
"Ya, aku harus pergi sekarang untuk menemukan Gibran secepatnya. Dasar Gibran bodoh." gerutu Bella lalu masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil tas lalu merapikan penampilannya kembali.
"Ah ini sudah terlihat cantik dan menawan." kata Bella saat melihat penampilannya di cermin.
Bergegas Bella lalu keluar dari kamarnya kemudian masuk ke mobilnya. Dia lalu mengendarai mobilnya menembus padatnya jalanan ibu kota menuju ke kantornya. Beberapa saat kemudian, Bella sudah sampai di kantornya, Evan yang melihat kedatangan Bella pun menyambutnya dengan raut wajah yang begitu bahagia.
"Bella." kata Evan sambil tersenyum.
"Evan, aku ingin bertemu dengan Pak Rafly, apa dia ada di ruangannya?" tanya Bella pada Evan.
"Iya Bella, dia ada di ruangannya."
"Baik, terimaksih." jawab Bella kemudian berjalan ke ruangan Rafly, yang merupakan seorang manager keuangan di perusahaan milik Bella, dan merupakan orang kepercayaan Gibran.
Evan pun melihat Bella dengan tatapan penuh tanda tanya. "Aku pikir Bella ke kantor untuk bertemu denganku tapi ternyata dia ingin bertemu Pak Rafly, untuk apa Bella ingin bertemu dengannya? Apa dia ingin mengontrol dan mengawasi perusahaan ini melalui Rafly?" kata Evan sambil mengerutkan keningnya.
TOK TOK TOK
"Masuk." jawab sebuah suara dari arah dalam ruangan. Bella pun kemudian membuka pintu ruangan tersebut.
"Bu Bella." kata Rafly dengan sedikit gugup karena terkejut dengan kedatangan Bella.
"Silahkan duduk Bu Bella, bagaimana keadaan Bu Bella? Apa Ibu sudah sehat? Tadi Evan mengatakan jika Bu Bella sedang tidak enak badan dan tidak bisa datang ke kantor untuk beberapa waktu."
"Iya Pak Rafly, saya memang sedang tidak enak badan."
"Kalau begitu biar laporan perusahaan ini nanti saya atau Evan yang antarkan ke rumah ibu saja, ibu tidak perlu repot-repot ke kantor." kata Rafly sambil tersenyum.
"Tidak usah, karena saya ingin bertemu denganmu bukan untuk membicarakan urusan kantor, tapi ada urusan lain yang ingin saya bicarakan dengan anda Pak Rafly."
"Urusan lain? Urusan apa Bu Bella?" tanya Rafly sambil mengerutkan keningnya.
"Ini tentang Gibran."
"Tuan Gibran?" kata Rafly sambil menelan ludahnya dengan kasar.
"Ya, aku ingin kau menceritakan yang sebenarnya padaku mengenai Gibran."
__ADS_1
'Oh tidak.' gumam Rafly dalam hati.
"Kenapa anda diam Pak Rafly, tolong ceritakan semuanya tentang Gibran padaku, anda juga tahu kan dia telah kabur dari penjara?" kata Bella dengan tatapan mata tajam dan penuh berapi-api.
"Emhhh.. E... Itu."
"Tidak usah banyak basa-basi, cepat katakan yang sebenarnya padaku, atau kau lebih memilih kulaporkan pada polisi mengenai keterlibatanmu dalam masalah ini? Jika kau mau jujur padaku, aku berjanji tidak akan melaporkan keterlibatanmu pada polisi."
"Ibu Bella begini...."
"Cepat katakan yang sebenarnya padaku Pak Rafly, anda masih menyayangi keluarga anda kan? Anda tidak ingin keluarga anda kehilangan seorang tulang punggungnya kan karena harus mendekam di penjara."
"Oh tidak, tidak, tidak."
"Baik, sekarang cepat ceritakan padaku apa yang telah terjadi."
"Baik Bu Bella, jadi seperti ini. Sejak Tuan Gibran masuk ke dalam tahanan, kami membayar pada sipir yang ada di lembaga pemasyarakatan tersebut agar Tuan Gibran mendapat fasilitas yang berbeda dengan tahanan lainnya."
"Fasilitas? Apa maksud anda?"
"Begini, saat di lembaga pemasyarakatan tersebut Tuan Gibran menempati sebuah kamar khusus yang memiliki fasilitas lengkap seperti televisi, kulkas, AC, tempat tidur yang nyaman serta fasilitas lainnya, selain itu dia juga membawa ponsel dan laptopnya untuk berhubungan dengan saya dalam mengontrol perusahaan ini."
