Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
58. Lari...


__ADS_3

Bukan main geramnya sepasang Iblis itu, apa yang berhasil dilakukan Ding Tao berada di luar dugaan mereka. Belum pernah mereka menghadapi perlawanan semacam ini. Melihat pertarungan yang tidak nampak kapan akan berakhir, sepasang


Iblis itu pun memutuskan untuk berganti strategi, mengepung Ding Tao dari dua arah yang berlawanan justru berhasil dimanfaatkan Ding Tao untuk mencegah kerja sama yang apik di antara sepasang iblis itu.


Iblis jantan berupaya untuk mengubah posisi mereka menjadi segitiga, dengan dirinya dan Iblis betina menyerang dari arah yang sama. Tapi seperti sudah dikatakan sebelumnya, Ding


Tao yang sedang berada di atas angin mampu memaksa iblis betina untuk bergerak ke arah yang dia inginkan.


Permainan taktik dalam jurus-jurus yang dilancarkan kini berubah bentuknya. Ding Tao yang berusaha mempertahankan kedudukan mereka dan sepasang Iblis itu yang berusaha mengubah posisi.


Serangan Iblis jantan pun berubah sifatnya, tidak lagi serangannya ditujukan untuk menyerang titik kematian Ding Tao, melainkan lebih berfokus untuk menggempur kedudukan pemuda itu, berusaha memaksa Ding Tao untuk melepaskan tekanannya atas iblis betina.


Sepasang iblis itu menang pengalaman dibanding Ding Tao, iblis jantan pun menang tenaga dibanding pemuda itu. Apalagi dengan kondisi Ding Tao yang tidak bisa mengerahkan hawa murni dengan leluasa.


Perlahan-lahan taktik Ding Tao mulai dipatahkan dan kedudukan mereka pun mulai berubah. Hati sepasang iblis itu pun menjadi semakin girang melihat arah perkembangan pertarungan itu.


Pada satu serangan yang terencana Iblis jantan akhirnya berhasil mendesak Ding Tao keluar dari garis lurus antara dirinya dan pasangannya. Iblis betina pun dengan cepat mengubah kedudukan dan merapat pada Iblis Jantan.


Tanpa terasa sepasang iblis itu pun bersorak,


" Nah, kena kau!"


Betapa kaget hati mereka ketika Ding Tao tidak terlihat cemas dengan perkembangan itu, sebaliknya pemuda itu melepaskan serangan yang hebat, memaksa keduanya mundur setengah langkah, kemudian dengan gerakan yang gesit pemuda itu melemparkan dirinya bergulingan keluar dari rumah makan.

__ADS_1


" Selamat tinggal iblis jelek!!!",


seru pemuda itu sambil tertawa terbahak-bahak.


Barulah keduanya sadar, sudah salah mengambil keputusan. Dengan mengubah posisi mereka menjadi sejajar, bersama-sama menghadapi Ding Tao dalam satu sisi yang sama, memang pertahanan dan serangan mereka bisa menjadi lebih kuat. Iblis jantan akan lebih mudah untuk membantu iblis betina, tatkala pasangannya itu didesak oleh serangan-serangan Ding Tao.


Tapi pada saat yang sama, pergerakan mereka itu akan membuka celah bagi Ding Tao untuk melarikan diri. Dan dengan cerdiknya pemuda itu sengaja menunggu hingga dirinya berada di dekat pintu keluar rumah makan, sebelum dia berpura-pura kalah dalam perebutan kedudukan.


Pucatlah wajah keduanya, dari bergirang karena merasa berhasil memaksa Ding Tao membatalkan taktik bertarungnya, berubah menjadi rasa kaget dan sesal.


Setelah pulih dari rasa kagetnya, bergegas keduanya memburu keluar, berusaha mengejar Ding Tao yang sudah sempat berlari dan bersembunyi dalam kerumunan orang di luar.


Untung mereka cukup cepat dalam bergerak, meskipun sudah berada cukup jauh, tapi kepala Ding Tao yang menyembul di antara kepala-kepala yang lain masih sempat terlihat. Kedua iblis itu pun segera mengemposkan semangat dan bergerak mengejar.


Ding Tao yang masih belum paham betul jalan-jalan di kota ini, bergerak tanpa memilih tujuan. Semakin ramai dan semakin tajam dan rumit simpangan-simpangan yang ada, semakin baik, itu saja yang ada dalam pikirannya. Beruntung jarak antara Ding Tao dan sepasang iblis itu cukup jauh, memanfaatkan kekagetan sepasang iblis itu sebelumnya. Tapi sayang, ilmu meringankan diri Ding Tao masih dua usap di bawah sepasang Iblis itu.


