
20 jurus sudah berlalu dan Ding Tao belum membuat gebrakan yang berarti.
Bahkan Feng Xiaohong pun mengerutkan alisnya, bagi seseorang yang sudah pernah menghadapi Ding Tao secara langsung, hal ini menimbulkan keheranan dalam dirinya.
Sebenarnya Ding Tao memang belum mengerahkan segenap kemampuannya, jika tadi dia menjadi terbangkit kegembiraannya saat dipaksa menghadapi jurus pamungkas yang dikeluarkan Feng Xiaohong. Saat dia menghadapi Zhu Lizhi perasaannya sudah sedikit mengendap. Tadinya dia sempat khawatir Feng Xiaohong akan merasa tersinggung dikalahkan dengan cara demikian, betapa lega hatinya saat
Feng Xiaohong ternyata bisa menerima kekalahan dengan hati terbuka.
Oleh karena itu saat menghadapi Zhu Lizhi, Ding Tao tidak terburu-buru mendesak lawannya.
Meskipun dengan mudah dia mematahkan serangan Zhu Lizhi tapi dia tidak mendesak Zhu Lizhi terlalu hebat. Sekali dua kali dia mendesak dan berhasil menempatkan Zhu Lizhi di posisi, di mana dalam benaknya terbayang bagaimana dia akan mengakhiri perlawanan Zhu Lizhi, tapi pada dua atau tiga langkah terakhir dengan sengaja dilepaskannya Zhu Lizhi.
Keputusan Zhu Lizhi untuk lebih mementingkan pertahanan, memberikan Ding Tao ruang gerak yang leluasa untuk mengembangkan permainan. Dengan tidak adanya desakan-desakan yang berarti dari Zhu Lizhi, Ding Tao jadi bebas untuk mencoba-coba, jurus-jurus yang sudah dia pelajari selama ini.
Meskipun demikian Ding Tao melakukannya dengan sangat berhati-hati, karena dia tidak ingin membuat Zhu Lizhi merasa dipermainkan. Karena itu bagi mereka yang menyaksikan, pertandingan itu tampak berimbang.
Setelah 30 jurus berlalu barulah Ding Tao memutuskan untuk mengakhiri perlawanan Zhu Lizhi. Bukan dengan pameran kekuatan atau keahlian seperti yang dia lakukan pada pertarungan pertama. Tapi justru dengan serangan-serangan yang wajar, tapi setiap serangan memiliki tujuan.
Tanpa terasa Zhu Lizhi digiring oleh serangan-serangan Ding Tao untuk sampai pada jurus tertentu dan posisi tertentu.
Ketika Zhu Lizhi menyadari bagaimana posisi di dadanya terbuka lebar dari sudut tempat pedang Ding Tao mengincar, barulah dia sadar telah masuk dalam jebakan Ding Tao.
Dalam waktu yang sekejapan itu, tiba-tiba pertarungan mereka yang sebelumnya seperti tampak jelas dalam ingatan Zhu Lizhi dan sadarlah dia, bahwa sejak tadi Ding Tao sudah melakukan hal yang sama.
Bahkan sebelum dia merasakan hantaman pedang kayu itu di dadanya, Zhu Lizhi sudah memejamkan mata mengakui kekalahan dirinya.
Dua orang sudah berhasil dikalahkan, seperti juga Feng Xiaohong Zhu Lizhi menerima kekalahannya dengan lapang dada. Apalagi di saat terakhir dia tersadar bahwa Ding Tao sudah banyak mengalah padanya dalam pertandingan tadi.
Dengan setulusnya pemuda itu membungkuk hormat pada Ding Tao,
―Selamat Saudara Ding, ilmumu ternyata sudah maju jauh melampaui kami semua yang seangkatan dengan dirimu.‖
―Ah Saudara Zhu terlampau memuji, ketatnya pertahanan Saudara Zhu sungguh membuatku kagum.‖,
Jawab Ding Tao dengan ramah.
__ADS_1
Sekilas Zhu Lizhi mengamati wajah Ding Tao, sempat timbul pertanyaan dalam hatinya apakah orang di hadapannya ini sedang hendak menyindirnya. Maklum gurunya adalah Tiong
Fa yang licin, tapi ketika terpandang wajah Ding Tao yang bersih dari segala tipu daya, senyum persahabatan pun mengembang di wajah Zhu Lizhi.
