
Tanpa menunggu pertolongan orang lain, dengan susah payah, didukungnya tubuh Ding Tao hingga sampai ke atas pembaringannya sendiri.
Diaturnya baik-baik tubuh pemuda itu lalu diselimutinya.
Setelah yakin pemuda itu aman berada di dalam kamarnya diapun bergerak untuk meninggalkan kamar dan menemui tabib pribadi keluarga Huang, yang tinggal di salah satu bangunan dalam kediaman keluarga Huang.
Tangannya sudah menyentuh pintu, ketika terpikir bahwa luka yang dialami Ding Tao menunjukkan bahwa ada orang yangberniat mencelakai pemuda itu, tidak terpikir olehnya betapa berbahayanya berkeliaran di luar kamar, bila ada orang yang sedang menyatroni rumahnya. Yang terpikir olehnya adalah keselamatan Ding Tao saat ditinggalkan.
Cepat-cepat gadis itu kembali, kali ini disiapkannya selimut tebal di lantai, di bagian yang tersembunyi oleh pembaringannya yang besar. Tubuh Ding Tao yang sudah dinaikkan ke atas, diturunkannya ke sana, diaturnya barang-barang lalu diperiksanya dari arah pintu. Setelah puas dengan hasil kerjanya barulah gadis itu pergi meninggalkan ruangan, hendak menuju ke bangunan tempat tabib itu tinggal.
Dia tidak berani berjalan dengan terang-terangan, karena teringat orang yang menyerang Ding Tao bisa jadi masih berkeliaran.
Bersembunyi dalam bayang-bayang gadis yang pemberani ini mengendap perlahan namun pasti.
Langkahnya tiba-tiba terhenti saat dilihatnya dua sosok berbaju dan berkedok hitam sedang berhadapan dan mempercakapkan sesuatu.
Lamat-lamat terdengarlah percakapan mereka.
__ADS_1
Semakin lama mendengarkan semakin pucat wajah gadis itu.
Baju hitam, kedok hitam, di malam yang gelap, apa ada orang berpikiran lurus bakal melakukan hal itu? Yang jelas apapun yang hendak mereka lakukan, keduanya menimbulkan kecurigaan orang yang memergokinya. Betapa kaget Huang
Ying Ying, saat mereka menyinggung-nyinggung nama ayahnya.
Lebih pucat lagi wajahnya saat melihat adegan yag sudah kita ketahui dalam bab sebelumnya. Tanpa banyak bertanya, gadis ini bisa membayangkan apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun hatinya memberontak dan belum bisa menerima kenyataan yang ada di hadapannya, gadis itu tidak membuang-buang waktu untuk kembali ke kamarnya. Ding Tao berada dalam bahaya dan tidak ada seorangpun di rumah itu yang bisa dipercayainya untuk menolong pemuda pujaannya itu.
Begitu sampai di dalam kamar ditutupnya pintu rapat-rapat, dengan jantung berdebaran dia bersandar di balik pintu.
Matanya berkeliaran dengan liar, menjelajahi setiap sudut kamarnya. Sudah belasan tahun dia tinggal di kamar yang sama. Perubahan kecil dan besar dia lakukan, setiap apa yang ada di dalam kamar itu dia kenal benar, tapi kali ini matanya memandang lewat sudut pandang yang berbeda.
Kamar Huang Ying Ying sangatlah luas. Dalam kamar seorang gadis sudah wajar jika ada pula lemari besar yang berisi pakaian. Jika kamarnya demikian luas, lemari pakaian gadis itu pun sepadan dengan luas kamarnya.
Segala macam kain dengan berbagai macam warna bisa ditemukan di situ. Dari jahitan penjahit di sebelah utara kota, sampai penjahit yang tinggal di selatan kota ada juga di sana.
Di antara helai-helai kain dan baju yang bergantungan itulah Ding Tao menghabiskan waktunya, pingsan dengan tenangnya sementara di luar ratusan orang mengubek-ubek segala penjuru untuk mencari dirinya.
__ADS_1
Luka pemuda ini sebenarnya cukup parah, beruntung hawa murninya sudah cukup mapan dan Zhang Zhiyi pun belum begitu menguasai ilmu pukulan yang digunakannya. Nafasnya tersengal-sengal, bahkan dalam tidurnya yang pulas oleh obat tidur pun pemuda itu masih sering menyeringai kesakitan.
Huang Ying Ying yang merasa khawatir oleh keadaan pemuda itu hanya bisa menyeka bagian-bagian tubuhnya yang ternoda darah.
Dia mengatur kain-kain tebal supaya pemuda itu dapat berbaring dengan sehangat dan senyaman mungkin. Untuk sesaat dipandanginya wajah Ding Tao yang pucat, dengan sapu tangan dia menghapus keringat yang memenuhi dahi pemuda itu.
Tidak berani berlama-lama, gadis itu cepat-cepat menutup lemarinya, dengan hanya menyisakan sedikit celah sebagai lubang udara.
Ketika suara ramai orang melewati depan kamarnya, gadis ini berpura-pura terbangun oleh suara itu. Dibukanya pintu lalu ia melongokkan kepalanya keluar, menanyai orang-orang yang lewat,
―Paman, ada apa ribut malam-malam begini?‖
―Ada pembunuhan nona muda!‖
―Ada yang membunuh Tuan Zhang Zhiyi.
‖―Ada yang mencuri kitab pusaka ayah nona.‖
__ADS_1
―Ding Tao pembunuhnya, sekarang dia sedang lari.‖
Beberapa orang menjawab berbarengan, suara mereka bercampur justru membuat penjelasan mereka tidak jelas, Huang Ying Ying tentu saja sebenarnya sudah mengetahui yang terjadi, bahkan lebih jelas dari mereka yang berbicara, tapi dia berpura-pura kebingungan.