
Ding Tao sedang makan di sebuah rumah makan kecil di kota Jiang Ling, bekal uangnya masih cukup, tapi pemuda itu tidak suka menghamburkan uang. Membantu Wang Xiaho mengawal barang, pemuda itu justru jadi berminat untuk mengumpulkan uang sebisa mungkin. Tawaran Wang Xiaho membekas kuat dalam benak pemuda itu.
Dia pun sudah membayangkan akan mengembangkan Biro Pengawalan Golok Emas milik Wang Xiaho. Selama ini dia belum pernah berpikir, apa yang akan dia kerjakan selain berusaha menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Gu Tong Dang. Tapi setelah berkelana beberapa lamanya, melihat penghidupan yang ada, apalagi setelah hubungannya dengan Huang Ying Ying berkembang, pemuda inipun mulai memikirkan akan penghidupannya di masa depan.
Tidak pernah lewat dalam benak pemuda ini untuk mendompleng kekayaan keluarga Huang, ataupun memanfaatkan kekayaan keluarga Murong. Ding Tao punya harga diri, sebagai laki-laki dia ingin bisa berdiri di atas kedua kakinya sendiri, bukan bersandar pada kesuksesan orang lain.
Itu sebabnya pemuda ini berniat untuk berhemat dan
mengumpulkan uang dalam perjalanannya. Supaya nanti jika dia datang untuk memenuhi tawaran Wang Xiaho, dia tidak datang dengan tangan kosong, sekedar memanfaatkan kebaikan orang. Tidak terpikir oleh Ding Tao, betapa besar artinya ilmu silat yang dia miliki bagi Biro Pengawalan Golok Emas milik Wang Xiaho, berkali-kali lipat dari uang yang berhasil dia kumpulkan.
Ding Tao sedang menikmati semangkuk mie, ketika A Sau dan A Chu menemukannya. Sudah cukup lama mereka berputar-putar di kota, keringat sudah membasahi baju mereka dan tenggorokan mereka sudah mulai merasa haus. Ding Tao yang duduk menghadap jalan, melihat mereka lebih dahulu.
Keduanya sudah menjadi teman akrab buat Ding Tao, karenanya tanpa banyak berpikir Ding Tao menghampiri mereka.
" Hei, A Sau, A Chu, sedang mencari siapakah?", panggil Ding Tao sambil melambaikan tangan dari pintu rumah makan.
Mendengar panggilan Ding Tao, keduanya dengan perasaan senang bergegas menemui pemuda itu.
" Saudara Ding, akh, akhirnya ketemu juga.", sapa A Sau sambil menepuk bahu Ding Tao.
" Saudara Ding, Ketua Wang meminta kami untuk mencarimu ada hal penting yang perlu disampaikan.", sambung A Chu.
" Ah, ada urusan apa ya?", tanya Ding Tao sedikit heran.
Raut wajah A Sau dan A Chu jadi sedikit berubah, diingatkan kembali tentang urusan pelik yang mereka hadapi.
" Sebaiknya Ketua Wang saja yang bicara Ding Tao, daripada kami kesalahan bicara.", jawab A Sau dengan serius.
Melihat keseriusan wajah A Sau, Ding Tao merasakan bahwa urusan yang akan dibicarakan tentu bukan masalah kecil. Tapi melihat keduanya basah oleh keringat, hatinya jadi tak tega.
"He, aku sedang makan waktu melihat kalian, bagaimana kalau kuselesaikan makanku dulu, sembari kalian memesan minuman?"
"Wah, boleh juga, sudah sejak tadi kami berputar-putar mencarimu, tenggorokan kami sampai terasa kering.", ujar A Chu yang kemudian tanpa sungkan-sungkan memanggil pelayan dan memesan minuman.
__ADS_1
"Dasar gembul, kau pesan minuman apa kau bawa uang?", tanya A Sau. Diingatkan A Sau, A Chu pun jadi teringat, keduanya tidak membawa uang sedikitpun. Dengan pandangan bersusah hati A Chu menoleh pada Ding Tao,
" Ya… ", Ding Tao tertawa melihat pandangan mata A Chu yang memelas,
" He, hari ini aku yang bayari minuman kalian. Ketua
Wang membayarku cukup banyak. Ayo tidak usah sungkan."
" Nah itu baru saudara yang baik.", ujar A Chu sambil cengengesan.
" Jangan banyak-banyak, perutmu nanti kembung.", sahut A Sau sambil menendang pantat A Chu.
Melihat tingkah mereka berdua Ding Tao tertawa geli,sebenarnya mie yang sudah dia pesan sudah hampur habis, tapi dimakannya perlahan-lahan sambil menunggu sampai minuman yang dipesan datang.
" Eh, apakah kalian mau makan mie juga?‖, tawar Ding Tao.Cepat-cepat A Sau membuka mulut sebelum A Chu sempat menjawab,
" Sudah-sudah, kami sudah makan di tempat orang tadi. Cuma sedikit haus saja karena berkeliling mencari dirimu. Kalau kau sudah selesai makan, baiknya kita cepat-cepat kembali."
Dalam waktu singkat ketiga pemuda dengan umur yang hampir sama itu sudah berjalan menuju ke rumah Chen Wuxi. Di jalan A Sau dan A Chu tidak henti-hentinya bertanya tentang pengalaman Ding Tao sebelum bertemu mereka. Benarkah Ding Tao pernah bertarung dengan Sepasang Iblis muka Giok?