Dalam hati dia merasa takluk luar dalam pada Ding Tao, baik pada ilmu pedangnya, maupun pada watak dan karakter dari pemuda itu. Apalagi ketika dia terbayang sifat gurunya yang seringkali membuat dia selalu menebak-nebak, ada apa di balik wajah agung sang guru.
Berhadapan dengan Ding Tao, barulah Zhu Lizhi bisa merasakan seperti apa rasanya memiliki seorang sahabat yang bisa dipercaya.
Dua orang sudah dikalahkan oleh Ding Tao. Kemenangan yang kedua memang tidak segemilang kemenangan yang pertama, tapi sebagian besar dari mereka yang hadir tidak lagi memandang perkataan Ding Tao di jamuan makan sebelumnya sebagai satu kesombongan kosong dari seorang anak muda
yang tidak tahu mengukur dirinya sendiri.
Dengan sendirinya mereka yang bersimpati pada Ding Tao dan sempat terganggu oleh jawabannya saat itu, kembali bersimpati padanya.
Apalagi si nona muda yang cantik Huang Ying Ying, seandainya saja suasana di ruang latihan itu tidak begitu angkernya, mungkin sejak tadi dia sudah bersorak dan melompat-lompat mengelilingi ruangan itu.
Dalam hatinua timbul debaran-debaran aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Sejak dahulu dia sudah menyukai Ding Tao yang jujur dan sopan. Apalagi sebagai pelayan tentu saja saat bermain Ding Tao lebih sering mengalah pada Huang Ying Ying.
Menginjak remaja Huang Ying Ying bukannya tidak bisa merasakan pandangan kagum Ding Tao pada dirinya, tapi hal itu tidak mengganggunya, karena Ding Tao selalu bersikap sopan padanya. Kalaupun Ding Tao terkadang memandangi dirinya, itu dilakukan dengan sorot mata yang kagum dan bukan sorot mata yang kurang ajar.
Tentu saja siapa yang tidak senang menjadi pusat kekaguman seseorang? Dan bagi Huang Ying Ying, jadilah Ding Tao seorang pemuda yang disukainya, suka seperti seorang gadis menyukai bunga atau anjing kecil yang lucu. Kalau bunga yag indah layu atau anjing yang lucu itu terluka tentu gadis itu akan merasa sedih, tentu ada perasaan ingin melindungi atau ingin mengajak bermain anjing yang lucu itu.
Lalu sekarang pemuda itu berdiri di sana, berdiri dengan tegap tapi luwes, dengan pedang di tangan. Tubuhnya yang tinggi, semakin terlihat tinggi ketika berdiri sejajar dengan pemuda lainnya, Feng Xiaohong yang bertubuh jangkung pun hanya setinggi puncak hidungnya. Apalagi berhadapan dengan Zhu Lizhi yang hanya setinggi bahunya.
Bahunya lebar, serasi dengan tinggi badannya, jika Feng Xiaohong yang jangkung seringkali dikatainya seperti tiang jemuran, tidak demikian dengan Ding Tao.
Pakaiannya yang sederhana dan sedikit terlalu sempit, justru menonjolkan otot-otot yang liat yang tersembunyi di balik bajunya.
Alisnya tebal, matanya memancarkan kepercayaan diri, garis rahang yang kuat dan senyum yang tulus menghiasi wajah pemuda itu. Tapi betapa wajah yang sama dengan mudahnya menjadi kemerahan karena tersipu malu. Memikirkan itu semua tanpa terasa gadis muda ini mendesah rindu.
Saat dia sadar mukanya pun terasa panas, dengan sedikit rasa khawatir dia menengok ke kiri dan ke kanan, hatinya sedikit lega ketika dilihatnya perhatian semua orang sedang tertuju pada Ding Tao dan tidak ada yang sempat memergoki gerak-geriknya.
Dengan hati berdebar dan wajah sedikit memerah, gadis ini bergerak menyurut mundur, bersembunyi di balik tubuh kakaknya.
Dari situ dia baru merasa bisa memandangi Ding Tao dengan aman.
__ADS_1
Memandangi?
