
Suara Murong Yun Hua terdengar dingin saat dia bertanya pada Murong Huolin,
―Adik Huolin, apa yang sedang kaulakukan di sini, mengapa kau menghunus pedang seperti itu?‖
―Kakak… aku.. aku hendak mencincang … mencincang pemuda tidak tahu terima kasih ini!‖, jawabnya dengan pedang teracung ke arah Ding Tao.
Wajah Murong Yun Hua memucat mendengar jawaban Murong Huolin, tapi dengan kemauan yang keras, dia berusaha bersikap tetap tenang,
―Boleh aku tahu mengapa kau hendak mencincang Saudara Ding Tao?‖
―Dia… dia…, dia sudah menghina kakak…‖, jawab Murong Huolin dengan suara lemah.
Sebenarnya gadis ini tidak benar-benar tahu apa yang terjadi, hanya dia tahu keduanya sempat bercakap-cakap sebelum Ding Tao pergi meninggalkan Murong Yun Hua menangis dalam keadaan tidak keruan.
Menggigit bibir Murong Yun Hua berusaha menahan isak yang hendak melompat keluar.
―Gadis bodoh, dia tidak melakukan apa-apa padaku…‖, katanya dengan mata kembali membasah.
―Tapi, kulihat dia berlari dan kakak…‖, terbata Murong Huolin berusaha membela diri.
―Jangan memutuskan sesuatu jika kau belum tahu dengan jelas. Yang terjadi adalah… aku… aku… menawarkan warisan keluarga Huang pada Saudara Ding Tao dan dia menolaknya.‖, jawab Murong Yun Hua dengan isak tangis tertahan di antara kata-katanya.
Membelalak terkejut wajah Murong Huolin, wajahnya bersemu merah, apa arti kata Murong Yun Hua dia mengerti dengan jelas apa maksudnya.
―Kakak… itu… ah…‖, gadis itu menutup wajahnya dengan rasa malu yang tak tertahan.
Murong Huolin tidak dapat melanjutkan perkataannya, pedangnya lepas dan jatuh ke atas tanah, gadis itu berlari kecil bersembunyi di belakang tubuh Murong Yun Hua. Murong Yun Hua menatap tajam ke arah Ding Tao yang menunduk diam.
―Saudara Ding, sudah tidak ada lagi yang kusembunyikan darimu…, mungkin aku memang tidak berharga di matamu, seorang janda muda yang sudah tidak suci lagi. Tapi tidakkah hatimu sedikitpun tergerak bagi Adik Huolin?‖
―Enci Yun Hua, sungguh bila aku menolak, hal itu bukan karena aku tidak memiliki perasaan pada kalian berdua. Masalahnya adalah aku sudah memiliki seorang kekasih.‖, jawab Ding Tao memohon pengertian Murong Yun Hua.
Murong Huolin yang bersembunyi di belakang tubuhnya, entah mengapa merasa hatinya sakit. Saat mendengar Murong Yun Hua hendak menyerahkan warisan keluarga Murong pada Ding
Tao ada perasaan senang dalam hatinya. Itu sebabnya dia merasa malu, merasa malu karena hatinya gembira mendengar dirinya hendak diberikan pada Ding Tao. Sekarang saat dia mendengar Ding Tao menolak tawaran itu karena dia sudah memiliki kekasih, timbul perasaan sedih dalam hatinya.
__ADS_1
Murong Yun Hua terdiam sejenak,
―Ding Tao jangan membuat alasan yang mengada-ada, benarkah engkau sudah memiliki kekasih. Kalaupun iya, lalu apa salahnya menerima tawaranku?
