
" Apakah kalian ada kesulitan tertentu hingga terpaksa menjalani hidup sebagai sepasang iblis?", tanya Ding Tao dengan nada bersimpati.
Iblis jantan menatap tajam wajah Ding Tao, jika orang lain yang bertanya mungkin dia akan naik darah dan kembali mengajak adu nyawa, tapi wajah pemuda itu begitu tulus. Selain memang
Ding Tao tidak bersalah, karena tidak banyak yang tahu kisah kelam mereka. Pemuda itu juga menumbuhkan perasaan suka dalam hati si iblis jantan.
Dunia persilatan penuh kepalsuan, tidak seperti kisah kepahlawanan yang menceritakan persahabatan sejati.
Pahlawan-pahlawan dalam dunia persilatan, tidak jarang adalah orang-orang yang paling munafik dan tidak mengenal kata persahabatan. Iblis jantan sudah merasakan pahitnya ditinggalkan orang-orang yang memanggilnya sahabat. Dalam waktu sekejap, yang beberapa hari sebelumnya masih minum arak bersama, tiba-tiba memandang dia seperti memandang seonggok sampah.
Bagi mereka yang sedang menikmati hasil jerih payahnya lewat bermacam intrik dan penipuan, Ding Tao tidak lebih dari anak mudah bodoh yang menyebalkan. Tapi bagi orang-orang yang tersisih dan dikecewakan, watak Ding Tao yang lugu, terbuka dan santun, membawa kesegaran.
" Seandainya saja dulu kami sempat mengenalnya, mungkin kami tidak akan memilih jalan seperti ini", pikir sepasang iblis itu.
Tapi semuanya sudah terlanjur basah, kejahatan mereka sudah bertumpuk-tumpuk seperti gunung. Mengajak Ding Tao bersahabat sekarang ini, sama saja artinya menghancurkan kehidupan pemuda itu. Mereka tahu rasanya dimanfaatkan lalu dicampakkan, mereka tidak mau melakukan hal yang sama, hanya demi perasaan pribadi menghancurkan kehidupan orang yang mereka panggil sahabat. Sepasang iblis itu sudah bersama-sama sekian lamanya, mereka sudah sehati dan sepikir.
" Soal itu kau tak perlu tahu, sudahlah, kami sudah kalah. Kau melepaskan kami itu adalah hutang budi yang tidak akan kami lupakan. Pedang itu memang sepantasnya jadi milikmu.", ujar iblis jantan menjawab tawaran Ding Tao.
Sesaat lamanya dia termangu, kemudian sebelum berbalik dia berpesan,
" Hanya satu pesanku, hati-hati dalam pengembaraanmu di dunia persilatan. Banyak serigala menyamar menjadi domba. Bakatmu sungguh luar biasa, dengan pengalaman yang cukup, mungkin kau akan jadi jagoan nomor satu. Satu permohonanku, sebelum hari itu tiba jangan mati dulu."
Dengan pesan itu, sepasang iblis itu membalikkan badan kemudian melompat, berlari dengan cepat, menghilang dalam lebatnya hutan. Ding Tao memandangi mereka dengan perasaan hangat. Ya, tiba-tiba saja dada pemuda itu dipenuhi dengan kehangatan. Sepasang iblis tidak perlu mengangkat persahabatan dengan Ding Tao. Hati Ding Tao yang peka dapat merasakan pancaran persahabatan yang muncul dari sorot mata mereka. Penemuan yang baru ini membuat Ding Tao berpikir panjang, merenungi apa yang baru saja terjadi.
Sepasang iblis itu, meskipun banyak melakukan kejahatan, ternyata sangatlah berperasaan. Jika demikian lalu mengapa mereka sampai menjadi sepasang iblis yang ditakuti banyak orang?
Meskipun iblis jantan tidak mau menceritakan apa-apa, dari sikap mereka Ding Tao bisa menduga-duga. Tentu ada kejadian pahit di masa lalu mereka, mungkin pengkhianatan sahabat atau bahkan saudara. Sesuatu yang berhubungan dengan orang ternama atau setidaknya dikenal sebagai orang yang lurus, tapi ternyata menyimpan kejahatan dalam hati.
Pesannya yang mengingatkan Ding Tao bahwa banyak serigala berbulu domba mengesankan hal itu. Apa pun yang terjadi, hal itu mendorong mereka untuk mengambil jalan yang sesat ini.
