Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Secangkir Cappucino


__ADS_3

"Kapan kita akan melakukan tes DNA?"


"Kalau tante tidak sibuk, hari ini kita akan melakukan tes DNA, pihak rumah sakit pagi ini juga sudah mengambil sample di pemakaman. Kalau tante tidak keberatan, kita ke rumah sakit sekarang."


"Baik, saya ganti pakaian terlebih dulu."


"Iya." jawab Milan, kemudian dia mengambil ponselnya.


[Halo Arman, kau masih ada di makam?]


[Iya bos, pihak rumah sakit sedang mengambil sample DNA di makam Nyonya Rachel.]


[Baik, terimaksih. Pastikan keamanannya, jangan sampai ada anak buah Gibran yang tahu kita sedang bermain di belakang mereka.]


[Iya bos, saya mengerti.]


"Kita bisa pergi sekarang?" tanya Mama Vania pada Milan.


"Iya tante." jawab Milan kemudian mereka berdua pun masuk ke mobil Milan untuk pergi ke rumah sakit.


🍀🍀🍀🍀


TOK TOK TOK


"Masuk." kata Almira


"Selamat siang Nyonya Almira, ini ada surat undangan untuk anda."


"Surat undangan?"


"Ya, surat undangan untuk anda." kata salah seorang pegawai butik.


Almira lalu membuka surat yang kini ada di tangannya.


"Undangan untuk mengikuti seminar fashion di Jakarta?" kata Almira.


"Acaranya dua hari lagi, mendadak sekali." kata Almira sambil mengerutkan keningnya.


CEKLEK


Tiba-tiba pintu ruangan Almira dibuka.


"Gibran."


Gibran pun tersenyum lalu mendekat pada Almira sambil membawa bungkusan di tangannya.


"Aku datang ke sini untuk makan siang denganmu, aku takut kau masih tidak enak badan jadi aku tidak mengajakmu makan di luar."


"Iya Gibran, terimakasih."


'Apakah aku pantas mencurigai Gibran jika sikapnya begitu baik padaku.' kata Almira dalam hati sambil menatap Gibran.


"Kamu kenapa Ra? Kenapa tiba-tiba kau menatapku seperti itu?"

__ADS_1


"Emh.. E.. Ini Gibran." kata Almira sambil memperlihatkan sebuah undangan seminar pada Gibran.


"Maksudmu?"


"Apa boleh aku ikut seminar itu Gibran?" tanya Almira dengan sedikit canggung.


"Hahahaha... Hahahaha tentu saja boleh Ra, memangnya kenapa?"


"Syukurlah, biasanya kau sedikit protektif padaku." kata Almira sambil tersenyum.


'Saat itu aku begitu protektif padamu karena aku takut Milan masih mencintaimu, tapi sekarang Milan sudah berpaling pada Bella, jadi tidak ada lagi yang perlu kucemaskan, lagipula kemanapun Milan pergi akan selalu dalam pengawasan Bella, jadi aku tidak perlu cemas kalian akan bertemu.' kata Gibran dalam hati.


"Aku dulu begitu protektif padamu karena saat itu kau baru sembuh Ra. Sekarang kondisimu sudah tidak seperti dulu, jadi tidak ada yang perlu ku khawatirkan." kata Gibran sambil membelai wajah Almira.


"Terimakasih " jawab Almira sambil tersenyum.


'Dia sangat mencemaskan dan menyayangiku, aku terlalu kejam jika lebih percaya pada laki-laki asing itu dibandingkan dengan Gibran.' gumam Almira.


'Tapi kenapa rasa ini tak bisa kupungkiri, perasaanku saat bersama Gibran dan Milan sungguh berbeda, saat bersama Gibran aku tak merasakan getaran apapun yang selalu kurasakan bersama Milan.' kata Almira lagi dalam hati.


🍀🍀🍀🍀🍀


[Ya Bella.] jawab Milan saat mengangkat panggilan dari Bella.


[Milan, aku sudah selesai, apa kau bisa menjemputku di salon.]


[Iya Bella, sebentar lagi aku akan menjemputmu.] jawab Milan kemudian menutup telepon dari Bella.


"Iya Milan, tidak apa-apa, selesaikan saja urusanmu Milan." kata mama Vania.


"Terimakasih banyak tante, saya pergi dulu."


"Iya Milan."


Milan pun berjalan keluar dari rumah sakit, sebelum dia masuk ke mobilnya. Milan mengambil ponselnya di saku celananya.


