Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Nama Yang Kau Sebut


__ADS_3

Bella terlihat begitu gugup melihat nama Evan di layar ponselnya. "Aku harus bagaimana?" kata Bella sambil mengigit bibirnya.


"Ah lebih baik kuangkat saja." kata Bella lagi kemudian mengangkat panggilan dari Evan.


[Halo, ada apa Evan?]


[Maaf mengganggu hari libur anda Bu Bella.]


[Iya tidak apa-apa, Evan. Ada apa? Apa ada sesuatu yang akan kau bicarakan?]


[Emhh... Begini Bu Bella, maaf sebelumnya jika saya lancang.]


[Kau kenapa Evan? Kenapa tiba-tiba kau aneh seperti ini?]


[Emh Bu Bella, bisakah nanti kita makan siang di luar?] tanya Evan dengan sedikit ragu-ragu.


[Makan siang?] tanya Bella sambil menyembunyikan perasaannya yang begitu bahagia.


[Oh iya lupakan saja Bu Bella, saya hanya salah bicara, tidak sepantasnya saya mengajak seseorang seperti Bu Bella.]


[Oh.. O.. Tidak Evan, tidak ada yang salah dengan kata-katamu.]


[Benarkah? Jadi Bu Bella mau menerima ajakan saya untuk makan siang bersama?]


[Tentu saja.] teriak Bella tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


'Astaga Bella, kendalikan dirimu.' gumam Bella dalam hati.


[Baik Bu Bella, nanti siang saya jemput.]


[E.. E.. Iya Evan.] jawab Bella dengan begitu gugup.


"AAAAAAAAAAAAAAA." Teriak Bella dengan begitu bahagia saat menutup panggilan telepon dari Evan, seolah-olah melupakan kejadian pahit yang baru saja dilaluinya. Dia lalu menatap foto Evan yang ada di dalam ponselnya kemudian memeluk foto itu.


"Aku harus melupakan semua yang telah terjadi diantara aku dan Arvin tadi malam, bukankah perbuatan itu benar-benar tidak disengaja? Anggap saja itu sebuah kesalahan yang harus dilupakan secepatnya. Bukankah aku dulu juga sering melakukan hubungan itu dengannya? Ah.. Sudah, sudah, lupakan." kata Bella kemudian bangun dari tempat tidurnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian setelah selesai mandi, dia lalu berjalan ke dalam walk in closet dan melihat beberapa baju yang ada di dalamnya, kemudian tampak sibuk memilih baju yang akan dia kenakan.

__ADS_1


"Baju apa yang harus kupakai? Aku harus tampil cantik agar Evan terpesona dengan penampilanku." kata Bella sambil melihat satu per satu baju-baju miliknya, hingga akhirnya matanya tertuju pada sebuah dress merk Louis Vuitton dengan corak monogram ombre berwarna pastel.


"Aku pakai ini saja, pasti aku terlihat cantik memakai pakaian ini." kata Bella sambil mengambil dress tersebut.


🌸🌿🌸🌿🌸🌿🌸


Gibran lalu melepaskan pelukannya pada Riana, dia lalu menatap wajah gadis polos itu dengan tatapan begitu dalam. Riana pun tampak begitu malu dan salah tingkah mendapat tatapan dari Gibran. Jantungnya pun berdegup semakin kencang.


"Apakah kau mau menjadi kekasihku?" tanya Gibran pada Riana, namun Riana hanya diam.


'Bagaimana ini? Aku harus menjawab apa?' gumam Riana lagi sambil menelan ludahnya dengan kasar.


"Jika kau diam berarti kau setuju untuk menerimaku menjadi kekasihmu." kata Gibran yang membuat Riana semakin tersipu malu.


"Kau mau kan jadi kekasihku?" tanya Gibran kembali yang dijawab anggukan oleh Riana.


"Terimakasih banyak." kata Gibran kembali sambil menatap Riana.


'Tuhan, aku benar-benar tidak menyangka laki-laki tampan dan keren seperti Gibran bisa jatuh cinta padaku.' gumam Riana dalam hati.


Perlahan Gibran pun mendekatkan wajahnya pada Riana yang membuat tubuh Riana kian begitu tegang.


'Oh tidak, dia benar-benar menciumku.' kata Riana dalam hati saat Gibran mencium bibirnya dengan begitu lembut.


