Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Kencan


__ADS_3

❣️ Satu bulan kemudian ❣️


Bella menatap wajahnya di cermin "Riasan dan lekukan wajahku begitu sempurna, aku terlihat sangat cantik tapi aku tidak yakin Evan benar-benar tertarik padaku." gerutu Bella sambil terus menatap wajahnya.


Dia lalu berdiri lalu bercermin kembali di sebuah cermin besar sambil melihat seluruh tubuh dan wajahnya. "Penampilanku juga sangat menarik, tapi kenapa hingga saat ini Evan belum pernah menyatakan rasa cintanya padaku? Hari ini adalah kencan kami yang kelima dalam satu bulan terakhir ini, tapi kenapa dia tidak pernah mengatakan apapun padaku? Atau mungkin sebenarnya dia hanya menganggapku sebagai teman saja? Mungkin sebenarnya aku yang sudah terlalu percaya diri sampai menganggap dirinya memiliki perasaan yang lebih padaku?"


"Ah sudahlah ini benar-benar membuatku merasa pusing."


Bella kemudian duduk di atas ranjangnya sambil menunggu kedatangan Evan. "Ataukah aku yang terlalu kaku padanya? Bukankah selama ini dia masih memanggilku dengan sebutan Bu Bella? Ya, mungkin itulah sebabnya dia tidak pernah menyatakan rasa cintanya padaku, aku harus lebih terbuka dan menghilangkan sekat diantara kami berdua agar dia tidak sungkan padaku."


TIN TIN


Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil. Bella pun kemudian berdiri, namun saat itu juga tiba-tiba kepalanya terasa begitu pusing.


"Kenapa kepalaku pusing sekali?" gerutu Bella.


Dia lalu mencoba berdiri namun kepalanya semakin berkunang-kunang, akhirnya tubuhnya pun ambruk di atas ranjang.


"Oh bagaimana ini? Bukankah aku ada kencan dengan Evan? Kenapa tiba-tiba tubuhku seperti ini? Tidak, ini tidak boleh terjadi, aku harus sehat." kata Bella kemudian memaksakan dirinya bangkit. Namun tubuh lemasnya semakin tak berdaya, dia lalu kembali ambruk di atas ranjangnya. Hingga akhirnya ponselnya pun berbunyi. Bella lalu mengambil ponsel yang ada di sampingnya.


"Evan." kata Bella saat melihat nama yang ada di layar ponselnya. Dia lalu mengangkat panggilan itu.


[Halo Evan.]


[Halo, Bu Bella, saya sudah ada di depan rumah anda.]


[Evan, maaf sepertinya kita tidak bisa makan malam di luar.]


[Memangnya kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi pada anda?]


[Ya Evan, kepalaku tiba-tiba sangat sakit.] kata Bella sambil memegang kepalanya.


[Oh, lalu anda dimana?]


[Di kamar, Evan.]


[Bolehkah saya menemui anda sekarang?]


[Ya, tentu saja.] jawab Bella dengan raut wajah yang begitu bahagia.


'Evan mau menemuiku?' gumam Bella sambil tersenyum perasaannya pun kian tak menentu menunggu kedatangan Evan ke dalam kamarnya.


Beberapa saat kemudian, pintu kamarnya pun terbuka. Evan lalu masuk ke dalam kamar tersebut dengan raut wajah yang begitu cemas.


"Bu Bella, bagaimana keadaan anda?"

__ADS_1


Bella lalu tersenyum pada Evan sambil menggelengkan kepalanya.


"Kepalaku sedikit pusing."


"Wajah anda pucat sekali, biar saya ambilkan obat sakit kepala untuk anda." kata Evan kemudian keluar dari kamar Bella lalu mencari pembantu yang ada di rumah tersebut untuk mengambilkan obat untuk Bella.


Beberapa saat kemudian, Evan pun kembali masuk ke dalam kamar Bella.


"Ini obat sakit kepalanya."


Bella lalu mengambil obat tersebut lalu meminumnya.


"Lebih baik anda beristirahat saja Bu Bella."


"Iya." jawab Bella sambil mengangguk lalu menatap Evan yang masih duduk di tepi ranjangnya.


"Evan."


"Ya Bu Bella, apa anda butuh sesuatu?"


"Tidak, Evan jika di luar kantor bisakah kau memanggil namaku saja? Bukankah kita seumuran?" kata Bella sambil menatap Evan.


"Apa tidak apa-apa?"


