Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
15. Chapter 15


__ADS_3

Desah nafasnya teratur dan pemuda itu tertidur lelap, merasa aman dalam penjagaan orang yang dipercayainya.


Menunggui Ding Tao yang sedang tidur, perhatian Gu Tong Dang jatuh pada pedang yang sejak tadi dibawa-bawa oleh pemuda itu.


Dihunusnya pedang itu di tangan dan dimainkannya beberapa jurus menggunakan pedang itu. Hatinya pun jadi terkagum-kagum dengan kualitas pedang itu. Dalam hati dia jadi menduga-duga, pedang pusaka dalam dunia persilatan tidak banyak jumlahnya.


Meskipun banyak pedang kenamaan, tidak jarang pedang itu mendapatkan nama mendompleng dari kehebatan pemiliknya.


Seandainya pemakainya bukan pemain pedang kenamaan, pedang itu sendiri tidaklah cukup berarti untuk disebut pedang pusaka.


Tapi ada juga, sejumlah pedang, yang justru kehebatannya mampu mengangkat nama pemakainya.


Gu Tong Dang yakin pedang yang ada di tangannya termasuk dari segelintir yang ada. Dengan memainkan pedang itu saja, dia bisa merasakan keyakinannya bertambah. Belum pernah dia merasakan sebuah pedang yang terasa begitu pas di tangannya.


" Apakah pedang ini…"


Sebuah dugaan yang muncul dalam hatinya, dengan hati berdebar diambilnya pisau dapur yang ada dalam pondokan itu lalu ditancapkannya kuat-kuat ke atas sebuah meja kayu.


Hatinya berdebar, namun tangannya menggenggam pedang dengan mantap.


Tidak terlalu kencang karena tegang, tidak pula lemah hingga pedang akan terlepas dengan sedikit benturan. Terdengar desingan mengiris, saat pedang itu berkelebat menabas mata pisau.


Seperti membelah kayu, pedang itu memotong pisau tadi dengan mudahnya.


Terkesiap hati Gu Tong Dang, meskipun dia sudah menduga sebelumnya, tapi ketika melihat sendiri hasil percobaannya itu, tidak urung hatinya tergetar,


"Pedang Angin Berbisik"


Dipandanginya pedang itu, tidak terasa tangan yang memegang ikut gemetar. Dengan hati-hati, ditaruhnya kembali pedang itu di samping tubuh Ding Tao, dan secara reflek cepat-cepat tangannya menjauh segera setelah pedang itu tergeletak di tempatnya, seperti meletakkan seekor ular berbisa.


Pikiran guru tua itupun dipenuhi kekalutan. Permasalahan Ding Tao bukan lagi sekedar perkelahian antara dua anak muda yang tidak bisa mengendalikan diri.


Pondok itupun diliputi suasana sepi, sementara di luar justru kesibukan sudah dimulai. Di dekat sumur sana, Fu Tsun, paman Wang Chen Jin, salah seorang kepercayaan Wang Dou, memperhatikan keributan yang timbul saat penduduk melihat ceceran darah dan bekas pertarungan di sekitar sumur.


Dengan lagak bersahabat dia mendekat dan ikut dalam pembicaraan mereka,


"Wah, sepertinya habis ada kejadian di sini?"


Seorang tua yang berada di situ menengok padanya dan dengan ramah menjawab,


"Iya, coba saja lihat, ada semak dan kayu yang terpotong, seperti bekas ditabas pedang. Lalu lihat bekas ceceran darah di mana-mana".


"Benar-benar, lalu apa kemarin tidak ada yang mendengar ribut-ribut ini?".


" Ada juga, sekitar lewat tengah malam kemarin, memang terdengar suara-suara orang bertarung. Tapi tidak ada yang berani menengok."


" Memang benar pak, daripada jadi sasaran pedang nyasar"


" Iya, kita semua juga berpikir begitu."


"Apa urusannya tidak disampaikan pada petugas?"


