Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
62. Chapter 62


__ADS_3

Melihat kuda-kuda gadis itu Ding Tao jadi tertarik, dia ingin melihat serangan seperti apa yang akan dilontarkan gadis itu.


―Nona Huolin, silahkan kau duluan yang memulai.‖, ujarnya sopan.


―Hmph! Baiklah, awas serangan!‖


Begitu menyerang, lenyap sudah kilatan nakal di mata gadis itu, serangannya cepat dan telengas. Bilah pedang yang teracung ke atas dengan cepat menyambar ke arah ubun-ubun Ding Tao. Menyurut mundur Ding Tao ke belakang. Murong Huolin pun dengan cepatnya maju ke depan, bilah pedang yang melintang di dada, sudah menyambar pula ke arah Ding Tao, menabas cepat, dalam gerakan yang akan memotong tubuhnya menjadi dua.


Sekali lagi Ding Tao menyurut mundur, tapi bilah pedang yang lain ternyata sudah siap untuk menyerang ubun-ubunnya sekali lagi.


Dalam sekejapan sudah 10 kali gadis itu menyerang dan 10 kali pula Ding Tao menyurut mundur ke belakang. Dengan cepat pemuda itu sudah hampir keluar dari arena pertandingan.


Sebenarnya Ding Tao sedang menanti serangan yang


berikutnya, tapi tiba-tiba Murong Huolin, berhenti menyerang an membanting kaki,


―Mundur dan mundur terus! Apa kau sebangsa undur-undur?‖


Melengong Ding Tao melihat gadis itu marah-marah, tapi segera saja rasa bingungnya berubah menjadi geli,


―Sabar dulu Nona Huolin, aku baru saja mau mencoba ganti menyerangmu pada serangan berikutnya.‖


Alis Murong Huolin terangkat, wajahnya menunjukkan eskpresi tidak mau percaya,


―Hmm… apa benar? Jangan-jangan ilmu andalanmu hanya jurus langkah seribu saja.‖


―Tidak-tidak, aku tadi baru mengamati serangan nona yang gencar. Tapi berikutnya tentu nona akan lihat kalau aku ada jalan keluar.‖


, jawab Ding Tao dengan sabar, sedikit demi sedikit dia sudah mulai terbiasa dengan tingkah Murong Huolin yang sedikit mirip Huang Ying Ying, meskipun Huang Ying Ying tidaklah setajam gadis ini.

__ADS_1


―Baiklah, ayo kita ulangi lagi. Aneh-aneh saja, berkelahi kok seperi undur-undur.‖, gerutu gadis itu sambil melangkah kembali ke tengah ruangan.


―Saudara Ding, jangan sungkan-sungkan, kau beri saja adikku itu sedikit hajaran.‖, teriak Murong Yun Hua dari pinggir arena sambil tertawa geli.


Murong Huolin membalas dengan meleletkan lidahnya,


―Tak usah yaa… Ding yang satu ini cuma kencang bunyinya, belum ada buktinya.‖


Dengan nakal gadis itu memelesetkan nama marga Ding Tao dengan kata berbunyi sama, Ding, tapi ding yang artinya suara gemerincing seperti bel. Tapi Ding Tao tidak menjadi marah,


justru ikut tertawa geli, meskipun dia yang dijadikan bahan lelucon. Sikap Ding Tao ini membuat Murong Huolin senang, dengan gaya yang tidak merendahkan dia bersiap kembali.


―Ayo, kita mulai lagi.‖


―Baik‖


―Awas serangan!‖


Sekali lagi Ding Tao mundur ke belakang dan ke belakang tapi pada serangan yang ketiga, Ding Tao berkelit, bergerak memutar dan posisinya tiba di belakang Murong Huolin dan dengan ringan pedang kayu di tangannya menepuk pundak gadis itu.


