
[Hai Milan, selamat malam. Apa aku menggangumu?]
[Tentu saja tidak.]
[Milan, apakah besok kita bisa bertemu?]
[Oh ya tentu saja, aku sudah menantikan kabar itu sejak tadi.]
[Benarkah?]
[Ya, karena aku sudah sangat merindukanmu.]
[Ah kau bisa saja.]
[Memang inilah kenyataannya Celine, sejak pertemuan pertama, kau sudah membuatku benar-benar tergila-gila padamu.]
Celine pun begitu bahagia mendengar perkataan Milan.
[Lalu dimana besok kita akan bertemu?]
[Kita pergi ke mall saja Celine, kita makan siang disana lalu aku ingin menemanimu berbelanja barang-barang yang kau inginkan.]
[Benarkah?]
[Tentu saja, belilah apapun yang kau inginkan.]
[Kau memang sangat baik Milan, aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu besok.]
[Ya aku juga, sampai bertemu besok Celine sayang, aku tutup dulu teleponnya, ada istriku.]
[Iya, Milan.]
Milan kemudian menutup telepon itu lalu tersenyum pada Rachel.
"Kau cemburu besok aku pergi dengan wanita lain?"
Rachel pun tersenyum.
"Tentu saja tidak karena aku tahu sampai kapanpun hatimu hanya untukku." jawab Rachel sambil terkekeh.
"Kau begitu yakin sayang?"
"Apa yang perlu aku cemaskan darimu karena kau saja hampir gila saat aku pergi dari hidupmu?"
Milan pun tersenyum.
"Jadi kau mau meledekku?"
"Bukankah memang itu kenyataannya? Kau takkan pernah bisa hidup tanpaku?" jawab Rachel sambil mengalungkan tangannya pada Milan. Milan pun tersenyum, kemudian mulai mendekatkan wajahnya pada Rachel dan mencium bibir merahnya kembali dengan penuh bergairah.
💜💜💜💜💜
Celine masuk ke dalam rumah dah melihat Evan yang tengah menerima telepon dari seseorang dengan raut wajah yang begitu serius. Celine pun mendekat padanya dan menunggu sampai Evan menutup panggilan telepon itu.
"Siapa Evan?"
"Mata-mata kita di kantor tersebut."
"Kenapa? Apakah ada masalah?"
__ADS_1
"Ya." jawab Evan sambil mengangguk.
"Masalah apa Evan?"
"Arvin dan Rafly mulai mencurigai gerak-geriknya. Mereka menyelidiki beberapa karyawan kantor yang merekomendasikanku untuk masuk ke perusahaan tersebut."
"Jangan-jangan mereka juga sekarang sudah tahu jika kau pernah di blacklist."
"Mungkin."
"Apakah ada yang memberitahu mereka? Ataukah mereka menyelidiki sendiri?"
"Entahlah Celine, aku harus menyelidiki semua itu. Besok siang aku akan bertemu dengannya untuk membicarakan ini."
"Oh besok siang, Emh Evan sepertinya besok siang juga aku ada janji bertemu dengan teman-temanku."
"Bertemu dengan temanmu? Bukankah sudah lama kau tidak menemui mereka sejak kau keluar dari kampusmu?"
"Iya tapi tiba-tiba aku merasa begitu kesepian dan merindukan mereka. Jadi bolehkan aku bertemu dengan mereka besok?"
"Tentu saja Celine, biar kuantar."
"Tidak usah, kau juga ada janji dengan mata-mata itu kan? Aku tidak mau membuang-buang waktumu, aku naik taksi online saja."
"Oh ya sudah jika itu maumu. Kita jadi kan makan malam di luar?"
"Tentu."
'Yes, Evan tidak curiga dengan alasan yang kubuat, lagipula besok dia pasti akan berkonsentrasi dengan masalah barunya dengan mata-matanya di perusahaan Gibran itu daripada memikirkanku.' gumam Celine dalam hati sambil tersenyum menyeringai.
💜💜💜💜💜
"Belum, aku belum lama datang." jawab Celine sambil tersenyum, raut wajahnya kini pun tampak begitu bahagia.
"Syukurlah, aku sedikit terlambat karena tadi ada sedikit urusan dengan beberapa klienku."
"Apa kau sedang sibuk?"
"Sebenarnya iya tapi aku akan selalu ada waktu untuk wanita secantik dirimu, Celine."
Celine pun tersenyum.
"Bukankah istrimu juga sangat cantik?"
"Memangnya kenapa jika istriku cantik? Memangnya jika istriku cantik aku tidak boleh bermain-main dengan wanita lain yang kuinginkan?"
'Wanita yang kuinginkan? Jadi Milan juga menginginkanku!' gumam Celine dalam hati.
"Kenapa kau diam Celine? Apa kau cemburu pada istriku?"
