Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
35. Tiong Fa


__ADS_3

Tiong Fa sudah ada di hadapan Ding Tao, wajahnya tenang tidak menunjukkan kekejian hatinya.


Ditampilkannya wajah menyesal dan berkata dia pada Ding Tao,


―Sebenarnya aku merasa malu, harus mendesakmu sedemikian rupa.‖


Ding Tao yang masih saja percaya pada Tiong Fa membalas dengan tidak kalah sopannya,


―Anak Ding mengerti hati Paman Tiong, apalagi justru ini menjadi pengalaman yang baik bagi anak. Tidak nanti akan menyalahkan paman.‖


―Hemm… terima kasih untuk pengertianmu Anak Ding. Aturlah dulu nafasmu, kapan kau siap, kau saja yang membuka dulu serangan. Aku orang tua sudah sepantasnya mengalah sejurus pada yang lebih muda.‖


―Terima kasih paman.‖,


ujar Ding Tao yang sungguh-sungguh merasa berterima kasih.


Jauh di pinggir arena Zhang Zhiyi memaki Tiong Fa dalam hati. Selama apa Ding Tao hendak mengatur nafas? Luka yang dideritanya sejak tadi melawan dirinya dan Wang Sanbo tentu tidak mudah hilang begitu saja.


Tapi Ding Tao yang tidak berpikir macam-macam, benar-benar menggunakan kesempatan itu untuk sebisa-bisanya mengumpulkan lagi hawa murni di tubuhnya. Perlahan-lahan dialirkan hawa murni mengitari seluruh tubuhnya, sekedar untuk meringankan kerusakan yang sudah terjadi.


Pemuda itu tidak terburu-buru melakukan serangan, sambil berusaha memulihkan diri dia berpikir keras, cara apa yang akan dia ambil untuk menghadapi Tiong Fa.


Tiong Fa yang tadi dengan murah hati memberikan waktu pada Ding Tao untuk memulihkan diri, diam-diam menjadi kesal.


Tidak disangkanya pemuda itu benar-benar menggunakan waktu tanpa sungkan-sungkan.


―Dasar pemuda dungu tidak tahu malu.‖,


makinya dalam hati.


Ding Tao sendiri sebenarnya merasa malu dan sungkan, karena membuat semua yang hadir di situ menunggui dirinya, tapi pemuda itu memandang tugas yang diberikan gurunya jauh lebih penting dari itu semua. Saat akhirnya dia bersiap untuk menyerang, tubuhnya sudah terasa jauh lebih segar, rasa nyeri pada bagian-bagian tubuh yang terluka masih bisa ditahannya tanpa mengganggu jalannya hawa murni dalam tubuh.


―Maaf paman, jika terlalu lama menunggu.‖,


ujarnya dengan muka sedikit memerah.

__ADS_1


―Ah, tidak apa, tidak apa. Apakah kau sudah siap sekarang?‖


―Iya paman, aku akan memulai sekarang. Awas serangan!‖


Jurus yang dilancarkan Ding Tao adalah jurus ketiga dari 3 jurus dasar pedang keluarga Huang. Kali ini tidak berani dia melancarkan serangan yang setengah-setengah.


Pengalamannya dengan Zhang Zhiyi sudah cukup mengajarinya untuk tidak bermain-main dalam setiap pertarungan. Siapa pun lawannya dan bagaimana pun keadaannya.


Tusukannya begitu cepat dan keras, hingga pedang kayunya pun berdengung.


Tiong Fa tidak menjadi gugup karenanya, dengan mudah serangan itu dia pecahkan. Menyusul berganti dia yang menyerang.


Dalam waktu singkat, berpuluh jurus sudah mereka lancarkan bergantian. Kedua pihak masih seimbang, baik Ding Tao maupun Tiong Fa masih saling menyerang dan bertahan dengan rapatnya. Tiong Fa yang mengharapkan tenaga Ding Tao sudah jauh melemah setelah pertarungan-pertarungan sebelumnya jadi mengeluh dalam hati, ketika menyaksikan keuletan pemuda itu.


Tapi Tiong Fa cukup sabar dan berpengalaman, tanpa terburu-buru dia dengan tenang berusaha menekan Ding Tao, sesekali menjauh sambil dibukanya celah untuk memancing Ding Tao melompat menyerang, agar tenaga pemuda itu semakin cepat habis.


Dua orang itupun seperti sedang melakukan tarian pedang, mengelilingi arena yang cukup luas.


Keringat Ding Tao yang baru saja mengering, dengan cepat mengalir kembali dengan deras. Nafasnya sedikit-sedikit mulai memburu. Baru pada saat itulah mulai Tiong Fa mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Ini adalah jurus-jurus rahasia, yang hanya diketahui oleh keluarga sendiri.


Kebanyakan justru menggunakan kesempatan ini untuk sebanyak mungkin menangkap jurus-jurus rahasia keluarga Huang yang belum pernah mereka lihat.


Dengan hati yang jauh lebih tenang, pengamatan mereka pun jauh lebih cermat. Meskipun mereka mengagumi jurus-jurus yang diperagakan Tiong Fa, lebih kagum lagi mereka pada Ding Tao yang mampu bertahan sekian lama. Entah berapa kali mereka bertanya pada diri sendiri, seandainya mereka yang diserang dengan cara demikian, dapatkah mereka lolos dari serangan itu?


