Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
17. Chapter 17


__ADS_3

―Guru… jika demikian keadaannya… tentu… tentu… Wang Dou akan mencari dan berusaha mendapatkan kembali pedang itu dengan segala cara. Dan tempat pertama yang dia tuju…‖


Mendesah Gu Tong Dang melanjutkan kata-kata muridnya,


―Ya… tempat pertama yang diselidikinya sudah tentu adalah kediaman keluarga Huang.‖


―Guru... menurut guru, apakah sebaiknya yang harus kulakukan?‖


Untuk beberapa saat Gu Tong Dang terdiam, baginya berat untuk mengatakan apa pendapatnya.


―Hehh…., ini tidaklah mudah. Anak Ding, menurut pendapatku, tidak ada jalan lain, kau harus pergi meninggalkan kota secepatnya. Dan jangan pernah lagi kembali sebelum kau bisa meyakinkan ilmu pedangmu.‖


―Kau harus memutuskan hubunganmu dengan keluarga Huang, hanya dengan cara itu kau bisa membersihkan nama keluarga Huang dari urusan ini.‖


Wajah Ding Tao yang pucat semakin pucat,


―Guru… apakah tidak ada jalan lain? Bagaimana kalau pedang ini aku berikan saja pada Tuan besar Huang atau mungkin aku kembalikan lagi pada Tuan Wang Dou?‖


Dengan berat hati Gu Tong Dang menggelengkan kepalanya,‖ Anak Ding, cobalah pikirkan dengan hati yang jernih. Jika kau kembalikan pedang itu pada Wang Dou, nyawamu pasti hilang.


Karena bagi Wang Dou bukan saja kembalinya pedang itu yang penting, tapi juga keberadaan pedang itu padanya haruslah menjadi satu rahasia.‖


―Dan untuk menjaga rahasia itu, siapapun yang mengetahui bahwa dia memiliki pedang itu harus dibinasakan. Jika kau kembali, keluarga Huang pun akan ikut terseret dalam permasalahan ini.‖

__ADS_1


Sambil menggigit bibir Ding Tao menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam hatinya dia masih belum bisa menerima kenyataan. Sudah sejak dia masih kanak-kanak dia tinggal bersama keluarga Huang. Sejak menginjak remaja hatinya sudah tertambat pada nona muda Huang. Dan baru saja dia memiliki keberanian untuk berharap untuk bisa mendapatkan hati nona muda pujaannya.


―Guru, apakah Wang Dou kebih kuat dari keluarga Huang, jika kuberikan pedang ini pada Tuan besar Huang, tidakkah keluarga Huang menjadi kuat karenanya?‖


―Anak Ding, ilmu pedang dan kekuatan keluarga Huang secara keseluruhan, mungkin masih berimbang dengan kekuatan Wang Dou dan kelompoknya. Tapi jangan lupa, dunia persilatan penuh dengan tokoh-tokoh yang memiliki kepandaian bagaikan dewa. Jika bukan karena keberadaan mereka, tentu Wang Dou tidak perlu merahasiakan keberadaan pedang itu.‖


―Wang Dou mungkin saja tidak berani merebut pedang itu, tapi jika demikian, maka tidak ada pula alasan baginya, untuk tidak menyiarkan berita bahwa keluarga Huang telah mendapatkan pedang itu dan aku mengenal tabiat Tuan besar Huang, dia tidak akan melepaskan pedang itu begitu saja.‖


―Meskipun telah beberapa generasi kita lebih berkonsentrasi pada usaha dagang. Namun aku tahu dengan pasti, bahwa dalam hatinya, ambisi untuk merajai dunia persilatan itu pun ada. Mungkin sekarang dia memendamnya tapi jika dia sampai memiliki pedang ini, ambisi yang terpendam itu akan berkobar dan api kobarannya bisa membakar kedamaian keluarga Huang.‖


―Anak Ding, keberadaan pedang itu, akan mengundang bencana bagi keluarga Huang. Jika kau tidak ingin melihat kedamaian yang ada pada keluarga Huang sekarang ini hilang, kau harus membawa pergi pedang itu jauh-jauh dari mereka.‖


Ding Tao meletakkan mangkok yang dipegangnya, ditangkupkannya kedua tangannya yang gemetar menahan perasaan.Perlahan-lahan dia berusaha bernafas dengan lambat dan teratur, dipikirkannya kedudukannya saat itu dengan cermat.