Seperti apa bentuknya Pedang Angin Berbisik itu? Apa benar ada yang merebut Pedang Angin Berbisik dari Ding Tao? Apakah sekarang Ding Tao pergi ke Wuling untuk merebut kembali pedang itu? Mengapa sebelumnya Ding Tao pergi dari Wuling? Dsb.
Ding Tao pun jadi kerepotan menjawab pertanyaan mereka. Pada dasarnya dia tidak pandai menyembunyikan sesuatu, apalagi di hadapan mereka yang dipandangnya sebagai sahabat. Meskipun Ding Tao berusaha menutupi sebagian dari kisahnya, sedikit banyak gambaran yang lebih jelas terbentuk dalam angan-angan A Sau dan A Chu. Menimbulkan kekaguman yang lebih mendalam di hati kedua pemuda itu.
Sambil bercakap-cakap, perjalanan jadi terasa singkat. Tiba-tiba mereka sudah sampai di gerbang rumah Peguruan Bangau Putih milik Chen Wuxi.
Kedatangan mereka segera disambut oleh beberapa orang murid Perguruan Bangau Putih dan orang Biro Pengawalan Golok Emas.
" He, A Sau lama sekali kau pergi, ayo cepat masuk ke dalam, Ketua Wang sudah menunggu lama.", ujar salah seorang dari mereka.
" Ya, ya, kau kira gampang mencari orang di kota sebesar ini.", sahut A Sau,
" Ayo Ding Tao, kita masuk ke dalam."
__ADS_1
Ding Tao mengangguk sopan pada setiap orang yang dia temui. Bagi anak-anak murid perguruan Bangau Putih, kesan yang diperlihatkan Ding Tao membuat mereka ragu, apakah ini Ding Tao yang sama dengan Ding Tao yang diceritakan guru mereka. Penampilan Ding Tao memang tidak terlampau meyakinkan untuk disebut sebagai jago pedang. Tubuh tinggi dan berotot, tentu bukan jaminan, apalagi bagi murid-murid Perguruan Bangau Putih yang mementingkan tenaga lembut.
Meski mereka tetap bersikap sopan, tidak urung ada
pandangan-pandangan mata yang meragukan keaslian Ding Tao yang datang berkunjung ini.
Berbeda dengan orang-orang Biro Pengawalan Golok Emas yang sempat beberapa hari mengadakan perjalanan bersama Ding Tao. Kesan rendah hati dan keramahan pemuda itu sudah membuat mereka bersimpati, sebelum mereka mulai mendengar kisah pertarungan Ding Tao. Meskipun demikian dalam hati mereka terselip juga keraguan yang sama. Tapi keraguan itu segera saja tertutupi oleh sikap baik Ding Tao pada mereka selama ini. Apalagi ketika A Sau dan A Chu bercerita tentang penjelasan Ding Tao di sepanjang perjalanan.
Dengan berbagai macam gambaran yang berbeda tentang diri pemuda ini, mereka sama-sama masuk menemui Wang Xiaho dan Chen Wuxi.
Segera saja Ding Tao dipersilahkan untuk duduk di meja utama bersama Chen Wuxi dan Wang Xiaho. Dengan sungkan Ding Tao memberi hormat pada kedua orang tua itu sebelum dia duduk satu meja.
Setelah berbasa-basi sebentar, Chen Wuxi yang juga merasakan keraguan pada diri pemuda itu berkata, ―Ding Tao, setelah kudengar dari beberapa kawan yang menyaksikan ilmu pedangmu, aku jadi tertarik untuk melihat sedikit demonstrasi.
" Bagaimana menurutmu?"
" Ah, tapi ilmuku belum begitu matang…", ujar Ding Tao sambil menggaruk kepala.
" Hahaha, Ding Tao apa benar kau sempat berhadapan dengan Sepasang Iblis Muka Giok?", tanya Wang Xiaho sambil tertawa.
" Ya, begitulah, tapi tidak bisa terlalu dibanggakan, akhirnya tidak ada keputusan yang jelas siapa menang dan siapa yang kalah. Malah di pertarungan kami yang pertama, siauwtee harus lari terbirit-birit bila tidak mau jatuh ke tangan mereka.", jawab Ding Tao sambil cengar-cengir malu.
" Hoo… maksudmu kau sempat bertemu dan bertarung dengan mereka sebanyak dua kali?", tanya Chen Wuxi menegas, maklum pertarungan kedua antara Ding Tao dan Sepasang Iblis Muka Giok belum ada yang tahu sampai sekarang.
" Eh, iya.. begitulah.", jawab Ding Tao serba salah.
" Ha, apa kau tidak tahu, bisa lolos dari tangan mereka saja sudah terhitung jempolan, apalagi dua kali kau pecundangi mereka. Ding Tao, tidak perlu sungkan-sungkan, aku juga sudah tidak sabar ingin melihat ilmu silatmu.", desak Wang Xiaho dengan bersemangat.
" Iya Ding Tao, peragakan saja beberapa jurus", sahut beberapa orang anak buah Wang Xiaho.
Setelah didesak beberapa kali, akhirnya Ding Tao menyerah,
" Baiklah kalau kalian ingin melihatnya, aku akan coba memperagakan sejurus dua jurus yang aku punya".
__ADS_1