Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
48. Chapter 48


__ADS_3

Membayangkan keadaan Ding Tao saat itu, air mata merebak di pelupuk mata Huang Ying Ying, dengan lembut dipegangnya tangan Ding Tao,


" Maafkan aku Ding Tao, akulah yang memberikan obat itu padamu…"


Ding Tao yang bisa merasakan kepedihan hati gadis itu mencoba menenangkannya,


" Adik Ying, jangan bersedih, aku tahu maksud baik dirimu dan ayahmu. Hanya waktunya saja sangat bertepatan dengan datangnya dua orang itu."


Mendengar itu Huang Ying Ying jadi merasa makin bersalah, karena ayahnya yang telah merencanakan pencurian dan pembunuhan itu. Tapi dia tidak bisa mengatakan hal itu pada Ding Tao, tidak berani dia membayangkan apa yang akan terjadi jika Ding Tao tahu hal itu. Bagaimana jika pemuda itu kemudian membencinya? Atau bagaimana jika pemuda itu kemudian pergi untuk berkelahi dengan ayahnya? Huang Ying Ying tidak peduli dengan Pedang Angin Berbisik, dia tidak peduli dengan Ren Zuocan. Tidak perlu Ding Tao jadi pendekar pedang nomor satu asal pemuda itu tidak membencinya saja dia sudah bahagia.


Dengan sedih gadis itu menggeleng lemah, Ding Tao yang melihat gadis itu semakin bersedih menjadi semakin bingung.


" Adik Ying, Adik Ying, janganlah bersedih, jangan pernah merasa bersalah terhadapku. Adik Ying hanya engkau selalu baik padaku sejak dulu, itu aku tahu dengan jelas. Adik Ying ingatkah kau dua tahun yang lalu? Saat aku lulus ujian naik peringkat waktu itu?"


Dengan mata yang membasah Huang Ying Ying menatap Ding Tao lalu mengangguk perlahan.


" Hari itu, hari yang selalu kuingat selama dua tahun ini, apakah kau tahu mengapa aku merasa bahagia saat mengenangnya?"


" Karena kau jadi juara waktu itu?"


" Bukan, bukan karena itu, tentu saja ada rasa senang, tapi bukan itu yang membuatku terkenang. Melainkan senyummu, tawamu saat kau melihat aku dinyatakan sebagai lulusan terbaik. Aku masih teringat sorakanmu saat itu. Hari itu kau terlihat begitu gembira, dan akulah yang membuatmu tertawa serta bersorak. Karena itu Adik Ying, janganlah lagi bersedih, karena hal itu akan membuatku merasa bersedih pula".


Rayuan gombal pemuda udik macam Ding Tao tentu saja kalah jauh dengan rayuan seorang pemuda romantis yang sudah ahli.


Tapi ketulusan Ding Tao tidak bisa disamai mereka ini, apalagi yang mendengarnya adalah Huang Ying Ying yang sedang jatuh cinta pada pemuda itu. Langsung saja mukanya bersemu merah, senyum di bibir merekah, dengan pipi masih dihiasi tetesan air mata yang belum mengering, membuat dirinya tampak lebih cantik dari biasanya.


Ding Tao yang merasa lega, melihat senyum di wajah Huang Ying Ying, tanpa terasa menjadi lebih longgar lidahnya. Dibantu dengan efek obat yang diminumnya belum benar-benar hilang.


Meskipun Ding Tao sudah tidak lagi diserang rasa kantuk, tapi kesadarannya belum pulih sepenuhnya. Suasana dan kondisi saat itu juga terasa begitu aneh bagi nalar Ding Tao dan di luar akal sehatnya, membuat Ding Tao tidak memijak pada kenyataan sehari-hari. Apa yang biasanya dia pendam saja, terlontar keluar dengan begitu mudahnya.