Apakah Ding Tao sebegitu menariknya untuk dipandangi?
Tapi mengapa dia bisa merasa seperti itu?
Ah betapa hati gadis itu semakin berdegup kencang, dengan menggigit bibir dia memaki dirinya sendiri dalam hati. Tapi sesudah itupun tanpa sadar dia kembali mengintip Ding Tao yang sedang berhadapan dengan lawannya yang ketiga
Di hadapan Ding Tao berdiri seorang jago yang sudah cukup berumur, satu dua uban nampak mencuat dari rambutnya yang tidak terikat dengan rapi. Agak berbeda dengan penampilan tokoh-tokoh lain dari keluarga Huang ini, penampilan jagoan yang satu ini memang sedikit berantakan.
Kumisnya yang tumbuh jarang-jarang tapi tiap helainya tebal seperti kawat, dibiarkan saja bermunculan ke segala arah.
Ding Tao yang harus menghadapi orang yang jauh lebih tua, membungkuk dengan hormat yang dibalas dengan anggukan yang dingin.
Wang Sanbo, orang yang terkenal diam dan tidak banyak bicara. Dalam setiap urusan tidak pakai terlalu banyak basa basi, begitu juga gaya bertarungnya. Ketika dia melihat Ding Tao tidak kunjung juga menyerang, tanpa sungkan-sungkan dialah yang pertama kali menyerang.
Menurut kebiasaan, biasanya yang lebih tua memberi kesempatan yang muda untuk lebih dulu menyerang. Kali ini Ding Tao yang serba sungkan, tidak berani menyerang lebih dulu sebelum lawannya yang lebih tua menyuruhnya demikian.
Sementara Wang Sanbo yang tidak peduli segala macam aturan, melihat Ding Tao berdiri menunggu tanpa banyak pertimbangan mendahului menyerang.
Buat Wang Sanbo tidak ada bedanya siapa yang menyerang lebih dulu, kalau Ding Tao kalah langkah karena terlambat mengambil inisiatif maka itu salah Ding Tao sendiri.
Dan tiba-tiba tanpa banyak ba bi bu, sebuah tendangan kilat dilemparkan, menggempur ke arah kaki Ding Tao. Begitu keras tendangan jago tua ini, hingga terdengar angin menderu-deru.
Setelah menghadapi dua lawan yang penuh sopan santun, tidak urung Ding Tao kaget juga saat tiba-tiba mendapatkan serangan. Gaya serangan Wang Sanbo justru lebih sederhana lagi dibandingkan jurus serangan Zhu Lizhi, tapi kecepatan gerak dan tenaga yang dibawanya berkali-kali lipat lebih mengerikan.
Untuk beberapa saat Ding Tao pun terdesak.
Gaya Wang Sanbo berkelahi memang seperti banteng ketaton, tidak jarang meskipun pedang Ding Tao mengancam tubuhnya, jago tua ini tidak juga menghentikan serangannya, malah dilontarkan serangan yang lebih hebat seakan mengajak Ding Tao mati bersama.
Diserang dengan gaya membabi buta ini, untuk beberapa saat Ding Tao jadi kewalahan. Antara memahami teori sebuah ilmu bela diri sudah tentu lebih sukar daripada menerapkan teori itu dalam pertarungan yang sesungguhnya.
Dalam sebuah situasi yang relatif tenang di ruang latihan dengan gerakan pelatih yang memang sengaja untuk melatih jurus yang sedang dipelajari, tentu sangat berbeda dalam pertarungan yang sesungguhnya, di mana lawan bergerak secepat mungkin dengan arah serangan yang tidak bisa diduga.
Kondisi inilah yang terbentuk ketika Ding Tao harus menghadapi Wang Sanbo, tidak seperti dua lawan sebelumnya yang benar-benar menyerupai sebuah pertandingan persahabatan.
__ADS_1
Berbeda juga dengan perkelahiannya melawan Wang Chen Jin dua tahun yang lalu, karena saat itu Wang Chen Jin bukan menyerang bak orang kalap seperti yang dilakukan Wang Sanbo.
Melawan Wang Sanbo, Ding Tao dipaksa untuk bereaksi secepat mungkin, tanpa sempat menghitung-hitung rencana selanjutnya.