Tentu saja setelah melihat cara Ding Tao meloloskan diri, pemecahannya jadi bisa dimengerti dengan jauh lebih mudah.


Tapi yang membuat mereka heran, bagaimana cara Ding Tao yang belum pernah mempelajari jurus rahasia itu, hingga anak muda itu bisa tahu cara pemecahannya?


Tiong Fa tidak kalah kagumnya dengan bakat pemuda itu, tapi kekagumannya berubah menjadi rasa iri dan dengki. Apa lagi ketika dia teringat rencana mereka untuk menarik pemuda itu ke dalam keluarga Huang. Diam-diam dia justru merasakan kekhawatiran berkembang dalam hati kecilnya, apakah pemuda itu tidak akan membahayakan kedudukannya dalam keluarga Huang nanti?


Justru karena bakat pemuda itu yang terlampau besar.


Sebelum menghadapi pemuda itu secara langsung, hal ini tidak terbayang oleh Tiong Fa, tapi sekarang setelah dapat menyelami sendiri secara langsung bertarung dengan pemuda itu, mulailah keragu-raguan itu mengganggu hatinya.


Ding Tao memang selalu terlambat satu atau setengah langkah menghadapi jurus-jurus rahasia keluarga Huang. Tapi kenyataan bahwa pemuda itu mampu menghindarkan diri dan tidak sampai jatuh ke dalam permainan Tiong Fa, menunjukkan bahwa dalam waktu yang singkat itu, pemuda itu sudah mampu menangkap garis besar atau ide yang dibawa oleh jurus-jurus tersebut.

__ADS_1


Jangankan Tiong Fa yang menghadapi pemuda itu secara langsung, bahkan Huang Jin yang menonton dari pinggir arena pun seperti tidak percaya pada penglihatannya.


Demikian juga tokoh-tokoh pimpinan yang lain, seperti Huang Yunshu dan Huang Ren Fang, terutama Huan Ren Fang yang tiba-tiba saja bisa merasakan kedudukannya sebagai calon


utama pengganti ayahnya sedang digeser oleh tangan yang tak terlihat.


Ketakutan yang muncul di hati Tiong Fa juga muncul di hati mereka. Merekrut orang berbakat memang perlu, tapi jika orang itu jauh lebih berbakat dari mereka sendiri, apakah tidak seperti memelihara anak harimau, yang jika besar nanti malah membahayakan jiwa pemeliharanya?


Biasanya untuk memastikan bahwa anak murid yang ditarik masuk tidak akan membahayakan bagi dirinya, seorang guru akan menyimpan satu atau dua jurus pamungkas. Jurus yang nantinya akan bisa digunakan jika muridnya ternyata tidak setia pada perguruan.


Tapi hal itu tidak berlaku buat orang semacam Ding Tao, dengan bakatnya diberi tahu satu, dia sudah bisa mengerti dua dan tiga. Apalagi Ding Tao sudah mempelajari lengkap seluruh jurus dasar dan jurus lanjutan. Ibaratnya untuk memasuki satu ruangan, pintunya sudah ditemukan dan kuncinya sudah ada di tangan. Tinggal satu langkah saja, segenap ilmu keluarga Huang akan dikuasainya.


Jika orang bermain kartu dan semua kartu As sudah ada di tangan, apakah akan dengan sengaja mau mengalah?


Orang mengukur orang lain dengan ukurannya sendiri, ketika melihat bakat Ding Tao keringat dingin mereka pun mengalir keluar.


Dengan menggertak gigi, dalam hati Tiong Fa memaki.


Semakin lama, perlawanan Ding Tao justru semakin ulet.


Menghadapi jurus rahasia keluarga Huang, justru pikiran pemuda itu jadi semakin terbuka. Bila orang bermain puzzle dan hampir seluruh puzzle-nya telah tersusun, maka makin mudah pula untuk menemukan tempat bagi sisa-sia potongan yang ada.


Demikian juga keadaan Ding Tao saat ini, jika dia tidak melihat dan mengalami sendiri jurus-jurus rahasia keluarga Huang, mungkin baginya perlu waktu satu atau dua tahun untuk mengembangkan apa yang sudah dia miliki hingga menguasai sampai pada puncaknya.


Tapi serangan-serangan Tiong Fa justru membuka matanya dan yang satu-dua tahun itu dengan mudah dikuasainya sekarang.


Meskipun penguasaannya tidak benar-benar sempurna, tapi untuk menahan serangan Tiong Fa, hal itu jauh lebih daripada cukup.


Penonton yang tadinya menyaksikan pertandingan itu tanpa perasaan, jadi tergerak melihat perlawanan Ding Tao yang semakin mantap. Apalagi ketika kedudukan keduanya jadi mulai berimbang.


Pembaca yang suka menonton pertandingan balap kuda mungkin bisa membayangkan perasaan mereka saat itu, bagaimana ketika kuda yang tidak dijagokan sebelumnya, tiba-tiba mulai mendekati kuda terdepan di putaran terakhir. Apalagi jika pembaca kebetulan sudah memasang taruhan pada kuda tersebut.


Sungguh celaka bagi Tiong Fa, semakin lama dia bertarung dengan Ding Tao, semakin cepat pula pemuda itu mematangkan penguasaannya.


Satu-satunya harapan Tiong Fa adalah tenaga pemuda itu yang sudah terlebih dahulu terkuras.

__ADS_1


__ADS_2