
Ding Tao merasakan wajahnya memerah, tapi dia berusaha tetap fokus pada penjelasannya. Karena hal ini terasa penting juga baginya, satu pikiran yang sangat mengganggu dirinya.
Perasaan terhadap Murong Yun Hua dan Murong Huolin yang dia pendam, membuat dia merasa risau. Bisa jadi dia tidak melakukan apa-apa yang mengkhianati cinta Huang Ying Ying, tapi dalam hatinya dia sudah menduakan gadis itu.
Ding Tao tidak tahu, apakah yang dia lakukan ini sudah bijaksana, tapi dia percaya penuh pada Murong Yun Hua.
Gadis itu begitu baik pada dirinya an Murong Yun Hua sudah lebih berpengalaman dalam hal ini. Selain itu Ding Tao berharap Murong Yun Hua tidak terlalu bersedih atau malu bila teringat kejadian beberapa bulan yang lalu. Dia ingin gadis itu mengerti, bahwa sebenarnya perasaannya bukanlah bertepuk sebelah tangan. Hanya saja, apa daya, Ding Tao sudah terlebih dahulu mencintai Huang Ying Ying.
Dengan pemikiran seperti itulah akhirnya Ding Tao mengakui perasaannya,
" Dan itulah yang membuatku ragu Enci Yun Hua, karena perasaan yang pernah kurasakan terhadap Huang Ying Ying, kurasakan pula saat aku bertemu dengan Enci Yun Hua dan Adik Huolin. Mungkinkah cinta terbagi-bagi? Jika setiap kali aku bertemu gadis yang menarik, lalu aku jatuh cinta, orang macam apakah aku ini? Atau mungkin sebenarnya bukan itu yang namanya cinta? Sungguh aku tidak mengerti…"
Murong Yun Hua ikut termenung memikirkan curahan hati Ding Tao, dalam hati ada rasa senang dan bahagia, karena pemuda itu sama saja sudah mengakui bahwa diapun ada rasa terhadap dirinya. Meskipun juga di saat yang sama Ding Tao mengakui dia pun ada rasa dengan dua orang wanita lain. Tiba-tiba Murong Yun Hua jadi tidak tahu harus merasa senang atau kesal, dan dengan gemas Murong Yun Hua mencubit tangan Ding Tao keras-keras.
" Aduh… aduh… Enci Yun Hua kenapa tiba-tiba aku dicubit?", tanya Ding Tao yang terkejut, tidak menyangka Murong Yun Hua akan mencubitnya.
Sambil memonyongkan bibir dengan manja Murong Yun Hua menjawab,
" Hmm, di sana ada kekasih, di sini ada pula, lelaki macam dirimu ini kalau tidak dicubit mesti bagaimana lagi?"
Mendengar itu wajah Ding Tao jadi memerah, malu dan juga kecewa pada diri sendiri,
" Itulah Enci Yun Hua, dalam hal ini, aku merasa sangat bersalah. Pada kalian semua, entahlah…"
__ADS_1
Melihat Ding Tao begitu tulus merasa bersalah, Murong Yun Hua jadi ingin menghiburnya,
" Jangan terlalu kaupikirkan, bukankah aku mencubitmu tapi tidak sungguh-sungguh marah padamu. Jika aku benar-benar marah padamu, aku justru tidak akan mencubitmu. Aku tidak akan mau mengenalmu sama sekali. Kurasa, apa salahnya jika seseorang mencintai lebih dari satu orang? Apalagi bila itu seorang lelaki, bukankah hal itu sudah umum terjadi?"
Ding Tao tidak bisa menerima penjelasan seperti itu,
" Tidak benar, pendapat umum tidak selamanya benar, bagaimana dengan asas keadilan? Jika lelaki boleh beristeri lebih dari satu tapi wanita dipandang hina jika memiliki kekasih lebih dari satu, di mana keadilannya? Seorang suami tentu mengharap isterinya hanya untuk dirinya sendiri. Bila dia mengharap demikian tentu isterinya pun berharap bahwa suaminya hanya untuk dirinya sendiri."
" Aku tidak mengerti tentang keadilan Adik Ding, tapi apakah keadilan hanya bisa dipahami seperti yang baru saja kau katakan? Jika seorang suami beristeri tiga, tapi dia mampu membuat ketiga-tiganya merasa bahagia apakah itu tidak baik? Jika dia memilih beristeri satu, tapi karena pilihannya itu ada dua wanita yang hancur hatinya, apakah itu adil?", tanya Murong Yun Hua.
" Entahlah Enci Yun Hua, sudah kukatakan, akupun bingung dengan hal ini. Jika aku mau menuruti kesenangan saja, sudah tentu aku memilih untuk memiliki kalian bertiga. Jika memang itu yang paling adil, lalu mengapa aku merasa bersalah saat memikirkannya? Kenapa hati nuraniku berontak?", jawab Ding Tao menyanggah.
Mendengar sanggahan Ding Tao, Murong Yun Hua semakin tertarik pada pemuda itu. Perlahan Murong Yun Hua berdiri lalu duduk di pangkuan Ding Tao dan menyandar di tubuh pemuda itu,
" Mungkin kau benar Adik Ding… alangkah indahnya jika setiap lelaki berpandangan sama denganmu..."
