
Dengan menahan haru Ding Tao mengangguk, itulah kenangan terakhir Ding Tao akan gurunya sebelum pergi meninggalkannya.
Sekarang di depan gerbang rumah keluarga Huang, kenangan itu menghantui dirinya. Akankah Tuan besar Huang menginginkan pedang itu? Jika pedang itu diminta, apa pula yang harus dia lakukan atau katakan? Jika mereka hendak menggunakan kekerasan, dapatkah dia melawan dan mempertahankan pedang itu? Atau nantinya dia harus lari dan merelakan pedang itu di tangan keluarga Huang?
Satu per satu Ding Tao melangkah, setiap langkah diikuti dengan pertanyaan dan setiap pertanyaan tidak juga dia menemukan jawaban yang memuaskan.
Seandainya tidak ada seorang gadis yang sudah menawan hatinya di rumah itu, seandainya tidak ada Huang Ying Ying di sana, kaki Ding Tao akan membawanya berlari ribuan li, menjauh dari rumah itu.
Ding Tao seorang pemuda yang mengenal dengan sungguh-sungguh akan tanggung jawab dan kewajiban. Dia tahu, jika pada saatnya dia harus memilih antara cinta dan kewajibannya pada negara, walaupun pedih dia akan memilih yang kedua.
Tapi Ding Tao juga adalah seorang pemuda yang sedang di mabuk cinta. Otaknya membenarkan kekhawatiran Gu Tong Dang gurunya, tapi hatinya membisikkan harapan.
Meskipun dalam hati ada ketakutan seperti gunung yang menindih seisi dadanya, bahwa kedatangannya hanya akan membawa benih permusuhan antara dirinya dengan gadis yang dicintainya.
Tapi harapan bahwa yang dikhawatirkan itu tidak terjadi, bahwa kedatangannya akan diterima dengan tangan terbuka, memberikan kekuatan baginya untuk melangkah.
Jarak yang ditempuh bukanlah jarak yang tidak terbatas jauhnya, meskipun setiap langkah yang diambil begitu berat, akhirnya sampai juga Ding Tao di depan pintu gerbang keluarga Huang.
Penjaga pintu bukannya tidak mengenali pemuda itu, namun roman wajah Ding Tao dan juga perubahan yang sekarang ada padanya, membuat mereka ragu untuk menegur pemuda itu.
__ADS_1
Meskipun tidak ada kata-kata yang terucapkan, melihat raut wajah pemuda itu yang tegang, hati kedua penjaga pintu keluarga Huang ikut menjadi muram.
Setelah mereka berhadapan muka, barulah Ding Tao tersadar akan keadaan mereka saat itu. Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya ditepisnya jauh-jauh semua kekhawatiran.
Tersenyum ramah dia membungkuk dengan hormat, ―Saudara Ling, saudara Bu, ini aku Ding Tao.‖
―Ah… oh…. ah Ding Tao, jadi benar ini Ding Tao. Ya ya, kami pun tadi merasa mengenalimu, tapi kau sudah jauh berbeda sampai kami pangling karenanya.‖
―Ya, ya benar, sekarang kau jadi jauh lebih tinggi lagi dari kami.‖
Sambutan kedua penjaga pintu yang ramah membantu Ding Tao untuk menyingkirkan keraguannya. Hatinya yang memang jujur, mudah sekali bersih dari kecurigaan. Jika tadi dia masih canggung, jawaban kedua penjaga pintu itu menghilangkan kecanggungannya. Sambil menggaruk kepala dia tertawa.
―Ya, entah kenapa badanku ini terus saja bertambah tinggi, terkadang aku khawatir dia tidak berhenti bertambah tinggi dan suatu hari nanti aku harus tidur di atas dua tempat tidur yang disusun berjajar.‖
―Wah bukan hanya bertambah tinggi, tampaknya kaupun bertambah liat. Sebenarnya apa yang terjadi dua tahun yang lalu?‖
―Benar, kami semua dibuat bingung oleh ulahmu, apa benar kau melarikan anak gadis orang?‖
, goda salah seorang dia antara mereka sambil memutar-mutar bola matanya.
__ADS_1
Dengan wajah kemerahan Ding Tao membalas pukulan mereka,
―Jangan menyebar gosip sembarangan.‖
Kemudian dengan nada yang lebih serius dia melanjutkan,
―Kedatanganku hari ini justru ingin menghadap pada Tuan besar Huang Jin, untuk memohon maaf sekaligus menjelaskan alasan kepergianku dua tahun yang lalu.‖
―Hemm, sepertinya misterius sekali, apa kau tidak mau membagikannya pada teman lamamu ini?‖
Sambil tersenyum sopan Ding Tao menjawab,
―Saudara Ling, bukannya aku tidak percaya mulutmu yang bocor itu. Cuma memang masalahnya sedikit peka, lebih baik aku membicarakannya dahulu dengan Tuan besar Huang Jin.‖
Sambil tertawa bergelak kedua penjaga itu akhirnya mengijinkan Ding Tao untuk masuk menemui Tuan besar Huang Jin,
―Cari saja dia di bangunan utama, tadi kulihat dia berjalan ke arah sana bersama dengan beberapa tetua serta anak-anaknya.‖
Dengan hati yang jauh lebih ringan Ding Tao melangkahkan kaki menuju ke arah bangunan utama. Setiap kali dia bertemu dengan kenalan lama tentu tidak lupa dia mengangguk dan menyapa.
__ADS_1
Saat dia sampai di depan bangunan utama, hatinya sudah lapang dan bersih dari segala kekhawatiran. Yang terbayang adalah senyum bahagia nona muda Huang, mungkin sedikit marah dan beberapa pukulan, tapi setiap pukulan justru akan membuatnya lebih bahagia.
Dengan senyum mengembang di bibirnya, Ding Tao mengetuk pintu.