―Kena kau Adik Huolin.‖, sambil tertawa Murong Yun Hua meneriaki adiknya yang masih berdiri tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


―Eh, bagaimana bisa begitu mudah?‖,


seru gadis nakal itu.Dengan sebelah tangan di pinggang dia berbalik menghadapi Ding Tao,


―Eh Kakak Ding, kenapa bisa begitu mudah? Kulihat gerakanmu tidak begitu cepat. Seranganku juga kuyakin tidaklah lambat, jurus ini sudah kulatih selama beberapa bulan, kupikir sudah cukup sempurna. Ternyata…‖


Melihat wajah sedih Murong Huolin, Ding Tao jadi kasihan,

__ADS_1


―Nona Huolin, jurusmu sebenarnya cukup hebat, tidak mudah untuk lolos dari jurus itu. Serangan dari atas, jika ditangkis akan membuka lubang di bagian tubuh, dan serangan yang mendatar akan memanfaatkan lubang itu. Demikian juga serangan yang mendatar jika ditangkis, maka pedang akan tertahan dan lubang pertahanan dari atas akan terbuka.‖


―Begitu juga jika lawan bergerak menghindar, serangan dari atas, jika dikelit ke samping tentu serangan yang mendatar akan segera menyusul, menutup jalan mundur lawan. Jika dikelit mundur, maka sambil memburu maju serangan yang mendatar akan mendesak lawan, sementara pedang yang satukembali mengambil posisi untuk menyerang dari atas. Dengan bergantian begini, asalkan dalam hal kecepatan bisa dipertahankan, meskipun belum bisa memenangkan lawan tapi bisa mendesak mundur lawan.‖


―Eh kau ini memuji saja, lalu kalau memang begitu bagus, kenapa begitu mudah dikelit?‖, tanya Murong Huolin sambil cemberut.


―Masalahnya nona kurang pandai dalam mengatur irama serangan. Kecepatan gerakan nona dari awal hingga akhir tetap sama. Setelah menghadapi serangan yang sama beberapa kali segera saja iramanya ketahuan. Maka dengan mudah saya menyesuaikan diri dengan irama serangan nona dan mengambil kesempatan untuk berkelit di saat jeda antara dua serangan.‖,


jawab Ding Tao dengan sabar menjelaskan.


―Ah, itu berarti aku masih kurang cepat? Tapi tanganku sudah sampai pegal berlatih supaya bisa melancarkan serangan itu secepat mungkin.‖, keluh Murong Huolin.


―Tidak juga, seharusnya nona mengubah-ubah kecepatan serangan nona, sehingga lawan susah menangkap iramanya. Secepat apapun, pasti akan ada jedanya antara serangan yang satu dengan serangan yang selanjutnya. Tapi bila antara serangan ada serangan tipuan dan serangan sungguhan, maka lawan jadi lebih sulit menebak.‖, ujar Ding Tao coba menerangkan.


―Hmm.. aku mengerti, serangan bisa saja dengan sengaja dibuat lambat, jika lawan terpancing baru bergerak cepat. Lawan yang tidak menduga aku bisa menyerang secepat itu akan terkena serangan.‖


―Ya, bisa juga seperti itu, tapi bisa juga cepat-lambat-lambat dan cepat, dengan irama yang sedikit tidak beraturan, lawanpun akan kesulitan untuk mengikuti. Bayangkan jika serangan nona berubah dari cepat ke lambat, lawan mungkin sudah bergeser padahal serangan nona masih belum sepenuhnya dikembangkan. Nona bisa dengan mudah mengganti arah serangan dan lawan yang terlanjur bergerak justru masuk dalam perangkap.‖,


sambil menjelaskan Ding Tao memperagakan jurus yang sama dengan irama yang berubah-ubah, sesuai dengan penjelasan yang dia berikan.


Mendengar penjelasan Ding Tao, sambil melihat cara pemuda itu memainkan jurus yang sederhana namun keras itu, Murong Huolin jadi makin paham akan penerapan jurus itu dalam pertarungan. Gadis itu pun bertepuk tangan sambil melompat kegirangan.


―Wah hebat-hebat. Ding Tao ternyata kau seorang ahli pedang.‖, pujinya dengan wajah ceria.


Sambil tersipu malu Ding Tao menggeleng-gelengkan kepalanya,


―Tidak juga, mungkin hanya sedikit lebih menang pengalaman dari Nona Huolin.‖


―Hmmm… tidak perlu berpura-pura malu begitu, kau pintar main siasat, jangan-jangan lidahmu pun pandai berputar, memuji dan menyanjung orang, padahal ada maunya.‖,

__ADS_1


goda Murong Huolin sambil melirik penuh arti ke arah Murong Yun Hua yang berjalan mendekat.


―Ah, tidak-tidak, mana berani saya berpikir yang tidak-tidak.‖, jawab Ding Tao sambil menggelengkan kepala.


__ADS_2