
"Gibran, kau melamun? Apakah kau ingin menghubungi keluargamu?" tanya Riana.
"Oh tidak, orang tuaku sudah meninggal sejak aku kecil."
"Oh, maaf. Jadi kau tinggal sendiri?"
"Sejak kecil aku diasuh oleh tanteku, Tante Hana tetapi dia juga sudah meninggal lima tahun yang lalu. Aku memiliki seorang sepupu perempuan, tapi kini kami sudah tidak tinggal satu rumah lagi."
"Oh."
"Apa kau juga tinggal sendiri?" tanya Gibran pada Riana.
"Ya, orang tuaku meninggal beberapa tahun yang lalu. Aku memiliki seorang kakak laki-laki yang bekerja di kota."
"Oh. Sekali lagi terimakasih, kau sudah menolongku padahal kita baru pertama kali bertemu."
"Bukankah tadi sudah kubilang jika sesama manusia harus saling tolong menolong?" kata Riana sambil terkekeh.
"Tapi kita belum saling mengenal, bagaimana jika ternyata aku seorang penjahat?"
"Penjahat? Memangnya kau pernah berbuat jahat padaku? Selama kau tidak mencuri di rumahku, aku tidak akan menganggapmu sebagai penjahat." jawab Riana sambil tersenyum.
Gibran pun ikut tersenyum mendengar kata-katanya. 'Kenapa sikapmu semakin mirip dengan Rachel?' kata Gibran dalam hati.
"Permisi." kata seorang dokter yang kini sudah ada di samping mereka.
"Iya dokter, bagaimana hasil pemeriksaan teman saya?" tanya Riana.
"Begini nona, seperti yang sudah saya duga, kaki teman anda retak, dan harus dipasang gips di kakinya."
'Breng*ek, kakiku retak! Pantas saja tadi rasanya begitu sakit.' gumam Gibran dalam hati.
"Iya dok, berikan perawatan yang terbaik untuk teman saya." kata Riana.
"Baik nona, kami akan memasang gips pada kaki teman anda. Sebentar saya persiapkan dulu alat-alatnya."
"Iya."
"Terimakasih, suatu saat aku pasti akan membalas kebaikanmu."
"Tidak usah dipikirkan, yang terpenting saat ini adalah kau mendapatkan penanganan terbaik, dan kau bisa sembuh secepatnya."
Gibran kemudian mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️
"Hati-hati, pelan-pelan." kata Riana sambil membantu Gibran turun dari mobil.
Gibran lalu memandang sekeliling rumah Riana. Sebuah rumah yang tidak begitu besar tapi memiliki halaman yang cukup luas dengan tembok keliling yang tidak begitu tinggi. Selain itu, ada berbagai bunga ditanam di halaman dan di berbagai sisi sudut rumah.
"Halaman rumahmu luas sekali, dan kenapa banyak sekali bunga di sekeliling rumah ini?"
"Oh itu karena aku memiliki kebun bunga, bunga-bunga itu jika sudah kupanen akan kujual pada penjual bunga di kota."
"Oh, jadi kau menyukai bunga?"
Riana kemudian mengangguk. "Aku sangat menyukai bunga, ada kebahagiaan tersendiri di dalam hatiku saat melihat berbagai bunga warna warni yang bermekaran." kata Riana sambil memandang bunga-bunga yang ada di halamannya.
Gibran lalu mengamati daerah sekitar rumah Riana yang masih terlihat sepi dan bukan termasuk pemukiman padat penduduk. 'Sepertinya ini tempat yang aman untuk bersembunyi, sebaiknya aku bersembunyi di sini terlebih dulu sampai situasinya memungkinkan. Aku juga bisa mengontrol anak buahku dari tempat ini. Dan sepertinya wanita polos ini juga tidak keberatan aku tinggal bersamanya.' gumam Gibran dalam hati sambil melirik Riana.
"Riana, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."
"Apa?" tanya Riana sambil mengerutkan keningnya.
"Bolehkah aku tinggal di rumahmu sampai kakiku sembuh? Rumahku sangat jauh dari sini, sebenarnya aku sedikit kesulitan jika harus pulang sekarang. Tapi tenang saja, aku akan menanggung semua pengeluaran sehari-hari kita, kau tidak perlu khawatir. Anggap saja aku membayar sewa rumah saat aku tinggal di rumah ini."
Riana pun tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Gibran.
