
―Sampai besok Ding Tao, selamat atas kemenanganmu. Sekarang beristirahatlah baik-baik.‖, pamit mereka.
―Terima kasih atas perhatian kalian semua. Sampai besok.‖, jawab Ding Tao yang baru sekarang merasa betapa tenaganya benar-benar terkuras.
Segera setelah dia menutup pintu, Ding Tao merebahkan tubuhnya ke atas pembaringan. Seluruh tulang dan ototnya terasa lemas tak bertenaga. Untuk sesaat pemuda itu belum memejamkan mata, kejadian malam itu sungguh di luar bayangannya.
Meskipun Gu Tong Dang sudah berkali-kali meyakinkan pemuda itu bahwa ilmunya telah maju pesat, tak pernah terbayangkan olehnya bahwa dia akan dapat mengalahkan tokoh-tokoh yang lebih tua seperti Wang Sanbo, Zhang Zhiyi apalagi Tiong Fa. Bahkan Tuan besar Huang Jin pun mengakui bahwa sudah hampir seluruh ilmu keluarga Huang dikuasainya secara sempurna.
Mendesah bahagia pemuda itu merasa betapa lelahnya dia sekarang, matanya mulai mengantuk dan hampir saja dia memejamkan mata ketika terdengar ketukan lembut di pintu kamarnya.
Dengan kemalasan pemuda itu bangkit, sejenak dipandanginya saja pintu kamarnya itu, berharap yang mengetuk pintu akan pergi setelah tidak dijawab beberapa lama.
Tapi harapannya itu tidak terpenuhi, malah setelah beberapa kali mengetuk tanpa dijawab, terdengar suara lirih memanggil,
―Ding Tao… Ding Tao… apakah kau sudah tidur?‖
Suaranya memang lirih saja, tapi suara yang lirih itu justru lebih berarti dari ketukan pintu sekeras apapun, karena suara itu ada suara Huang Ying Ying. Senyuman muncul dari wajah Ding
Tao, segala rasa malas dan lelah sepertinya jadi hilang saat dia mendengar suara gadis itu. Malah sekarang dia takut kalau gadis itu benar-benar menyangka bahwa dia sudah tidur dan pergi.
Cepat-cepat dia menjawab,
―Tunggu, aku belum tidur.‖
Bergegas dia membukakan pintu, di depan Huang Ying Ying sudah menunggu dengan wajah cemberut manja,
―Hiih… kau bilang belum tidur, lalu kenapa tidak lekas kau buka pintunya.‖
Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Ding Tao menyahut,
―Ah… maafkan aku Adik Ying, aku tidak tahu kalau kau yang mengetuk pintu.‖
―Kalau kau tahu itu aku, apa langsung kau bukakan pintu?‖, tanya gadis itu dengan manja sambil menundukkan kepala dan wajah bersemu kemerahan.
__ADS_1
―Tentu…‖
Sejenak keduanya berdiri terdiam dengan jantung berdebaran.
Biasanya Huang Ying Ying lah yang berceloteh tanpa henti dan Ding Tao tinggal menimpali, tapi kali ini gadis itu tidak seramai biasanya.
Akhirnya Huang Ying Ying mengangkat wajahnya, dengan sorot mata prihatin dia bertanya,
―Ding Tao, bagaimana dengan lukamu?‖
Merasakan betapa besar perhatian Huang Ying Ying, setengah sakit yang dia rasakan sepertinya sudah sembuh, dengan menyengir kuda dia menjawab,
―Tidak terlalu masalah, hanya rasanya tubuhku sangat lelah itu saja. Tidur sedikit, besok juga sudah baikan.‖
―Huuh… kalian ini anak laki-laki, selalu saja menganggap enteng luka. Ini kubawakan obat untukmu, kau minum yang bungkusan ini, kemudian lakukan latihan pernafasan. Lalu setelah itu minum dari bungkusan yang satunya lagi sebelum tidur. Apa kau ada alat untuk memasak obat ini?‖
―Ada… ada…‖,
Betapa terharu hati Ding Tao melihat besarnya perhatian Huang Ying Ying, digenggamnya tangan gadis itu dan dengan penuh perasaan dia berterima kasih,
―Adik Ying… kau baik sekali.‖
Huang Ying Ying yang terpegang tangannya, menunduk malu, jantungnya berdebaran. Hendak menarik tangannya dan lari, tapi tubuhnya terasa lemas.