"Jadi selama Gibran ada di penjara, dia juga mengendalikan perusahaan ini?" teriak Bella.
"Iya Bu Bella, Tuan Gibran mengendalikan semua aktivitas perusahaan ini melalui saya sebagai tangan kanannya."
"Tapi kenapa saat aku keluar dari penjara dia menitipkan pesan padaku agar aku yang memegang kendali perusahaan ini?"
"Itu hanya untuk alibi saja Bu Bella, semua tindak tanduk yang Bu Bella lakukan mengenai aktivitas perusahaan dia pun mengetahuinya."
"ASTAGA!! Empat tahun aku hidup di tahanan dengan penuh penderitaan tapi kau malah mendapatkan fasilitas seperti di rumah sendiri, bahkan mampu berhubungan dengan dunia luar, dan mampu mengawasi perusahaan ini, kau benar-benar kurang ajar, Gibran." gerutu Bella dengan begitu kesal.
"Lalu? Jika dia memiliki fasilitas seperti itu kenapa dia bisa kabur dari penjara?"
"Karena setelah empat tahun menjalani masa hukuman, tidak selamanya hal itu berjalan lancar Bu Bella, kepala lembaga pemasyarakatan tempat Tuan Gibran ditahan diganti dengan sosok baru yang sangat disiplin dan berintegritas."
"Lalu?"
__ADS_1
"Sejak kepala lembaga pemasyarakatan tersebut diganti, Tuan Gibran tidak dapat merasakan semua fasilitas itu lagi. Dia harus menempati ruang tahanan yang sama dengan narapidana lain, tanpa fasilitas dan mengkonsumsi makanan yang seadanya sama seperti yang lain."
"Hahahaha, jadi karena itu Gibran tidak tahan lalu memilih melarikan diri?"
"Iya Bu Bella."
"Jadi sekarang anda pun tahu dimana keberadaan, Gibran?"
"Oh mengenai itu, saya..." kata Rafly yang kini tampak begitu gugup.
"Katakan saja dimana Gibran berada, kau tenang saja aku tidak akan melaporkanmu ke polisi dan posisimu tetap aman di perusahaan ini, aku akan melindungimu dari Gibran jika dia marah padamu."
"Oh, O itu."
"Kenapa anda masih ragu Pak Rafly, anda masih menyayangi keluarga anda kan?" tanya Bella sambil tersenyum menyeringai.
"Oh.. Emh ya, saya akan memberikan alamat Tuan Gibran pada anda karena satu bulan yang lalu dia meminta saya membelikan laptop untuknya kemudian menyuruh saya mengirimkan ke alamat tempat dia tinggal saat ini."
"Cepat berikan alamat itu padaku."
"Iya sebentar Bu Bella." kata Rafly sambil menuliskan alamat tersebut di sebuah kertas.
"Ini Bu Bella."
"Baik, terimakasih banyak, saya permisi." kata Bella.
"Iya Bu Bella, hati-hati." jawab Rafly.
"Jauh sekali, ini sepertinya di sebuah desa yang jauh dari kota. Butuh waktu tiga sampai empat perjalanan ke tempat ini." kata Bella sambil mengamati alamat tersebut.
"Apa sebaiknya aku meminta Evan untuk menemaniku pergi ke sini? Oh tidak, ini akan sangat berbahaya jika aku sampai mengajak orang lain. Bagaimanapun juga, saat ini aku harus menyembunyikan keberadaan Gibran." kata Bella kembali sambil duduk di sofa yang ada di kantor miliknya.
Evan pun tampak memperhatikan gerak-gerik Bella yang kini sedang duduk di sofa tak jauh dari ruangannya sambil mengamati sebuah kertas yang ada di tangannya.
"Apa yang sebenarnya Bella lakukan? Kenapa hari ini dia begitu aneh? Tadi pagi dia memutuskan hubungan kami lalu tiba-tiba datang ke kantor ini untuk menemui Pak Rafly. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Apakah ini ada hubungannya dengan Arvin? Ataukah ada permasalahan lain yang sedang dialami Bella?" kata Evan sambil terus mengamati Bella.
Sedangkan Bella yang kini masih duduk di sofa tersebut masih menatap alamat tersebut dengan perasaan begitu bimbang.
__ADS_1
"Apakah aku harus pergi ke alamat ini? Bukankah aku sedang hamil ? Ini jauh sekali, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada kehamilanku. Atau sebaiknya aku mengurungkan niatku saja?" kata Bella sambil memegang kertas itu.