"Justru itu, ada yang bilang sebaiknya dilaporkan, tapi ada juga yang mengatakan lebih baik diam-diam saja. Serba salah memang, lapor salah, tidak lapor juga salah."


Fu Tsun mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan orang tua itu, dengan berpura-pura ikut prihatin dia menjawab,

__ADS_1


"Sebaiknya mungkin memang diam-diam saja pak, melihat dari bekasnya, yang berkelahi bukan orang sembarangan. Kalau bapak melapor, salah-salah malah membuat musuh dengan orang yang sakti."


Beberapa orang yang berada di situ, ikut tertarik dengan jawaban Fu Tsun, salah seorang yang masih muda ikut bertanya


"Menurut saudara yang berkelahi di sini, orang-orang dunia persilatan?"


Fu Tsun merasa senang karena ada yang menanyakan pendapatnya, dengan menegakkan dada dia menjawab,


"Dari yang kulihat sepertinya demikian, lagipula kalau yang berkelahi penduduk daerah sini juga, bukankah sekarang sudah ketahuan siapa orangnya".


Mereka yang mendengar mengangguk-angguk tanda setuju.


"Kemudian lihat bekas goresan di tanah itu, goresan itu cukup dalam dan tipis. Jelas tergores benda tajam sejenis pedang, tapi lihat betapa dalam goresannya. Jika orang biasa saja, mana mampu membuat goresan sedalam itu dengan pedang yang tipis"


Kembali mereka yang berkumpul menganggukkan kepala


."Itu sebabnya kalau menurut pendapatku, paling baik didiamkan saja, kalau bisa kita bersihkan bekas-bekas yang ada supaya tidak timbul pertanyaan dari petugas yang mungkin lewat."


Salah seorang tua di situ ikut menimbrung,


"Nah, betul tidak perkataanku, sedari tadi sudah kubilang paling baik kita diam-diam saja, sebisa mungkin kita bersihkan tempat ini dari bekas-bekas yang ada".


Seorang dari mereka yang tampaknya tidak setuju menyanggah,


" Kalau sampai ada kejadian yang meninggal bagaimana? Apa kita nanti tidak disalahkan petugas karena tidak membuat laporan?"


Fu Tsun-lah yg menjawab.


" Urusan orang dunia persilatan, sudah pasti tidak akan sampai ke telinga petugas, yang kehilangan saudara tidak nanti akan melapor. Tapi pembunuhnya, kalau sampai mendengar ada yang lapor, bisa jadi akan menuntut balas."


Jadi bagaimana? Kita diamkan saja?"


Yang lain saling memandang lalu mengangguk dan gumaman terdengar,


"Ya…"


"Baiknya begitu."


"Sudah tentu."


Salah seorang tua dari antara mereka berkata,


" Ayolah kita kembali bekerja kalau begitu."


Satu per satu mereka berpamitan pada Fu Tsun dan meninggalkannya, kembali pada kesibukan mereka masing-masing. Termangu Fu Tsun berpikir untuk mengorek lebih banyak lagi keterangan.


Ketika orang terakhir sudah hendak berpamitan pula, Fu Tsun bertanya,


" Sobat, perkelahian kemarin malam, apakah memang sepertinya berakhir dengan kematian?"


Sejenak orang yang ditanya itu menggaruk-garuk kepalanya,


" Entahlah, ada yang bilang pada saat terakhir dari pertarungan itu sempat terdengar suara orang tercebur ke dalam sumur itu."


Uraian itu sesuai dengan cerita dari Wang Chen Jin. Menengok ke arah sumur yang ditunjuk Fu Tsun lanjut bertanya,

__ADS_1


" Lalu apakah tidak ada yang berusaha melihat ke dalam sumur itu? Maksudku, apakah benar ada yang terjatuh ke dalamnya."


" Memang begitulah yang kami lakukan, karena jika benar ada mayat di dalamnya, tentu sebaiknya dikeluarkan secepatnya. Atau lebih baik lagi kami timbuni saja sumur itu dengan batu-batu dan menggali sumur yang baru."