Beberapa kali Ding Tao sempat lenyap dari pandangan mereka, memanfaatkan jalan sempit dan tikungan-tikungan yang ada. Sayangnya Ding Tao tidak tahu, bagian mana dari kota yang akan menguntungkan dirinya untuk menghilangkan jejak.


Beberapa kali pula dia salah memilih tikungan dan sampai di jalan utama yang lebar dan lurus, membuat dia lebih mudah diikuti.


Sementara jarak di antara mereka, sedikit demi sedikit semakin mengecil. Pemuda yang banyak akal itu pun memutar otaknya keras. Satu tipuan yang cerdik sempat dia lakukan, ketika sampai di sebuah perempatan yang cukup ramai. Ding Tao berlari cepat berbelok ke simpangan ke arah kanan, kemudian setelah tikungan itu menutupi dirinya dari pandangan mata sepasang iblis itu, dia merendahkan tubuhnya dan berlari secepat-cepatnya menuju ke simpangan yang berlawanan arah.


Nekat memang, tapi kenekatannya membuahkan hasil, meskipun jantungnya sempat hampir melompat keluar saat mereka berpapasan. Untung sepasang iblis itu tidak melihat dirinya yang sedang berlari sambil merunduk-runduk di balik gerobak penjual mie yang sedang berjualan.

__ADS_1


Jarak di antara mereka pun mulai membesar, karena mereka berlari ke arah yang berlawanan. Sayang nasib Ding Tao kurang begitu baik, saat menoleh untuk melihat posisi sepasang Iblis itu, Ding Tao menabrak orang dengan tidak sengaja.


" He keparat! Kau taruh di mana matamu!", maki orang itu dengan kesal.


Ding Tao yang sedang terburu-buru tidak ingin terjebak denganhal yang tidak perlu, cepat-cepat meminta maaf sambil terus berlari. Tapi orang yang ditabraknya tidak dengan mudah memberi maaf, berbagai maki-makian dilemparkan ke arah Ding Tao dengan suara keras, menarik perhatian sepasang iblis untuk menengok ke belakang.


Kejar-kejaran itu pun kembali berlangsung dengan sengitnya.


Nafas Ding Tao sudah mulai memburu, seluruh tubuhnya basah oleh keringat, pemuda itu hampir putus asa dan berniat untuk membalik badan lalu menerjang. Meskipun dia tahu bahwa dia belum mampu menang melawan sepasang iblis itu. Dalam keadaan yang hampir putus asa itu tiba-tiba, sebuah kereta menghadang jalan Ding Tao.


Ding Tao yang sedang berlari kencang hampir saja menabrak kereta itu.


Baru saja pemuda itu hendak berbalik arah, pintu kerete terbuka dan satu suara yang halus dan lembut memanggilnya,


" Sstt… cepat masuk ke mari"


Tertegun Ding Tao, membeku di tempat, matanya memandang dengan rasa tidak percaya. Di dalam kereta ada dua orang gadis berpakaian sutra halus yang mewah. Yang seorang bajunya berwarna merah, mengenakan jubah sutra dengan sulaman warna-warni yang mengingatkan pada warna daun di musim gugur, diikat dengan ikat pinggang dari kain sutra berwarna merah menyala. Matanya yang lincah berkilat nakal, bibirnya tipis dengan senyum setengah mengejek tersungging di sana. Gadis yang seorang lagi mengenakan jubah sutra berwarna putih, baju dan ikat pinggangnya juga berwarna putih, di tangannya ada kipas gading yang dibuka, menutupi sebagian wajahnya, hingga yang terlihat hanyalah sepasang matanya yang jeli, dihiasi sepasang alis dan bulu mata yang lentik.


Tidak sabar menunggu Ding Tao, gadis berjubah musim gugur, menjulurkan tangannya dan menarik Ding Tao ke dalam kereta.


Tenaga gadis itu jauh di bawah Ding Tao, tapi masih tertegun dengan kejadian yang mengejutkan itu, terlena oleh kecantikan kedua gadis itu dan merasa tidak ada jalan lain untuk lepas dari pengejaran sepasang Iblis muka giok, Ding Tao mandah saja saat ditarik masuk ke dalam kereta.


Begitu Ding Tao masuk, dengan cepat pintu kereta ditutup, dari balik tirai Ding Tao masih sempat melihat sepasang iblis itu muncul dari sebuah tikungan.

__ADS_1


__ADS_2