Bukan suatu hal yang aneh jika seorang laki-laki memiliki lebih dari 1 isteri.‖
Ding Tao menggelengkan kepala perlahan, ―Mungkin itu hal yang umum, tapi dalam hati, sejak aku menyatakan rasa cintaku padanya, aku sudha berjanji akan setia pada cintaku itu, seumur hidupku, hanya mencinta dia seorang.‖
Ding Tao sedang menundukkan kepala dan Murong Huolin yang berdiri di belakang Murong Yun Hua sedang sibuk dengan perasaannya sendiri. Ada rasa benci dan kesal, tapi juga rasa kagum dan cinta, jawaban Ding Tao membuatnya kecewa dan kagum pada saat yang bersamaan.
Terbata Murong Yun Hua bertanya,
―Apakah… apakah dia seorang gadis yang sangat cantik? Seorang yang ahli di bidang seni? Ahli silat? Atau… keluarganya… kekayaan keluarganya mampu menandingi kekayaan keluarga Murong?‖
Ding Tao menggelengkan kepala, sedari tadi dia terus menunduk, dia tidak memiliki keberanian untuk mengangkat wajah dan memandang ke arah Murong Yun Hua,
―Tidak, dia memang gadis yang cantik, tapi tidak secantik Enci Yun Hua atau Adik Huolin. Dia bukan ahli seni atau ahli silat, namun dia gadis yang berhati baik. Sejak kecil dia sudah baik terhadapku. Aku juga tidak peduli dengan kekayaan keluarganya, aku masih bisa mencari makan dengan kedua tanganku sendiri. Hanya satu hal yang kutahu, aku mencintainya dan dia mencintaiku. Kami sudah berjanji untuk saling setia.‖
Murong Huolin memaki dirinya sendiri dalam hati, entah mengapa semakin Ding Tao berkeras, justru dia semakin bersimpati pada pemuda itu, semakin dia ingin bisa membahagiakan pemuda itu, menyerahkan…, mukanya menjadi panas. Gadis itu menggigit bibirnya keras-keras.
Dua pasang telinga dipasang baik-baik, ingin tahu apa jawaban Ding Tao. Yang sepasang tentunya milik Murong Yun Hua dan sepasang lainnya adalah sepasang telinga milik Murong Huolin.
Ini pertama kalinya Murong Huolin mengerti rasanya jatuh cinta. Begitu sengsara, begitu memabukkan, menyakitkan tapi tidak bisa dilupakan.
―Huang Ying Ying, puteri dari Tuan besar Huang Jin, sejak kecil dia sudah baik pada diriku. Bahkan ketika aku hanya seorang pelayan di sana.‖
Selesai menjelaskan panjang dan lebar, setelah semuanya dibuka, entah dari mana ada rasa lega timbul dalam hati Ding Tao. Pemuda itu akhirnya menengadahkan wajahnya, menatap langsung pada Murong Yun Hua, bukan pandangan menghina, tapi pandangan penuh pengertian, seakan berkata, aku bisa merasakan kepedihanmu, jika aku menyakitimu, hal itu pun meyakitiku berkali-kali lipat.
Ditatap Ding Tao seperti itu Murong Yun Hua memalingkan wajahnya, tiba-tiba dia berjalan ke arah kudanya tertambat. Diambilnya buntalan pakaian Ding Tao, pedang dan bekalnya di kantong yang terikat di sana. Dengan membawa itu semua dia berjalan ke arah Ding Tao.
Suaranya lirih saat dia berkata,
―Ini barangmu ada yang tertinggal, pergilah, kuharap kau tidak mengingat-ingat dengan buruk apa yang terjadi hari ini. Pergilah, tapi ingatlah, kapanpun kau datang, rumah kami terbuka bagimu.‖
Menerima barang-barang itu dari Murong Yun Hua, Ding Tao mengangguk terharu,
__ADS_1
―Aku mengerti Enci Yun Hua, terima
kasih.‖
Kepalanya tertunduk, malu, Murong Yun Hua ragu-ragu dan tangannya sedikit gemetar, saat dia perlahan meraih tangan Ding Tao dan menggenggamnya,
" Adik Ding…, berjanjilah, kau tidak mengingatku dengan buruk… apa yang kulakukan tadi…‖
Ding Tao meremas tangan Murong Yun Hua dengan hangat,
―Aku akan selalu mengingatmu sebagai seorang enci yang baik, Enci Yun Hua.‖
Murong Yun Hua menengadahkan kepala dan pandang mata mereka bertemu. Hati Ding Tao tergetar, melihat pandang mata Murong Yun Hua yang penuh kesedihan, cinta dan gairah yang tertahan. Tiba-tiba di luar dugaannya, Murong Yun Hua mencondongkan tubuh ke arahnya, berjinjit dan bibirnya yang merah basah itu tiba-tiba sudah bertemu dengan bibirnya.