―Itu… itu… itu tadi pesan ayah padaku. Sudahlah aku harus cepat kembali.‖,
katanya, ketika akhirnya dia berhasil menenangkan hatinya.
Ding Tao yang sadar sudah menggenggam tangan gadis itu cepat-cepat melepaskannya,
―Ah benar, hari sudah malam. Baiknya Adik Ying cepat kembali ke kamarmu.‖
―Sampai besok Kakak Ding.‖
__ADS_1
―Ya, sampai besok.‖
Bercampur aduk perasaan keduanya, ada rasa senang, tapi juga ada rasa berat karena harus berpisah. Ding Tao berdiri saja menunggu di depan pintu sampai Huang Ying Ying menghilang di tikungan. Sebelum menghilang, gadis itu masih sempat berbalik sekali lagi kemudian melambaikan tangan.
Agak lama Ding Tao terpekur memandangi jalan yang kosong, ketika akhirnya dia menutup pintu dipandanginya bungkusan obat yang ada di tangannya.
Teringat tangan lembut Huang Ying Ying yang membawa bungkusan itu dengan sepenuh hati dia kemudian mendekap dan menghirup dalam-dalam wangi dua bungkusan obat itu.
Seandainya saja benar dua bungkusan obat itu berbau wangi, sewangi bau Huang Ying Ying, tapi yang namanya ramuan obat jarang-jarang yang berbau wangi. Dan dua bungkusan obat itu tidak satupun yang berbau wangi, bisa dibilang justru dua bungkusan itu contoh paling bau dari segala macam obat yang berbau.
Karuan saja Ding Tao hampir muntah-muntah dibuatnya.
Tapi bau obat itupun tidak bisa membuat pemuda itu berhenti tersenyum. Sambil menjerang air dan memasak obat itu, pemuda itu pun pelan-pelan menggumamkan lagu cinta yang sedang banyak dinyanyikan orang.
Saat obat yang satu telah siap dan habis diminum, dimasaknya pula bungkusan yang kedua.
Sambil menunggu obat itu siap, dia mulai bermeditasi, mengolah dan menghimpun hawa murni ditubuhnya. Obat yang diberikan Huang Ying Ying, benar-benar baik. Perlahan-lahan tubuhnya jadi semakin segar, aliran hawa murni dalam tubuhnya juga semakin lancar. Jika setelah benturan-benturan tadi aliran darahnya sempat terasa sedikit kacau dan terhambat, maka sekarang bisa dia rasakan aliran darahnya kembali pulih.
Hanya rasa lelahnya tidak kunjung hilang, meskipun merasa sedikit heran, Ding Tao menduga hal itu karena dia terlalu banyak memeras tenaga, jauh di luar pertimbangannya sendiri.
Mungkin karena terbawa oleh suasana dan ketegangan, sehingga rasa lelah ini tidak dirasakannya sebelumnya.
Merasa semakin lama semakin sulit baginya untuk berkonsentrasi, pemuda ini akhirnya memilih untuk mengakhiri meditasinya, terlalu riskan jika dia memaksakan diri.
Akhirnya pemuda ini pun memilih termenung-menung, menatapi obat yang sedang dimasak. Beberapa kali kepalanya terangguk-angguk hampir tertidur, tapi mengenangkan kebaikan Huang Ying Ying yang diwakili oleh obat itu, jangankan sedikit kantuk, seandainya disuruh melatih kuda-kuda sambil menjinjing 2 ember air selama 2 batang hio pun mungkin akan dijalaninya.
Sambil tersenyum-senyum pemuda itu, menatap air yang mendidih dan bau khas obat ramuan yang teruar keluar dari dalam poci.
Akhirnya setelah menanti sekian lama, siap juga obat itu untuk diminum, dengan hati-hati, ditiup-tiupnya ramuan yang masih panas itu, lalu pelan-pelan diseruput. Sehabis meminum obat itu, maka tubuhnya merasa sangat nyaman dan kepala pun terasa semakin melayang.
Sambil menghempaskan diri ke atas pembaringan, Ding Tao bergumam,
―Rupanya obat supaya tidurku pulas.‖
__ADS_1