
Ding Tao benar-benar tertidur pulas. Saat pintu kamarnya diketuk perlahan-lahan dari luar, pemuda itu sedikitpun tidak terbangun. Bahkan ketika ketukan itu menjadi semakin keras, pemuda itu tidak juga terbangun.
Sebilah pedang tiba-tiba muncul di sela-sela antara daun pintu, dengan tebasan yang cepat pedang itu bergerak memotong palang pintu yang mengunci pintu dari dalam.
Secepat pedang itu menebas, secepat itu pula sebuah sosok melompat ke dalam dan menahan agar palang pintu yang sudah terpotong tidak jatuh bergelontangan ke lantai. Cahaya bulan yang samar tertutup awan hanya memperlihatkan dua sosok berkedok dan berbaju hitam.
Kedua sosok itu dengan cepat memeriksa isi dalam kamar, ketika mereka menemukan Pedang Angin Berbisik milik Ding Tao, keduanya saling berpandangan. Seorang di antara mereka jelas bertindak sebagai pemimpinnya, karena begitu kepalanya mengangguk, yang seorang lagi dengan segera menghadiahkan satu pukulan ke arah ulu hati Ding Tao.
Tinju 7 luka, sebuah ilmu pukulan yang sempat dia curi dari perguruan Kongtong dari Gunung Kongtong Dengan telak pukulan itu menghajar ulu hati Ding Tao, begitu kerasnya hingga tempat tidur anak muda itu ikut patah menjadi dua. Darah pun menyembur dari mulutnya.
Tubuhnya bergulingan, seketika itu juga dia tersadar dari tidurnya yang lelap. Dadanya nyeri bukan kepalang, terasa anyir darah di mulutnya yang menggugah kesadarannya.
Matanya terbelalak nyalang memandang ke arah dua orang berbaju dan berkedok hitam.
Dua orang itu tidak kalah kagetnya melihat pemuda itu belum mati terkena pukulan maut yang dilancarkan begitu telaknya.
Kesadaran Ding Tao dan kemauan dasarnya untuk bertahan hidup lebih cepat bereaksi dibandingkan kedua orang berkedok hitam, sekelam hati mereka. Melihat pintu yang terbuka lebar, pemuda itu mengemposkan tenaga melompat keluar.
Lagi-lagi hal ini berada di luar dugaan kedua orang itu, hingga untuk beberapa saat keduanya hanya saling berpandangan, sebelum seorang di antara mereka memaki,
__ADS_1
―Goblok! Cepat kejar!!‖
Bergegas keduanya mengejar, tapi Ding Tao sudah menang waktu, dia juga tampaknya lebih paham lika-liku di kediaman keluarga Huang bagian itu, dibandingkan dua pengejarnya. Beberapa kali keduanya kehilangan jejak saat pemuda itu menyusup masuk melewati celah-celah sempit atau gerumbulan semak yang menyembunyikan jalan setapak.
Untuk sesaat lamanya keduanya kehilangan jejak, rumah kediaman keluarga Huang sangatlah luas, mirip satu perkampungan sendiri. Kelompok-kelompok rumah para pelayan dan penjaga, taman dan kolam, bangunan tempat keluarga besar Huang tinggal dan bangunan utama. Apalagi di malam yang gelap.
Pembunuh yang gagal itu meneteskan keringat dingin, dipandangnya rekannya yang lain dengan sorot pandang mengiba,
―Tetua… aku sungguh… seharusnya pukulan itu…‖
Guram wajah yang seorang lagi, sambil menggigit bibir dia berpikir, akhirnya dia berkata,
Rekannya yang masih gugup dengan segera menuruti perkataannya dan melangkah ke arah gedung utama di mana Tuan besar Huang Jin menunggu laporan mereka. Hatinya berdebar membayangkan kemarahan Tuan Huang.
Tiba-tiba dia merasakan hembusan angin menyentuh belakang lehernya, matanya melebar saat sadar apa artinya tiupan angin itu.
