
Malam gelap, ribuan bintang bercahaya di langit. Seorang pemuda dengan tekun berulang-ulang melatih jurus yg sama. Tubuhnya tinggi tegap, melampaui pemuda lain yg seumuran dengannya. Seluruh bajunya sudah basah kuyup dengan keringat.
Terkadang dia bergerak dengan mantap, tapi tidak jarang dia bergerak dengan lambat seakan ragu, gerakan apa yg harus dia lakukan selanjutnya. Alisnya berkerut, merenungkan gerakan yg sedang dia lakukan.
Beberapa kali dia mengulang dan terhenti pada gerakan yg sama. Sampai akhirnya dia berhenti dan melemparkan tubuhnya ke tanah yg berumput tebal.
Sesaat kemudian terdengar dia mengeluh,
"Ahh... dasar otakku memang bebal, yang lain sudah semakin maju dan mempelajari jurus-jurus yg baru, tapi aku baru jurus-jurus dasar pun aku belum menyelesaikan semuanya."
Sambil mencabuti rumput dia bergumam pada diri sendiri,
"Untuk apa aku berlatih siang dan malam? Tuan besar Huang Jin juga tidak mengharap banyak dari seorang tukang kebun seperti aku."
"Akupun tidak mengharap pekerjaan yang lain, mengatur kebun bunga dan menanam sayuran lebih menyenangkan daripada melelang nyawa menjadi pengawal pribadi Tuan besar Huang Jin."
Dengan kemalas-malasan dia berdiri, dilepasnya baju yg sudah basah kuyup dengan keringat. Bertelanjang dada, dia berjalan melewati, sawah-sawah dan rumah-rumah para pekerja, pemuda itu terus berjalan dengan lesu menuju ke rumah terbesar dan termewah yg terletak di tengah.Beberapa peronda yg bertemu dengannya mengangguk dan menyapa,
"Hei Ding Tao, baru selesai latihan malam?"
Pemuda itu mengangguk dan tersenyum ramah,
"Iya paman, sebentar lagi akan diadakan ujian kenaikan tingkat."
"Semoga kau lulus tahun ini."
"Ya, terima kasih paman.", Ding Tao menyeringai kecut, dalam hati dia sudah membayangkan bakal gagal ujian kenaikan tingkat untuk kesekian kalinya.
Sampai di pintu belakang dari rumah mewah itu, kembali Ding Tao bertemu dengan para penjaga.
"Habis berlatih?"
" Ya paman.", jawabnya dgn sopan.
"Hmm..., baiklah cepat masuk. "
"Baik paman."
Dengan menunduk hormat pada para penjaga, Ding Tao menyelinap masuk dan bergegas menuju kamar tempat di tinggal. Sesaat sebelum meninggalkan jauh para penjaga itu sempat dia mendengar, sepotong percakapan mereka.
"Anak baik, sayang bakatnya buruk sekali."
" Ya... kemajuannya lambat sekali."
"Padahal dia tidak pernah absen dari jam latihan dan masih berlatih sendirian setiap malam."
"Hmm, setidaknya latihan itu membuatnya sehat."
Dan penjaga yang lain pun tertawa mendengarnya.
__ADS_1
Ding Tao hanya tersenyum kecut, dia tahu mereka tidak bermaksud buruk, hanya saja memang demikianlah kenyataannya.
Ketika Ding Tao berjalan melewati sebuah kebun kecil dekat kamarnya, tiba-tiba sesosok bayangan melompat, menghadang di depannya.
"Hyaahh....."
Ding Tao yg sedang melamunkan keadaannya pun terkejut bukan kepalang, dia melompat surut ke belakang, memasang kuda-kuda, jantungnya berdegup kencang.
Melihat Ding Tao yg terkejut tadi, bayangan itu berjalan mendekat sambil terkekeh geli,
"Hihi, kena kau, dari mana sih malam-malam."
Seorang gadis berumur belasan berjalan mendekat, gelapnya malam menyembunyikan wajahnya, tapi Ding Tao sangat mengenal suara itu, cara gadis itu berjalan melenggang, suara tawa yang renyah.
"Nona muda Huang, kau mengagetkanku.", ujar Ding Tao sambil mendesah lega, tanpa terasa sebuah senyuman terbentuk di wajahnya.
"Tapi apa yang nona lakukan malam-malam seperti ini. Kalau ayah nona tahu, dia akan marah."
