
"Ding Tao... betapa bodohnya dirimu! Apa akan menangis hanya karena urusan perempuan."
Dengan menggertakkan gigi, pemuda sederhana itupun mengambil posisi meditasi. Perlahan-lahan diaturnya napas, pikirannya yang berlari liar, perlahan-lahan mulai mengendap.Sakit hatinya pun terasa menumpul.
Menunggu hatinya semakin tenang, mulailah dia mengatur jalan nafas dan aliran energi yang dia rasakan dalam tubuhnya.
Pada dasarnya Ding Tao adalah seorang yang peka, hatinya mudah tergerak, tapi untunglah hal itu diimbangi pula dengan kemauannya yang keras.
Hanya dengan kemauannya yang keras itulah, dia dapat mengatur gerak liar pikirannya, dengan konsentrasi yang kuat diapun mulai mengatur jalan hawa murni dalam tubuhnya.
Ilmu keluarga Huang berasal dari Shaolin, dalam hal tenaga dalam, yang diutamakan adalah ketekunan dalam memupuk hawa murni. Tidak ada teori dan metode yang memberikan hasil besar dalam waktu singkat.
Sungguh sesuai dengan watak Ding Tao yang sederhana dan berkemauan kuat.
Tidak lama kemudian pemuda itupun larut dalam latihan menghimpun hawa murni.
Lewat satu hio, pemuda itupun membuka matanya perlahan-lahan. Hatinya sudah terasa tenang, sungguhpun masih tergerak jika teringat akan kedekatan Wang Chen Jin dan Huang Ying Ying, tapi dengan kemauan yang kuat dia berhasil mengendalikan pikirannya.
Sadar dia belum menyelesaikan pekerjaannya, Ding Tao pun pergi kembali ke taman setelah merapikan lubang di lantai tanah yang tadi dibuatnya.
Meskipun hatinya sudah tenang tidak urung dia merasa lega ketika melihat mereka bertiga sudah tidak ada lagi di dalam taman. Wang Chen Jin yang sudah merasa berhasil menyakiti hati Ding Tao, merasa tidak perlu lagi berlama-lama berada di sana.
Akhirnya tiba hari untuk Wang Dou dan puteranya meninggalkan Wuling untuk kembali ke rumah mereka. DingTao yang menyadari keadaan hatinya dengan sengaja selalu menghindar dari Wang Chen Jin bertiga.
Tapi hari itu, Tuan besar Huang Jin meminta murid-murid utama keluarga Huang untuk ikut mengantar kepergian mereka.
Sementara beberapa orang kepercayaan Wang Dou telah datang untuk menjemput ketua dan puteranya, sehingga dua kelompok itu pun bertemu untuk saling memperkenalkan diri secara singkat.Ding Tao yang lulus sebagai peserta terbaik, telah diangkat menjadi salah satu murid utama di bawah asuhan salah seorang tetua keluarga Huang. Dengan sendirinya diapun ikut mengantarkan Wang Dou dan puteranya.Seandainya saja pada hari itu tidak terjadi pertemuan antara
Wang Chen Jin dan Ding Tao mungkin kisah ini memang cukup ditutup pada kisah sebelumnya.
Wang Chen Jin yang sudah merasa berhasil menyakiti hati
__ADS_1
Ding Tao dan membalas kekalahannya tempo hari, menampilkan kesan sebagai seorang yang berjiwa besar.
Setelah selesai berpamitan pada Tuan besar Huang dan keluarganya, dengan tersenyum dan sopan dia menghampiriDing Tao,
"Ah saudara Ding, waktu itu aku belum sempat meminta maaf atas perkataanku yang sembrono."
Sikapnya yang terbuka ini mengundang simpati bagi mereka yang melihatnya. Tuan besar Huang Jin mengangguk2 sambil tersenyum, Wang Dou pun mengelus jenggotnya sambil mengangguk2 bangga.
Ding Tao yang tidak menyangka bakal disapa oleh Wang Chen Jin pun jadi tersipu dan dengan terbata-bata menjawab,
":Tidak perlu sungkan Tuan muda Wang, tidak perlu, justru aku yang harus meminta maaf telah melukai pergelangan tanganmu."
Sebenarnya ungkapan Ding Tao ini keluar tulus dari dalam hati, semenjak peristiwa di taman itu, dengan kemauan yang kuat dia mengubur dalam-dalam perasaannya pada Huang Ying Ying. Dengan kemauan yang kuat pula dia membuang jauh-jauh perasaan tidak sukanya pada Wang Chen Jin.
Tapi tidak demikian yang diterima oleh Wang Chen Jin, jantungnya berdenyut kencang saat mendengarnya, serasa bergemuruh diterjang badai. Jawaban yang diberikan secara tulus, bagi telinga Wang Chen Jin terdengar sebagai satu sindiran yang sengaja mengingatkan dia pada kekalahannya tempo hari.
Dengan senyumnya yang manis dan tawanya yang wajar, pemuda yang cerdik itu pun membalas dengan perkataan yang berbisa,
Sambil tertawa dia mengerling menggoda pada Huang Ying Ying, karuan saja nona muda Huang itu menjadi tersipu malu.