'Aku baru pernah melakukan ciuman dengan seorang lelaki, bagaimana ini?' gumam Riana lagi.


"Apa kau gugup?" tanya Gibran setelah melepaskan ciumannya.


Riana pun mengangguk. "Maaf, aku baru pernah melakukannya." jawab Riana dengan malu-malu yang membuat Gibran tersenyum.


"Jadi kau baru pernah melakukannya?"


Riana pun mengangguk. "Mau kuajari?" tanya Gibran yang membuat Riana tersipu malu.


"Akan kuajari." kata Gibran sambil mendekatkan wajahnya kembali pada Riana lalu mencium bibirnya kembali dengan begitu lembut. Perlahan, Riana pun mulai membalas ciuman Gibran meskipun dengan perasaan yang begitu gugup.


'Bagus sekali, akan kubuat wanita polos ini benar-benar jatuh cinta padaku, jadi saat dia tahu jati diriku yang sebenarnya, dia akan tetap menyembunyikan keberadaanku dari polisi terkutuk itu. Aku tidak mau kembali lagi ke dalam penjara yang seperti neraka itu.' kata Gibran di dalam hati.

__ADS_1


🌸🌿🌸🌿🌸🌿🌸


Bella tampak begitu cemas menunggu seseorang di dalam rumahnya, sesekali dia berjalan ke arah cermin lalu memandang dirinya sambil merapikan kembali riasan wajah dan penampilannya.


"Bella, tenangkan dirimu Bella. Kau harus tenang." kata Bella sambil menenangkan perasaannya yang terasa begitu tak menentu.


"Ah sebentar, sebentar bukankah Evan sudah memiliki kekasih? Aku tidak boleh terlalu percaya diri. Mungkin saja dia mengajak makan siang karena ada masalah pekerjaan yang harus dibicarakan? Ya aku tidak boleh terlalu berharap, bahkan aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri jika Evan kemarin menjemput kekasihnya." kata Bella dengan wajah yang begitu lesu.


Di saat itulah terdengar suara klakson mobil di halaman rumahnya. "Itu pasti Evan." kata Bella, dia kemudian keluar dari kamarnya lalu turun ke bawah.


Saat membuka pintu rumahnya, sebuah senyuman yang sangat menawan dari Evan pun semakin membuat perasaan Bella semakin tak menentu.


"Selamat siang Bu Bella."


"Selamat siang Evan."


"Anda sangat cantik hari ini." kata Evan yang membuat jantung Bella semakin berdegup begitu kencang.


'Bella tenangkan dirimu.' gumam Bella dalam hati.


"Kau berlebihan Evan."


"Tidak hari ini anda memang sangat cantik." kata Evan sambil sedikit malu-malu.


"Terimakasih, ayo kita pergi sekarang."


"Iya Bu Bella, mari." jawab Evan kemudian berjalan ke arah mobilnya lalu membukakan pintu untuk Bella.


"Terimakasih." jawab Bella kemudian masuk ke dalam mobil tersebut.


'Oh tidak, sikapnya hari ini pun begitu manis padaku. Aku semakin tidak bisa mengendalikan perasaanku padanya, oh tidak Bella jangan lakukan itu aku tidak boleh terlalu hanyut dengan sikapnya, aku harus ingat bahwa dia memiliki seorang kekasih.' gumam Bella saat di dalam mobil.


"Kita pergi sekarang?" tanya Evan saat sudah duduk di samping Bella.


"Iya." jawab Bella singkat untuk menyembunyikan perasaan gugupnya.


Evan lalu mengendarai mobilnya keluar dari rumah Bella. Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah mengamati gerak-gerik mereka dari depan rumah Bella.

__ADS_1


"Semenjak semalam aku belum berani meninggalkanmu karena aku takut sesuatu hal yang buruk terjadi padamu karena kesalahan yang telah kita lakukan semalam, tapi sepertinya kau baik-baik saja karena kau sudah memiliki seseorang yang kini bisa menjagamu. Jadi dia laki-laki yang ada di dalam hatimu saat ini, Bella? Diakah Evan yang namanya kau sebut?" kata Arvin sambil menatap kepergian Bella tanpa mengindahkan gerimis yang kini membasahi tubuhnya.


__ADS_2