Lama pemuda itu tercenung di sana, tentang pembunuhan yang dilakukan sepasang iblis itu, bukankah dia pun pernah membunuh orang? Hubungan dalam dunia persilatan terkadang begitu rumit. Orang membunuh belum tentu karena dia ingin membunuh.
Hari ini Ding Tao melihat sesuatu yang berbeda dalam pandangannya terhadap ilmu pedang. Teringat pula akan pertandingan persahabatan melawan Feng Xiaohong, Zhu Lizhi dan yang lain. Ilmu pedang ternyata tidak selalu berarti kematian, selama ini orang menggunakan pedang sebagai senjata untuk membawa kematian. Tapi nyatanya baik ilmu pedang maupun pedang, keduanya adalah alat yang mati, dirinya sebagai pemilik dari ilmu dan pedang. Dia berkuasa untuk menentukan, apa yang hendak dia lakukan dengan ilmu dan pedang yang dia miliki.
__ADS_1
Dipandanginya pedang yang ada di tangan, dipandangnya dengan cara pandang yang berbeda. Pedang yang selama ini dia pandang sebagai senjata pembunuh, pembasmi iblis, setidaknya sebagai alat untuk membela diri. Ternyata bukan hanya bisa membunuh iblis, pedangnya berhasil menari keluar sisi kemanusiaan dari sepasang iblis.
Penemuan ini membuatnya bahagia dan bersemangat, lebih daripada saat dia berhasil mempelajari kitab Tenaga Inti Bumi.
Mendongakkan kepala, memandang langit yang bersih, semangatnya terbang hingga ke puncak. Satu perasaan euforia yang tak tertahankan. Dengan satu lompatan tinggi ke angkasa,
Ding Tao berteriak nyaring dan mengerahkan segenap tenaganya, menyalurkan semangatnya yang berapi-api.
Kumpulan jurus dan ingatan yang mengendap dalam hati dan benaknya, tiba-tiba saja membentuk satu gerakan yang muncul dengan wajar dari dalam hati.
Dalam sekejapan cahaya pedang seakan memenuhi langit, hawa pedang terasa tajam, meluas sampai beberapa langkah di sekeliling pemuda itu, tapi tidak ada hawa membunuh yang biasanya menyertai hawa pedang.
Bagaikan jaring keadilan penuh kemurahan datang dari langit memenuhi bumi. Menebar tanpa meninggalkan tempat untuk mengelak, tiap hawa pedang tidak mengandung hawa pembunuhan tapi berat menekan lawan.
Ketika hawa pedang lenyap, terlihat Ding Tao berdiri tegak, tangan kiri menyilang di depan dada, tangan kanan menggenggam pedang berada di belakang punggung. Di sekitarnya tanah dipenuhi gurat-gurat garis halus bekas sentuhan hawa pedang di atas permukaan tanah.
Lama pemuda itu berdiri tegak, tak bergerak, mengendapkan ledakan semangat yang tadi dia rasakan. Saat dia kembali melangkah menuju kediaman Murong Yun Hua, senyum bahagia tidak juga hilang dari wajahnya.
Zuocan. Dalam kepercayaan yang diberikan gurunya, sebagai pemilik paling tepat bagi Pedang Angin Berbisik, Ding Tao merasakan anyirnya darah yang akan terus mengikutinya kemanapun dia pergi.
Bayangan itu tidak sesuai dengan wataknya yang halus dan menyukai keindahan, hangatnya matahari pagi, sejuknya embun pagi dankelembutan cahaya rembulan.
Ding Tao mempelajari ilmu pedang, dia terpikat oleh kerumitan dan keindahannya, dia dibebani oleh kewajiban dan tanggung jawabnya. Namun dia juga dihantui oleh sifat pembunuh yang terkandung di dalamnya.
Tapi hari ini Ding Tao melihat kemungkinan yang lain dalam ilmu yang dia pelajari. Dia melihat kemungkinan yang lain dari tugas yang diberikan gurunya. Hatinya jadi tenang, sebelumnya dia bagaikan sedang berdebat dan bertarung dengan dirinya sendiri. Prinsip-prinsip hidup yang dia anut dan perasaan hati nuraninya menghadapi pertentangan yang tidak bisa dia pecahkan. Hari ini pertentangan itu sudah dapat dia perdamaikan. Kedamaian yang tiba-tiba dia rasakan, sulit dikatakan.
