Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
41. Cerita Terhangat


__ADS_3

" Paman, bicaralah satu per satu, apa yang sebenarnya terjadi?".


Akhirnya salah seorang dari mereka berusaha menjelaskan dengan runut apa yang sudah didengarnya dari penjelasan Tiong Fa dan Tuan besar Huang Jin.


Sambil mengerutkan alis, Huang Ying Ying berpura-pura kesal, tidak sulit karena hatinya memang sedang penuh rasa khawatir dan juga marah. Khawatir pada keselamatan Ding Tao, serta marah pada ayah dan keluarganya.


" Apa tidak salah? Apa gunanya bagi Ding Tao untuk melakukan hal itu? Tidak tahukah kalian, baru saja dalam satu pertandingan persahabatan, tidak ada seorang pun jagoan dari keluarga Huang yang mampu mengalahkannya!".


Mereka yang tahu bahwa nona muda mereka ini dekat dengan Ding Tao jadi merasa serba salah.


" Soal itu…, kami juga tidak mengerti… mengapa tidak nona bertanya pada ayah nona saja?".


Sambil membanting kaki nona muda itu pun menjawab,


" Huh, kau kira aku tidak berani menanyakan pada ayahku? Lihat saja, selekasnya aku akan menghadap ayah."


Pintu pun dibanting tertutup, orang-orang saling berpandangan lalu mengangkat bahu. Salah seorang di antara mereka menyeletuk,


" Sebenarnya aku juga merasa ragu, masa Ding


Tao bisa berbuat sekeji itu?"


Tiba-tiba pintu kembali dibuka dan kepala Huang Ying Ying muncul di situ, tentu saja mengagetkan semua orang,


" Nah betul itu, kalian sudah kenal Ding Tao belasan tahun, apa dia ada potongan macam maling atau pembunuh?"


Dan secepat kepala itu menongol keluar, secepat itu pula dia menghilang kembali di dalam.


Menghela nafas sambil menggelengkan kepala, mereka yang di luar saling berpandangan sambil tersenyum geli. Tapi pertanyaan itu ada dalam kepala mereka, bagi mereka yang mengenal dekat pemuda itu, tuduhan Tiong Fa tentu saja sangat tidak sesuai dengan watak Ding Tao yang mereka kenal.


Hanya saja siapa yang berani meragukan perkataan Tiong Fa?


Tidak lama waktu yang dihabiskan Huang Ying Ying untuk merapikan diri, dengan bergegas dia pergi untuk menemui ayahnya. Setiap kali dia bertemu dengan rombongan orang yang mencari Ding Tao, percakapan yang kurang lebih sama terjadi.


Dengan caranya sendiri gadis itu berusaha membersihkan nama pemuda pujaannya. Tangisannya disimpan rapat-rapat dalam hati, tidak ada yang bisa tahu betapa kalut dan hancur sesungguhnya hati gadis ini. Kebanggaannya sebagai nona muda keluarga Huang yang terhormat, tokoh aliran lurus yang dikenal akan kejujuran dan keadilannya, sekarang hancur berkeping-keping.

__ADS_1


Lebih-lebih lagi, adalah pemuda yang dia kasihi yang sudah menjadi korban fitnah dan kekejian mereka.


Langkahnya yang cepat membawa dia menemui ayahnya yang sedang berunding dan memberi jawab pada orang-orang yang datang untuk bertanya.


Ketika melihat gadis itu, semua orang yang di sana terdiam.


Ayahnya berjalan mendekati dengan raut sedih. Diraihnya puteri kesayangannya itu lalu dipeluknya, seperti ketika dia masih kecil. Tanpa terasa air mata meleleh dari kedua bola mata Huang Ying Ying yang bening.


Terisak-isak, dia menumpahkan segala perasaannya dalam dekapan ayah, yang masih dikasihinya, siapapun dia, apapun yang sudah dilakukan. Perasaan kasih yang tertanam bertahun-tahun lamanya tidak bisa dihilangkan begitu saja.


Semua yang menyaksikan, tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya ada dalam hati gadis itu.


" Ayah… ayah… apakah benar kata orang?"


, sambil terisak dia bertanya, dalam hati dia berteriak, memohon ayahnya agar mengatakan yang sejujurnya.


Memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi, sosok ayah yang selalu tampil sebagai penyelamat. Akankah kali ini kembali tampil sebagai penyelamat? Bisakah ayahnya meluruskan yang salah, ketika itu dilakukan olehnya sendiri?


