
Yang tidak diduga oleh siapapun, adalah penemuan Ding Tao saat dirinya bertarung antara batas hidup dan mati melawan Wang Chen Jin.
Dan itulah yang terjadi sekarang, ketika Ding Tao sudah merasa mengerti semua kunci-kunci jurus rahasia keluarga Huang, mulailah dia mampu memberikan perlawanan. Sadar bahwa yang dia ketahui belum cukup untuk menggunakannya untuk menjebak Tiong Fa untuk jatuh dalam permainan pedangnya, terpikirlah Ding Tao untuk menggunakan kelebihannya tersebut.
Tenaganya mulai disalurkan pada pedang kayu yang ada di tangannya.Pada mulanya Tiong Fa masih belum menyadarinya, baru setelah beberapa kali tangannya tergetar setiap kali pedang mereka berbenturan, sadarlah dia. Pucat wajah Tiong Fa ketika menyadari hal itu, keterkejutannya itu membuat lemah permainan pedangnya.
Untuk beberapa saat lamanya Ding Tao balik menggempur tokoh utama keluarga Huang tersebut.
Tapi Tiong Fa mendapatkan kepercayaan dari Huang Jin bukan tanpa alasan, dengan cepat dia berhasil menguasai perasaannya, diapun menyalurkan hawa murninya ke tangan sehingga pada setiap benturan yang terjadi tangannya tidak lagi tergetar dan pertarungan pun kembali menjadi seimbang.
Mengandalkan himpunan hawa murninya yang lebih mapan, Tiong Fa berusaha mendesak Ding Tao. Pertarungan pun menjadi semakin seru, hingga menginjak ratusan jurus yang sudah dikeluarkan. Gulungan pedang keduanya saling membelit dan berkitaran di tengah arena. Tidak satupun dari keduanya terdesak mundur dari kedudukan terakhir.
Pada saat yang makin menegangkan itulah, tiba-tiba terdengar suara pedang kayu yang berderak patah. Salah satu gulungan pedang yang berputaran di arena pertandingan menghilang.
Itulah pedang Tiong Fa yang patah jadi serpihan. Nyata bahwa meskipun himpunan hawa murni Tiong Fa lebih mapan, tapi penguasaan Ding Tao terhadap pengaturan hawa murninya justru lebih baik dan lebih menyatu dengan senjata di tangannya.
Nafas Ding Tao terdengar memburu di tengah ruang latihan yang sunyi.
Wajah Tiong Fa pucat lesi, meskipun keadaannya jauh lebih baik dari Ding Tao. Bahkan Tiong Fa yang terkenal cerdik pun kali ini kehilangan akalnya.
Pedang Ding Tao belum sampai mampir di tubuh Tiong Fa, pemuda itupun tidak menyerang, hanya mengambil posisi yang siap mengirimkan serangan. Jika patahnya pedang Tiong Fa tidak dihitung sebagai satu kekalahan, bukan tidak mungkin akhirnya Ding Tao akan kalah karena kehabisan nafas.
Tapi kedudukan Tiong Fa sebagai tokoh yang lebih tua, tentu membuat hal itu akan tampak sangat memalukan.
Adalah Tuan besar Huang Jin yang lebih dahulu pulih dari rasa kagetnya. Suara tepuk tangannya menyadarkan semua yang hadir di ruang latihan itu. Ketika mereka melihat Tuan besar
Huang Jin-lah yang bertepuk tangan maka sorak sorai pun pecah memenuhi ruangan.
Mereka yang masih muda berlari mendekat untuk memberikan selamat pada Ding Tao, dengan tawa lebar mereka menepuk-nepuk pundak pemuda itu. Ada pula yang dengan bercanda mendorong badan pemuda yang sudah kepayahan itu.
__ADS_1
Huang Ying Ying yang tadi ikut bersorak, kali ini justru bersikap malu-malu, gadis itu hanya ikut tertawa dari kejauhan saja.
Tuan besar Huang Jin diam-diam membisikkan sesuatu kepada putera sulungnya, kemudian dengan langkah yang tegap mendekati Tiong Fa dan Ding Tao.
Mereka yang melihat kedatangan Tuan besar Huang Jin, mundur keluar dan berbaris dengan rapi dan tertib di pinggir arena.
Menepuk-nepuk pundak Tiong Fa Tuan besar Huang Jin berkata,
―Pertandingan yang bagus, tidak perlu berkecil hati.
Sudah jadi pepatah dunia persilatan, gelombang ombak yang baru selalu mendorong menggantikan yang lama.‖
Kemudian berbalik pada Ding Tao dia tersenyum lebar pada pemuda itu,
―Selamat Anak Ding, kemajuanmu dalam menguasai ilmu keluarga Huang sungguh di luar dugaan kami semua. Kecuali satu dua jurus pamungkas, yang memang hanya diturunkan pada kepala keluarga besar Huang, semuanya bisa kau kuasai.‖
―Benar-benar bakat yang luar biasa.‖
Mereka yang mendengar pujian Huang Jin pun semakin terheran-heran dan mengagumi bakat pemuda itu. Seandainya saja mereka tahu yang sesungguhnya tentu akan berkali-kali lipat pula rasa heran dan kagum mereka. Karena hanya bualan kosong belaka jika Tuan besar Huang Jin mengatakan, bahwa seolah-olah masih ada satu atau dua jurus pamungkas keluarga Huang yang belum dikuasai oleh Ding Tao.