Tapi belum sempat dia berkata apa-apa, dirasakan dunia di sekitarnya berputaran, sekilas dilihatnya tubuhnya sendiri berdiri tanpa kepala, sebelum jatuh ke tanah, semakin lama semakin jauh dari dirinya. Telinganya masih sempat mendengar teriakan memanggil para penjaga.
Dalam waktu singkat gegerlah rumah kediaman keluarga Huang, bukan hanya kediaman keluaraga Huang yang geger, bahkan Kota Wuling pun ikut menjadi geger. Hampir setiap anggota keluarga laki-laki yang telah cukup umur, menenteng senjata, bergerak menggeledah ke seluruh penjuru rumah itu, bahkan beberapa telah memacu kudanya keluar untuk memeriksa ke sudut-sudut kota.
__ADS_1
Dari mulut ke mulut beradar desas-desus yang mengatakan, Zhang Zhiyi telah memergoki Ding Tao sedang menyelinap ke dalam ruangan khusus milik Tuan besar Huang Jin, dan sedang berusaha melarikan diri sambil membawa kitab pusaka keluarga Huang yang hanya diwariskan pada pimpinan keluarga yang terpilih.
Zhang Zhiyi yang harus menghadapi pemuda itu dengan pedang pusakanya sangat kerepotan. Syukur saja Tiong Fa yang sedang kesulitan tidur, sempat mendengar suara perkelahian mereka dan memburu keluar.
Sayang Tiong Fa tidak keburu membantu Zhang Zhiyi menahan Ding Tao, tapi setidaknya sebelum pedang Ding Tao dengan kejamnya memotong leher anggota yang setia itu, Zhang Zhiyi masih sempat menjelaskan duduk perkaranya. Meskipun dengan penjelasan yang sepotong-sepotong dan dibayar dengan nyawa.
Ding Tao tidak lolos begitu saja, diapun terluka oleh pukulan Tiong Fa sebelum berhasil melenyapkan diri dalam kegelapan.
Tapi pemuda itu masih sangat berbahaya dengan Pedang Angin Berbisik di tangan, itu sebabnya setiap anggota keluarga Huang dan para penjaga yang menemukannya, diperintahkan untuk mengambil langkah sekeras mungkin. Tidak perlu menangkapnya hidup-hidup, bunuh dulu baru urusan lain belakangan.
Terang saja seisi kota jadi ikut geger, derap kuda membelah malam yang sepi. Tidak sedikit pula orang-orang keluarga Huang yang ikut di tempatkan menjaga gerbang-gerbang kota Wuling. Entah berapa ratus orang yang mencari Ding Tao malam itu, tapi Ding Tao lenyap tanpa bekas. Bisik-bisik mengatakan bahwa sebenarnya pemuda itu merupakan pemuda yang berbakat yang sulit ditemukan bandingannya dalam 10 tahun terakhir. Hanya sayang sifatnya ternyata licik hingga tega menyatroni orang yang telah membesarkan dia selama ini.
Dalam keremangan malam Tiong Fa menyesali kericuhan yang terjadi ini. Dalam hati dia mengutuki kecerobohannya, bagaimana mungkin pemuda itu bisa lolos darinya? Dia pun sangat menyesali terbunuhnya Zhang Zhiyi. Zhang Zhiyi adalah salah satu orang kepercayaannya, tapi pada saat rencana itu rusak berantakan yang terlintas di benaknya adalah, sesedikit mungkin orang di luar kelompok inti boleh mengetahui hal itu.
Lepasnya Ding Tao membuat dia terdesak oleh waktu, setiap saat bisa saja Ding Tao bertemu dengan salah seorang penjaga, dia harus terlebih dahulu memburukkan nama pemuda itu, sebelum pemuda itu sempat bertemu siapapun.
Dipandanginya tubuh Zhang Zhiyi yang terpisah dari kepalanya, teringat pula akan keadaan kamar Ding Tao yang tidak sesuai dengan cerita darinya baru saja. Tapi Tiong Fa belum bisa bergerak untuk membersihkan kamar Ding Tao dari jejaknya.
Rahangnya mengeras, bertanya-tanya, sampai berapa jauhnya kerusakan pada rencana mereka ini terjadi.
__ADS_1