Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
26. Chapter 26


__ADS_3

Berdiam diri sejenak Huang Yunshu yang sudah memutih semua rambutnya itu perlahan-lahan menggeleng,


―Tidak semudah itu, anak itu… anak itu… terlalu lurus.‖


Sepertinya kata lurus itu berat sekali keluar dari mulutnya, sampai mati pun keluarga Huang memandang dirinya sebagai aliran yang lurus. Menyebut Ding Tao sebagai orang yang lurus dan tidak bersesuaian dengan keluarga Huang, terasa seperti memaksakan posisi sebagai penjahat pada keluarga Huang.


Karena itu diapun melanjutkan,


―Sifatnya yang lurus terkadang tidak sesuai dengan keadaan. Untuk menggapai tujuan besar, seseorang harus memiliki keteguhan hati untuk mengorbankan sesuatu. Bersikap cerdik di waktu yang dibutuhkan dan anak itu tidak memilikinya sama sekali.‖


Tiong Fa ikut memberikan pendapat,


―Bisa saja dia ditarik menjadi anggota keluarga Huang, tapi pedang itu harus diserahkan pada kita. Tidak boleh kita menjadikan anak itu sebagai andalan. Karena selalu ada kemungkinan dia justru akan bangkit melawan kita kalau dilihatnya ada yang tidak sesuai dengan nuraninya.‖


Huang Jin mengelus-elus kumisnya yang tebal, ―Hmmm… apakah menurutmu itu mungkin? Ding Tao menyerahkan pedangnya dengan suka rela hingga kita bisa menariknya ke keluarga kita, sekaligus mendapatkan pedang itu?‖


Sambil memandang ke arah Ding Tao di kejauhan, Tiong Fa tersenyum melecehkan,

__ADS_1


―Pemuda itu begitu dungu, saat ini dia memandang keluarga Huang seperti memandang sekumpulan orang suci. Jika kita bisa memberikan alasan yang mulia, dia akan menyerahkan pedang itu tanpa segan-segan sedikitpun.‖


Huang Ren Fang yang sedari tadi berdiam diri menyambung,


―Selain itu, kulihat pemuda dungu itu jungkir balik jatuh cinta dengan Adik Ying.‖


Huang Jin yang mendengar hal itu melirik tajam ke arahnya, bagaimanapun Huang Ying Ying adalah puteri satu-satunya,


―Maksudmu kita mengumpankan adikmu untuk mendapatkan pemuda dungu itu?‖


―Setiap perjuangan butuh pengorbanan, lagipula jika anak muda itu sudah seperti mabok arak hanya karena tangannya menggenggam tangan Adik Ying, kukira bila kita memberikan harapan lebih baginya, jangankan pedang, nyawanya pun mungkin akan diberikan.‖


Merasakan ayahnya kurang suka dengan pendapatnya itu, dia menambahkan,


―Ayah tidak perlu cemas, belum tentu kita perlu menikahkan Adik Ying dengan dirinya, cukup kita berikan dia harapan saja tanpa janji yang pasti.‖


Huang Yunshu yang mendengarkan pendapat cucunya dengan tenang ikut menyambung,

__ADS_1


―Sebagai seorang suami pun, pemuda dungu itu tidaklah buruk, bakatnya bagus dan sifatnya, seperti yang sudah kukatakan, jujur dan setia.‖


Huang Jin yang mendengar pendapat pamannya itu mau tidak mau harus menerimanya, dengan mendesah dia pun setuju,


―Hahhh…. Ya sudahlah, moga-moga saja anaknya tidak sedungu bapaknya. Tapi bagaimana jika dia masih menolak juga?‖


Sejenak ketiga orang yang diajaknya berbicara itu saling melihat, lalu satu pikiran mereka mengangguk,


―Tidak ada jalan lain, dia harus dibunuh, apa pun caranya.‖


Hening sejenak sebelum Tiong Fa berkata,


―Tapi aku yakin, lidahku ini sudah cukup untuk membuat pemuda itu menyerahkan pedangnya. Serahkan saja semuanya padaku saat jamuan makan malam nanti.‖


# Maaf Pendek chapternya, ada temen ngajakin Reuni besok Minggu, Semoga suka dengan Cerita Ding Tao, kalau nggak suka juga nggak apa-apa kok. Namanya juga Selera orang.


Ntar dach maleman dikit or besok klo ga sempet malam ini sekalian Buat begadang nunggu Tontonan Bola.

__ADS_1


__ADS_2