Dengan bibir sedikit terbuka, Ding Tao bisa merasakan lidah Murong Yun Hua menyapu bibirnya. Ding Tao bereaksi sebelum dia dapat berpikir, sejak awal bertemu dia sudah terpesona pada kecantikan Murong Yun Hua. Sebagai laki-laki, lepas dari komitmennya untuk memberikan hatinya hanya bagi Huang Ying Ying, keinginan itu ada dalam dirinya. Seandainya tidak ada Huang Ying Ying, tanpa ragu lagi dia akan menerima cinta Murong Yun Hua. Masih teringat di benaknya betapa hancur hati Murong Yun Hua oleh penolakannya, terlihat di matanya gairah dan cinta yang membara dan memuja dalam
tatapan mata Murong Yun Hua, tidak ada lain yang bisa dilakukan Ding Tao.
Untuk sesaat Huang Ying Ying hilang dari ingatan dan hatinya, dengan sepenuh hati dibalasnya ciuman Murong Yun Hua dengan gairah yang sama.Sesaat lamanya tubuh mereka merapat, sebelum dengan lembut dan nafas terengah Murong Yun Hua menjauhkan diri.
Debaran yang sama, gairah yang sama, dengan wanita yang berbeda, sebagian kecil dari dirinya mencela apa yang dia rasakan saat itu. Tapi Ding Tao tidak menyesali apa yang sudah dia lakukan saat dia melihat seulas senyum di wajah Murong Yun Hua yang sendu.
―Terima kasih… ingatlah aku seperti ini…‖, bisik Murong Yun Hua.
Berpaling cepat-cepat Murong Yun Hua menggamit Murong Huolin dan dengan gesit menaiki kudanya,
―Adik Huolin mari pulang.‖
Murong Huolin menengok sekejap ke arah Ding Tao, saat mata mereka bertemu, hatinya berdebaran kencang, dengan muka tersipu gadis itu berlari dan menaiki kudanya. Hati gadis ini meronta-ronta tanpa dapat dia mengerti. Dia tahu Ding Tao sudah menjadi milik orang lain, tapi saat dia melihat Ding Tao berciuman dengan Murong Yun Hua, ingin rasanya dia menjatuhkan diri di dada Ding Tao yang bidang dan melakukan hal yang sama. Tanpa menunggu Murong Yun Hua, dengan hati yang kacau balau, dia memacu kudanya pulang ke rumah.
Murong Yun Hua segera mengikuti adiknya, namun baru beberapa langkah kudanya berjalan gadis itu berpaling ke arah Ding Tao yang masih berdiri menunggu.
―Adik Ding, salahkah aku jika terus menantimu? Salahkah aku jika aku mencintaimu?‖, tanpa menunggu jawaban dari Ding Tao dia pergi, memacu kudanya menyusul Murong Huolin yang sudah jauh di depan.
Ding Tao berdiri termangu, hatinya meragu, adakah dia sudah mengambil keputusan yang benar? Sudah hal yang umum jika seorang laki-laki memiliki lebih dari 1 isteri, mengapa dia tidak bisa menerima cinta Murong Yun Hua dan Huang Ying Ying bersamaan. Gairahnya menyala membayangkan hal itu, kepalanya menggeleng cepat, karena apa artinya cinta dan kesetiaan jika lelaki bisa membagi cintanya sesuka hatinya?
__ADS_1