"Oh tidak, tentu saja tidak."
"Bagus, kau tidak perlu cemburu padanya karena saat ini kau yang terpenting dalam hidupku, Celine." jawab Milan yang semakin membuat Celine tersipu malu, apalagi saat ini Milan mulai mendekatkan tubuhnya yang semakin membuat jantung Celine berdegup kencang.
Melihat Celine yang mulai terlihat salah tingkah, Milan pun tersenyum, kemudian dia mulai mengutak-atik ponselnya lalu pura-pura mengirimkan pesan pada Celine.
Celine kemudian membuka ponselnya tersebut. Milan pun mengamati gerak-gerik Celine saat membuka ponselnya.
"Milan kenapa kau mengirimkan pesan padaku?"
__ADS_1
"Oh mungkin aku tidak sengaja mengirim pesan padamu. Abaikan saja, lebih baik saat ini kau pesan makan saja, pesan makanan yang kau inginkan sayang." kata Milan sambil mencium punggung tangan Celine.
"Iya Milan." jawab Celine sambil melihat beberapa menu yang tersedia. Tanpa Celine sadari, Milan tengah menggosok-gosokkan tangannya pada peralatan makan yang ada di depan Celine.
"Kau ingin belanja sayang?" tanya Milan saat mereka sudah selesai makan siang.
Mendengar perkataan Milan, Celine pun tersenyum.
"Jadi kau benar-benar ingin menemaniku berbelanja?"
"Yah, tentu saja, memangnya aku pernah berbohong padamu? Belilah apa yang kau inginkan."
"Terimakasih Milan." jawab Celine kemudian memeluk Milan, namun saat Celine akan mencium pipinya, buru-buru Milan menghindar.
"Ada apa Milan? Kenapa kau menolakku?"
"Maaf Celine, bukannya aku menolakmu tapi ini di tempat umum, jika ada yang tahu kau menciumku lalu menjadi pemberitaan, bisa-bisa kita akan mengalami masalah."
"Kau benar Milan, maaf aku sudah ceroboh."
"Tidak apa-apa, ayo kita pergi sekarang." kata Milan sambil beranjak dari tempat duduknya.
'Hampir saja.' gerutu Milan dalam hati.
Mereka lalu berjalan ke sebuah toko brand ternama bermerk impor yang tidak jauh dari cafe tempat mereka makan siang. Celine pun bergegas masuk ke dalam toko lalu mengambil beberapa pakaian.
"Celine sayang, aku akan menunggumu disini."
"Iya Milan, aku titip tasku ya."
"Iya sayang."
Milan pun tersenyum saat melihat Celine yang kini asyik mencoba beberapa pakaian serta asesoris.
"1, 2, 3." kata Milan, tiba-tiba raut wajah Celine pun berubah.
'Kenapa tiba-tiba perutku sakit sekali.' gumam Celine, dia pun kemudian bergegas masuk ke dalam toilet yang ada di toko tersebut. Milan yang melihat Celine masuk ke dalam toilet pun tersenyum. Bergegas dia mengambil ponsel Celine di dalam tasnya.
"Celine, kau tidak tahu kan jika tadi aku berpura-pura mengirim pesan padamu untuk mengetahui password ponselmu." kata Milan sambil mengutak-atik ponsel Celine.
"Sudah selesai, ponselmu kini sudah kusadap. Bersiaplah mengikuti permainan dariku, Celine." kata Milan sambil tersenyum menyeringai.
💜💜💜💜💜
Evan tampak begitu cemas menunggu seseorang di sebuah cafe yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dia pun tersenyum saat melihat seorang wanita yang kini berjalan mendekat padanya dengan wajah begitu sendu.
"Apa kabar sayang? Lama kita tidak bertemu, aku begitu merindukanmu."
"Evan buang semua kata-kata manismu karena saat ini posisiku sedang terancam."
"Kau tenang saja, sebentar lagi aku akan bisa menguasai perusahaan milik Gibran." jawab Evan sambil tersenyum, namun wanita itu kini malah menatapnya dengan tatapan sinis.
"Kau kenapa sayang? Sebenarnya apa yang telah terjadi? Sebentar lagi aku akan menguasai perusahaan Gibran, kau tidak perlu takut."
"Aku hamil Evan, kau harus bertanggung jawab. Kau harus menikahiku, Evan!" jawab wanita itu yang membuat Evan begitu panik.
'Oh tidak, kenapa jadi seperti ini? Aku hanya ingin memperalatnya saja agar dia mau mengikuti semua kata-kataku tapi kenapa dia malah hamil, aku bahkan tidak mencintainya sama sekali. Lalu bagaimana dengan Celine?' gumam Evan dalam hati sambil mengusap kasar wajahnya.
"Evan apa kau tidak mendengar kata-kataku? Aku hamil Evannnn!!!"
__ADS_1