Pemuda itu bisa membayangkan reaksi Wang Dou apabila tokoh tua itu mendapati pedangnya hilang bersamaan dengan hilangnya dirinya.


Yang pertama-tama dia lakukan tentu memeriksa sumur tempat dia terjatuh, ketika didapatinya Ding Tao sudah menghilang bersamaan dengan pedang itu, maka kecurigaan akan dialihkan pada orang-orang dalam keluarga Huang. Apabila dirinya masih sempat datang kembali ke kediaman keluarga Huang setelah kejadian itu, tentu Wang Dou akan memiliki pemikiran bahwa mungkin saja pedang itu berada dalam kekuasaan keluarga Huang. Meskipun Ding Tao kemudian pergi dari rumah keluarga Huang, kecurigaan itu tidak akan hilang begitu saja.


Baginya tidak ada pilihan lain kecuali dengan segera meninggalkan kota, tanpa berpamitan pada siapapun juga.


Akan tetapi kondisi tubuhnya saat di dalam sumur sangatlah buruk, tidak mungkin dia keluar tanpa bantuan dan bila Wang Dou cukup teliti, tentu akan diketahui pula bahwa gurunya Gu Tong Dang sempat meninggalkan kediaman keluarga Huang pada malam itu.


Ding Tao membuka matanya dan menatap sosok kakek tua yang ada di hadapannya. Diperhatikannya keriput di wajah tua itu dan senyum yang tidak lepas juga meskipun menghadapi kejadian yang mengejutkan,

__ADS_1


―Guru, jika demikian pemikiran guru, itu berarti, guru pun tidak bisa pulang kembali.‖


Guru tua itu mengangguk-angguk dengan sabar, ―Ya, sepertinya kau sudah mengerti. Mungkin banyak orang akan memandang kita sebagai orang yang tidak mengenal arti kata setia dan tidak tahu membalas budi.‖


―Tapi jika kita tidak mau membawa kesulitan masuk ke dalam keluarga Huang, justru inilah yang harus kita lakukan.‖


Ding Tao mengangguk, meskipun terasa pahit baginya, tapi diapun tidak melihat jalan lain.


Gu Tong Dang mendesah sedih, guru tua itu bukannya tidak tahu bagaimana perasaan Ding Tao terhadap nona muda Huang. Dengan perlahan dia bangkit berdiri lalu menepuk-nepuk pundak Ding Tao, ―Bersabarlah, dalam dua tahun, jika kau rajin berlatih, tentu kepandaianmu bisa meningkat pesat dan pada saat itu, tidak perlu kau takut pada Wang Dou. Pada saat itu, dengan pedang Angin berbisik di tanganmu, tidak banyak yang dapat menandingimu.‖


Ding Tao berusaha tersenyum dan mengangguk, meskipun hatinya masih terlalu pedih untuk mengucapkan apa-apa.


Gu Tong Dang bisa menyelami perasaan muridnya, " Sudahlah, aku akan menyiapkan bekal bagi perjalanan kita, percayalah, aku akan berusaha membantumu sekuat tenaga."


Gu Tong Dang meninggalkan ruangan itu dan tinggallah Ding Tao sendiri. Pemuda itu menatap langit-langit kamar, terbayang di pelupuk matanya, senyum manis nona muda Huang.


Terbayang pula betapa terkejutnya mereka sekeluarga ketika mendapati dirinya dan gurunya hilang begitu saja. Saat mereka mendapati keduanya pergi dengan keinginan sendiri, betapa mereka akan mencaci maki dan memandang rendah.


Ding Tao mendesah, matanya dipejamkan dan keluhan pendek keluar dari mulutnya.


Beberapa lamanya dia berdiam, ketika matanya membuka, wajahnya tidak lagi dihiasi kerisauan, melainkan ada kemauan yang kuat terpancar di sana.


Ding Tao bukan seorang pemuda yang keranjingan ilmu silat, jika dia berlatih dengan tekun, itu adalah karena dia ingin menyenangkan hati nona muda Huang. Jika dia pernah bermimpi menjadi jagoan pedang, itupun karena dia ingin memenangkan hati nona muda Huang.

__ADS_1


Sekarang nasib sudah memaksa dia untuk mengambil jalan yang akan dipandang rendah oleh nona muda itu. Tapi Ding Tao bertekad untuk menggembleng dirinya dengan tekun, sehingga satu saat nanti dia bisa kembali, untuk meluruskan kesalah pahaman ini dan menghapuskan segala kesan buruk yang ada dalam benak nona muda Huang terhadap dirinya.


__ADS_2