"Huuhh, aku tidak bisa tidur, jadi kuputuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman.", jawab gadis itu sambil mencibir.
Ding Tao tergelak mendengar jawaban gadis itu, entah mengapa dia merasa bahagia setiap kali berada di dekatnya,
"Tapi nona, tidak baik kalau nona keluar malam-malam bertemu dengan lelaki seperti begini sendirian."
"Aku kan cuma kebetulan saja bertemu denganmu."
"Tapi tetap saja nona, bisa menimbullkan kesan yg kurang baik."
"Ah... Ding Tao, sekarang kamu rewel sekali, seperti kakek-kakek saja. Baiklah aku akan masuk kembali ke kamar."
Sambil berbicara tidak terasa kedua pemuda dan pemudi itu semakin mendekat. Ketika si nona muda melihat Ding Tao yang tidak berbaju, mukanya pun jadi bersemu merah dan tanpa terasa nona muda itu pun memekik kecil,
"Aihh.... idih... idih... tidak tahu malu."
Terkejut dan malu gadis itu pun membalikkan badan dan berlari kembali ke kamarnya, entah mengapa jantungnya berdegup kencang. Terbayang tubuh yang tegap dan dada yang bidang, dengan otot liat yang terbentuk seperti pahatan.
Ding Tao yang baru sadar akan keadaan dirinya jadi gelagapan dan terbata-bata ingin meminta maaf, tapi tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Tapi setelah beberapa langkah gadis itu berlari, dia berbalik dan tersenyum manis dengan muka yang masih bersemu merah,
"Ding Tao, semoga ujian nanti kamu lulus ya."
Berkali-kali dia sudah mendengar ucapan yg sama, tapi tatkala ucapan itu keluar dari nona muda itu, hatinya serasa mengembang, dan dengan senyum lebar dia menjawab,
"Tentu nona, ujian nanti, ujian nanti saya pasti akan lulus."
Tersenyum manis nona muda itu mengangguk dan pergi meninggalkan Ding Tao sendiri. Ding Tao berdiri memandangi sosoknya yang bergoyang gemulai, dia berdiri diam sampai nona muda itu tidak terlihat lagi olehnya, sebelum dia berbalik memasuki kamarnya.
Senyumnya tidak juga hilang, meskipun dia sudah merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Membayangkan bagaimana dia akan lulus ujian beberapa hari lagi, membayangkan kegembiraan nona muda itu saat dia lulus nanti.
__ADS_1
Tapi ketika dia teringat akan kegagalannya dalam menjalankan jurus-jurus dasar hingga tamat, senyum itupun menghilang, digantikan desah kegalauan.
"Hmm... kalau kali ini aku gagal lagi, tentu nona akan sangat kecewa..."
Membayangkan wajah nona muda yg kecewa, dia menggertakkan gigi dan mengepalkan tangan,
"Kali ini harus berhasil."
Perlahan dia bangkit dari tempat tidur, berlatih, berusaha memecahkan masalah yang dihadapinya.
Demikian berhari-hari Ding Tao mencurahkan segenap pikiran dan kekuatannya untuk dapat menguasai jurus-jurus dasar keluarga Huang, hingga harinya tiba. Setiap kali ditemuinya jalan buntu yang membuatnya terduduk lesu, senyum nona muda yang manis menghalau kegalauan dan memberikannya semangat untuk maju.
Hari itu dari tahun ke tahun, selalu menjadi hari yg istimewa, hal ini ada sebabnya.Kakek buyut Tuan besar Huang Jin, cikal bakal berdirinya perkampungan keluarga Huang, adalah seorang tokoh persilatan yang cukup disegani oleh kawan dan lawan.
Meskipun pada perkembangannya keluarga Huang lebih condong untuk mengembangkan usaha mereka dalam pertanian dan perdagangan, namun mereka tidak pernah lalai untuk menjaga nama baik yang sudah dipupuk oleh pendirinya dalam dunia persilatan.
Keluarga Huang bukanlah golongan nomor satu yang bisa merajai dunia persilatan, tetapi keluarga Huang juga tidak ingin menjadi golongan kelas kambing yang bisa diinjak-injak dan dijadikan sapi perahan. Sadar bahwa dunia persilatan adalah dunia yang mengandalkan tajamnya pedang dan kerasnya kepalan tangan, Tuan besar Huang Jin pun tidak lupa untuk memperdalam ilmu bela diri.