[Halo Arman, tolong kau jemput mama Vania di rumah sakit dan antar dia ke rumahnya.]


[Baik bos.]


[Pastikan keamanannya selama tes DNA tersebut sampai hasilnya keluar dua minggu lagi.]


[Iya bos, saya sudah memerintahkan anak buah saya.]


[Bagus.]


[Tapi bos, ada satu lagi yang ingin saya sampaikan.]


[Ya, ada apa Arman?]


[Mengenai hasil pemeriksaan obat tersebut di laboratorium, hasilnya sudah keluar Bos.]


[Lalu apa hasilnya?]

__ADS_1


[Saya sudah mengirimkan soft file hasil pemeriksaan tersebut ke email bos.]


[Ooh baik, nanti saya buka. Tapi saya juga minta surat resmi hasil laboratorium tersebut, kau bisa mengantarnya ke apartemenku besok, jangan sekarang karena ada Bella.]


[Iya bos, besok saya antar.]


[Baik Arman, lakukan semua pekerjaanmu dengan baik.] kata Milan kemudian menutup teleponnya dan bergegas menuju ke salon untuk menjemput Bella.


"Bren*sek!" umpat Milan di dalam mobil saat membaca hasil laboratorium obat yang dikonsumsi oleh Rachel.


"Benar dugaanku! Obat yang diberikan oleh Gibran ternyata mengandung zat yang bisa memperlambat kerja saraf otak, jadi sampai kapanpun jika Rachel masih meminum obat tersebut dia tidak akan pernah mengingatku." kata Milan saat dia membaca hasil laboratorium yang diberikan oleh Arman.


"Aku harus mencari tahu tentang ini, aku harus mendapatkan informasi lebih melalui Bella." kata Milan saat mengendarai mobilnya. Setengah jam kemudian, Milan pun sudah sampai di salon tempat Bella menunggunya.


"Maaf aku sedikit terlambat, jalanan macet."


"Tidak apa-apa Milan." jawab Bella sambil tersenyum lalu masuk ke mobil Milan.


🍀🍀🍀🍀


"Setelah ini kita kemana Milan?" tanya Bella saat mereka keluar dari dalam mall setelah menikmati makan siang dan berjalan-jalan di mall tersebut.


"Ini sudah sore, sebaiknya kita ke apartemenku saja. Bukankah kau tadi mengatakan jika kau mau menginap di apartemenku?" tanya Milan sambil tersenyum nakal.


"Hahahaha ya aku rindu padamu Milan, aku tahu kau pun pasti juga merindukan aku, aku tahu kau pasti sudah tidak sabar untuk melepas rindumu padaku."


Milan pun kemudian mengangguk sambil tersenyum. 'Ya, aku memang sudah tidak sabar Bella, tidak sabar untuk membongkar kebusukanmu dan Gibran.' kata Milan dalam hati.


"Ayo kita pulang."


"Iya." jawab Bella kemudian menggandeng lengan Milan dan bergelayut manja.


Beberapa saat kemudian mereka pun sudah sampai di apartemen Milan.


"Bella, biar kubuatkan minuman dulu untukmu."


"Tidak usah repot-repot Milan, aku bisa sendiri. Sekarang aku hanya ingin bermesraan denganmu" kata Bella sambil mengalungkan tangannya di leher Milan.


"Sabar Bella sayang, kita sudah lama tidak bersama, aku ingin menghabiskan waktuku dulu bersamamu, aku ingin menyambutmu terlebih dahulu sebagai orang yang paling spesial di hatiku." kata Milan sambil melepaskan pelukan Bella kemudian mengedipkan mata kanannya, lalu berjalan ke arah dapur.


'Kau manis sekali Milan.' gumam Bella, dia kemudian berjalan ke arah sofa.


"Minum dulu Bella." kata Milan sambil memberikan secangkir cappucino pada Bella.


"Terimakasih Milan." jawab Bella kemudian meminum cappucino itu yang membuat Milan tersenyum menyeringai.


Setelah meminum cappucino tersebut, Milan kemudian mendekap tubuh Bella yang membuat Bella tersipu malu.


'Sekarang kita hitung, 1, 2, 3.' kata Milan dalam hati.


Note:


Terimakasih buat readers yang udah mampir, kalau kalian suka karya ini tolong tinggalkan jejaknya ya dan dukung karya ini lewat like, komen atau vote karena karya ini juga sedang dilombakan di kompetisi you are writer season 6, terimakasih 😉✌️

__ADS_1


__ADS_2