"Tanpa kau minta, aku pun memang berniat untuk menyuruhmu tinggal di sini untuk sementara waktu. Aku tahu keadaanmu sangat tidak memungkinkan untuk pulang ke rumahmu. Bukankah tadi kau mengatakan jika kau tersesat? Jika kau tersesat berarti rumahmu jauh dari sini kan?"
Gibran pun mengangguk.
"Karena itulah aku tidak akan mungkin tega membiarkanmu pulang ke rumahmu, apalagi kau hidup sendiri. Tidak ada yang bisa membantumu di rumah."
"Terimakasih banyak Riana, aku tidak tahu bagaimana nasibku jika aku tidak bertemu denganmu."
"Hahaahhaha sudahlah, lebih baik kita masuk, ini sudah hampir petang. Penduduk di daerah sini tidak terlalu banyak, jika sudah memasuki waktu petang di sini sangatlah sepi. Sebaiknya kau juga beristirahat, bukankah kau juga masih sedikit demam?" kata Riana.
Gibran pun mengangguk, Riana lalu membantunya masuk ke dalam kamarnya.
"Kamar ini sebenarnya milik kakakku, tapi sebaiknya kau gunakan saja karena dia jarang pulang ke rumah. Lalu di lemari itu juga ada baju-baju milik kakakku, kau bisa memakainya karena dia sudah tidak pernah memakai pakaian di lemari itu."
"Iya terimaksih banyak."
"Aku keluar dulu, aku mau memasak makan malam."
Gibran menatap Riana yang keluar dari dalam kamarnya sambil tersenyum. "Aku benar-benar beruntung bertemu dengan gadis polos seperti dia, selain itu aku juga memiliki tempat persembunyian yang aman. Aku bisa bebas hidup dengan nyaman di rumah ini dan terlepas dari penjara terkutuk itu!" kata Gibran, dia kemudian mengambil sebuah benda di salah saku celananya.
__ADS_1
"Untungnya sebelum keluar dari penjara aku sudah membungkus ponsel ini dengan plastik jadi ponsel ini tidak rusak terkena air hujan."
"Sekarang saatnya memerintahkan anak buahku untuk memberikan imbalan pada Jamal dan beberapa tahanan yang sudah membantuku kabur dari rutan itu." kata Gibran sambil memainkan ponselnya.
🌸🌸🌸🌸🌿
❣️Satu minggu kemudian ❣️
Bella tampak berpura-pura sibuk di mejanya sambil sesekali mengamati gerak-gerik Evan yang kini begitu sibuk mengerjakan pekerjaannya.
'Hah, rasanya sulit sekali mengendalikannya perasaan di dalam hatiku, sebentar saja pandangan mata ini tak mampu berpaling dari wajahnya.' gumam Bella dalam hati.
"Bu Bella.. Bu Bella." panggil Evan yang kini sudah berdiri di depannya.
"Oh.. Oh ya, ada apa Evan? Maaf saya sedikit mengantuk jadi sedikit kurang konsentrasi."
"Oh iya Bu Bella, ini proposalnya sudah saya kerjakan."
"Terimakasih banyak Evan, akan saya pelajari untuk meeting besok."
"Iya Bu Bella."
"Ini sudah sore, kau boleh pulang Evan."
"Iya Bu Bella terimakasih. Saya juga sedang ada janji."
'Janji?' gumam Bella dalam hati.
'Apakah dia ada janji dengan kekasihnya?' gumam Bella kembali.
"Permisi Bu Bella, saya pulang sekarang." kata Evan.
Bella pun kemudian mengangguk.
'Evan ada janji dengan siapa? Apa lebih baik aku mengikutinya saja?' gumam Bella dalam hati.
"Ya lebih baik aku mengikutinya saja." kata Bella kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu dengan mengendap-endap mengikuti langkah Evan menuju ke basemen parkir mobil.
Dengan penuh hati-hati, Bella pun mengikuti mobil Evan menuju ke komplek Universitas ternama.
"Untuk apa Evan pergi ke sini? Apakah kekasihnya masih kuliah?" kata Bella sambil melihat mobil Evan yang kini memasuki salah satu kampus.
"Astaga." kata Bella sambil menutup mulutnya saat melihat seorang wanita yang masuk ke dalam mobil Evan.
__ADS_1
"Jadi dia benar-benar menjemput kekasihnya?" kata Bella sambil menahan rasa sakit di dalam hatinya.