" Nak… Ying Ying, hentikan tangismu, dia bukan Ding Tao yang kaukenal dua tahun yang lalu. Kita semua tidak tahu, apa saja yang dialaminya selama dua tahun itu di luaran."


" Tapi ayah… ini Ding Tao. Dia… dia… dia tidak mungkin sekeji itu."


Tuan besar Huang Jin mengeluh dalam hati, terbayang masa kecil gadis itu, entah berapa kali gadis itu datang padanya dengan mata basah seperti sekarang ini dan dia akan selalu bisa membuatnya tersenyum kembali. Tapi tidak kali ini, dengan sedih orang tua itu menggelengkan kepalanya.


" Saudara Tiong Fa sendiri melihat kejadiannya."


" Apakah tidak mungkin salah?"


" Apa kau menuduh Paman Tiong Fa berbohong?


" Bagaimana kalau Zhang Zhiyi yang berbohong?‖


" Kalau begitu mengapa Ding Tao harus lari? Dia bisa menjelaskan kebenarannya pada pamanmu."


" Bagaimana kalau Ding Tao khawatir bila Paman Tiong Fa tidak percaya padanya? Terbukti Paman Tiong Fa telah membantu Zhang Zhiyi melawan dirinya?".

__ADS_1


" Pamanmu sudah menyuruh mereka berhenti berkelahi, tapi Ding Tao yang terus menyerang, bahkan mengambil kesempatan saat Zhang Zhiyi mengendurkan serangan untuk memenuhi permintaan kakekmu, Ding Tao memenggal kepalanya."


Akhirnya gadis itu menggigit bibir dan membanting kaki, " Aku tidak percaya!"


" Ying Ying! Jangan keras kepala!"


" Ayah jahat!"


teriak gadis itu sambil menyentakkan badannya dari pelukan sang ayah dan berlari kembali ke kamar.


Sambil berlari kembali ke kamar, air matanya bercucuran.


Habis sudah harapannya, ayahnya tidak akan berbalik dari kesalahannya. Meskipun Huang Ying Ying tidak terlalu mengharapkan hal itu terjadi, tapi sungguh dia berdoa agar hal itu terjadi.


Sedikit penghiburan dalam hatinya, dia sudah berhasil menjalankan rencana yang terpenting. Sekarang, tidak akan ada seorangpun yang menyangka bahwa Ding Tao saat ini sudah berada dengan aman di dalam kamarnya.


Tuan besar Huang Jin menatap kepergian anak gadisnya dengan muka memerah. Memerah karena marah, marah karena perlawanan anak gadisnya terhadap dirinya sendiri, marah karena terpaksa mengorbankan perasaan anak gadis kesayangannya. Marahnya itu pun akhirnya tertumpah pada


Ding Tao dan Gu Tong Dang, jika saja mereka tidak berkeras untuk mengangkangi Pedang Angin Berbisik…


Dengan menggeram dia memberikan perintah,


"Apa pun yang terjadi, kalian cari anak itu dan bunuh dia di tempat! Tidak perlu membawanya menghadapku."


" Baik Tuan Huang."


, gumam mereka yang ada di sana. Tidak berani lagi mereka bertanya lebih lanjut, siapa yang mau


menanggung murka Tuan besar Huang saat itu?


Sungguh malam yang sangat sibuk, seperti sudah diceritakan sebelumnya, orang-orang Tuan besar Huang menjelajahi seluruh Kota Wuling dan untuk beberapa hari ke depan cerita tentang Ding Tao menjadi pembicaraan paling hangat, bukan hanya di Kota Wuling, tapi disebut-sebutnya Pedang Angin


Berbisik membuat cerita itu menjadi cerita terhangat dalam dunia persilatan.


Nama Ding Tao pun terkenal sebagai jagoan pedang baru dalam dunia persilatan, sayang nama itu juga dikenal sebagai nama seorang tokoh yang tidak kenal budi dan kejam. Tapi untuk sementara kita tidak sibuk mengurusi keramaian di dunia luas, kita harus berfokus pada apa yang terjadi di rumah kediaman keluarga Huang.

__ADS_1


Bahkan lebih tepatnya lagi, kita berfokus hanya di salah satu bagian dari kediaman keluarga Huang yang sangat luas itu.


Yaitu di kamar pribadi nona muda keluarga Huang.


__ADS_2