Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
25. Chapter 25


__ADS_3

Ding Tao pun menggaruk kepalanya sambil tertawa geli, kemudian sahutnya dengan sopan,


―Sebenarnya memang aku sendiri meskipun merasakan adanya kemajuan tapi tidak begitu yakin juga dengan kemampuan yang sebenarnya.‖


―Apa sewaktu dalam perjalanan kau tidak pernah bertemu dan berkelahi dengan penjahat Ding Tao?‖,


tanya Ying Ying dengan penuh rasa keingin tahuan.


―Tidak, tidak juga, biasanya aku berpergian dalam satu rombongan besar, beramai-ramai dengan para pedagang dan orang lain. Mereka ini biasanya sudah menyewa pengawal, jadi sepanjang perjalanan tidak banyak halangan.‖


―Aduh… membosankan sekali…‖,


keluh Huang Ying Ying dengan manja, mulutnya cemberut, tapi bagi Ding Tao justru membuat gadis itu makin menggemaskan.


Huang Ren Fu tertawa mendengar keluhan adiknya itu,


―Jangan konyol, memangnya kaupikir setiap hari penjahat selalu bermunculan di jalanan seperti dalam cerita silat yang kau baca?‖


―Huuh, kalau tidak berkelahi lalu untuk apa belajar silat, membosankan sekali. Kalau tidak menghajar pantat penjahat-penjahat, lalu siapa yang harus kuhajar? Bukankah antara satu kota dengan kota yang lain masih banyak hutan dan gunung yang terpencil?‖


―Hehehe, mungkin kau hajar saja pantatmu sendiri. Adik Ying, di tempat yang terpencil seperti itu memang terkadang ada saja gerombolan penjahat, tapi biasanya kelompok pengawalan sudah menyiapkan pajak khusus buat mereka.‖


―Maksud Kakak, seperti ayah yang mengirimkan uang untuk Wang Dou itu ya?‖


―Ya begitulah, Paman Wang Dou memiliki pengaruh yang cukup besar di sisi utara sungai, hampir setiap kelompok di sana tidak ada yang berani macam-macam dengannya.

__ADS_1


Asalkan kita menjalin hubungan baik dengannya, kiriman barang melewati daerah itu tentu akan aman-aman saja.‖


―Huh.. pengaruh apanya, maksud kakak, dia itulah gembong penjahatnya, kakek moyang maling dan perampok di sana.‖


Membicarakan Wang Dou, Huang Ying Ying jadi teringat cerita ayahnya tentang Ding Tao dan Wang Chen Jin, berbalik melihat Ding Tao diraihnya tangan pemuda itu lalu dengan sungguh-sungguh dia berkata,


―Ding Tao, aku sudah mendengar cerita ayah tentang Wang si keparat itu. Sungguh kalau aku tahu dia selicik itu, tidak akan aku menerima persahabatannya.‖


Tangan Huang Ying Ying yang lembut dan hangat membuat Ding Tao berdebar-debar. Sambil berpura-pura tidak merasakan apa-apa, dia berusaha menjawab,


―Jangan berkata begitu nona… eh… Adik Ying. Aku sendiri tidak menduga dia akan menyerangku secara demikian. Lagipula, mungkin itu terdorong oleh rasa…‖


Tersadar Ding Tao bahwa dia hendak mengatakan,‖…


terdorong oleh rasa cemburunya.‖


Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu justru tidak menangkap apa-apa dari perkataan Ding Tao, Ding Tao sendirilah yang terlalu banyak berpikir dan merasa. Huang Ying Ying yang mendengar Ding Tao tidak menyalahkan dirinya tersenyum gembira.


―Terima kasih Ding Tao, aku tahu sifatmu tidak picik dan suka mendendam. Tapi saat kudengar cerita dari ayah aku jadi merasa bersalah sudah berteman dengan si licik Wang cilik itu.‖


―Aku juga Ding Tao, aku pun menyesal tidak bisa melihat kelicikan dalam diri pemuda itu.‖,


sahut Huang Ren Fu dengan sungguh-sungguh.


―Tapi kata ayah, dari peristiwa itu, kau justru mendapat keberuntungan. Apa benar pedang pusaka milik keluarga Wang jatuh ke tanganmu?‖

__ADS_1


, tanya Huang Ren Fu yang teringat lagi dengan cerita ayahnya.


Huang Ying Ying yang juga merasa penasaran dengan kisah Ding Tao ikut mendesaknya. Tidak berapa lama kemudian, tiga orang muda itu pun larut dalam percakapan yang seru. Atas desakan kedua bersaudara itu, Ding Tao sempat pula memamerkan kehebatan Pedang Angin Berbisik yang bisa dengan mudahnya memotong kayu setebal paha orang dewasa.


Mereka bertiga tidak sadar, beberapa pasang mata sedang mengamat-amati ketiganya. Mereka itu adalah Huang Jin, Tuan besar Huang Jin, kepala keluarga besar Huang. Tiong Fa, sepupu jauhnya yang sering dimintainya nasihat. Huang Ren Fang, putera pertama Huang Jin dan penerus yang diharapkan.


Serta Huang Yunshu, paman Huang Jin, satu-satunya saudara ayah Huang Jin yang masih hidup.


―Kalian lihat pedang itu? Menurut kalian apakah benar dugaan Gu Tong Dang bahwa pedang itu adalah Pedang Angin Berbisik?‖,


tanya Huang Jin dengan suara rendah.


Tiong Fa yang seringkali bertindak sebagai pencari berita bagi keluarga Huang mengangguk dengan yakin,


―Aku cukup yakin, pedang itu adalah Pedang Angin Berbisik. Karena menurut penyelidikanku pedang itu memang pada saat terakhir jatuh ke tangan Wang Dou. Sayang belum sempat kita mengatur jerat di sekitarnya, justru anak Wang Dou merusakkan setiap rencana kita dan menghadiahkan pedang itu pada si dungu itu.‖


―Hmph… benar-benar gemas aku kalau mengingat hal itu. Sungguh langit tidak punya mata, sekian tahun kita bekerja keras, anak dungu itu justru mendapatkannya tanpa usaha.‖


Huang Jin meremas sekuntum bunga yang kebetulan ada di dekatnya sampai hancur *****, wajahnya tidak lagi terlihat ramah dan arif. Wajah ke empat orang yang lain tidak kalah menakutkan.


Lucu memang bila dipikirkan, sepertinya langit yang dipandang adil, menurut pandangan mereka haruslah adil dalam cara yang sesuai dengan kepentingan mereka. Tidak teringat bahwa Ding Tao hampir mati malam itu. Tidak teringat pula alasan Ding Tao menemui Wang Chen Jin malam itu adalah karena kesetiaannya pada keluarga Huang.


―Menurut Paman Yunshu, sebaiknya apa yang kita lakukan pada Ding Tao?‖


―Hmm… tidak salah kita memilih Gu Tong Dang menjadi pelatih bagi bibit-bibit muda. Orang itu memang punya mata yang jeli.

__ADS_1


Si dungu itu punya bakat yang bagus. Siang tadi saat aku memperhatikan cara dia berjalan memasuki ruangan, cara dia berdiri tegap dan imbang di atas kedua kakinya. Anak dungu itu kukira cukup berisi.‖


―Jadi maksud paman, kita tarik saja dia kembali dalam keluarga Huang?‖


__ADS_2