Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
32. Chapter 32


__ADS_3

Ini pengalaman yang berharga buat Ding Tao, baru setelah lewat berpuluh jurus, barulah Ding Tao bisa menyesuaikan diri dengan gaya permainan Wang Sanbo yang bagaikan angin puyuh, membadai tiada henti.


Perlahan-lahan Ding Tao kembali bisa menerapkan pemahamannya akan ilmu yang sudah dia pelajari dalam pertarungan yag dia jalani.


Seperti pada saat melawan Zhu Lizhi, sedikit demi sedikit Ding Tao mulai menebarkan perangkap bagi Wang Sanbo, bedanya dia tidak sempat berpikir terlalu panjang, dia dipaksa untuk menentukan sikap dalam hitungan kejapan mata. Beberapa kali sempat juga pukulan dan tendangan Wang Sanbo mampir di tubuhnya.


Karena pilihannya terkena pukulan atau terkena tusukan atau sabetan pedang dan Ding Tao memilih yang pertama.


Sebenarnya akibat yang dihasilkan tidak jauh berbeda karena pedang yang mereka gunakan adalah pedang kayu, tapi dalam benak pemuda itu, pertandingan ini adalah bagian dari pembelajaran untuk menghadapi pertarungan yang sesungguhnya. Pertandingan dengan kayu ini adalah bagian dari ujian terhadap dirinya, apakah dia benar-benar mampu mengemban tugas gurunya untuk membinasakan Ren Zuocan.


Dan dalam pertarungan yang sesungguhnya jika dia harus memilih luka mematikan dari senjata tajam atau memar di tubuh, tentu dia memilih yang kedua.


Meskipun demikian tidak ada serangan Wang Sanbo yang benar-benar masuk dengan telak. Pukulan dan tendangan yang mampir di tubuh Ding Tao tidaklah telak mengenai daerah yang berbahaya seperti ulu hati atau jantung, yang bisa menimbulkan luka dalam.


Bahkan jika pertandingan ini adalah pertarungan yang sesungguhnya, dengan pedang baja yang tajam, mungkin sudah sejak beberapa waktu yang lalu jago tua ini mati oleh pedang Ding Tao.


Bagaimana tidak, entah sudah berapa sering Wang Sanbo meyerang tanpa mempedulikan ancaman pedang Ding Tao.


Tidak seperti Ding Tao yang bersikap seakan-akan menghadapi pedang yang sesungguhnya, Wang Sanbo justru memanfaatkan kenyataan bahwa yang mereka pakai adalah pedang kayu. Bisa jadi akan membuat tulang retak atau patah, tapi Wang Sanbo masih cukup yakin pada keliatan tubuhnya yang ditopang hawa murni.

__ADS_1


Bahkan untuk membuktikan hal itu ada satu dua kali, di mana ujung pedang Ding Tao sempat pula mampir di tubuh jago tua ini.


Jago tua ini bukannya tidak memahami hal ini, sebenarnya sudah sejak berapa jurus yang lalu, rasa kagum yang jujur muncul dari dalam hatinya. Hanya saja wataknya yang keras tidak mengijinkannya berhenti sebelum Ding Tao berhasil


menjatuhkan dirinya dengan telak.


Tapi seperti Zhu Lizhi yang perlahan tapi pasti jatuh dalam permainan jurus Ding Tao, Wang Sanbo pun tanpa sadar telah masuk dalam perangkapnya.


Dalam gerak terakhirnya, Ding Tao telah berhasil menempatkan Wang Sanbo di posisi yang dia inginkan. Dengan sengaja sebuah lobang pertahanan dia tunjukkan. Bagi Wang Sanbo sebenarnya tidak ada pilihan lain kecuali menyerang lobang pertahanan tersebut. Jika tidak maka dari posisi pedangnya yang sekarang Ding Tao bisa menyerang ubun-ubun jago tua itu.