" Adik Ying, tahukah kau betapa berat saat guru dan aku memutuskan untuk pergi tanpa pamit dua tahun yang lalu? Bukan karena aku gentar oleh beratnya kehidupan berkelana, tapi karena aku takut dipandang rendah oleh dirimu, sebagai orang yang tidak tahu berterima kasih. Jika ada penghiburan bagiku, itu adalah janji guru, bahwa setelah aku menamatkan ilmu keluarga Huang, aku akan mempunyai cukup bekal untuk menghadapi bahaya dan kembali untuk menjelaskan semuanya ini padamupadamu".


Huang Ying Ying jadi makin terharu, mengingat justru karena hal itulah nyawa Ding Tao jadi terancam dan pemuda itu kehilangan pedang pusaka yang sangat berharga. Mengeluh pendek, gadis itu menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Ding Tao.


Ding Tao yang untuk bangkit berdiri pun harus bersusah payah, menyeringai kesakitan saat tubuh Huang Ying Ying yang lembut itu membentur tubuhnya yang masih nyeri. Dengan sekuat tenaga pemuda itu menahan diri agar tidak berteriak kesakitan. Tubuhnya memang sakit dan perlu waktu cukup lama sebelum nyeri itu tidak lagi menusuk, tapi jangankan rasa sakit, jika saat itu dia ditembusi pedangpun, pemuda itu rela.


" Adik Ying… selama dua tahun, hanya bayanganmu yang memberiku kekuatan",

__ADS_1


gemetar suara Ding Tao, dengan memberanikan diri pemuda itu memeluk tubuh Huang Ying Ying dengan lembut.


" Ah… Kakak Ding… aku.. aku pun demikian.", balas Huang Ying Ying dengan jantung berdebaran.


Tentu saja ini tidak sepenuhnya benar, memang Huang Ying Ying sudah sejak lama menyukai pemuda itu, tapi tidak seperti saat ini. Rasa kagumnya baru benar-benar tumbuh saat Ding Tao kembali dari pengembaraannya yang dua tahun itu. Dan rasa kagum itu semakin bertumbuh hingga benar-benar berkembang menjadi rasa cinta saat Ding Tao menunjukkan kegagahanny adalam pertandingan persahabatan di hari sebelumnya.


Tapi kata-kata itu terasa manis di telinga Ding Tao, dan bagi Huang Ying Ying pun rasanya kata-kata itu sudah tepat. Saat itu rasanya sudah bertahun-tahun lamanya dia mencintai Ding Tao, bahkan sejak mereka masih kanak-kanak.


Bersandar di dada Ding Tao yang bidang, gadis itu merasa begitu bahagia, berbisik pada Ding Tao, dengan tulus dia berjanji,


" Kakak Ding, mengenai pedangmu, aku berjanji akan membantumu untuk mendapatkannya kembali"


" Pedangku? Pedang…?"


Ding Tao dengan tiba-tiba melepaskan pelukannya dan melonjak kaget. Baru sekarang dia teringat akan pedangnya, pedang yang dipercayakan gurunya kepadanya. Begitu kagetnya hingga dia lupa pada luka di dadanya dan meloncat berdiri. Baru setelah dia meloncat berdiri dan rasa sakit itu menyerang hebat, pemuda itu mengaduh dan berpegangan pada lemari pakaian yang ada di dekatnya, menahan agar tubuhnya tidak sampai jatuh.


Huang Ying Ying memandang Ding Tao dengan cemas, cemas akan luka Ding Tao, cemas pula pada reaksi pemuda itu, yang rupanya belum sadar bahwa dia sudah kehilangan Pedang Angin Berbisik.


Padahal Huang Ying Ying yang mengenal baik pemuda itu, tahu betul bagaimana Ding Tao menjunjung tinggi tanggung jawab yang dibebankan pada dirinya.


Ding Tao yang sudah bisa menguasai dirinya, menganggukkan kepala dengan lemas, lalu dibantu oleh Huang Ying Ying, perlahan-lahan dia duduk di samping Huang Ying Ying.


" Adik Ying, apa yang sebenarnya terjadi? Aku ingat ada orang yang menyerangku, sewaktu aku tertidur pulas. Tidak banyak yang kuingat selanjutnya, yang ada hanya keinginan untuk melarikan diri dari bahaya dan mencari tempat yang aman".


