Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Letusan Pistol


__ADS_3

❣️ Tujuh bulan kemudian ❣️


Gibran menatap Riana yang kini sedang berjalan-jalan di halaman rumah bersama Bella. Perut keduanya sudah tampak begitu besar, satu minggu lagi adalah waktu perkiraan kelahiran anak Bella sedangkan dua minggu lagi adalah perkiraan kelahiran anaknya dengan Riana. Rasa sakit di dalam hati Gibran saat mengingat waktu kebersamaannya dengan Riana serta buah hatinya yang akan habis kini begitu menyiksanya. Mengingat semua hal itu dadanya terasa begitu sesak hingga kini tanpa dia sadari air mata mulai mengalir membasahi pipinya.


"Kau kenapa Gibran?" tanya Riana yang tiba-tiba mendekat padanya.


"Tidak apa-apa Riana sayang, aku hanya sedikit sedih karena kebersamaan kita akan segera berakhir."


Riana lalu tersenyum, dia kemudian memegang wajah Gibran. "Gibran, kita masih memiliki banyak sekali waktu untuk bersama setelah kau menyelesaikan masa tahananmu, apa kau tidak lelah selama ini hidup dalam ketakutan seperti ini? Bahkan kau harus memanjangkan kumis dan jenggotmu seperti ini agar polisi tak mencurigaimu." kata Riana sambil terkekeh.


"Iya Riana, aku mengerti. Aku pasti akan menyelesaikan masa tahananku. Lagipula aku juga ingin berubah, aku sudah memiliki seorang putra, aku harus bisa memiliki pola pikir yang lebih dewasa. Aku ingin menjadi ayah yang baik bagi anak yang ada di dalam kandunganmu."


"Iya Gibran." kata Riana sambil memeluk Gibran yang kini sedang duduk di halaman rumah Bella.


"Hai Riana, therapist nya sudah datang." teriak Bella.


"Iya Bella, kau duluan saja."


"Baik." jawab Bella.


Bella lalu berjalan masuk ke dalam rumah beserta seorang therapist yang akan melakukan perawatan tubuh mereka.


🥀 Empat jam kemudian 🥀


Seorang therapist keluar dari rumah Bella lalu memasuki sebuah mobil yang terparkir di depan rumah dengan terburu-buru.


"Bagaimana Celine?"


"Beres Evan."


"Apa kau yakin rencana ini akan berhasil?"


"Tentu saja, Celine. Setelah berbulan-bulan kita gagal untuk membongkar kedok mereka, aku yakin rencana kita kali ini pasti akan berhasil."


"Iya Evan, tapi tidak hanya itu karena aku juga berhasil mengambil semua perhiasan milik Bella dan Riana di dalam rumah." kata Celine sambil terkekeh.


"Bagaimana kau bisa melakukan, Celine?" kata Evan setelah melihat berbagai perhiasan emas dan permata di dalam tas milik Celine.


"Jangan sebut aku Celine jika mengambil barang seperti ini pun tak bisa."


"Aku tahu kau pasti menaruh lilin aromaterapi yang telah dicampur dengan sedikit obat bius hingga membuat mereka tertidur saat kau sedang memijit mereka."

__ADS_1


"Hahahaha kau benar Evan.


"Kau memang pintar Celine."


"Tentu saja Evan, sekarang kita tinggal menunggu reaksi obat perangsang kontraksi yang sudah kucampurkan pada minuman mereka." kata Celine sambil terkekeh.


"Iya Celine."


"Kau sudah menghubungi polisi untuk menangkap Gibran kan?"


"Tentu saja sudah." jawab Evan sambil tersenyum kecut.


Sementara di dalam rumah, tampak Bella dan Riana yang sedang duduk di sofa ruang televisi kini terlihat begitu panik karena perut mereka mengalami kontraksi.


"GIBRAN TOLONG AKU, SEPERTINYA AKU MAU MELAHIRKAN!!" teriak Bella.


"GIBRAN SEPERTINYA ANAKMU JUGA AKAN LAHIR GIBRAN!!!" teriak Riana.


Gibran pun merasa begitu kebingungan karena saat ini Arvin sedang pergi ke Singapura.


"Ayo Riana, kita sebaiknya ke rumah sakit." kata Gibran sambil membantu Riana berdiri.


