Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
93. Chapter 93


__ADS_3

Liu Chun Cao merasa puas dengan perbincangan mereka itu, semangatnya yang dulu sempat layu selama bertahun-tahun, kini bangkit kembali.


" Ding Tao, aku tidak malu untuk mengatakan, bahwa selama ini kemajuan ilmuku tidak ubahnya berjalan di tempat saja. Tapi sejak pertarungan di antara kita, baru mataku mulai terbuka, jika kau tidak keberatan, bantu aku untuk menguraikan ilmuku lebih jauh lagi.", ujarnya penuh semangat.


" Heh, aku juga. Ding Tao bagaimana jika kita isi hari ini dengan diskusi tentang ilmu kami masing-masing?" sambung Wang Xiaho.


" Baik, bagaimana kalau kita kembali ke pelataran belakang?", jawab Ding Tao dengan bersemangat, terbawa oleh semangat kedua orang di depannya.


Sepanjang hari itu, ketiganya larut dalam pembahasan mengenai ilmu mereka dan kemungkinan-kemungkinan pengembangannya. Baik yang masih harus dilatih lebih jauh, tapi juga yang bisa segera digunakan. Bagi Wang Xiaho dan Liu Chun Cao, mereka merasa disegarkan kembali, sudah bertahun-tahun lamanya bagi mereka latihan-latihan yang dilakukan menjadi rutinitas yang mati. Dengan terbukanya pikiran mereka oleh masukan-masukan Ding Tao, maka kegairahan yang dulu mereka rasakan saat mulai mempelajari ilmu silat kembali lagi.


Bagi Ding Tao sendiri, dengan keterbukaan Wang Xiaho dan Liu Chun Cao terhadap ilmu mereka, membantunya untuk menyelami lebih dalam lagi makna dan hakekat dari jurus-jurus milik kedua orang tersebut, membantunya dalam melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada.


Ketika keesokan harinya mereka memasuki Kota Wuling, ketiganya mengawali perjalanan dengan semangat yang tinggi. Sebuah tujuan terbentuk dalam benak ketiganya. Bukan berarti Ding Tao tidak merasakan kekuatiran akan nasib Huang Ying Ying dan keluarga Huang yang lain. Tapi Ding Tao akhirnya menemukan satu pegangan, apapun hasil penyelidikan mereka hari ini, Ding Tao sudah punya satu tujuan, yaitu bekerja untuk menempatkan dirinya pada posisi di mana dia bisa memastikan tidak ada kejadian seperti yang menimpa pada keluarga Huang. Jika hal itu sudah terjadi, maka diapun ingin berada pada posisi di mana dia bisa memberikan keadilan pada korban dan meluruskan pelakunya.


Dalam semangat yang meluap ini, Ding Tao jadi semakin paham pula apa yang menyebabkan Liu Chun Cao tidak setuju dengan Wang Xiaho mengenai pemilihan Wulin Mengzhu.


Semakin pula pemuda itu berhati-hati dalam setiap dia berlaku dan berpikir. Ding Tao berniat untuk menyisakan waktu di setiap harinya untuk kembali merenungi apa-apa yang sudah dia lakukan dan putuskan, agar jangan sampai dia terjebak pada kehinaan.

__ADS_1


Tidak butuh lama bagi mereka bertiga untuk menemukan pengikut keluarga Huang yang berhasil lolos dari bencana. Liu Chun Cao yang sudah pernah menemukan mereka sebelumnya dengan mudah menemukan mereka kembali.


Beberapa di antara mereka menetap di tempat yang sama, yang sudah berpindah pun, setidaknya Liu Chun Cao sudah memiliki pegangan di mana harus mulai mencari jejak mereka.


Pertemuan yang mengharukan terjadi saat mereka bertemu dengan Ding Tao. Setelah menghadapi bencana yang mencengkam jantung mereka dan meninggalkan mereka dalam ketakutan. Bertemu dengan Ding Tao yang mereka kenal selama bertahun-tahun membuat mereka merasakan sedikit kelegaan. Apalagi ketika Wang Xiaho menceritakan akan kehebatan Ding Tao sekarang ini. Mereka yang merasakan seluruh sendi-sendi kehidupan mereka runtuh bersamaan dengan runtuhnya keluarga Huang, mendapatkan kekuatan baru.


Perlahan-lahan rombongan Ding Tao menjadi semakin besar, belasan orang sisa keluarga Huang yang mereka temui, memilih untuk menyertai Ding Tao dalam perjalanannya. Ding Tao merasakan keharuan melihat sikap mereka, seperti anak-anak ayam yang kehilangan induknya. Tapi hatinya juga semakin kuatir akan nasib Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu, karena sejauh ini mereka yang dia temui tidak ada yang tahu pasti nasib kedua orang itu.


" Tinggal dua orang lagi.", kata Liu Chun Cao.


Ding Tao hanya mengangguk saja tanpa mengatakan apa-apa, jantungnya berdebaran. Apakah akan ada berita yang jelas dari dua orang yang tersisa ini?


" Silahkan paman berjalan lebih dulu.", jawab Ding Tao.


Dengan Liu Chun Cao di depan, rombongan kecil itu bergerak melewati gang-gang yang sempit dan rumah yang berdesakan.


Saat mereka melihat seorang laki-laki sedang duduk berjemur sambil mengurut kaki, merekapun tahu pencarian mereka hari ini sudah berakhir. Karena wajah orang itu sudah mereka kenal baik. Ding Tao buru-buru maju dan menyapa orang yang ada di depan.

__ADS_1


" Tabib Shao Yong, apa kabar?"


" Ding Tao, engkaukah itu?", ujar laki-laki tua itu sambil bangkit berdiri, cepat-cepat menyambut kedatangan Ding Tao.


" Tabib Shao, syukurlah kaupun lepas dari bencana.", jawab Ding Tao.


" Astaga, Chu Xiang, A Tong, Lu Feng, kalian juga selamat.", ujar Tabib Shao Yong sambil mengucurkan air mata penuh haru, satu per satu disapanya mereka yang datang bersama Ding Tao.


Belasan anggota keluarga Huang yang selamat dan berketetapan untuk mengikut Ding Tao, disapanya satu per satu. Rumah yang kecil itu dengan cepat menjadi sesak.


Ding Tao menunggu sampai mereka selesai menumpahkan perasaan mereka yang tertekan selama berhari-hari sejak kehancuran keluarga Huang. Beberapa kali Ding Tao menghembuskan nafas panjang-panjang, berusaha mengurangi ketegangan yang menghimpit dadanya. Salah seorang dari mereka melihat itu dan menggamit lengan temannya yang masih saja bicara. Sebentar saja mereka semua terdiam dan menunduk. Mengikuti pandangan mata mereka, Tabib Shao Yong berbalik ke arah Ding Tao.


" Anak Ding, apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?", tanya Tabib Shao Yong dengan lembut.


" Oh, Tabib Shao…, tahukah kau bagaimana dengan keadaan adik…maksudku Nona muda Huang?", terbata Ding Tao bertanya.


Tabib Shao Yong terdiam, dipandanginya wajah Ding Tao lama-lama. Lidahnya terasa kelu. Dengan berat hati dia mengerahkan tenaga untuk menjawab pendek,

__ADS_1


" …sudah meninggal."


__ADS_2