Ibarat orang bermain catur, tinggal selangkah lagi dan Wang Sanbo terkena skak-mat. Apapun langkah yang dia pilih, tidak nanti dia bisa lepas dari serangan maut Ding Tao.


Wang Sanbo yang melihat lobang di pertahanan Ding Tao, memaksakan diri untuk menyerang, meskipun pada saat itu kedudukannya tidaklah menguntungkan. Untuk menyerang Ding Tao dia harus melakukan bergerak memutar dan untuk sekian kejap punggungnya akan terbuka lebar.


Gerakannya sebat, kakinya menyambar bagai kilat, tapi sayang sasaran yang dituju tidak ada di sana. Dengan cepat Ding Tao maju untuk memotong gerakan Wang Sanbo dan dengan sebuah serangan yang cepat, 3 sabetan pedang mampir di tubuh jago tua itu.


Satu di punggungnya, satu di pundaknya dan yang terakhir dengan indahnya bergerak seperti seorang kekasih yang membelai leher jago tua itu dari kiri ke kanan.


Seandainya saja Wang Sanbo punya penyakit jantung, mungkin saat itu juga jantungnya berhenti berdetak.

__ADS_1


Ketegangan jago tua itu bagaikan meledak saat dia merasakan pedang Ding Tao membelai lehernya. Bisa dia bayangkan jika Ding Tao memegang pedang yang sesungguhnya, tentu lehernya sudah menggelinding di lantai.


Jagoan tua itu pun menutup matanya untuk sesaat, untuk menenangkan diri sekaligus mengatur kembali nafasnya yang sudah memburu.


Saat dibukanya mata, terlihatlah di hadapannya Ding Tao yang berdiri dengan serba salah.


―Paman Wang…uhm… maafkan anak Ding.‖


―Heh… kau menang.‖,


ujar jago tua itu dengan singkat sebelum keluar dari arena pertandingan.


Untuk sesaat ******* nafas terdengar memenuhi ruangan itu, terutama dari mereka yang masih berumur muda. Rupanya pertandingan tadi telah menyita segenap perhatian mereka dan mencapai klimaksnya saat Ding Tao mengakhirinya dengan serangan yang mematikan.


Dari wajah-wajah mereka mudah saja dilihat siapa yang bersimpati dan sekarang menjagoi Ding Tao, dan siapa yang masih mengharapkan kemenangan dari keluarga Huang.


Anehkah jika sebagian besar generasi muda yang menyaksikan pertandingan itu mendukung Ding Tao dalam hati kecilnya? Ikut cemas saat Ding Tao sepertinya akan mengalami kekalahan dan bersorak dalam hatinya saat Ding Tao berhasil mengalahkan Wang Sanbo? Lepas dari kesetiaan mereka terhadap keluarga Huang dan kelompok sendiri, saat ini Ding Tao mewakili perubahan, mewakili generasi mereka. Apalagi Ding Tao pernah 18 tahun hidup bersama mereka, sehingga tidaklah sulit bagi para orang muda ini untuk menerima Ding Tao sebagai sosok yang mewakili diri mereka.


Perlukah kita menengok pada Huang Ying Ying? Rasanya hal itu tidak diperlukan, kalau mereka yang memandang Ding Tao sebelah mata saja, sekarang ini terdorong untuk mengagumi bahkan mendukung pemuda itu, tentunya pembaca bisa membayangkan sendiri bagaimana perasaan Huang Ying Ying sekarang ini.

__ADS_1


Tiga pertarungan sudah dilalui, masih berapa banyak lagi yang harus dia hadapi?


Tiong Fa yang bisa melihat bagaimana di setiap kemenangan, simpati kepada Ding Tao semakin bertambah, menggerutu dalam hatinya. Dengan perhitungan yang dingin, dia merasa sudah cukup mengetahui tingkatan Ding Tao. Cukup satu kali lagi pertandingan yang menguras tenaga dan dia akan maju sendiri untuk mengakhiri perlawanan anak muda itu.


__ADS_2