Tanah miliknya cukup luas dan cabang-cabang usahanya pun ada di beberapa kota. Mereka yang menjadi penanggung jawab di tiap-tiap tempat, bukan hanya menjadi pengelola usaha keluarga Huang, tapi juga menyandang nama keluarga Huang dalam dunia persilatan.
Itu sebabnya posisi-posisi penting dalam keluarga Huang, haruslah dipegang mereka yang sudah mapan ilmu bela dirinya.
Dalam hal mempercayakan tanggung jawab ini, Tuan besar Huang Jin adalah orang yg memiliki pandangan yang cukup terbuka.
Posisi-posisi yang penting bukan hanya disediakan untuk anggota keluarga yg bertalian darah saja, tapi setiap mereka yang berada dalam organisasinya mendapatkan kesempatan yang sama. Mereka yang benar-benar berbakat, kemudian ditarik menjadi bagian dari keluarga besar Huang, ada yang lewat perjodohan dengan salah satu keluarga Huang Jin, ada pula yang kemudian diadopsi menjadi anak dari salah satu keluarga Huang.
Dengan jalan ini, keluarga Huang tidak pernah kekurangan orang berbakat dan semakin disegani baik dalam dunia perdagangan maupun dalam dunia persilatan.
Dan salah satu upaya keluarga Huang untuk menyaring orang-orang yang berbakat ini adalah lewat ujian kenaikan tingkat yang dilakukan pada hari tersebut.
Itulah sebabnya mengapa hari itu menjadi hari yang istimewa bagi setiap anggota perkampungan keluarga Huang.
Salah satu kisah sukses dalam pertandingan itu adalah Chen Hui, yang ayahnya bekerja sebagai penggembala ternak, ayah dari Tuan Besar Huang Jin. Berhasil menjadi peserta terbaik pada ujian kelulusan yang diadakan pada masa mudanya, dia kemudian ditarik menjadi pengawal pribadi ayah Tuan besar Huang Jin.
Setelah beberapa tahun menjadi pengawal pribadi, dia dipercaya untuk mengawasi usaha kain keluarga Huang di kota Chang Sha. Tidak lama kemudian, dia diambil menjadi menantu oleh salah seorang paman Huang Jin.
Memang mereka yang mendapatkan nasib baik seperti Chen Hui hanya bisa dihitung dengan jari, karena selain kemampuan bela diri, keluarga Huang juga melihat sifat-sifat lain dari orang yang bersangkutan.
Tapi setiap mereka yang berhasil menunjukkan bakatnya dalam ilmu bela diri, tentu mendapatkan kedudukan yang cukup baik dan bagi mereka yang merasa berbakat, inilah kesempatan mereka untuk menonjolkan diri.
Setiap anak-anak dalam perkampungan tuan Huang, termasuk mereka yang bekerja di cabang perusahaan, diwajibkan untuk mempelajari dasar-dasar ilmu keturunan keluarga Huang.
Ilmu silat keluarga Huang sendiri bersumber dari Shaolin, yang kemudian dikembangkan menjadi ilmu tangan kosong dan ilmu pedang keluarga Huang, oleh kakek buyut Huang Jin.
Terdiri dari 12 jurus dasar, 9 jurus dasar tangan kosong dan 3 jurus dasar pedang.
Setelah menginjak usia belasan, maka pemuda-pemuda itu akan didorong untuk mengikuti ujian kenaikan tingkat, dan jika mereka berhasil lulus, akan diajarkan pada mereka jurus-jurus lanjutan yang terdiri dari 36 jurus pedang keluarga Huang.
Kebanyakan dari anggota perkampungan keluarga Huang ada dalam tingkat ini, yang kemudian disesuaikan menurut pengamatan para pelatihnya akan mendapatkan peringkat-peringkat sesuai dengan kemampuannya. Pada hari ujian kenaikan tingkat ini pula diadakan pertandingan bagi mereka yang sudah mempelajari jurus lanjutan, dan menjadi ajang bagi mereka yang ingin menunjukkan kemajuan mereka dalam hal ilmu bela diri.
__ADS_1
Jurus-jurus tingkat atas yang menjadi jurus andalan, hanya diperuntukkan keluarga Huang sendiri.
Kemudian ada pula jurus rahasia yang hanya disampaikan oleh pimpinan keluarga, kepada keturunan keluarga Huang yang dipercaya untuk mewarisi kedudukan sebagai pemimpin keluarga.