Mendengar itu timbul keraguan dalam hati Fu Tsun,


" Lalu?"


" Begitu hari sudah mulai terang, beberapa menengok ke dalam sumur itu, tapi tidak terlihat apa-apa dari atas. Jadi kami berpikir, mungkin kami hanya salah dengar."


Tercengang Fu Tsun mendengar hal itu, tapi sebisa mungkin ia menutupi kekagetannya,


" Aneh sekali, lalu suara apa yang kalian dengar malam itu?"


Orang yang ditanya hanya bisa mengangkat bahunya,


" Entahlah, mungkin kami salah dengar, mungkin bukan orang yang jatuh ke dalam sumur sana. Atau mungkin dia masih hidup dan berhasil keluar kembali."


Kacaulah perasaan Fu Tsun mendengar pernyataan orang itu, tapi pada dasarnya dia adalah orang yang teliti dalam menghadapi setiap persoalan, itu sebabnya Wang Dou menganggap dia sebagai salah satu orang kepercayaannya.


Bukan hanya karena Fu Tsun masih memiliki hubungan keluarga dengan dirinya, tapi juga karena ketelitiannya.


" Apakah ada yang turun ke dalam sumur itu untuk memeriksa? Ataukah kalian hanya melihat dari atas saja?"


" Kami hanya melihat dari atas, tapi air sumur itu cukup bening. Jika memang ada mayat di dalamnya, meskipun hanya bayang-bayang saja, tapi kami tentu bisa melihatnya. Lagipula bukankah biasanya mayat mengapung di dalam air"


Fu Tsun menggosok-gosok dagunya, berpikir.


" Tidak juga, di dasar sumur mungkin berlumpur, tentu tidak terlihat dari atas. Tapi bisa jadi tubuh itu tenggelam ke dasar karena di tubuhnya ada yang memberati ke bawah. Lalu di bawah sana dia tertutup oleh lumpur di dasar sumur."


Menengok ke arah orang yang diajak bicara Fu Tsun berkata,


" Cerita kalian membuatku tertarik, aneh sekali jika kalian mendengar suara orang tercebur ke dalam sumur, tapi tidak ada mayat di dalam sana. Kalau kalian mau membantu, biarkan aku turun ke dalam sana untuk memeriksa."


Terangkat alis orang yang diajak bicara, heran,


" Sobat, kau benar-benar mau turun ke dalam sumur itu untuk memeriksa?"


Fu Tsun tertawa menutupi rasa galau di hatinya,


" Ya begitulah, sudah sedari aku kecil, selalu tertarik dengan hal-hal yang aneh seperti ini. Kalau tidak turun ke bawah dan memeriksa dengan teliti, aku tidak akan bisa tidur nyenyak berhari-hari memikirkan hal itu."


Yang diajak berbicara menggeleng-gelengkan kepala, tapi akhirnya diapun mengangguk,


" Baiklah, memang kalau ada yang mau turun dan memeriksa sudah tentu lebih baik lagi. Ayolah, akan kuajak beberapa temanku untuk berjaga dan membantumu turun ke bawah."


Tidak lama kemudian orang-orang itu kembali berkumpul, sekali ini mereka tertarik untuk melihat Fu Tsun yang akan menuruni sumur.


Sebuah tali yang kuat diikatkan ke tubuh Fu Tsun, beberapa orang membantu menahan tali itu agar Fu Tsun dapat turun ke dalam sumur itu dengan aman.


Fu Tsun turun ke bawah dengan membawa sebuah obor di tangan, karena di atas ada orang-orang yang menahan tali dan perlahan-lahan menurunkannya ke bawah, Fu Tsun pun bisa mengamati keadaan sumur itu dengan mudah.


Hatinya berdebar saat samar-samar dia dapat melihat bekas-bekas tapak kaki dan tangan di beberapa tempat.


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H

__ADS_1


Mohon Maaf Lahir dan Bathin,


__ADS_2