" Adik Ding, aku tidak akan mengungkit-ungkit lagi masalah pewaris keluarga Murong, hanya saja pintaku, tinggallah semalam lagi di sini.
Kau benar, tidak baik jika kau menduakan Nona Huang Ying Ying… Aku rela dia memilikimu sepanjang sisa hidupmu, aku hanya minta dirimu, malam ini saja… Semalam saja Adik Ding…"
Di ruangan tidak ada orang lain, hanya mereka berdua. Ding Tao seorang laki-laki dan Murong Yun Hua seorang wanita, wanita yang kecantikannya sulit dicari tandingannya di masa itu. Jika pada jaman tiga kerajaan ada Diao Chan, pada masanya Ding Tao ada Murong Yun Hua.
" Aku…, meskipun demikian, … bagaimana perasaan Adik Ying Ying jika dia tahu…", dengan suara bergetar Ding Tao masih coba bertahan, tapi antara tubuhnya dengan otaknya sudah tidak sejalan.
__ADS_1
" Jika kau tidak mengatakannya dan aku tidak mengatakannya, darimana dia bisa tahu?", bisik Murong Yun Hua.
" Tapi dalam hati ini, hati nuraniku akan terus menuntut kejujuran dariku. Menyalahkanku karena telah bertindak tidak adil terhadap Adik Ying. Aku bisa bersembunyi dari manusia, tapi tidak dari hatiku sendiri.", jawab Ding Tao mengeluh.
" Adik Ding, pikirkanlah dia mencintaimu, akupun mencintaimu dan kau mencintai kami berdua. Hanya karena permainan nasib, kau bertemu dengannya terlebih dahulu. Di mana letak keadilannya? Kau mengatakan hatimu akan tersiksa, tapi bagaimana dengan hatiku…?"
Meskipun di mulut dia hendak menolak, tapi tubuhnya tidak kuasa untuk mendorong Murong Yun Hua pergi. Jangan lupa juga, khasiat dari Obat Dewa Pengetahuan, obat ini berkhasiat meningkatkan kerja otak dan susunan syaraf.
Berkat obat itu panca indera Ding Tao menajam, kepekaannya meningkat dan otaknya bekerja menerima masukan dari luar dengan lebih terperinci.
Jadi bayangkan saja, jika sebelumnya sewaktu Murong Yun Hua hendak memaksa Ding Tao menerima warisan keluarga Murong, Ding Tao sudah mengalami kesulitan untuk menolaknya. Apalagi sekarang, ditambah lagi dengan jaminan bahwa Murong Yun Hua tidak akan menuntut apa-apa darinya.
" Enci, apakah ini cinta namanya? Apakah ini bukannya nafsu belaka?", ujar Ding Tao dengan memejamkan mata, berusaha untuk bertahan dari rangsangan yang dia rasakan.
" Akupun tak tahu, apakah ini cinta atau nafsu, yang aku tahu, jika kau melakukannya aku akan sangat berbahagia. Sepanjang sisa hidupku, dengan mengenangkan malam ini, aku akan mendapatkan kekuatan untuk hidup berjauhan darimu…"
Dan tanpa menunggu jawaban dari Ding Tao, Murong Yun Hua mencium bibir pemuda itu. Ciuman itu hanya sekilas saja, bibir mereka bersentuhan dengan lembut untuk sesaat lamanya lalu berpisah. Tapi sentuhan yang perlahan itu membuat kepala Ding Tao terasa ringan melayang.
Ding Tao sudah pernah berciuman dengan Murong Yun Hua sebelumnya, tapi pada saat itu Murong Yun Hua memaksakan dirinya pada Ding Tao.
Ciuman yang berikutnya, berbeda dengan yang pernah Ding Tao rasakan sebelumnya. Ciuman ini milik bersama, ciuman yang diinginkan kedua pihak, seperti yang dia lakukan bersama Huang Ying Ying. Tapi saat itu keduanya sama-sama belum berpengalaman. Saat Ding Tao mencium Murong Yun Hua, bibirnya sedikit terbuka, dan dia merasakan lidah Murong Yun Hua menyusup ke dalam, menyapu bibirnya dan menyentuh ujung lidahnya.
Kepala Ding Tao berdenyut keras, tiba-tiba muncul keinginan untuk menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Murong Yun Hua, memeluk tubuhnya, merasakan kulit mereka bersentuhan, menyatukan tubuhnya dan tubuh Murong Yun Hua. Sesaat lamanya mereka berciuman dengan hangat, Murong Yun Hua tiba-tiba mundur, mendorong Ding Tao untuk menjauh. Ketika
__ADS_1
Murong Yun Hua mundur menjauh, Ding Tao berusaha mendekat. Tapi jari Murong Yun Hua yang lentik menyentuh bibir Ding Tao, menghentikannya, dengan suara berbisik penuh gairah dan nafas sedikit terengah dia berkata,
" Jangan di sini, mari, kita ke kamarku."