Jangankan jurus pamungkas yang dikuasai oleh Tuan besar Huang Jin, bila diberikan waktu yang cukup buat Ding Tao, bukan tidak mungkin jurus pamungkas yang dikuasai oleh Tuan besar Huang Jin itu pun akan dapat disempurnakannya melebihi penguasaan Tuan besar Huang Jin sendiri.
Hanya saja kenyatan seperti itu sangat sulit diterima oleh akal, yang salah ternyata bisa jauh lebih masuk di akal dari kenyataannya. Karenanya dalam pikiran setiap orang, apa yang dicapai Ding Tao masih kalah seusap dengan tingkatan Tuan besar Huang Jin.
Meskipun hal itu ada benarnya, tapi sebenarnya yang seusap itu adalah masalah himpunan tenaga dalam Tuan besar Huang Jin yang jauh lebih mapan.
Bahkan dalam hal itu pun, tidak akan banyak membantu bila keduanya harus berhadapan dalam pertandingan yang sesungguhnya. Karena sebesar apa pun simpanan hawa murni yang berhasil dihimpun, penggunaannya masih sangat bergantung pada kemampuan pemiliknya untuk menguasai dan menyalurkan tenaga itu secara tepat.
Lebih lagi jika dipertimbangkan bahwa, hawa murni yang bisa membuat pemiliknya bergerak lebih ringan, lebih cepat dan lebih kuat itupun, dalam pengerahannya masih dibatasi juga oleh keterbatasan dari tubuh penggunanya.
__ADS_1
Ding Tao yang lebih muda dan terlatih tubuhnya dibanding Tuan besar Huang Jin, memiliki kemampuan untuk menggunakan hawa murni yang lebih besar.
Bila hendak diibaratkan sebuah bendungan, maka himpunan hawa murni itu seperti air yang tertampung dalam bendungan, tubuh adalah saluran irigasi yang dilewati oleh air itu nantinya dan penguasaan akan hawa murni itu adalah pintu-pintu yang mengatur besar kecilnya dan ke arah mana, air akan dilewatkan.
Jika saluran irigasi yang akan dilewati tidak kuat dan air yang lewat dipaksakan terlalu besar, maka hancurlah saluran-saluran itu dan air pun akan tumpah sebelum sampai pada tujuannya.
Demikian juga jika seseorang memaksakan diri untuk menggunakan hawa murni secara berlebihan, pada waktu yang singkat bisa jadi dia akan menghasilkan daya hancur yang besar, tapi daya hancur yang sama itu pula akan merusakkan tubuhnya.
Lagipula meskipun Tuan besar Huang Jin sudah bertahun-tahun lebih lama berlatih dan menghimpun hawa murni, tapi bukankah apa yang dia simpan itu dia gunakan pula? Entah dalam latihan atau dalam pertarungan yang sesungguhnya.
Itu sebabnya bahkan keunggulan yang seusap itupun sebenarnya masih dapat diperdebatkan. Siapa yang sebenarnya lebih unggul, Ding Tao atau Tuan besar Huang Jin sebagai tokoh utama dalam keluarga Huang.
Tidak lama setelah Tuan besar Huang Jin berbasa-basi, Huang Ren Fang telah datang bersama seorang pelayan, membawa sebuah baki berisi dua cawan dan sebotol arak.
Tuan besar Huang Jin, mengisi kedua cawan itu lalu menyerahkan yang satu pada Ding Tao, kemudian sambil mengangkat cawan arak yang lain, dia berucap dengan sungguh-sungguh.
―Anak Ding, hari ini kau sudah membuktikan bahwa kau memang pemilik yang tepat dari pedang itu. Aku, mewakili keluarga Huang, mengucapkan selamat.‖
―Dan mengingat tugas yang kau pikul di pundakmu adalah tugas yang menyangkut kepentingan seluruh negeri, kami seluruh anggota keluarga Huang, dengan ini memberikan kesanggupan kami untuk berdiri di belakangmu dan membantumu sekuat tenaga kami, sampai kau berhasil menunaikan tugasmu itu.‖
―Sekali lagi aku ucapkan selamat!‖
Dan dengan satu tegukan Tuan besar Huang Jin menghabiskan arak di cawannya. Tepuk tangan dan sorak sorai pun memenuhi ruang latihan itu untuk kedua kalinya. Ding Tao dengan mata yang basah oleh air mata, meneguk habis arak di cawannya.
Cepat Tuan besar Huang Jin menangkap pundak pemuda itu,ketika dia hendak bersoja di depannya, dengan kebapakan Tuan besar Huang Jin membimbing pemuda itu,
―Sudah, sudah, cukup, aku tahu ketulusanmu. Malam ini kau sudah banyak menguras tenaga, sebaiknya cepatlah beristirahat. Besok, kita akan bicarakan lebih jauh masalah tugas yang dibebankan oleh gurumu.‖
Menoleh ke salah satu anak muda yang ada di situ dia berpesan,
__ADS_1
―Antar dia ke kamarnya, dan jangan habiskan waktu untuk mengobrol yang tidak perlu. Besok masih ada banyak waktu, malam ini biarkan Ding Tao istirahat sebaik-baiknya.‖
Dengan perkataan itu bubarlah mereka semua dari ruang latihan, masing-masing pergi ke ruangan mereka, beberapa orang mengantarkan Ding Tao yang sudah kelelahan ke kamarnya. Mereka pun menaati pesan Tuan besar Huang Jin, apalagi ketika melihat keadaan Ding Tao yang benar-benar terkuras tenaganya.