Dengan langkah penuh keyakinan Ding Tao melanjutkan perjalanannya ke arah kediaman keluarga Murong. Di luar tahunya diam-diam ada 2 pasang mata yang mengikuti pemuda itu.
" Benar-benar pemuda berbakat…", desis seorang dari antara mereka.
" Benar, tapi bukankah kakak juga berbakat dalam hal ilmu pedang? Apakah menurut kakak dia lebih berbakat dari kakak?", tanya yang seorang lagi, seakan kurang rela jika ada yang melebihi bakat rekannya.
" Ahh… orang bilang aku berbakat, kukira diriku berbakat, tapi kalaupun benar demikian antara bakat dan bakat, nyata bermacam-macam pula tingkatannya. Jangan kau bandingkan diriku dengan pemuda itu. Itu ibaratnya membandingkan tingginya bumi dengan tingginya langit."
__ADS_1
"Benarkah sehebat itu?"
" Hmm… masa kau pikir aku mengada-ada? Apakah pernah aku membual?"
―Tidak, kakak tidak pernah membual. Aku tak tahu soal bakat, tapi hati kakak aku tahu benar.", jawab yang seorang lagi dengan lembut.
Tertawa di dada pasangannya mendengar pujian itu,
" Heheheh, adik kalau kau begitu mengenal hatiku, coba kau katakan apa yang kupikirkan."
Tertawa mengikik dengan lembut yang seorang menjawab,
" Itu mudah saja, melihat bakat dan kepribadiannya, timbul rasa suka dan simpati dalam hati kakak. Melihat jalan di depannya yang penuh dengan halangan dan jebakan, hati kakak pun jadi tak tega. Karenanya kakak ingin kita mengikutinya secara diam-diam, bersiap memberikan bantuan saat diberikan tapi di saat yang sama janganlah sampai orang menganggap kita ini punya hubungan baik dengan dirinya."
" Hahaha, nyata benar kau memang bisa membaca hatikuseperti membaca sebuah buku. Apakah kau setuju dengan pikiranku?"
Sosok yang satu menggelendot manja mendengar pertanyaan itu, dengan suara lembut menggoda dia menjawab,
" Tentu saja aku setuju, kita sudah sehati sepikiran, apa perlunya kakak bertanya. Hanya saja, apa kakak tidak takut aku jatuh cinta padanya nanti?"
" Hahaha, kau tahu hatiku, masa aku tidak bisa membaca pula hatimu. Baiklah kalau begitu kita harus mengikutinya diam-diam. Melihat arahnya tentu dia pergi ke arah kediaman nona-nona cantik itu. Hmmm benar-benar bernasib pahlawan, bukan hanya berbakat dan jalannya penuh rintangan. Kehidupan cintanya pun diwarnai gadis-gadis cantik."
Mendengar ucapan orang, sekali lagi pasangannya tertawa manja,
" Hohoho, apa kau juga tertarik pada kedua gadis bermarga Murong itu? Kutahu kau beberapa kali kau menyelidik rumah mereka secara diam-diam saat mencari jejak Ding Tao. Tentu kau sempat pula mengintip dua orang gadis itu."
" Hahahaha, cintaku padamu tak perlu kau ragukan. Lagipula gadis-gadis Murong itu tidak sesuai dengan seleraku."
" Ah, kalau hanya omong saja semua orang tentu bisa, tapi aku perlu bukti." dengan suara yang semakin manja pasangannya berkata.
" Hahaha, kutahu bukti apa yang kau mau, sudah jelas kau bukan menyuruhku membunuh orang. Kukira soal bukti, tinggal satu saja yang bisa kuberikan".
Pasangannya tiba-tiba memekik tertahan dan tertawa kegelian. Setelah itu tidak ada suara apa-apa, hanya dengusan nafas yang memburu dan erangan perlahan. Selain anak di bawah umur, yang lain tentu tahu apa artinya suara-suara itu. Siapa lagi pasangan kekasih yang berniat mengintil Ding Tao? Sudah jelas mereka itu adalah sepasang iblis yang dari lawan berubah jadi kawan. Karena merasa sudah tahu arah perjalanan Ding Tao, mereka tidak terlalu terburu-buru untuk mengikutinya.
__ADS_1