"Ya, kau panggil namaku saja."


"Terimakasih sudah begitu perhatian padaku."


Evan pun kemudian mengangguk.


"Kau pulang saja Evan, aku tidak mau merepotkanmu."


"Tidak apa-apa, aku akan menunggu disini sampai kau sembuh, aku sangat mencemaskanmu Bella." jawab Evan yang membuat Bella terkejut.


"Mencemaskanku? Kenapa kau mencemaskanku?" tanya Bella sambil mengerutkan keningnya.


"Emhh... Tidak apa-apa saya hanya mencemaskanmu Bella." jawab Evan sambil tersenyum.


"Terimakasih, aku sudah jauh lebih baik, sudah tidak terlalu pusing." kata Bella lalu duduk di atas ranjang sambil menggenggam tangan Evan.


'Cepat katakan, Evan.' gumam Bella dalam hati sambil terus menatap Evan dengan tatapan hangat. Mendapat tatapan hangat dari Bella, Evan pun balas menatapnya.


"Bella, sebenarnya malam ini ada yang ingin kukatakan padamu?"


Perasaan Bella pun begitu bahagia, tapi dia berusaha mengendalikan perasaannya.

__ADS_1


"Ya, apa yang ingin kau katakan?"


"Bella, maafkan aku jika aku sudah lancang mengatakan ini padamu. Tapi aku sudah tidak bisa menyimpan perasaan ini lagi di dalam hatiku."


"Apa maksudmu, Evan?"


"Bella, sebenarnya aku sangat mencintaimu. Aku sudah sangat tertarik padamu saat pertama kita bertemu, aku sudah berusaha mengubur perasaan ini padamu karena aku tahu aku laki-laki yang tidak pantas untukmu tapi semakin aku mengubur rasa cintaku, rasa ini semakin dalam."


Bella pun hanya terdiam berusaha menyembunyikan perasaannya yang begitu bahagia.


"Bella kau tidak perlu menjawab apapun, aku memang tidak pantas untukmu. Aku hanya ingin mengutarakan perasaanku saja padamu. Kau beristirahatlah, aku pulang dulu." kata Evan lalu bangkit dari tepi ranjang Bella.


Melihat Evan yang sudah berdiri, Bella pun kemudian menarik tangan Evan. "Tunggu Evan, jangan pergi dulu. Bukankah kau belum mendengar jawabanku?"


"Aku tidak memerlukan jawabanmu, Bella, aku sadar kita berbeda." jawab Evan sambil tertunduk.


Bella pun kemudian bangun dari tempat tidurnya lalu memeluk tubuh Evan dari belakang. "Aku juga mencintaimu, Evan. Tolong jangan pergi."


Evan pun kemudian membalikkan tubuhnya lalu memandang Bella. "Benarkah kau juga mencintaiku?"


"Ya." jawab Bella sambil mengangguk.


"Terimakasih Bella." jawab Evan kemudian memeluk tubuh Bella.


"Jangan tinggalkan aku malam ini, tetaplah di sampingku."


"Ya." jawab Evan kemudian melepas pelukan. Dia lalu mendekatkan wajahnya pada Bella lalu mulai mencium bibirnya dengan begitu lembut. Bella pun kemudian membalas ciuman Evan, hingga akhirnya ciuman lembut itu pun berubah menjadi ciuman yang begitu bergairah diseratai dengan de*ahan dan e*angan. Evan pun mulai menciumi tengkuk dan leher mulus Bella sambil sibuk memasukan tangannya ke dalam baju Bella kemudian memainkan bu*h da*a milik Bella. Bella yang sudah begitu berna*su pun kemudian membuka pakaian yang dikenakan oleh Evan.


"Bella, bukankah kau masih sakit?"


"Tidak, aku sudah sembuh." jawab Bella.


"Benarkah?"


"Ya."


"Kau mau melakukannya denganku?"


"Tentu." jawab Bella sambil mende*ah.


Evan pun kemudian menanggalkan pakaiannya dan pakaian yang Bella kenakan, keduanya pun larut dalam permainan hingga akhirnya mencapai puncak kenikmatan.


"Aku mencintaimu, Evan." kata Bella saat Evan menindih tubuhnya.


"Ya, aku juga." jawab Evan yang masih di atas tubuh Bella.

__ADS_1


Saat Evan merebahkan tubuhnya di samping Bella, tiba-tiba Bella pun merasa begitu mual.


__ADS_2