"Lalu bagaimana denganku, Gibran! Kau tahu Arvin sedang tidak ada di rumah!"'


"Iya tidak apa-apa, sekarang cepat bantu aku masuk ke dalam mobil."


"Iya sebentar, Bella." jawab Gibran.


Dia lalu sibuk membantu Riana masuk ke dalam mobilnya, setelah itu dia kembali ke dalam rumah lalu membantu Bella memasuki mobil milik Bella.


"Pak Amran, tolong kau dan Bella ikuti mobilku ke rumah sakit."


"Iya Tuan Gibran." jawab Pak Amran, sopir pribadi Bella.


Mereka lalu mengendarai mobilnya keluar dari rumah tersebut menuju ke rumah sakit. Padatnya lalu lintas sore hari di kota Jakarta semakin membuat Bella panik, apalagi saat ini rasa sakit di perutnya semakin tak tertahankan.


"Sabar Nyonya Bella."


"PAK AMRAN SAKIT PAK!" teriak Bella berulangkali.


"Sabar Nyonya Bella."

__ADS_1


"Apa ini masih jauh? Pak Amran ini sudah sangat sakit!!"


"Masih jauh Nyonya Bella."


"Tapi aku sudah tidak tahan menahan rasa sakit ini Pak Amran!!"


"Nyonya Bella, apa sebaiknya kita tidak usah ke rumah sakit? Di depan ada rumah bersalin milik seorang bidan, apa sebaiknya kita ke sana saja?"


"Iya Pak, kita ke tempat bidan itu saja, INI SUDAH SAKIT SEKALI PAK AMRAN!! CEPAT!!!"


"Iya Nyonya Bella." jawab Amran sambil tersenyum menyeringai.


Sementara Gibran, akhirnya bisa sampai di rumah sakit meskipun menempuh perjalanan yang relatif lama. Meskipun Riana tampak begitu kesakitan, dia masih bisa bersabar selama dalam perjalanan. Gibran lalu mencari mobil milik Bella namun setelah menunggu beberapa saat di lobi rumah sakit, mobil milik Bella tak terlihat.


"Ah mungkin terkena macet, lebih baik aku masuk dulu bersama Riana, kasihan dia sudah begitu kesakitan." kata Gibran.


"Ayo Riana, kita masuk ke dalam."


"Iya Gibran." jawab Riana.


Beberapa petugas medis pun kini membantu mereka karena Riana sudah merasa begitu kesulitan untuk berjalan.


"Sabar Riana sayang, kita berdoa saja semoga proses kelahiranmu berjalan lancar."


"Iya Gibran." jawab Riana yang kini sudah terlihat setengah sadar karena menahan rasa sakit.


Gibran pun begitu mencemaskan Bella, namun beberapa kali dia menghubungi Bella, tetap tidak ada jawaban. Dengan perasaan yang campur aduk, Gibran akhirnya duduk di depan ruang persalinan, namun saat dia masih berusaha menghubungi Bella, tiba-tiba beberapa orang berpakaian preman mendekat ke arahnya. Dia lalu melihat sebuah pistol yang ada di bagian pinggang kanan dari beberapa pria yang mendekat ke arahnya.


"Sial itu pasti polisi." kata Gibran.


Dia lalu bergegas bangkit dari tempat duduknya kemudian lari menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Polisi tersebut pun bergerak cepat, mereka langsung mengejar Gibran yang kini berlari kian menjauh dari mereka sambil menghalau beberapa orang yang sedang berjalan di lorong rumah sakit tersebut.


"Sial, dia berlari cepat sekali." kata salah seorang polisi.


"Ayo cepat kejar, jangan sampai kita kehilangan jejaknya kembali, disini banyak sekali orang kita tidak bisa mengambil tindakan padanya."


Hingga akhirnya langkah Gibran pun sampai di pelataran rumah sakit. Salah seorang polisi lalu mengambil pistolnya kemudian sebuah letusan pun berbunyi.


"DOR DOR DOR!!"


"OE...OE...OE." di saat itu pula suara tangis kelahiran bayi pun pecah.

__ADS_1


"RIANAAAAAA!!!"


"GIBRAANNNN!!"


__ADS_2