Huang Ying Ying kehilangan akal, apa yang harus dia ceritakan pada pemuda itu?


Dengan terbata-bata, gadis itu menceritakan bagaimana Ding Tao jatuh pingsan di depan kamarnya. Peristiwa terbunuhnya Zhang Zhiyi, tuduhan Tiong Fa pada Ding Tao dan juga penemuan Tabib Shao Yong yang telah membersihkan nama Ding Tao meskipun di luaran temuan itu masih dirahasiakan.


Diceritakannya juga tentang apa yang telah dia lakukan bersama dengan kakaknya dan reaksi Tuan besar Huang Jin yang mendukung keputusan mereka.


Dalam hatinya gadis itu merasa bersalah, karena telah menutupi kejadian yang sesungguhnya.


Ding Tao yang baru saja sadar dari tidurnya, untuk beberapa lamanya tidak mampu berkata apa-apa. Jangankan berbicara, pikirannya masih dengan lambatnya berputar untuk mengolah masukan-masukan baru yang sangat berat dan susah dicerna.


" Tetua Tiong Fa yang merencanakan ini semua?", tanyanya dengan nada tidak bisa percaya.


" Iya, setidaknya itu dugaan kami. Kakak Ding, apakah kau marah padaku? Jika bukan karena obat itu…",

__ADS_1


air mata kembali merebak di mata Huang Ying Ying. Tapi jari Ding Tao dengan cepat menyentuh bibir gadis itu, memberi tanda agar dia berhenti berbicara.


" Adik Ying, jangan salahkan dirimu sendiri. Aku tidak menyalahkanmu, bahkan aku sangat berterima kasih padamu. Kalau bukan karena pertolonganmu, bukan hanya kehilangan pedang, akupun akan kehilangan nyawa".


" Tapi Kakak Ding, pedang itu bukankah sangat berharga? Bagaimana juga dengan pesan Pelatih Gu padamu?"


Dengan lembut Ding Tao meraih tangan Huang Ying Ying.


Begitulah awal pertama berpegangan tangan masih ragu, setelah ternyata Huang Ying Ying tidak marah, bahkan gadis itu sempat merebahkan tubuhnya, bersandar di dada Ding Tao, pemuda ini pun jadi makin berani.


"Adik Ying, seluruh orang di dunia persilatan boleh saja memandang pedang itu sebagai pusaka yang paling berharga. Tapi bagiku…",


sampai di sini jantung Ding Tao berdebaran makin cepat.


" Bagiku… bagiku, dirimu jauh lebih berharga. Aku… aku… sudah sejak lama, aku mencintaimu.", merah padam wajah Ding Tao seusai mengucapkan kata-kata itu.


Tiba-tiba muncul rasa khawatir, khawatir jika Huang Ying Ying menolak cintanya.Berbeda dengan perasaan Ding Tao, perasaan Huang Ying Ying bagaikan dibuai ke angkasa. Sekali lagi gadis itu merebahkan dirinya ke atas dada Ding Tao yang bidang, dengan berbisik dia menjawab,


" Aku, aku juga…"


Singkat saja jawaban Huang Ying Ying, tapi yang singkat itu sudah membuat Ding Tao merasa bahagia sekali. Belasan tahun lamanya dia memendam rasa suka, entah sudah berapa kali sejak dia meninggalkan kediaman keluarga Huang, dia


membayangkan saat-saat seperti ini. Ketika saat itu akhirnya tiba, sungguh sulit untuk dilukiskan bagaimana perasaannya.


" Maksudmu, aku juga bagaimana?",


tanyanya menegas.


" Ya begitu itu…",


dengan malu-malu Huang Ying Ying menjawab.


" Begitu itu bagaimana?"


mata Ding Tao berkilat nakal, saat huang Ying Ying melirik ke arah wajahnya dan dengan gemas gadis itu pun mencubit Ding Tao keras-keras, sampai anak


muda itu mengaduh-aduh minta ampun.

__ADS_1


__ADS_2