Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
19. Chapter 19


__ADS_3

Mereka terus Mengamati pemuda yang mereka sangka sebagai Ding Tao, tukang kebun keluarga Huang yang menghilang dua tahun yang lalu.


Mata keduanya masih mengikuti pemuda tinggi tegap itu, sampai dia menghilang di sebuah persimpangan.


―Sepertinya dia memang mengambil jalan menuju kediaman keluarga Huang, meskipun dia mengambil jalan yang sedikit lebih panjang.‖


―Hmm, benar, mungkin dia sedang mengenangkan kota ini. Dua tahun waktu yang cukup panjang dan ada banyak perubahan di sana sini. Menurutmu apa perlu kita mengikutinya lebih jauh?‖Orang yang ditanya merenung sejenak,


―Kurasa tidak perlu.


Penilaian kita rasanya tidaklah salah, sudah 18 tahun hidup mengenalnya, rasanya waktu yang 2 tahun tidak akan banyakmengubah wataknya itu. Lagipula jika benar pemuda itu Ding Tao dan dia ingin menghindari kita orang-orang keluarga Huang, tentu dia tidak akan kembali ke kota ini.‖


Orang yang tertua, yang menjadi pimpinan itu termenung sejenak sebelum mengangguk dan berbalik kembali ke arah rumah makan Hoa.


Sambil berjalan kembali dia mendesis, ―Tapi jika benar kecurigaan Tuan besar Huang tentang sebab musabab, menghilangnya dia 2 tahun yang lalu…‖


Kata-kata itu tidak dilanjutkannya, teman seperjalanannya pun tidak bertanya lebih jauh, keduanya berjalan sambil termenun membayangkan peristiwa yang akan terjadi. Tiba-tiba yang lebih muda pun bergumam, ―Sialan, kalau dipikir-pikir lebih lama, aku jadi menyesal sudah menerima penugasan ini.‖

__ADS_1


Rekannya yang lebih tua tersenyum dan tidak lama kemudian menyahut, ―Kalau aku, aku justru bersyukur menerima penugasan ini. Urusan ini…‖


Setelah terhenti sebentar dia mendesah lalu melanjutkan,


―Hahh…. Sebenarnya aku akan tidur lebih nyenyak seandainya Tuan besar Huang tidak ikut campur dalam urusan yang terkutuk ini.‖


Rekannya yang lebih muda termangu sejenak, kemudian sambil memukul bahu rekannya yang lebih tua dengan bercanda dia menyahut,


―Itu karena tulangmu sudah mulai keropos dimakan usia dan terlalu banyak kawin. Jangan-jangan nyalimu pun ikut menjadi ciut setelah binimu ada dua.‖


Demikian sambil bercanda keduanya berlalu, tapi di dalam hati mereka, tidak bisa disangkal ada degup-degup ketegangan.


Coba mengikuti kembali pemuda tinggi tegap itu, wajahnya memang serupa benar dengan Ding Tao, tentu saja dia itu Ding Tao, jika tidak untuk apa kedatangannya perlu diceritakan di sini.


Meskipun matanya jauh lebih tajam mencorong dibanding dua tahun yang lalu, tubuhnya tumbuh jauh lebih tinggi dari sebelumnya, dia tetap Ding Tao.


Seperti yang dikatakan oleh anggota termuda dari rombongan kecil itu, dia tampak lebih gagah dan berwibawa. Jika dua tahun yang lalu Ding Tao seorang pemuda yang jujur, rendah hati dan tampak canggung di sekitar orang lain.

__ADS_1


Ding Tao yang sekarang tampak lebih percaya diri, meskipun sorot matanya yang jujur masih ada di sana, diapun masih seorang pemuda yang sopan dan rendah hati, terlihat dari cara dia mengangguk dan membungkuk pada orang yang bersimpangan jalan dengan dirinya, seraya memberikan jalan terlebih dahulu pada mereka.


Cara dia berjalan sungguh jauh berbeda dengan dua tahun yang lalu.


Kalau dipikirkan memang betapa ajaib, betapa cara seseorang memandang nilai dirinya sendiri bisa mengubah penampilan seseorang begitu banyak. Meskipun dari fisik dan wajah tidaklah berbeda, tapi dari cara berjalan dan berlaku, dari sorot mata dan ekspresi wajah, seseorang yang memiliki keyakinan pada dirinya seringkali memancarkan kharisma yang berbeda.


Ding Tao yang saat itu terhanyut dalam kenangannya pada kota tempat dia lahir dan dibesarkan, sesungguhnya tidak kalah tegang dengan kedua orang dari keluarga Huang yang melihatnya tadi.


Setiap langkah dia semakin dekat pada kediaman keluarga Huang, semakin dekat, semakin kencang pula debaran di jantungnya.


Bagaimana tanggapan Tuan besar Huang nantinya? Apa yang harus dia ceritakan tentang kejadian dua tahun yang lalu?


Apakah Tuan besar Huang akan marah kepadanya? Percayakah mereka pada ceritanya?


Dan tidak terucapkan bahkan dalam benaknya, tapi seperti arwah penasaran terus menghantui di belakang layar, bagaimana tanggapan Nona muda Huang kepada dirinya sekarang ini?


Ketika akhirnya dia sampai di ujung jalan tempat di mana kediaman keluarga Huang berada, tanpa terasa kakinya berhenti berjalan. Gerbang rumah sudah terlihat dari kejauhan, tinggal beberapa langkah lagi dia akan sampai di sana. Tapi yang beberapa langkah itu rasanya jauh lebih berat dari ribuan li yang sudah dia tempuh berhari-hari sebelumnya.

__ADS_1


Tanpa terasa dia teringat pada pembicaraannya dengan Gu Tong Dang beberapa minggu yang lalu, sebelum dia pergi untuk menengok kembali keluarga Huang.


Saat itu Gu Tong Dang tampak jauh lebih tua dan lemah dari Gu Tong Dang dua tahun yang lalu. Berdua mereka hidup dengan sangat sederhana dalam suasana yang penuh


__ADS_2