang terpenting adalah kita mengambil Arsen di panti asuhan itu dulu, Bella. Setelah itu kita pikirkan lagi langkah selanjutnya."
"Iya Gibran, kau benar. Sekaranglah waktu yang tepat, lebih baik kita ke panti asuhan sekarang."
"Iya Bella, ayo." kata Gibran. Mereka lalu masuk ke dalam mobil Gibran menuju ke panti asuhan tempat Arsen dirawat.
Beberapa saat kemudian, Bella dan Gibran pun turun dari mobil dan masuk ke dalam panti asuhan tersebut dengan begitu tergesa-gesa. Beberapa kali Gibran memencet bel, akhirnya pengurus panti tersebut pun membukakan pintu.
"Permisi, maaf malam-malam mengganggu." kata Gibran.
"Ya, ada apa Tuan. Silahkan masuk."
__ADS_1
Gibran dan Bella pun kemudian masuk ke dalam panti asuhan tersebut.
"Sebentar, saya panggilkan kepala panti terlebih dahulu." kata pengurus panti tersebut lalu meninggalkan Gibran dan Bella.
Beberapa saat kemudian, kepala panti asuhan tersebut pun menemui Bella dan Gibran.
"Selamat malam Tuan Gibran, apa ada yang bisa saya bantu?"
"Emh iya Bu, bolehkah saya membawa Arsen untuk tinggal bersama kami? Saat ini orang tua kandung Arsen sudah pulih dari kecelakaan yang dialaminya satu tahun lalu. Dan mereka berencana untuk mengurus Arsen kembali. Apakah kami diijinkan untuk membawa Arsen pulang?"
"Oh tentu saja Tuan Gibran, anda keluarganya. Anda berhak mengambil Arsen, kami hanya membantu mengurusnya disini karena anda dulu mengatakan jika orang tua Arsen mengalami trauma."
"Ya, itu dulu dan sekarang sudah sembuh." jawab Gibran sambil tersenyum.
"Tapi maaf sepertinya anda tidak bisa mengambil Arsen sekarang."
"Aa..Apa? Tapi kenapa kami tidak bisa membawa Arsen sekarang?"
"Oh itu karena Arsen sedang dirawat di rumah sakit, tadi siang panasnya begitu tinggi jadi kami membawanya ke rumah sakit."
Gibran dan Bella pun begitu kecewa mendengar jawaban dari kepala panti. Dia kemudian bergegas undur diri dari panti tersebut.
"Baik Bu, terimakasih banyak, kami permisi dulu." kata Gibran.
"Iya Tuan Gibran, setelah Arsen sembuh anda kami kabari secepatnya."
"Entahlah, aku juga bingung Bella."
"Gibran bagaimana jika kita ke rumah sakit sekarang."
"Sepertinya itu ide yang bagus, Bella." jawab Gibran sambil tersenyum menyeringai.
🍀🍀🍀
Milan kemudian memegang wajah Almira. "Aku rindu kamu Ra." bisik Milan di wajah Almira kemudian mulai mencium bibirnya dan dibalas dengan ciuman lembut dari Almira. Air mata pun mulai menetes di sudut mata Almira. Milan pun kemudian melepas ciumannya dan menghapus air mata Almira.
"Jangan menangis Ra."
"Benarkah kau suamiku?"
Milan pun kemudian mengangguk, dia lalu mengambil ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto pernikahan beserta buku nikah mereka.
"Astaga." kata Almira sambil menutup mulutnya.
"Apa ini aku? Aku adalah Rachel?" tanya Almira sambil menunjuk foto pernikahan mereka.
__ADS_1
"Ya, kau adalah Rachel istriku." kata Milan lagi, kemudian menunjukkan foto-foto mesra mereka dahulu saat masih bersama.
"Itulah alasannya aku tidak pernah memanggilmu denga nama Almira, karena kau adalah Rachel." kata Milan kemudian memeluk Rachel dengan begitu erat.
"Tapi maaf aku belum bisa mengingat apapun tentang kita." kata Almira sambil menangis.
"Tidak apa-apa, aku akan membantumu mengingat masa lalumu."
"Iya Milan, tolong maafkan aku, maafkan aku jika selama ini aku tidak mempercayaimu. Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya dan melaporkan kejahatan Gibran pada yang berwajib?"
"Itu karena aku belum memiliki bukti yang kuat, Gibran sangatlah licik, dia bisa saja menghilangkan barang bukti jika tahu aku sedang menyelidikinya. Setidaknya sampai aku mendapat hasil tes DNA tersebut."
"Tes DNA?"
"Iya Rachel, selama ini orang-orang menganggap kau sudah meninggal karena kecelakaan itu, tapi sebenarnya yang meninggal adalah Vania. Aku sedang melakukan tes DNA terhadap jenazah Vania, selain itu ada beberapa bukti yang masih kukumpulkan untuk menyelidiki kecelakaan yang terjadi padamu saat itu."
"Vania? Jadi aku kecelakaan bersama Vania?"
"Iya Ra. Sudahlah kau jangan berfikir terlalu berat. Kita akan mengembalikan ingatanmu pelan-pelan Ra."
Almira pun kemudian mengangguk.
"Lebih baik kau tidur saja, istirahatlah."
"Kau mau menemani aku kan?"
"Tentu saja, aku adalah suamimu." kata Milan sambil tersenyum kemudian tidur di samping Almira lalu memeluk tubuhnya.
Almira pun semakin erat memeluk tangan Milan yang mendekap tubuhnya. "Kau tahu Ra, momen-momen ini mengingatkanku saat kita mulai menjalin hubungan itu, saat pertama kali kita bermesraan." kata Milan yang membuat Almira tersipu malu.
"Lalu apakah kita bisa memulainya sekarang Milan?" tanya Almira yang membuat Milan merasa begitu bahagia.
Dia pun mulai mencium bibir Almira dengan begitu bergairah. "Aku rindu kamu Ra." kata Milan. Perlahan, Milan pun melepas pakaian yang dikenakan oleh Almira sambil terus menikmati setiap lekuk tubuh Almira yang membuat Almira mengeluarkan de**han hingga keduanya menikmati malam yang telah begitu mereka rindukan.
"Aku cinta kamu Ra." kata Milan saat berada di puncak kenikmatan.
"Aku juga Milan." jawab Almira sambil menciumi dada bidang Milan.
Milan pun merebahkan tubuhnya di samping tubuh telanjang Almira sambil menciumi bahunya dan memeluknya dari belakang. Namun saat tangan Milan meraba bagian perut Almira, sesuatu terasa begitu mengganggunya.
'Apa ini? Kenapa seperti ada bekas jahitan di perut Rachel?' kata Milan dalam hati.
Note:
Terimakasih readers yang udah mampir,
__ADS_1
Love you dear 😘🥰❤️
Jangan lupa tinggalin jejaknya.