Sebenarnya perkataan itu bisa dianggap sebagai kekurang ajaran, namun justru di sini letak kehebatan Wang Chen Jin, godaan itu dilontarkannya dengan pembawaan yang sopan dan tawa yang wajar.Sehingga yang mendengar pun tidak menangkap kekurang ajaran dari perkataannya, yang terlihat hanyalah seorang pemuda yang bersenda gurau, berusaha meringankan beban perasaan bersalah dari teman dekatnya.
Bukan marah yang timbul, justru yang mendengarnya pun jadi ikut tertawa, saudara tua nona muda Huang yang berdiri di dekat gadis itupun menyodok pinggang sang adik sambil tertawa, keruan nona muda Huang semakin tersipu malu dan akhirnya lari ke dalam rumah, diikuti tawa semua orang yang meledak melihat tingkah si nona muda.
Tidak ada seorangpun yang menyadari bahwa perkataan itu dilontarkan untuk menyakiti hati Ding Tao yang menyimpan perasaan suka pada nona muda Huang.
Tidak ada seorangpun yang melihat bagaimana tajam mataWang Chen Jin mengawasi raut muka Ding Tao. Mulutnya ikut tertawa namun sorot matanya dingin mengerikan, meskipun hal itu hanya untuk sesaat lamanya.
Ya, Wang Chen Jin semakin murka.
Seharusnya Ding Tao menjadi marah, seharusnya Ding Tao menjadi sakit hati. Sedikitpun gerak tubuh dan raut wajah pemuda itu tidak lepas dari penilaian Wang Chen Jin, tapi sekeras apapun dia berusaha menemukan tanda-tanda itu, tidak terlihat apa yang diharapkannya.
__ADS_1
Ding Tao sudah berhasil mengendalikan pikirannya dan merelakan gadis pujaannya untuk bersanding dengan orang yang menurutnya lebih pantas. Apalagi ketika Wang Chen Jin meminta maaf padanya barusan, serta merta pikiran buruk yang masih tersisa atas pemuda itu pun hilang dari dalam hati Ding Tao.
Meskipun untuk sesaat, jauh di dalam lubuk hatinya ada rasa menyesakkan yang timbul, dengan cepat perasaan itu ditekannya.
Hanya karena memang dia belum terbiasa dengan kedudukannya sebagai salah satu murid utama, dia tidak ikut tertawa lepas seperti yang lain. Pemuda itu hanya menyengir dan dengan perlahan menggelengkan kepala saja.
Demikian sifat Ding Tao yang lurus justru membuat bara api di dada Wang Chen Jin yang licin menjadi membara. Inilah kekalahannya yang kedua. Yang pertama belum berhasil dia balaskan, justru untuk kedua kalinya dia dikalahkan oleh si pemuda dungu. Tidak ada jalan lain penghinaan ini harus dibalas.
Tetapi semakin dia merancangkan yang kejam, semakin manis pula raut wajahnya. Otaknya berputar kencang, melihat perhatian orang-orang masih tertuju pada nona muda Huang yang berlari karena malu, Wang Chen Jin berbisik cepat pada Ding Tao,
" Saudara Ding, malam ini temui aku di luar gerbang utara kota Wuling, masalah penting tentang nona muda Huang."
Kemudian cepat-cepat dia kembali berdiri di samping ayahnya, tidak ada seorangpun yang memperhatikan raut wajah Ding Tao yang terkejut.
Perhatian mereka berpindah dari nona muda Huang yang berlari malu pada pasangan ayah dan anak Wang yang sekali lagi berpamitan.Setelah pertemuan itupun kedua kelompok berpisah, yang satu ke arah utara dalam perjalanan kembali ke sisi utara sungai.
Yang satu kembali ke dalam kota. Ding Tao, dari urutan masih merupakan salah satu yang termuda dalam kelompok keluarga Huang, lagipula latar belakangnya hanyalah seorang pelayan dan untuk hal itu masih belum mendapatkan promosi, siapa yang memperhatikannya?
Perkataan Wang Chen Jin, terngiang-ngiang di benaknya,
"Malam ini, di luar gerbang utara."
"Masalah penting, nona muda Huang."
Ding Tao bukan jagoan yang sudah berpengalaman malang melintang di dunia persilatan, keluar masuk gerbang kota pada waktu malam bukan urusan kecil. Tapi jika masalah itumenyangkut nona muda Huang, jangankan melawan satu regu penjaga gerbang. Hujan golok dan pedang pun akan dilaluinya.Tapi Ding Tao bukan seorang yang berpikiran pendek, jika demikian tentu Gu Tong Dang tidak akan tertarik padanya.Sungguh kombinasi yang menarik ada dalam diri pemuda ini.
Biasanya mereka yang bisa berpikir rumit, hatinya pun serumit pikirannya, cenderung bermain taktis, licin dan berkelok-kelok.
Ding Tao memiliki pemikiran yang panjang dan dalam segala pekerjaan selalu banyak pertimbangan baik dengan rasamaupun logika. Namun hatinya justru lurus dan sederhana.Tidak lewat dalam pikirannya bahwa Wang Chen Jinbermaksud buruk atau hendak menipu dirinya.
"Masalah penting dengan nona muda Huang"
__ADS_1
Dalam benaknya kalau bukan Wang Chen Jin yang ingin untuk menjalin hubungan lebih mendalam dengan nona muda Huang lewat dirinya. Mungkin Wang Chen Jin mengetahui satu perkara yang bisa mengancam jiwa nona muda itu dan sekarang dia ingin melindunginya lewat Ding Tao.